//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Siapa Perintis Paham Liberal di Nusantara?

¤ Jawab: Ternyata pengusung paham liberal di Nusantara sudah dimulai sejak dahulu. Dan pengusung terkenalnya ada 2 tokoh, yaitu:
1. Muhammad Theher Djalaluddin Al Azhari (1869-1956), murid sekaligus penyebar paham Muhammad ‘Abduh Al Mishri lewat Majalah Al Imam yang diterbitkannya di Singapur karena memang di sanalah ia lebih menore

hkan kiprah & karirnya.Lewat M. Theher Djalaluddini, gagasan liberalisme Islam Timur Tengah disebarluaskan di Indo-Malay. Melalui Majalah Al Imam, ia menyebarkan tulisan-tulisan J. Al Afghani & M. ‘Abduh di Al ‘Urwatul Wutsqa & Al Manar. Padahal tema-tema yang disajikan di majalah itu adalah, di antaranya, kemajuan, kebebasan, & emansipasi wanita.2. Setelah M. Theher Djalaluddin, pada awal tahun 1970-an, paham liberal Islam mendapatkan nafas yang lebih luas lagi. Tokoh sentral dalam periode ini adalah Nurcholish Madjid yang akrab dipanggil Cak Nur. Cak Nur banyak menyuarakan sekulerisme, pluralisme, dan relativisme. Ia juga mengartikan ‘laa ilaaha illallaah’ dengan tiada tuhan selain tuhan.

Pemikiran Cak Nur yang kontrofersal ini tidaklah mengherankan, karena ia sendiri belajar Islam di negeri kafir Amerika tepatnya di Universitas Chicago (1978-1984). Bahkan di sinilah ia mendapatkan gelar doctor. Jadi, tidak heran jika paham-pahamnya sangat kotor.

Allahua’lam

Sumer: “Liberalisme, Pluralisme, dan Insklusivisme; Dahulu Hingga Sekarang” oleh Abu Ihsan Al Maidani dalam Majalah As Sunnah edisi 05 th. XII Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

One thought on “Siapa Perintis Paham Liberal di Nusantara?

  1. Bismillah.

    Assalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh.

    Afwan, ana ingin memberikan sedikit tanggapan terkait Syaikh Muhammad Thahir Jalaludin.

    Agaknya memvonis Syaikh Muhammad Thahir Jalaludin sebagai pelopor paham liberal di
    Indonesia perlu ditinjau kembali.

    HAMKA rahimahullah dalam pidatonya saat menerima gelar Doktor H.C. di Al Azhar (berjudul Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia) justru menyebut Thahir Jalaludin sebagai pelopor gerakan pembaharuan dan pemurnian di Minang pada akhir tahun 1800-an.

    Bahkan, menurut HAMKA, aktivitas pembaharuan yang dilakukan oleh Thahir Jalaludin inilah yang kemudian menginspirasi tokoh-tokoh Kaum Muda Minang (seperti Syaikh Abdullah Ahmad, Syaikh Muhammad Djamil Djambek, dan Syaikh Abdul Karim Amrullah – ayah HAMKA) dalam melancarkan gerakan pembaruan dan pemurnian Islam di tanah Minang.

    HAMKA menulis tentang Beliau : “Adapun Syekh Thaher Jalaluddin, pelopor pertama dari faham ‘Abduh ditanah Melayu dan di Indonesia itu, adalah yang paling tua usianya diantara mereka, paling dahulu mengambil langkah dan paling kemudian wafatnya..”

    Yang ana pahami dari penjelasan HAMKA dalam pidatonya tersebut, Beliau menyejajarkan Thahir Jalaludin dengan para pembaharu lainnya seperti Abdul Karim Amrullah (ayah HAMKA), Muhammad Djamil Djambek, Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, Hassan Bandung (Hasan bin Ahmad/A. Hassan Persis), dll.

    Hanya saja memang tidak dipungkiri, bahwa Thahir Jalaludin (begitu juga dengan tokoh-tokoh pembaharu lainnya di atas) sangat terpengaruh dengan ajaran rasionalis Muhammad Abduh. Ini yang membuat gerakan pembaharuan/pemurnian disekitar akhir tahun 1800 an sampai dengan masa-masa awal kemerdekaan sebenarnya tidak betul-betul “murni” karena sedikit banyak terpengaruh Rasionalitas ala Mu’tazilah dari Muhammad Abduh. Hanya saja, menurut ana, mengkategorikan Thahir Jalaludin sebagai pelopor paham liberal agak kurang fair. Usaha Beliau – dan tentunya kawan-kawan Beliau yang lain dari Minang dan daerah lain – dalam melakukan pemurnian ajaran Islam yang pada saat itu masih terkungkung oleh pekatnya pengaruh ajaran tasawuf dan thariqat yang berbau bid’ah dan syirik tentu saja tidak boleh dianggap kecil. Jika Beliau “divonis” sebagai pelopor paham liberal hanya karena terpengaruh oleh Abduh, maka tentu saja tokoh-tokoh pembaharu yang lain (seperti Abdul Karim Amrullah, HAMKA, Ahmad Dahlan, Ahmad Surkati, dll) seharusnya juga divonis sebagai penganut paham liberal karena mereka juga terpengaruh oleh ajaran-ajaran Abduh.

    Kita ambil contoh misalnya HAMKA. Beliau rahimahullah telah jelas-jelas menyatakan bahwa dirinya terpengaruh oleh Abduh, bahkan pengaruh Abduh di Indonesia dijadikan tema dalam Pidato Beliau di Al Azhar. Dalam tafsirnya Al Azhar, Beliau juga menyatakan kekagumannya terhada Tafsir al-Manar yang ditulis oleh Abduh. Pengaruh Abduh yang sangat kuat dalam diri Beliau membuat pendapat-pendapat Beliau dalam beberapa perkara telah tergelincir sehingga menyelisihi ulama-ulama salaf, seperti penolakan Beliau terhadap hadits-hadits shahih tentang kedatangan al-Mahdi di akhir zaman, penolakan Beliau terhadap hadits shahih yang menyebut bahwa Nabi pernah tersihir, dll. Dengan fakta-fakta seperti itu, lalu kemudian kita bandingkan juga dengan usaha-usaha Beliau dalam melakukan pembaharuan dan pemurnian ajaran Islam di Indonesia serta perjuangan Beliau dalam menjadikan Islam sebagai Dasar Negara (bersama M. Natsir, Isa Anshary, dll), maka apakah “tega” kita menyebut Beliau rahimahullah sebagai penyebar ajaran liberalisme hanya karena Beliau terpengaruh oleh ajaran Muhammad Abduh.

    Kita ambil contoh lain, yakni Ustadz A. Hassan tokoh Persis. Tak bisa kita pungkiri lagi usaha dan perjuangan Beliau dalam melakukan pemurnian ajaran Islam di Indonesia. Dalam bukunya Soal-Jawab (4 jilid), Pengajaran Sholat, dll kita harus akui bagaimana gigihnya Beliau dalam menyerukan kepada sunnah dan mengingatkan umat Islam Indonesia tentang bid’ah. Sejarah juga mencatat bagaimana jihad lisan & ilmu Beliau dalam mendebat tokoh-tokoh Ahmadiyah yang sesat selama 3 hari 3 malam. Akan tetapi, sebagaimana HAMKA, Beliau rahimahullah juga terpengaruh oleh ajaran-ajaran Muhammad Abduh. Bahkan buku Beliau yang berjudul “Risalah Tauhid” terinspirasi juga oleh buku tulisan Abduh yang berjudul sama. Lalu apakah dengan pengaruh Abduh yang kuat dalam diri Beliau tersebut lantas kita mengkategorikan Beliau sebagai tokoh liberalisme, sebagaimana Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib, Ulil Abshar Abdalla, dll.

    Sungguh, seperti kata Imam Malik : “Setiap orang dapat diambil pendapatnya dan ditolak kecuali penghuni kubur ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam)”

    Mereka, tokoh-tokoh pembaharu/pemurnian Islam di Indonesia telah melakukan tugasnya sesuai yang dikehendaki oleh Allah. Semoga Allah merahmati mereka semua. Warisan-warisan yang baik dari mereka dapat menjadi pelajaran. Adapun hal-hal yang mana mereka tergelincir ke dalam kesalahan kita mohon semoga Allah mengampuni kesalahan – kesalahan mereka.

    Gerakan pemurnian di Indonesia sendiri, menurut pandangan ana, terbagi dalam beberapa tahap :

    1. Era sebelum datangnya tokoh-tokoh Paderi (sebelum tahun 1800). Gerakan pemurnian pada era ini masih bersifat terbatas/parsial dan belum masif, yakni pemurnian yang menjangkau hanya kepada sebagian amalan-amalan populer yang dianggap bid’ah (seperti penyimpangan dalam amalan tasawuf) dan pada beberapa sisi menjangkau juga ke sebagian aqidah sesat (seperti ajaran Wihdatul Wujud dan Syiah ). Gerakan pada era ini juga bersifat individu dan dilakukan secara terbatas oleh beberapa tokoh-tokoh tertentu. Sebagai contoh pada era ini adalah usaha Syaikh Nuruddin ar-Raniri rahimahullah dalam membendung ajaran tasawuf sesat Wihdatul Wujud di Aceh sebagaimana telah dijelaskan di blog ini. Padahal Syaikh Nuruddin ar-Raniri sendiri juga sebenarnya penganut aliran tasawuf juga, hanya saja Beliau tidak setuju dengan ajaran Wihdatul Wujud.

    2. Era tokoh-tokoh Paderi (Tiga Orang Haji, Harimau nan Salapan, Tuanku Imam Bonjol, dll) di awal 1800 an. Pada era ini gerakan pemurnian lebih “murni” dan “bertenaga”. Lebih “murni” dikarenakan gerakan di Paderi banyak terpengaruh oleh gerakan dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di Saudi, sehingga sasaran dakwahnya menjadi lebih fundamental/mendasar yakni menyangkut aqidah/keyakinan Islam dan amalan sehari-hari. Lebih “bertenaga” dikarenakan para tokoh era ini telah berhasil mengkonsolidasikan kekuatan dan berkembang menjadi sebuah gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang keras dan tak sungkan-sungkan berperang dengan orang-orang yang tidak setuju dengan pemikirannya (seperti Kaum Adat dan penjajah Belanda). Hanya saja dari segi pemikiran, gerakan pada era ini tidak sepenuhnya “murni”. Beberapa pemikiran (dan tindakan) terkesan melampaui batas dan melenceng dari syariah. Sebagai contoh sebagaimana ditulis HAMKA dalam karyanya AYAHKU adalah bagaimana Tuanku Nan Renceh menerapkan peraturan syariat dengan cara keras, bahkan tak segan-segan membunuh warga yang diketahui melanggar peraturan yang dibuatnya. Selain itu, perlu kiranya juga dikaji pengaruh pemikiran Asy’ariyyah dalam aqidah yang dianut oleh tokoh-tokoh Paderi. Sebagai contoh : Abu Mujahid dalam bukunya “Sejarah Salafi” menyebut sebuah dokumen yang konon merupakan tulisan dari Tuanku Imam Bonjol dimana di dalamnya terlihat bahwa dalam masalah aqidah (utamanya mengenai Sifat Allah) Tuanku Imam Bonjol masih terpengaruh oleh ajaran Asy’ariyyah.

    3. Era tokoh-tokoh Kaum Muda (Thahir Jalaludin, Abdul Karim Amrullah, Ahmad Dahlan, Ahmad Surkati, A. Hassan, dll) di akhir tahun 1800 an sampai awal kemerdekaan RI. Gerakan pemurnian di era ini sedikit telah disinggung di atas. Yang berbeda dengan era sebelumnya adalah adanya pengaruh ajaran Muhammad Abduh dan muridnya Sayyid Rasyid Ridha yang membuat gerakan pada era ini cenderung agak bersifat rasionalis meski pada umumnya masih mengacu pada Al Qur’an dan sunnah dan bersikap kritis terhadap amalan-amalan bid’ah yang diusung oleh ajaran-ajaran tradisional yang terpengaruh oleh tasawuf sesat dan thariqat.

    4. Era Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) di sekitar tahun 1970. Gerakan pemurnian di era ini bermula setelah Buya M. Natsir rahimahullah berhasil melobi Arab Saudi untuk memberikan beasiswa pendidikan dan memfasilitasi siswa-siswa dari Indonesia untuk belajar agama di universitas-universitas di Arab Saudi. Sepulangnya para mahasiswa tersebut dari Arab Saudi mereka kemudian membentuk jaringan dan mulai mendakwahkan ajaran yang mereka terima dari Arab Saudi, yang tentunya sangat “salafi”. Ajaran pemurnian di era ini jauh lebih “murni” ketimbang pada era-era sebelumnya, karena diambil dari “sumber yang murni”, yakni Arab Saudi, yang membuat tokoh-tokoh di era ini dapat berinteraksi langsung dengan Ulama-ulama salafi Timur Tengah. Tokoh-tokoh perintis yang layak disebut di sini antara lain ustadz Abu Nida, ustadz Ahmas Faiz, ustadz Aunur Rofiq, ustadz Farid Oqbah, ustadz Abdul Hakim Abdat, ustadz Yazid Jawaz, dll. Selanjutnya muncul tokoh fenomenal, yakni ustadz Ja’far Umar Thalib yang membuat gerakan “salafi” di era ini lebih bertenaga. Hanya saja sayangnya, atas kehendak Allah, kekompakan tokoh-tokoh di era ini tidak seperti di era-era sebelumnya. Beberapa perselisihan (atau mungkin lebih tepat disebut sebagai perbedaan pendapat) telah membuat gerakan pemurnian di era ini terkotak-kotakkan dan tidak jarang saling bergesekan satu sama lain.

    Demikian sedikit tanggapan dari ana.

    Semoga bermanfaat.

    Wassalamu’alaikum warrahmatullah wabaraktuh.

    Wahyu di Bekasi
    (indrawjy_tbl@yahoo.co.id)

    Posted by Wahyu Indra Wijaya | 04/05/2015, 4:35 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: