RANCANGAN MATERI IJTIMA’ ULAMA KOMISI FATWA SE-INDONESIA IV TAHUN 2012

logo MUI 

TENTANG

MASAIL FIQHIYYAH MU’ASHIRAH

(Masalah fikih kontemporer)

 

TIM MATERI

IJTIMA’ ULAMA KOMISI FATWA SE-INDONESIA IV TAHUN 2012

CIPASUNG, 29 JUNI – 2 JULI 2012


 

 

RANCANGAN MATERI

IJTIMA’ ULAMA KOMISI FATWA SE-INDONESIA IV TAHUN 2012

TENTANG

MASAIL FIQHIYYAH MU’ASHIRAH

(Masalah fikih kontemporer)

 

KOMISI B-2

 

TEMA PEMBAHASAN:

 

  1. Dana Talangan Haji
  2. Status Kepemilikan Setoran BPIH
  3. Hukum Penempatan Dana BPIH di Bank Konvensional
  4. Formalin, Boraks dan Bahan Kimia
  5. Status Hukum Tanah Masjid
  6. Shalat Jumat di gedung serbaguna
  7. Vasektomi

MASAIL FIQHIYYAH MU’ASHIRAH

(Masalah fikih kontemporer)

 

KOMISI B-2

 

I

DANA TALANGAN HAJI

DAN  ISTITHA’AH UNTUK MENUNAIKAN HAJI

 

A. DESKRIPSI MASALAH

DSN-MUI telah menetapkan fatwa nomor: 29/DSN-MUI/VI/2002 tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syariah. Fatwa ini merupakan jawaban terhadap permohonan industri keuangan (baca: bank) yang ingin meningkatkan kualitas pelayanan yang berupa semakin ragamnya metode pembiayaan terhadap masyarakat.

Dalam fatwa DSN nomor: 29/DSN-MUI/VI/2002 tersebut ditetapkan bahwa: 1) dalam pengurusan haji bagi nasabah, LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) dengan menggunakan prinsip al-Ijarah sesuai Fatwa DSN-MUI nomor 9/DSN-MUI/IV/2000; 2) apabila diperlukan, LKS dapat membantu menalangi pembayaran BPIH nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai Fatwa DSN-MUI nomor 19/DSN-MUI/IV/2001; 3) jasa pengurusan haji yang dilakukan LKS tidak boleh dipersyaratkan dengan pemberian talangan haji; dan 4) besar imbalan jasa al-Ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan al-Qardh yang diberikan LKS kepada nasabah.

Dalam fatwa tersebut berlaku dua akad secara pararel: akad ijarah –sebagai akad utama– dan akad qardh—sebagai akad pendukung. LKS yang mengurus dan membantu nasabah untuk memperoleh seat/porsi haji dari pihak otoritas berhak mendapatkan ujrah atas pekerjaan yang berupa pelayanan tersebut berdasarkan akad ijarah; oleh karena itu, berlakulah norma ijarah dan norma qardh sebagai terdapat dalam fatwa DSN-MUI. Akad qardh antara LKS dengan nasabah berupa pembiayaan dilakukan untuk mendukung pelayanan yang diberikan oleh LKS kepada nasabah dalam rangka membantu nasabah mendapatkan porsi haji sebagaimana dimaksudkan di atas. Untuk hal ini berlakulah ketentuan mengenai pembiayaan qardh sebagaimana diatur dalam fatwa DSN-MUI.

Isu yang berkembang di masyarakat dalam menyikapi fatwa tentang Pembiayaan Pengurusan Haji LKS berkaitan dengan istitha’ah ; yaitu orang yang sudah istitha’ah (mampu) untuk melakukan ibadah haji merasa terhalangi oleh orang yang memperoleh fasilitas dari bank yang berupa talangan haji sehingga mendapatkan porsi haji lebih awal.

Di sisi yang lain, keberadaan dana talangan haji dirasakan tidak sejalan dengan ruh syariat Islam yang menganjurkan kaum muslimin dari berhutang.

B. RUMUSAN MASALAH:

  1. Bagaimana hukum pembiayaan pengurusan haji yang dilakukan oleh sejumlah perbankan syariah?
  2. Bagaimana kaitan syarat  istitha’ah dengan pelaksanaan ibadah haji?
  3. Apakah sebaiknya pembiayaan pengurusan haji oleh LKS diberhentikan untuk menghindari panjangnya daftar tunggu?

C. KETETAPAN HUKUM

  1. Hukum pembiayaan pengurusan haji oleh lembaga keuangan syariah adalah boleh (mubah/ja’iz) dengan syarat mengikuti/taat pada dhawabith yang terdapat dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 29/DSN-MUI/VI/2002 tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syariah, yang ketentuannya antara lain : LKS hanya mendapat ujrah (fee/upah) atas jasa pengurusan haji,  sedangkan qardl yang timbul sebagai dana talangan haji tidak boleh dikenakan tambahan.
  2. Istitha’ah adalah syarat wajib haji (bukan syarat sah haji),  Upaya untuk mendapatkan porsi haji dengan cara memperoleh dana talangan haji dari LKS adalah boleh,  karena hal itu merupakan usaha/kasab/ ikhtiar dalam rangka menunaikan haji. Namun demikian, kaum muslimin tidak sepatutnya memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah  haji sebelum benar-benar istitha’ah dan tidak dianjurkan untuk memperoleh dana talangan haji terutama dalam kondisi antrian haji yang sangat panjang seperti saat  ini. Sebaiknya yang bersangkutan tidak menunaikan ibadah haji sebelum pembiayaan talangan haji dari LKS dilunasi.
  3. Pihak pemberi dana talangan haji wajib melakukan seleksi dan memilih nasabah penerima dana talangan haji tersebut dari sisi kemampuan finansial, standar penghasilan, persetujuan suami/istri serta tenor pembiayaan. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin tidak terabaikannya kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawab nasabah seperti nafkah keluarga.
  4. Pemerintah c/q Bank Indonesia boleh memberlakukan kebijakan pembatasan kepada perbankan dalam menyalurkan pembiayaan dana talangan haji bila diperlukan.

REKOMENDASI

1.  Kepada Bank Indonesia Meningkatkan pengawasan pelaksanaan

2. mengingat bahwa saat ini  jumlah waiting list sudah sangat panjang maka Kegiatan MLM Haji

D. DASAR PENETAPAN HUKUM

  1. Firman Allah SWT :

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا

“Mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” ( QS Ali Imran : 97 ).

  1. Hadist riwayat Tirmidzi dan Al-Daaruquthni :

سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن السبيل فقال : الزاد والراحلة

Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang tafsir ”sabil” (QS Ali Imran: 97), beliau menjawab, yaitu bekal (yang cukup) dan  kendaraan.

  1. Atsar Sahabat:

عن طارق بن عبد الرحمن قال سمعت ابن أبى أوفى يسأل عن الرجل يستقرض ويحج؟ قال يسترزق الله ولايحج وهو فى سنن الكبرى للبيهقي بلفظ… يسترزق الله ولايستقرض قال وكنا نقول لايستقرض الا أن يكون له وفاء.

“Dari Thariq Ibn Abd al-Rahman, aku mendengar Ibn Abi Awfa ditanya tentang hukum hajinya seseorang yang dilakukan karena pinjaman (qardh) dari pihak lain; beliau menjawab: “mudah-mudahan Allah memberinya rizki dan janganlah berhaji dengan menggunakan dana pinjaman (qardh); dalam kitab Sunan al-Kubra al-Baihaqi terdapat lafazh: “…mudah-mudahan Allah memberinya rizki, dan janganlah meminjam (qardh) untuk menunaikan haji.” Menurut kami, yang dimaksud riwayat tersebut adalah: “janganlah meminjam (qardh) untuk menunaikan haji kecuali yang bersangkutan mampu membayar/mengembalikannya.”.

 

Al-baqarah 282 ;

 

  1. Kaidah Fiqih

للوسـائل حكم المقـاصد

Sarana suatu perbuatan itu dihukumi sama dengan maksud/tujuannya

  1. Kaidah Fiqih

الأمـور بمقـاصـدها

Setiap perkara tergantung pada tujuannya

  1. Pendapat Imam Syafi’i :

ومن لم يكن في ماله سعة يحج بها من غير أن يستـقـرض فهو لا يجد السبيل

Barang siapa yang tidak memiliki kelebihan harta yang membuatnya layak untuk menunaikan ibadah haji tanpa melakukan pinjaman, maka orang tersebut dianggap tidaklah terkena kewajiban haji karena dianggap tidak berkemampuan. ( Al-Umm 2/116 ).

ولكن إن كان ذا عرض كثير فعليه أن يبيع بعض عرضه أو الاستدانة فيه

Tetapi jika ia mempunyai harta yang banyak, maka ia dapat menjual sebagiannya atau berhutang (karena ia memiliki keyakinan dapat membayar hutang tersebut karena ia mempunyai harta yang bisa dicadangkan). ( Al-Umm 2/116 ).

  1. Pendapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya pada tanggal 2 Februari 1979 menyatakan dalam putusan nomor 1 : “ Orang Islam dianggap mampu (istitha’ah) melaksanakan ibadah haji, apabila jasmaniah, ruhaniah dan pembekalan memungkinkan ia untuk menunaikan tanpa menelantarkan kewajiban terhadap keluarga “.

Sementara dalam putusan nomor 7 dinyatakan : “ Masyarakat kampong dan pedesaan jika mempunyai kelebihan kekayaan tidak biasa menyimpan berupa uang, akan tetapi berupa barang (sawah, kebun, rumah) yang oleh karena setiap ada keperluan dan kebutuhan yang besar, mereka menjual barang-barang itu. Yang sangat penting, asal mereka tidak mengabaikan kewajiban yang lebih utama semisal nafkah keluarga.

  1. Pendapat …….dalam kitab bughiyatul mustarsyidin halaman 135
  2. Pendapat  Sulaiman Jamal dalam kitab hasyiyatul jamal jilid 3 halaman 75.

 

II

STATUS KEPEMILIKAN DANA SETORAN BPIH

YANG MASUK DAFTAR TUNGGU (WAITING LIST)

 

A. DESKRIPSI MASALAH

Haji merupakan ibadah wajib bagi yang sudah mampu; karena keterbatasn ketersediaan kuota haji sementara minat untuk melakukan ibadah haji semakin meningkat, maka melahirkan waiting list yang jumlahnya signifikan; antrian pendaftar yang ingin melakukan ibadah haji mengakibatkan adanya “pengendapan” dana pada rekening pemerintah (Kementerian Agama) yang kepemilikannya dipertanyakan oleh sejumlah masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH:

  1. Siapakah pemilik dana setoran haji yang waiting list; pemerintah atau calon jama’ah haji?
  2. Bagaimana posisi dana tersebut secara hukum; harus dikelola atau tetap diendapkan di rekening tanpa menghasilkan apa-apa?
  3. Apabila dana tersebut boleh dikelola, siapakah yang berhak mengelola, dan hasilnya milik siapa?

 

C. KETETAPAN HUKUM

  1. Dana setoran haji yang ditampung dalam rekening Menteri Agama yang pendaftarnya  termasuk daftar tunggu (waiting list) secara syar’i adalah milik pendaftar (calon jamaah haji); oleh sebab itu, apabila yang bersangkutan meninggal atau ada halangan syar’i yang membuat calon jamaah haji yang bersangkutan gagal berangkat, maka dana setoran haji wajib dikembalikan kepada calon jama’ah haji atau ahli warisnya.
  2. Dana setoran haji calon jamaah yang termasuk daftar tunggu yang terdapat dalam rekening Menteri Agama, selayaknya ditasharrufkan untuk hal-hal yang produktif serta dikelola dengan mitigasi risiko yang tinggi; oleh karena itu, atas nama pemilik, pemerintah disilakan mentasharrufkan dana tersebut pada sektor yang halal; yaitu sektor yang terhindar dari maisir, gharar, riba, dan lain-lain; membiarkan dana tersebut mengendap dalam rekening pemerintah tidaklah termasuk perbuatan bijak dan baik;
  3. Dana hasil tasharruf adalah milik calon jamaah haji yang termasuk dalam daftar tunggu (antara lain sebagai penambah dana simpanan calon jamaah haji atau pengurang biaya haji yang riil/nyata); sebagai pengelola, pemerintah (Kementerian Agama) berhak mendapatkan imbalan (ujrah) yang wajar/tidak berlebihan sebagai dijelaskan dalam hadits ibn Umar tentang hak pengelola wakaf.
  1. DASAR PENETAPAN HUKUM
    1. Pendapat Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAO IFI):

يجوز للمؤسسة  أن تطلب من الواعد بالاستئجار أن يدفع مبلغا محددا إلى المؤسسة تحجزه لديه لضمان جدية العميل  في تنفيذ وعده بالاستئجار  وما يترتب عليه من التزامات بشرط ألا يستقطع منه إلا مقدار الضرر الفعلي  بحيث يتم – عند نكول العميل – تحميل الواعد الفرق بين تكلفة العين المراد تأجيرها ومجموع الأجرة الفعلية  التي يتم تأجير العين على أساسها للغير أو تحميله  في حالة بيع العين  الفرق بين تكلفتها  وثمن بيعها. وهذا المبلغ  المقدم لضمان الجدية  إما أن يكون أمانة للحفظ  لدى المؤسسة  فلا يجوز لها  التصرف فيه أو أن يكون أمانة للاستثمار بأن يأذن العميل  للمؤسسة  باستثماره على أساس المضاربة الشرعية بين العميل والمؤسسة ويجوز الاتفاق  مع العميل  عند إبرام عقد الإجارة  على اعتبار  هذا المبلغ من أقساط الإجارة. (المعيار الشرعي رقم (3) عن إجارة الأشخاص).

“Pihak pemberi sewa boleh meminta  pihak yang berjanji untuk menyewa agar membayar uang muka kepada Lembaga sebagai jaminan keseriusan dalam menunaikan janji dan kewajibannya,  dengan syarat dana tersebut hanya sebagai pengganti kerugian riil apabila penyewa cidera janji. Uang muka tersebut boleh dijadikan wadi’ah yang tidak dapat digunakan oleh pemberi sewa, atau dapat dijadikan modal investasi dengan syarat pihak penyewa  memberikan izin kepada pihak pemberi sewa untuk menginvestasikan dana tersebut dengan akad Mudharabah. Penyewa dan Pemberi Sewa dapat membuat kesepakatan bahwa dana wadi’ah tersebut sebagai bagian dari cicilan ujrah.”

DALIL-DALIL DAN DASAR PENETAPAN HUKUM (AL-QUR’AN, HADITS DAN AQWAL ULAMA DIPERBANYAK)

REKOMENDASI :

1. MUI  mencari formula/skema akad.


 

III

HUKUM PENEMPATAN DANA BPIH PADA BANK KONVENSIONAL

A. LATAR BELAKANG

Dana setoran haji yang berupa Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) ditempatkan oleh Pemerintah (Kementerian Agama) pada bank-bank konvensional; sejumlah Ormas Islam mempertanyakan hukum penempatan BPIH pada bank konvensional, karena bank konvensional menggunakan system bunga (yang termasuk riba nasi’ah); padahal haji adalah perbuatan ibadah yang seharusnya terhindar dari proses yang diharamkan.

B. RUMUSAN MASALAH:

  1. Bagaimana hukumnya menempatkan dana BPIH pada bank konvensional?
  2. Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah (Kementerian Agama) dalam penempatan Dana BPIH tersebut?

C. KETETAPAN HUKUM

  1. Dana BPIH tidak boleh (haram) ditempatkan di bank-bank ribawi (konvensional); karena haji adalah perbuatan ibadah yang suci yang harus terhindar dari yang haram dan syubhat;
  2. Dana BPIH seharusnya ditempatkan oleh pemerintah pada bank-bank syariah; karena bank-bank syariah beroperasi sesuai syariah yang substansi/ruhnya sejalan dalam mendukung kesucian ibadah haji (karena terhindar dari transaksi yang diharamkan; dan mendukung pertumbuhan industri keuangan syariah;

D. DASAR PENETAPAN

  1. Firman Allah SWT :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا، وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا، فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ، يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ، وَاللَّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ، إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ، وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ، وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. (البقرة: 275-280)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Qs.Al-Baqarah : 275-280

 

  1. Firman Allah SWT :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً، وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (آل عمران: 130)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” Qs.Al-‘Imran : 130.

 

  1. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, riwayat  Imam Muslim :

عَنْ عَبْدِ اللَّه،ِ قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ، قَالَ قُلْتُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ قَالَ إِنَّمَا نُحَدِّثُ بِمَا سَمِعْنَا.

Dari Abdullah r.a., ia berkata: “Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang memakan (mengambil) dan memberikan riba.” Rawi berkata: saya bertanya: “(apakah Rasulullah melaknat juga) orang yang menuliskan dan dua oarang yang menjadi saksinya?” Ia (Abdullah) menjawab: “kami hanya menceritakan apa yang kami dengar.” (HR. Muslim).

 

  1. Hadis-hadis  Nabi Muhammad SAW, riwayat Imam Nasaai Imam ibnu Majah  :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غباره.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: “Akan datang kepada umat manusia suatu masa di mana mereka (terbiasa) memakan riba. Barang siapa tidak memakan (mengambil)-nya, ia akan terkena debunya.” (HR. al-Nasa’i).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ .

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: “Riba adalah tujuh puluh dosa; dosanya yang paling ringan adalah (sama dengan) dosa orang yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibn Majah).

 

  1. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, riwayat Imam ibnu Majah :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا.

Dari Abudullah, dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Riba mempunyai tujuh puluh tiga pintu (cara, macam).” (HR. Ibn Majah).

 

  1. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, riwayat Imam ibnu  Majah :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَشَاهِدِيهِ وَكَاتِبَهُ .

Dari Abdullah bin Mas’ud: “Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikan, dua orang yang menyaksikan, dan orang yang menuliskannya.” (HR. Ibn Majah).

 

  1. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, riwayat Imam ibnu Majah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلاَ آكِلُ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sungguh akan datang kepada umat manusia suatu masa di mana tak ada seorang pun di antara mereka kecuali (terbiasa) memakan riba. Barang siapa tidak memakan (mengambil)-nya, ia akan terkena debunya.” (HR. Ibn Majah).

 

  1. Hadis –hadis Nabi Muhammad SAW:

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَدِّ اَلْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ اِئْتَمَنَكَ, وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Dari Abu Hurairah Ra. Berkata, Rasulullah SAW bersabda: Tunaikan amanat kepada orang yang memberimu amanah dan janganlah mengkhianati orang yang telah berbuat khianat kepadamu”

  1. Hadits-hadis  Nabi Muhammad SAW, riwayat Imam Ahmad  :

عن ابن مسعود – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : لا يكتسب عبد مالا من حرام فينفق منه فيبارك فيه ، ولا يتصدق به فيتقبل منه ، ولا يتركه خلف ظهره إلا كان زاده إلى النار ، إن الله لا يمحو السيئ بالسيئ ، ولكن يمحو السيئ بالحسن ، إن الخبيث لا يمحو الخبيث

“Tidak seorangpun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima’ dan kalau dia infaqkan tidak juga beroleh barokah’ dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka.  Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan.  Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.”

(HR Ahmad)

 

  1. Hadits-hadis Nabi SAW, riwayat Imam Muslim :

ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يده إلى السماء : يا رب ! يا رب ! ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب له ؟. رواه مسلم

 “ Kemudian ada seorang laki-laki yang datang dari tempat yang jauh, rambutnya tidak terurus penuh dengan debu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa:  yaa rab, yaa rab (hai Tuhanku, hai Tuhanku), padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan  barang yang haram pula, maka bagaimana mungkin doanya itu dikabulkan?”

(HRMuslim dan Tirmidzi)

 

  1. Hadits-hadis Nabi Muhammad SAW, Bukhari, Muslim dan Tirmidzi :

عن عامر قال سمعت النعمان بن بشير يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “الحلال بين والحرام بين وبينهما مشبهات لا يعلمها كثير من الناس فمن اتقى المشبهات استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام كراع يرعى حول الحمى أوشك أن يواقعه ألا وإن لكل ملك حمى ألا وإن حمى الله في أرضه محارمه

Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, ciantara keduanya ada beberapa perkara yang belum jelas (syubhat), banyak orang yang tidak tahu: apakah dia itu masuk bagaian yang halal ataukah yang haram? Maka barangsiapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat; dan barangsiapa mengerjakan sedikitpun daripadanya hampir-hampir ia akan jatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya.  Ingatlah, bahwa tiap-tiap daerah mempunyai daerah larangan.  Ingat pula, bahwa daerah larangan Allah itu ialah semua yang diharamkan.”

(HR Bukhari, Muslim dan Tirmidzi, dan riwayat ini adalah lafal Tirmidzi)

 

  1. Ijma’ ulama tentang keharaman riba, bahwa riba adalah salah satu dosa besar (kaba’ir) (lihat antara lain: al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, [t.t.: Dar al-Fikr, t.th.], juz 9, h. 391).

 

  1. Peraturan Perundang-undangan dan Fatwa DSN-MUI:
    1. UU no 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Ají (pasal 22)
    2. UU no 19 tahun 2008 tentang perbankan Syariah
    3. UU 21 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara
    4. Fatwa MUI tno 11/01/2000 entang Hukum Bunga Bank
    5. Fatwa DSN MUI 01/DSN-MUI/2000 tentang Giro

f.Fatwa DSN MUI 02/DSN-MUI/2000 tentang Tabungan

  1. Fatwa DSN MUI 03/DSN-MUI/2000 tentang Deposito

IV

FORMALIN DAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA UNTUK PANGAN

 

  1. DESKRIPSI MASALAH

Ada beberapa zat kimia atau senyawa berbahaya yang disalah-gunakan untuk pengawet atau pewarna makanan yang beredar luas di masyarakat. Di antarnya ialah formalin, boraks (untuk pengawet) dan rhodamin B (untuk pewarna).

Formalin adalah merek dagang formaldehida yang dilarutkan ke dalam air dengan kadar 36- 40%. Formalin biasanya juga mengandung alkohol 10-15% yang berfungsi sebagai stabilisator. Formalin adalah racun yang dapat menyebabkan kanker. Bila terminum pada kadar 3 ml (sekitar 2 sendok makan) dapat menyebabkan kematian. Formalin bukan pengawet makanan tetapi bahan untuk mengawetkan janazah.

Formalin dalam makanan dapat menyebabkan keracunan dalam tubuh manusia dengan gejala sakit perut akut disertai munta-muntah, mencret berdarah, depresi susunan saraf dan gangguan peredaran darah. Injeksi formalin dengan dosis 100 gram dapat menyebabkan kematian dalam waktu 3 jam.

Menurut penelitian, makanan yang ditemukan mengandung formalin sebagai bahan pengawetnya adalah : ikan basah dan kering, mie, tahu dan bakso.

Boraks adalah racun, merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron, berwarna dan mudah larut dalam air. Ia merupakan garam natrium Na 2B407 10H20 yang banyak dipergunakan dalam berbagai industri non pangan, khususnya industri kertas, pengawet kayu, dan keramik. Gelas dan piring Pyrex yang terkenal itu juga dibuat dengan campuran boraks.

Boraks yang terkonsumsi oleh manusia dapat menyebabkan mual, muntah, diare, sakit perut, kerusakan ginjal, bahkan kematian. Makanan yang ditemukan mengandung boraks adalah: mie, kerupuk, makanan ringan, bakso, lontong dan macaroni.

Rhodamin B, methanyl yellow dan  amaranth adalah zat kimia pewarna tekstil, cat kayu, kertas, kulit, keramik, cat lukis dan lain-lain. Bila terkonsumsi dapat menyebabkan kanker, iritasi pada paru-paru, mata, tenggorokan, hidung dan usus. Makanan yang ditemukan mengandung rhodamin B adalah: kerupuk, makanan ringan, terasi, kembang gula, sirup, biskuit, minuman ringan, cendol, manisan, bubur, gipang dan ikan asin.

  1. RUMUSAN MASALAH

Apa hukum pemanfaatan formalin dan bahan kimia berbahaya untuk produk pangan?

  1. KETENTUAN HUKUM
  2. Dalam hal makanan, Islam mewajibkan umatnya mengonsumsi yang halal dan thayyib. Sebaliknya, mengharamkan untuk mengonsumsi yang haram atau yang membayakan kesehatan atau jiwa.
  3. Penggunaan bahan kimia yang berbahaya untuk pangan antara lain formalin, boraks , rhodamin B, methanil yellow, dan amarant adalah haram hukumnya. Keharaman tersebut karena dua hal : Pertama, perbuatan dalam bentuk melakukan sesuatu yang dapat membahayakan orang lain/konsumen, dalam hal ini membahayakan kesehatan, bahkan nyawa orang lain. Kedua, ada unsur pembohongan/kizib dan pengkelabuan/pengkhianatan (tadlis /ghisy) dalam jual beli yang dilakukannya terhadap konsumen.   Kedua hal tersebut jelas haram hukumnya.
  4. Pelaku usaha pangan yang menggunakan bahan kimia berbahaya adalah berdosa dan  termasuk dosa besar apabila menjadi penyebab kematian konsumen. Dalam hal ini pelakunya dapat dijatuhi hukuman seberat-beratnya sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
  1. DASAR PENETAPAN
    1. Firman Allah SWT :

وَلاَتُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا    (الأعراف : 56)

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikiny”. Qs. Al-A’raf : 56

  1. Firman Allah SWT :

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا. وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ، إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (القصص: 77)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Qs. Al- Qashas : 77

  1. Firman Allah SWT :

وَلاَتُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ (البقرة: 195)

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. Qs. Al-Baqarah : 195

  1. Firman Allah SWT :

والذين يؤذون المؤمنـين والمؤمـنات بغـير مااكـتسبوا فقـد احتـملوا بهـتانا وإثما مبـينا (الأحزاب : 58)

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. Qs. Al-Ahzab : 58

  1. Firman Allah SWT :

يا أيها الذين آمـنوا لا تأكـلوا أموالـكم بينكم بالباطـل (النساء : 29)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil”. Qs. An-Nisaa : 29

  1. Firman Allah SWT :

ولا تأكـلوا أمـوالكم بيـنكم بالباطـل (البقرة : 188)

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil”. Qs. Al-Baqarah : 188

  1. Hadist Nabi Muhammad SAW  riwayat Muslim :

اتقـوا الظلم فإن الظلم ظلمات يـوم القـيامة

“Takutlah kalian semua terhadap kezaliman, karena sesunggunya zalim adalah kegelapan dihari kiamat (nanti)”. (HR. Muslim dari Ibnu Umar)

  1. Hadis Nabi Muhammad SAW riwayat Bukhari Muslim :

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

“Seorang muslim adalah orang yang menyelamatkan muslim yang lain dari lisan dan tanganya”.

  1. Hadis Nabi Muhammad SAW riwayat Malik, al-Hakim, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni :

لاضررولاضرار

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang”.

  1. Hadis Nabi Muhammad SAW riwayat Jamaah kecuali Bukhari dan Nasai:

من غشنا فليس منا

            “Barangsiapa yang menipu maka dia tidak termasuk kelompok-ku” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

  1. Kaidah Fiqih :

الضرر يزال  

“Yang menimbulkan mudlarat harus dihilangkan/dihindarkan”.

  1. REKOMENDASI
  2. Menghimbau pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana pengganti dari bahan-bahan kimia berbahaya tersebut, seperti pembangunan pabrik-pabrik es yang bersubsidi agar terjangkau oleh pedagang dan konsumen ekonomi lemah.
  3. Melakukan penyuluhan terpadu kepada masyarakat akan bahaya penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya tersebut dalam produk pangan.
  4. Melakukan pengawasan dan pembinaan kepada para pengusaha pangan dan pihak-pihak yang terkait dengan bahan-bahan kimia berbahaya tersebut.
  5. Meminta pemerintah meningkatkan penelitian tentang bahan alternatif pengawet aman konsumsi.
  6. Menghimbau pemerintah agar mensosialisasikan bahan pengawet yang aman untuk dikonsumsi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada serta memfasilitasi sarana dan prasarana.

V

STATUS  TANAH MASJID

  1. DESKRIPSI MASALAH

Di masyarakat didapatkan beberapa masjid yang dibangun oleh perorangan atau keluarga. Sehingga kepengurusan atas masjid tersebut terkesan dikuasai oleh perorangan atau keluarga, bahkan pemanfaatannya terkadang mengabaikan kemaslahatan umum.

Realita tersebut seringkali dipermasalahkan setelah tradisi itu berlangsung bertahun-tahun, turun-temurun antar generasi. Saat terjadi penyimpangan pengelolaan, barulah timbul pertanyaan, apakah status tanah dan bangunan masjid telah diwakafkan ? ataukah memang masjid dan tanahnya dapat dimiliki oleh perseorangan.

  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Bagaimana status tanah yang digunakan untuk bangunan masjid, apakah harus wakaf atau tidak?
  1. KETENTUAN HUKUM
  1. Tanah masjid wajib berstatus wakaf, maka tanah masjid yang belum berstatus wakaf harus diusahakan untuk disertifikasi wakaf.
  1. Peruntukan harta benda wakaf dan status tanah wakaf tidak boleh diubah kecuali dengan syarat-syarat tertentu yang disebut dalam Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia ketiga tahun 2009.
  1. DASAR PENETAPAN
  1. Firman Allah SWT dalam surat Al-Jin ayat 18 :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ )الجن : 18 (

Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah Ta’ala.

  1. Hadist –hadis Nabi Muhammad SAW, riwayat Al-Jamaah :

وعن ابن عمر رضي الله عنهما ، أن عمر أصاب أرضاً من أرض خيبر ، فقال : يا رسول الله ، إني أصبت أرضاً بخيبر ، لم أصب مالاً قط أنفس عندي منه ، فما تأمرني ؟ قال : « إن شئت حبست أصلها ، وتصدقت بها » ، فتصدق بها عمر على أن لا تباع ، ولا توهب ، ولا تورث ، في الفقراء ، وذوي القربى ، والرقاب ، والضيف ، وابن السبيل ، لا جناح على من وليها أن يأكل منها بالمعروف ، ويطعم صديقاً ، غير متمول مالاً (رواه الجماعة)

Artinya : Dari  Ibnu Umar r. a. bahwa sesungguhnya   Umar   mendapatkan tanah  di Khaibar, kemudian Umar  berkata:  Ya  Rasullu­lah,  aku telah mendapatkan tanah di Khaibar, dan  aku belum pernah mendapatkan harta yang lebih berharga dari tanah  tersebut, maka apakah yang  Engkau  perintahkan padaku  (Ya Rasullulah) ? Kemudian Rasulullah bersabda: Jika  engkau mau tahanlah asalnya dan sedekahkan  (man­faatnya),  maka Umar menyedekahkannya, untuk itu  tanah tersebut  tidak dijual, tidak dihibahkan  dan  tidak diwariskan. Sedekah tersebut diperuntukkan bagi orang-orang fakir, keluarga dekat, memerdekakan budak,  untuk menjamu tamu dan untuk orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan,  tidak mengapa  orang  yang menguasainya (nazhirnya) makan sebagian dari padanya dengan baik  dan memberi makan (kepada keluarganya) dengan syarat  tidak dijadikan  sebagai hak milik. HR.Jama’ah

  1. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, riwayat Bukhari :

عَنْ أَنَسٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ بِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ  . فَقَالَ:  يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُونِي ، فَقَالُوا : لاَ نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلاَّ إِلَى اللهِ . فَأَمَرَ بِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ فَنُبِشَتْ ثُمَّ بِالْخِرَبِ فَسُوِّيَتْ وَبِالنَّخْلِ فَقُطِعَ فَصَفُّوا النَّخْلَ قِبْلَةَ الْمَسْجِدِ.

Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa : “Setelah Rasulullah Saw. tiba di Al-Madinah, beliau menyuruh membangun masjid. Rasulullah mengatakan : Hai Bani An-Najjar : Juallah kebun (tanah) kalian ini dengan menentukan harganya (bukan dengan hibah) ? Bani Najjar menjawab : Tidak, demi Allah, kami tidak minta harganya (pahalanya) kecuali dari Allah. Kemudian Rasulullah Saw menyuruh menggali kuburan orang-orang musyrik dan bekas bangunan di tanah tersebut, untuk meratakan tanahnya. Mereka letakkan pohon kurma sebagai tanda arah kiblat masjid.”

  1. Pendapat pengarang Kanzu Ad-Daqoiq (5/258) mengatakan :

وَمَنْ بَنَى مَسْجِدًا لم يَـزُلْ مِلْكُهُ عنه حتى يُفـْرِزَهُ عن مِلْكِهِ بِطَرِيقِهِ وَيَأْذَنَ بِالصَّلَاةِ فيه وإذا صلى فيه وَاحِدٌ زَالَ مِلْكُهُ

Orang yang membangun masjid tetap menjadi pemilik masjid yang dibangunnya tersebut. Kepemilikannya tersebut tetap berlaku, sampai ia lepaskan masjid tersebut dari kepemilikannya beserta jalan masuk ke masjid (mewakafkannya) dan ia izinkan shalat pada masjid tersebut. Apabila betul-betul ada orang yang shalat padanya, meskipun satu orang saja, maka lepaslah masjid tersebut dari kepemilikannya.

 

  1. Ibnu Nujeim, pensyarah Kanzu Ad-Daqoiq, menjelaskan sebagai berikut. :

أَمَّا الْإِفْرَازُ فإنه لَا يَخْلُصُ لِلَّهِ تَعَالَى إلَّا بِهِ  وَأَمَّا الصَّلَاةُ فيه فَلِأَنَّهُ لَا بُدَّ من التَّسْلِيمِ عِنْدَ أبي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ فَيُشْتَرَطُ تَسْلِيمُ نَوْعِهِ وَذَلِكَ في الْمَسْجِدِ بِالصَّلَاةِ فيه.

Perlunya melepaskan masjid tersebut dari kepemilikan pemiliknya adalah karena masjid hanya untuk Allah Ta’ala. Tidak ada cara untuk menjadikan masjid hanya untuk Allah Ta’ala selain dari melepaskan masjid dari kepemilikan pemiliknya (mewakafkan-nya). Perlunya melakukan shalat pada masjid tersebut ialah karena wakaf, menurut Abu Hanifah dan Muhammad, harus diserahkan kepada mauquf ‘alaihi (pihak yang diberi wakaf yaitu masyarakat Islam. Penyerahan masjid kepada masyarakat tidak mungkin, karena itu). Karena itu  wakaf masjid perlu dilakukan semacam simbol penyerahan mauquf (masjid) kepada mauquf ‘alaihi (yaitu masyarakat), dengan melakukan shalat pada masjid tersebut.

  1. Pendapat Imam Malik dalam kitab Al-Mudawwanat (4/259) :

قلت : أرأيت من بنى مسجدا على ظهر بيت له أو على غير ظهر بيت على أرضه ولم يبنه على بيته ، أيجوز له أن يبيعه ؟ قال :  قال مالك : لا يجوز له أن يبيعه ؛ لأن هذا عندي بمنزلة الحبس.

Saya (Sahnun) bertanya (kepada Ibnu Qosim) : “Apakah orang yang membangun masjid di rumahnya atau membangunnya di luar rumahnya, tetapi di tanahnya, bukan di rumahnya, boleh menjual masjid yang dibangunnya tersebut. Ibnu Qosim mengatakan : Malik mengatakan : “Orang tersebut tidak boleh menjual masjid yang dibangunnya tersebut, karena – menurut hemat saya – masjid adalah (habs) (wakaf)”.

  1. Pendapat Al-Ramly  dalam Nihayah Al-Muhtaaj ila Syarkhi Al-Minhaj (5/394)

وَقَعَ السُّؤَالُ فِي الدَّرْسِ عَمَّا يُوجَدُ مِنْ الْأَشْجَارِ فِي الْمَسَاجِدِ وَلَمْ يُعْرَفْ هَلْ هُوَ وَقْفٌ أَوْ لَا مَاذَا يَفْعَلُ فِيهِ إذَا جَفَّ ؟ وَالْجَوَابُ : أَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ غَرْسِهِ فِي الْمَسْجِدِ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ لِمَا صَرَّحُوا بِهِ فِي الصُّلْحِ مِنْ أَنَّ مَحَلَّ جَوَازِ غَرْسِ الشَّجَرِ فِي الْمَسْجِدِ إذَا غَرَسَهُ لِعُمُومِ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَنَّهُ لَوْ غَرَسَهُ لِنَفْسِهِ لَمْ يَجُزْ وَإِنْ لَمْ يَضُرَّ بِالْمَسْجِد.

Dalam pelajaran tentang wakaf, timbul pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan terhadap pohon-pohon yang sudah mati di halaman masjid dan tidak diketahui dengan jelas statusnya apakah wakaf atau tidak ? Jawabnya ialah :  menurut lahiriahnya, pohon yang ditanam dimasjid adalah wakaf. Karena para Ulama ahli fiqh menjelaskan dalam pembahasan tentang ash-shulhu bahwa hukum penanaman pohon di masjid adalah boleh, jika tujuannya untuk kepentingan kaum muslimin secara umum. Jika tujuannya hanya untuk kepentingan penanamnya sendiri, hukumnya tidak boleh, meskipun pohonnya tidak mengganggu masjid.

 

  1. Pendapat Abu Thahir, Al-Baghawi dan Al-Mutawally  dalam Raudhah Al-Thalibin (5/387) :

وقطع الأستاذ أبو طاهر والمتولي والبغوي بأنه لا يصير مسجدا لأنه لم يوجد شيء من ألفاظ الوقف قال الأستاذ : فإن قال :  جعلته مسجدا لله تعالى صار مسجدا .

Al-Ustadz Abu Thohir, Al-Mutuwally, dan Al-Baghowy, mene-tapkan bahwa bunyi ikrar wakaf masjid seperti tersebut tidak membuat tempat atau bangunan tersebut menjadi mesjid. Karena ikrar tersebut tidak mengandung kata (pemberian) wakaf. Al-Ustadz Abu Thohir, mengatakan : “Kalau pemberi wakaf masjid tersebut menyebutkan dalam ikrar wakafnya sbb. : “Saya jadikan  tempat ini masjid karena Allah Ta’ala”, maka tempat yang diwakafkannya tersebut menjadi masjid.

  1. Pendapat Ahmad bin Hanbal dalam kitab Fath Al-Baariy (2/377) :

ومتى كان المسجد يؤذن فيه ويقام ويجتمع فيه الناس عموما ، فقد صار مسجدا مسبلا ، وخرج عن ملك صاحبه بذلك عند الإمام أحمد ، وعامة العلماء ، ولو لم ينو جعله مسجدا مؤبدا .

Masjid yang telah dikumandangkan padanya adzan, dilakukan padanya shalat, dan orang-orang telah melakukan shalat secara berjamaah padanya, telah memiliki status masjid wakaf. Dengan statusnya sebagai masjid, ia lepas dari hak milik pemiliknya. Demikian menurut Ahmad bin Hanbal dan ulama secara umum, meskipun orang yang membangunnya tidak berniat menjadikannya masjid selama-lamanya.

  1. REKOMENDASI
  2. Agar umat Islam Indonesia memahami hukum fikih wakaf dan peraturan perundang-undangan tentang wakaf, ulama, cendekiawan dan organisasi kemasyarakatan Islam lebih meningkatkan sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang wakaf kepada masyarakat.
  1. Agar  Pemerintah bekerjasama dengan Badan Wakaf Indonesia lebih meningkatkan sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang wakaf kepada masyarakat.
  1. Biaya sertifikasi tanah wakaf ditanggung oleh Negara melalui kementrian agama.

 


 

 

VI

SHALAT JUMAT DI GEDUNG SERBAGUNA

 

  1. DESKRIPSI MASALAH

Pada masa Rasulullah SAW, shalat Jumat dilakukan di satu masjid karena tujuan dari ibadah shalat Jumat antara lain adalah terwujudnya rasa persaudaraan dan saling mengenal di antara kaum muslimin serta terciptanya kesatuan hati yang menguatkan nilai-nilai ukhuwah di antara mereka. Hal ini terus berlangsung hingga masa al-Khulafa Al-Rasyidun.

Namun seiring dengan pertambahan jumlah kaum muslimin, maka sebuah masjid tidak lagi mampu untuk menampung jumlah kaum muslimin.  Bahkan dewasa ini, di kota besar seperti Jakarta, jumlah masjid yang tersedia dirasakan tidak lagi memadai untuk menampung kaum muslimin dalam melaksanakan ibadah shalat Jumat.

Menyikapi hal ini, sebagian komunitas muslim di beberapa perkantoran, pabrik, mall dan hotel, berinisiatif untuk melakukan shalat Jumat di ruang serba guna (multi fungsi) seperti aula kantor, area pabrik, atau basement mall dan hotel.  Semua itu mereka lakukan karena mereka tidak memiliki masjid di lokasi tempat mereka bekerja, sementara untuk bergabung ke masjid-masjid yang ada di sekitarnya bukanlah solusi bijak, mengingat kondisi transportasi yang tidak memadai.

  1. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana hukum Shalat Jumat yang dilaksanakan di bangunan yang bukan masjid, seperti gedung serba guna, yang peruntukannya tidak hanya untuk ibadah, tetapi juga untuk kepentingan yang lain, seperti resepsi, rapat, dan juga pertunjukan atau kebaktian?

  1. KETENTUAN HUKUM

Shalat Jumat dapat dilakukan di gedung serbaguna, seperti aula kantor, area pabrik, basement mall dan hotel apabila tidak ada masjid di sekitar tempat tersebut, atau ada masjid tetapi terbatas dan tidak bisa menampung jamaah secara keseluruhan atau sulitnya transportasi guna mencapai masjid terdekat.

  1. DASAR PENETAPAN
    1. Firman Allah SWT :

يريد الله بكم اليـسر ولا يريـد بـكم العـسر (البقرة : 185)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Qs. Al-Baqoroh : 185

  1. Firman Allah SWT :

وما جعـل عليكم في الديـن من حـرج (الحج : 78)

Dan Dia tidak sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. Qs. Al-Hajj : 78

  1. Hadist Nabi Muhammad SAW riwayat Bukhari Muslim :

وجعـلت لي الأرض مسجـدا وطهورا

Dan dijadikan bumi bagiku masjid dan suci

  1. Perintah Sahabat Umar RA riwayat Ibnu Abi Syaibah kepada penduduk Bahrain :

أن جـمعـوا (صلوا الجمعة) حيـث كنـتم

“Berkumpullah (shalatlah jum’at) dimana saja kalian berada”

  1. Kaidah Fiqih :

الأمر إذا ضاق اتسـع وإذا اتسـع ضـاق

“Suatu perkara jika sempit dapat diperluas dan jika luas dapat dipersempit”

  1. Pendapat Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’.

قال أصحابنا ولا يشترط إقامتها في مسجد ولكن تجوز في ساحة مكشوفة بشرط أن تكون داخلة في القرية أو البلدة معدودة من خطتها

“Para ulama ahli fiqh mazhab Syafii mengatakan : Tidak disyaratkan sholat Jum’at itu dilaksanakan di masjid. Jadi sholat Jum’at boleh dilaksanakan dilapangan terbuka, dengan syarat masih terletak dalam batas desa atau dalam batas-batas negeri”.

  1. Pendapat Shahibu Al-Inshaaf (Madzhab Hambali) :

قوله (ويجـوز إقامتها في الأبنية المتـفرقة إذا شملها اسم واحد ، وفيما قارب البنيان من الصخراء) وهو المذهـب مطلقا وعليه أكثر الأصحاب وقطع به كثير منهم ، وقيل : لا يجوز إقامتها إلا في الجامع .

“Dan pendapatnya (yang menyatakan boleh pelakasanaan shalat jum’at di bangunan-bangunan yang berlainan selama masih mengandung satu nama, dan gedung berdekatan dengan padang luas) merupakan pendapat madzhab secara mutlak dan kebanyaka pengikut madzhab memutuskan demikian. Dan ada yang berpendapat dikatakan: tidak boleh menjalankannya kecuali di (masjid).

 

  1. REKOMENDASI

Menghimbau kepada pengelola gedung perkantoran, pabrik, mall dan hotel yang memiliki pegawai mayoritas muslim untuk menyediakan tempat khusus yang dapat digunakan untuk sarana ibadah shalat, seperti mushalla sekalipun di area parkir yang dapat diperluas – menggunakan area parkir tersebut– saat dilaksanakannya shalat Jumat.

VII

VASEKTOMI

  1. A.    DESKRIPSI MASALAH

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, pada 1979 telah memfatwakan bahwa vasektomi/tubektomi hukumnya haram. Fatwa yang ditetapkan pada 13 Juni 1979 ini diputuskan setalah membahas kertas kerja yang disusun oleh KH. Rahmatullah Siddiq, KHM. Syakir, dan KHM. Syafi’i Hadzami, yang menegaskan bahwa; (i) pemandulan dilarang oleh agama; (ii) vasektomi/tubektomi adalah salah satu bentuk pemadulan; dan (iii) di Indonesia belum dapat dibuktikan bahwa vasectomi/tubektomi dapat disambung kembali.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, kini vasektomi dapat dipulihkan kembali pada situasi semula. Menyambung saluran spermatozoa (vas deferen) dapat dilakukan oleh ahli urologi dengan menggunakan operasi menggunakan mikroskop. Namun, kemampuan untuk dapat mempunyai anak kembali akan sangat menurun tergantung lamanya tindakan vasektomi.

Vasektomi, yang dalam terminologi BKKBN dikenal dengan istilan MOP (Medis Operasi Pria) merupakan salah satu metode kontrasepsi efektif yang masuk dalam system Program BKKBN. Kelebihan alat kontrasepsi ini adalah memiliki efek samping sangat kecil, tingkat kegagalan sangat kecil dan berjangka panjang.

Kalau dulu MOP dianggap permanen, bagaimana pandangan hukum Islam terhadap vasektomi/tubektomi dengan ditemukannya “rekanalisasi” (penyambungan ulang)?

KETENTUAN HUKUM

Vasektomi hukumnya haram, kecuali :  (a) untuk tujuan yang tidak menyalahi syari’at (b) tidak menimbulkan kemandulan permanen (c) ada jaminan dapat dilakukan rekanalisasi yang dapat mengembalikan fungsi reproduksi seperti semula (d) tidak menimbulkan bahaya (mudlarat) bagi yang bersangkutan, dan/atau (e) tidak dimasukkan ke dalam program dan  methode kontrasepsi mantap .

DASAR PENETAPAN

  1. Firman Allah SWT :

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar518″. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). [QS. Al-An'am :151]

  1. Firman Allah SWT al-Isra: 31

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءاً كَبِيراً

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. Al-Isra’ : 31)

  1. Firman Allah SWT al-Syura: 50

أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَاناً وَإِنَاثاً وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيماً إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“… atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. [QS. Al-Syura 42:50]

  1. Fiman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلاَدِهِمْ شُرَكَآؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُواْ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَلَوْ شَاء اللّهُ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. [QS. Al-An'am 6:137]

  1. Firman Allah SWT:

وَلأُضِلَّنَّهُمْ وَلأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأَنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللّهِ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيّاً مِّن دُونِ اللّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَاناً مُّبِيناً

“… dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya351, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya352″. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. [QS. Al-Nisa' 4:119]

  1. Hadis-hadis Nabi Muahammad SAW, riwayat Ad-Darimi :

عن المغيرة قال : نهى رسول الله  صلى الله عليه وسلم  عن   وأد البنات  وعقوق الأمهات وعن منع وهات وعن قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة.

Dari Mughirah ra ia berkata: “Rasulullah saw melarang mengubur anak perempuan (hidup-hidup), durhaka pada orang tua, menarik pemberian, berkata tanpa jelas sumbernya (hanya katanya katanya), banyak meminta, dan menghambur-hamburkan harta (HR. Al-Darimi)

  1. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, riwayat Imam Ahmad :

عن بن مسعود قال : سمعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم يلعن   المتنمصات  والمتفلجات والموشمات اللاتي يغيرن خلق الله.

Dari Ibn Masud ra ia berkata: Saya mendengar rasulullah saw melaknat perempuan yang memendekkan rambutnya, membuat tato yang merubah ciptaan Allah”. [HR. Ahmad]

  1. Kaidah Ushuliyyah:

النهي عن الشيء نهي عن وسائله

“Larangan terhadap sesuatu  juga merupakan larangan terhadap sarana-sarananya”

  1. Kaidah Ushuliyyah

الحكم يدور مع علته وجودا و عدما

                             “Penetapan hukum tergantung ada-tidaknya ‘illat”

  1. Kaidah Fiqhiyyah:

لا ينكر تغير الأحكام بتغير الأزمنة و الأمكنة والأحوال و العوائد

“Tidak diingkari adanya perubahan hukum sebab adanya perubahan waktu, tempat, kondisi, dan kebiasaan”

  1. Penjelasan Prof. Dr. Farid Anfasa Moeloek, Bagian Obsteri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas IndonesiaJakarta  dan penjelasan Furqan Ia Faried dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada Halqah MUI tentang Vasektomi dan Tubektomi yang diselenggarakan di Jakarta pada 22 Januari 2009.
  2. Berdasarkan surat Kementerian Kesehatan nomor TU.05.02/V/1016/2012 yang menyatakan bahwa berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Ikatan Ahlia Urologi Indonesia (IAUI) bahwa pasca tindakan vasektomi dapat dilakukan rekanalisasi (penyambungan kembali saluran spermatozoa), dimana tindakan rekanalisasi tersebut pada saat ini telah terbukti berhasil mengembalikan fungsi saluran spermatozoa serta memulihkan kesuburan seperti sebelum dilakukan vasektomi. Hasil tindakan rekanalisasi ini dapat dipertanggung jawabkan, baik secara medis maupun professional.
  3. Penjelasan Perhimpunan Dokter Spesialis Urologi Indonesia (IAUI), Vasektomi adalah tindakan memotong dan mengikat saluran spermatozoa (vas deferens) dengan tujuan menghentikan aliran spermatozoa, sehingga air mani tidak mengandung spermatozoa pada saat ejakulasi tanpa mengurangi volume air mani.
  4. BKKBN Jawa Timur dalam situs resmi menyatakan bahwa salah satu kelemahan vasektomi adalah tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin mempunyai anak lagi.
  5. Jawaban BKKBN Pusat atas pertanyaan tentang untung ruginya vasektomi, sebagaimana tertera dalam laman resminya, sebagai berikut: Vasektomi merupakan metode kontrasepsi mantap (Kontap) jadi salah satu syarat menjadi peserta vasektomi adalah pasangan suami isteri yang sudah tidak ingin menambah jumlah anak lagi dikemudian hari, karena walaupun bisa dilakukan rekanalisasi (penyambungan kembali) saluran sperma tetapi kembalinya kesuburan tidak seperti semula dan biaya rekanalisasi itu relatif mahal. Menjadi peserta KB vasektomi tidak ada ruginya, karena vasektomi merupakan metode yang sangat efektif untuk mencegah kehamilan, aman, murah (sekali untuk selamanya), tidak mengganggu fungsi seksual, tidak menimbulkan gangguan ereksi dan tidak mengurangi libido.

 

TIM MATERI

IJTIMA’ ULAMA KOMISI FATWA SE-INDONESIA KE IV

Ketua,                                                                        Sekretaris,

KH. DR. MA’RUF AMIN                DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA

Tentang Firman Hidayat bin Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.
Tulisan ini dipublikasikan di Fiqih dan Hukum. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s