//
you're reading...
Biografi Ulama

Penghulu Para Ulama Asia Tenggara di Tanah Haram; Al-‘Allamah Muhammad Nur Al-Fathani Al-Jawi As-Salafi

1. Nasab & Kelahiran Al-Fathani
Beliau bernama lengkap Muhammad Nur bin Muhammad bin Isma’il Al-Jawi Al-Fathani Al-Makki Asy-Syafi’i As-Salafi seorang yang ‘alim falaki (ahli falak) rahimahullah.
Mengenai di tahun berapa Syaikh Muhammad Nur Al-Fathani, s

elanjutnya saya sebut Al-Fathani saja, para muarrikh yang menyajikan biografi beliau berselisih pendapat. Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar menetapkan pada tahun 1920 H, akan tetapi Syaikh Mirdad Abul Khair menetapkan th. 1920-an H di Makkah.

2. Pengembaraan Syaikh Muhammad Nur dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Al-Fathani banyak menghabiskan waktunya dalam menuntut ilmu terutama di Masjid Al-Haram & Al-Azhar Mesir.

Kita persilahkan Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar menceritakan perjalanan Syaikh Al-Fathani dalam menuntut ilmu, “(Al-Fathani) mengawali studinya di tangan ayahnya, kemudian ia lanjutkan kepada Syaikh ‘Abdul Haq -perintis Al-Madrasah Al-Fakhriyyah-, Syaikh ‘Abid -mufti madzhab malikiyyah-. Stelah mendapatkan syahadah & diberi izin untuk mengajar, beliau memandang dirinya untuk menambah tagukkan ilmu & pengetahuan, maka mulailah ia bersafar ke Mesir dan masuk ke Al-Azhar. Di sana ia mengambil ilmu dari Syaikh Muhammad ‘Abduh, Syaikh Bakhit, Syaikh Asy-Syarbini, sebagaimana menuntut ilmu haiat & tauqit dari Syaikh Hasan Zaid -penulis kitab ‘Al-Mathla’ As-Sa’id’-…” [Siyar wa Tarajim ha. 269]

Selanjutnya, Syaikh ‘Abdullah Mirdad Abul Khair meriwayatkan dalam kamus tarajimnya, Nasyrun-Nur waz-Zuhar fi Tarajim Afadhili Makkah yang telah diikhtishar oleh Muhammad Sa’id Al-‘Amudi & Ahmad ‘Ali hal 474, “Ia (Al-Fathani) tumbuh di pangkauan abahnya, dan melawat ke Cairo dalam rangka menuntut ilmu. Di sana beliau mengambil ilmu dari sejumlah imam & ahli sanad (musnid), di antaranya adalah Syaikh Bakhit El-Hanafi, ia pandai dalam banyak disiplin ilmu, kemudian ia kembali ke Makkah dan diberi jabatan untuk mengajar & memberi faidah (kepada para penuntut ilmu).”

Syaikh Al-Fathani juga banyak mempelajari kitab-kitab karya Syaikhil Islam Ibu Taimiyyah dan muridnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, serta Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sampai benar-benar matang. Akan tetapi buahnya tidaklah terlihat kecuali di masa Kerajaan Saudi Arabia. Karena baru di sini lah ia mendapatkan angin segar dan akal yang siap untuk menerima ajaran murni ini.

Dari sini dapat diketahui bahwa beliau adalah seorang Ahlussunnah yang beraqidah salafiyyah.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Syaikh Al-Fathani beraqidah salafiyyah adalah keikutsertaan beliau dalam menandatangani dokumen nota kesepakatan Ulama Makkah dan Nejd dalam mas-alah tauhid yang dikemudian hari diberi judul ‘Al-Bayan Al-Mufid fimattafaq ‘Alaihi ‘Ulama Nejd wa Makkah min ‘Aqaid At-Tauhid’. Alhamdulillah, nota kesepakatan ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh saudara Fauzan bin ‘Abdullah, ST dan diedit kembali oleh Ustadz ‘Abdullah Zaen, MA lalu diberi judul ‘Ulama Makkah dan Nejd Bersatu Padu Membela Tauhid dan Memerangi Kesyirikan’ beliau juga sempat menerjemahkan kitab ‘Al-Hadiyyah As-Saniyyah fil ‘Aqidah As-Salafiyyah’ karya Syaikh Sulaiman bin Sahman ke bahasa Melayu yang di kemudian hari, hukumah (Saudi) rela mencetak & membagi-bagikannya.

3. Mengajar & Karir Al-Fathani di Makkah
Setelah melalang buanang menuntut ilmu dari tangan para ulama dalam berbagai macam disiplin ilmu dan menjadi mahir dalam berbagai bidang, Syaikh Al-Fathani mulai mengadakan halaqah & mengajar di Masjid Al-Haram. Bahkan rumahnya pun seringkali menjadi tempat incaran para penuntut ilmu terutama dari Jawa (Asia Tenggara). Di antara pelajaran yang beliau sampaikan adalah tafsir Alquran, fiqih, dan tentu saja aqidah yang diyakini salafu shalih.

Ustadz ‘Umar ‘Abdul Jabbar mensifati pelajaran yang disampaikan Syaikh Al-Fathani dengan ungkapan yang jelas, uslub ala Al-Azhar, dapat menguasai qalbu-qalbu dengan penjelasannya bak ‘sihir’ & lisannya yang lincah. [Siyar wa Tarajim hal. 270]

Mengetahui kecukupan dan kegigihan Al-Fathani, Syarif Husain pun menunjuknya sebagai anggota Mudiriyyah Al-Ma’arif yang dikepalai oleh Syaikh Muhammad ‘Ali Al-Maliki, lalu Sayyid ‘Abdullah Zawawi dan kemudian Sayyid ‘Abbas Al-Maliki.

Adapun di masa pemerintahan Saudi, karir Syaikh Al-Fathani semakin meroket. Di mana beliau ditunjuk sebagai ketua masyayikh (ulama) Jawa -sekarang Asia Tenggara-, dan kemudian anggota di Mudiriyyah Al-Ma’arif yang dikepalai oleh Sayyid Shalih Syatha lalu Syaikh Amin Fudah.

4. Karakteristik Jasmani & Akhlaq Syaikh Al-Fathani
“Adalah Syaikh Muhammad Nur Fathani berperawakan sedang, kurus, bersih (baca: tak berbuli) kedua pipinya, jenggotnya ringan (tidak terlalu lebat), tenang dalam berbicara, tenag dalam beraktifitas, dan juga tenag dalam mengajar,” demikian riwayat yang disampaikan oleh Ustadz ‘Umar ‘Abdul Jabbar.

Mengenai akhlak yang dimiliki Syaikh Al-Fathani, maka para ulama telah memujinya. Beliau adalah seorang ulama yang berakhlaq mulia, meletakkan cinta pada tempatnya, tawadhu’, amanah, ikhlas, dapat bekerjasama dengan baik, tidak pernah melupakan orang-orang yang pernah berjasa kepadanya, terutama para guru-gurunya.

5. Warisan-Warisan Syaikh Al-Fathani
¤ Keturunannya:
Al-Fathani dikarunia beberapa anak laki yang di kemudian hari menduduki kehakiman dan keguruan, yaitu:
1. Syaikh Yasin
2. Syaikh Ahmad
3. ‘Abdullah

¤ Murid-Muridnya:
Sesungguhnya Syaikh Al-Fathani memiliki banyak murid dari berbagai jenis & tingkatan manusia terutama santri-santri Timur Jauh [Negeri Melayu]

¤ Karya Tulis Ilmiahnya
Di antara karya tulis ilmiah Syaikh Al-Fathani adalah sebagai berikut:
1. Terjemah Kitab ‘Al-Hadiyyah As-Saniyyah fil ‘Aqidah As-Salafiyyah’ karya Syaikh Sulaiman bin Sahman rahimahullah
2. Terjemah matan fiqih ‘Sulamul Mubtadi’ karya kakek beliau, Syaikh Dawud Al-Fathani
3. Sebuah syarah kitab ‘Sulamul Mubtadi’ yang beliau beri judul ‘Kifayatul Muhtadi syarah bagi kitab Sulamul Mubtadi’

6. Wafatnya Syaikh Al-Fathani Rahimahullah
Syaikh Al-Fathani wafat tahun 1363 H. Rahimahullahu Ta’ala wa askanahu fasiha jannatih, amin.
Allahua’lam

Gunung Sempu, Ramadhan 1433 H
Ibnu Marwadi Al-Marwadi
‘afallahu ‘anh

Refrensi:
1. Al-Mukhtashar Min Kitab Nasyr An-Nur waz-Zuhar fi Tarajim Afadhil Makkah min Al-Qarnil ‘Asyir ilal Qarn Ar-Rabi’ ‘Asyar karya Syaikh ‘Abdullah Mirdad Abul Khair -Qadhi Makkah wafat th. 1343 H- ikhtishar, tartib, dan tahqiq Muhammad Sa’id Al-‘Amudi & Ahmad ‘Ali edisi refisi cet. ke-3 tahun 1406 H/ 1986 M. Jeddah KSA: ‘Alimul Ma’rifah lin Nasyr wat Tauzi’
2. Siyar wa Tarajim Ba’dh ‘Ulamaina bil Masjidil Haram karya Ustadz ‘Umar ‘Abdul Jabbar
3. Kamus Al-Munawwir karya Ustadz Ahmad W. Munawwir tashih Ustadz ‘Ali Ma’shum & Ustadz Zainal ‘Abidin Munawwir. Edisi Ke-2.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: