//
you're reading...
Biografi Ulama

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Ahmad Al-Khathib Al-Minangkabawi Bag. 1

1. Nama dan garis nasab beliau:
Beliau bernama lengkap Ahmad bin ‘Abdullathif bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Khathib Al-Minkabawi Al-Jawi Asy-Syafi’i Al-Atsari. Beliau berkunyah Abu ‘Abdul Karim.

2. Kelahiran beliau:
Ahmad bin ‘Abdullathif Al-Khathib dilahirkan

pada hari Senin 6 Dzul Hijjah 1276 H (atau dalam Ayahku, Ust. Hamka mnyebutkan th. 1276) di Sumatera Barat. Beliau merupakan anak pertama dari 2 bersaudara.

3. Pertumbuhan beliau
Ahmad Al-Khathib kecil tumbuh dipangkuan sang ayah. Mulai menghafal Alquran dan berhasil menghafalkan beberapa juz’ dari Alquran.

4. Menuntut ilmu ke Tanah Suci
Pada th 1871 M, Ahmad diajak oleh sang kakek, dalam riwayat lain ayah beliau, bersafar ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan haji, Ahmad remaja ditinggal sang kakek pulang ke Sumatera, dan tinggallah Ahmad di Makkah menuntut ilmu dengan mendiami sebuah rumah yang telah dibeli oleh sang kakek.

Ahmad mulai melanjutkan menghafal Alquran dan belajar Bahasa Inggris sampai mencapai drajat istimewa.

Kemudian beliau menuntut ilmu syar’i dara sejumlah ulama di Makkah, di antaranya adalah:
1. Sayyid ‘Umar Syatha
2. Sayyid ‘Utsman Syatha
3. Sayyid Bakri, penulis I’anatuth-Thalibin
4. Dan lain-lain.
Dalam Ensiklopedi Ulama Nusantara hal. 191, Muhammad Bibit Suprapto mendaftar ulama berikut: Yahya Al-Qalbi, Ahmad bin Zaini Dahlan & Muhammad Shalih Al-Kurdi. Namun saya belum menemukan data lain yang mendukungnnya.
Penulis Siyar wa Tarajim, ‘Umar ‘Abdul Jabbar, mencatat bahwa beliau adalah santri teladan dalam semangat, ijtihad & rajin menuntut ilmu di samping terkenal dengan keuletan dalam bermudzakarah berbagai disiplin ilmu baik siang maupun malam. Oleh karena itu, ketekunan beliau itu membuahkan keahlian beliau dalam berbagai macam ilmu, seperti ilmu hitung, jabar, waris, miqat, fiqih dan lainnya. Dan beliau telah menulis sejumlah karya dalam disiplin ilmu itu.

5. Pernikah & Karir Beliau di Makkah
Mendengar keuletan & ketekunan Ahmad dalam thalabul ‘ilmi di samping sifat zuhud & wara’ yang dimilikinya, Syaikh Muhammad Shalih Al-Kurdi -seorang ulama berkedudukan tinggi di pemerintahan Hijaz waktu itu- pun tertarik untuk menjadikan Ahmad sebagai menantunya (orang Jawa bilang, ‘Dipek mantu.’). Tidak cukup sampai di situ, bahkan Syaikh Muh. Shalih Al-Kurdi sendiri yang memberikan sejumlah harta kepada Ahmad yang nantinya dijadikan sebagai maskawin (mahar) dalam pernikahan dengan sang putri, dan menjanjikan akan memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan seorang Ahmad dan keluarganya, seperti rumah beserta prabutan rumah tangga. Dengan kata lain, Ahmad Al-Khathib tidak perlu capek-capek mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya kelak, karena sudah mendapat jaminan dari sang mertua, Muh. Shalih Al-Kurdi. Bahkan Syaikh Muh. Shalih melarang Ahmad bercapek-capek untuk mengais kebutuhannya sendiri. Allahuakbar!

Dalam Tafsir Al-Azhar, Ust. ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim Amrullah meriwayatkan cerita yang sama seperti di atas, hanya seja dengan sedikit tambahan. “Awal mula ketertarikan Syaikh Muh. Shalih Al-Kurdi kepada Ahmad Al-Khathib adalah tatkala Ahmad ini sering mengunjungi toko buku milik Syaikh Al-Kurdi. Jika Ahmad memiliki uang untuk membeli buku, maka beliau membelinya, namun jika tidak maka cukup datang ke toko lalu asyik nongkrong membaca buku di tempat saja. Akhirnya terjadilah diskusi ringan antara keduanya.

6. Menjadi Imam & Khathib di Masjidil Haram
Setelah pernikahan beliau yang pertama, karir Ahmad Al-Khathib pun lambat laun mulai meroket. Dari mulai seorang penuntut ilmu biasa mulai menjadi guru, imam & khathib di Masjidil Haram atas permintaan mertua beliau kepada Syarif ‘Aunur-Rafiq, penguasa Hijaz waktu itu.

Dari pernikahan Syaikh Ahmad dengan istri pertamanya, yang kata Ust. Hamka dalam Tafsir-nya bernama Khadijah, beliau dikaruniai seorang putera yang beliau namai ‘Abdul Karim (Wafat di Mesir th. 1357 H), dengannya pula Syaikh Ahmad berkun-yah.

Selanjutnya, setelah meninggalnya istri Syaikh Ahmad Al-Khathib yang pertama, sang mertua, Syaikh Muhammad Shalih Al-Kurdi, nampaknya tidak tega melihat Syaikh Ahmad sendiri, yang pada akhirnya beliau pun menikah putrinya yang lain dengan Syaikh Ahmad. Nah, istri yang ke-2 ini dikenal sebagai teladan wanita shalihah, memiliki hafalan Alquran 30 juz, ilmu yang luas sehingga seringkali membantu Syaikh Ahmad -sang suami- dalam pelajaran & mudzakara.

Bersambung insyaAllah….
Refrensi:
1. Siyar wa Tarajim li Ba’dh ‘Ulamaina bil Masjidil Haram cet. ke-3 1403 H. Jeddah: Tihamah. Karya Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar
2. Ensiklopedia Ulama Nusantara cet. ke-1 karya Muhammad Bibit.
3. Beberapa Aspek Islam di Indonesia Abad ke-19 karya Dr. Karel A. Steenbrink
4. Mausu’ah al-A’lam
5. Tafsir Al-Azhar karya al-Ustadz ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim Amrullah.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: