//
you're reading...
Bimbingan Islam

Beberapa Hal Berkaitan dengan Safar

¤ 1. Definisi safar
1.A. Safas secara etimologi bahasa ‘Arab bermakna membuka sesuatu yang sebelumnya tertutup (kasyf ‘anis satr). Oleh karena itu seorang wanita yang tidak memakai jilbab dan auratnya terbuka disebut sufur.

Sekarang timbul pertanyaan: Kenapa perjalanan itu dinamakan dengan safar yang bermakna membuka? Apa gerangan yang dibuka dal

am sebuah perjalanan atau safar? Jawabnya karena ketika orang yang mengadakan perjalanan atau safar akan menampakkan akhlak dan watak aslinya. Oleh karena itu, Amirul Mu’mini Abu Hafsh ‘Umar bin Al Khaththab mengatakan bahwa cara menilai akhlak seseorang itu dapat dilakukan dalam 3 keadaan, yaitu ketika safar, bisnis, dan ketika diberi amanah. Dengan itu, akhlak dan thabiat asli seseorang akan terlihat jelas. [Penulis ambil dari catatan pelajaran Al Ghayah wat Taqrib bersama Ustadzuna Aris Munandar hafizhahullah ketika membahas ‘shalat musafir’]

1.B. Menurt terminologi, safar adalah perjalan yang ditempuh seseorang dengan maqsud tertentu dan dengan jarak menurut ‘urf (adat & kebiasaan masyarakat setempat), baik disengaja maupun tidak.

¤ 2. Macam-Macam Safar
2.A. Salaf dalam rangka menuntut ilmu. Hal semacam ini bisa dikategorikan sebagai safar wajib dan bisa pula sunnah, tergantung ilmu yang dituntut; apakah ilmu wajib atau ilmu sunnah.

Rasulullah pernah bersabda, “Siapa yang keluar dari rumahnya dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampa kepulangannya.” Riwayat At Tirmidzi dan beliau menilanya sah. Dinilai dha’if oleh Al Albani.

2.B. Safar dalam rangka beribadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala seperti haji atau jihad. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Tidak ada perjalanan yang ditempuh kecuali ke 3 masjid, yaitu masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjid Al Aqsha.”

2.B. Safar dalam rangka menghindari dari sebab-sebab gangguan terhadap agama. Ini juga baik. Maka, lari dari sesuatu yang tidak disanggupi merupakan bagian dari sunnah para nabi & rasul. Dan di antara tradisi kaum Salaf adalah menjauhi suatu negeri karena khawatir terkena fitnah.

2.C. Safar dalam rangka lari dari sesuatu yang mencelakai badan seperti penyakit tha’un, atau harta dari ghila’is si’r, atau yang mendudukinya. Ini juga tidak mengapa. Bahkan bisa jadi dalam suatu keadaan menjadi wajib atau mustahab. Namun dikecualikan lari dari penyakit tha’un, karena adanya larangan dalam hal itu.

Kesimpulannya, safar terbagi menjadi: tercela, terpuji, dan mubah. Bisa jadi safar yang tercela itu haram, seperti safar untuk mendurhakai orangtua; makruh seperti lari dari penyakit tha’un. Dan safar terpuji bisa jadi wajib seperti haji, thalabul ilm yang merupakan kewajiban atas setiap individu muslim. Dan seterusnya…

¤ 3. Adab-Adab Bersafar
3.A. Diawali dengan mengembalikan kezhaliman, membayar hutang-hutang, menunaikan nafkah kepada siapa yang menjadi tanggungannya, mengembalikan barang titipan jika ada, tidak membawa bekal kecuali yang halal lagi thayyib.

3.B. Memilih teman safar, bukan bersafar sendirian. “Ar Rafiiq tsumma Ath Thariiq.” Seyogyanya teman safar adalah orang yang bisa membantunya dalam menjalankan agama. Karena “seseorang itu di berada atas agama temannya.” Rasulullah sendiri telah melarang umatnya melakukan safar sendir, beliau juga bersabda, “Jika kalian berjumlah 3 orang, maka angkatlah amir di tengah kalian.”

3.C. Hendaknya memberi semacam wasiat atau titipan kepada orang yang ditinggal, keluarga, dan teman-temannya. Misalnya ia mengatakan, “Aku titipkan agama, amanah, dan amal akhirmu kepada Allah.” Maka yang ditinggal menjawab dan mendoakan, “Semoga Allah memberimu bekal ketaqwaan, mengampuni dosamu, dan mengarahkanmu kepada kebaikan ke mana pun kamu mengarah (melangkah).”

Sebaiknya calon musafir melakukan shalat istikharah 2 rakaat. Jika ia telah sampai di pintu rumahnya, ia berdoa, “Bismillah tawakkaltu ‘alallaahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Robbi a’udzubika an udhilla au udholla, au azilla au uzalla, au azhlima au uzhlama, au ajhala au ujhala ‘alayya.”

Apabila ia telah menunggang tunggannya, ia berdoa, “Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa hadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin wa innaa ilaa Robbinaa lamunqolibuun.”

3.D. Berlaku baik terhadap hewan tunggangan, tidak membebaninya dengan barang bawaan yang tidak disanggupinya. Memberikannya waktu istirahat.

3.E. Jika dalam sebuah kafilah, hendaknya bergerombol dan tidak menyendiri.

3.F. Dll.
Allahua’lam.

[Diringkas dengan sedikit tambahan & perubahan dari “Mau’izhatul Mu’minin min (ikhtishar) Ihya’ ‘Ulumid Dien li Al Imam Abi Hamid Al Ghazali” karya ‘Allamatusy Syaam Al ‘Allamah Muhammad Jamaluddin Al Qasimi rohimahumallah]

Belitang, 8 Syawwal 1433 H
Akhukum Fillaah:
Ibnu Marwadi Al Andalasi

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: