//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

SEBUAH PELAJARAN PENTING UNTUK UMMAT Bag. 1

GambarApabila Anda ditanya, apakah 3 pondasi yg harus diketahui manusia?
Maka katakanlah, “Sepantasnya seorang hamba mengenal Robb-nya, agamanya, dan nabinya, yaitu Muhammad ‘alaih afdholush sholatu wassalam (dengan disetai dengan dalil-dalilnya).”
Karna mengetahui segala sesuatu itu harus berdasarkan dalil-dalil (hujjah & bukti). Dalam hal ini Al-Quran, As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah (3 generasi awwal (para shahabat, tabi’in,dsb.) dan para ulama yang senantiasa meniti di jalan mereka)
Ketahulah wahai saudaraku -semoga Allah membbimbingmu menuju taufiq-Nya-, bahwa agama ini dibangun berdasarkan ilmu, bukan berdasarkan perasaan. Ibnul Qayyim berkata, “Ilmu adalah firman Allah & sabda Rasululloh…”
[al-Ushul ats-Tsalatsah wa Adillatuha oleh Syaikh Muhammad bin Sulaeman at-Tamimi]

:: Mengenal Robbul ‘alamin::


Beberapa sebab manusia dapat mengenali Tuhan-nya:
1. Memperhatikan & mentadaburi ciptaan-ciptaan-Nya di alam semesta ini. Lihat: (QS al-A’rof: 185), (QS Yunus: 6), (QS al-Baqarah: 164).

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit & bumi serta silih bergantinya siang & malam terdapat ayat-ayat bagi orang-orang berakal.” (QS Alu ‘Imran: 190)

2. Memperhatikan ayat-ayat syar’iyyah, yaitu wahyu yg dibawa oleh para Rosul ‘alaihimussalam.
“Maka apakah mereka memperhatikan Alquran? Jika seandainya Alquran itu bukan dari Allah, pasti mereka mendapatkan kontradiksi yg banyak.” (QS an-Nisa’: 82)

Di dalam Alquran tidak pernah ada kontradiksi antara ayat satu dengan ayat lain, bahkan dengan hadits sekalipun. Yang ada malah sebaliknya, yaitu saling menguatkan.

3. Ma’rifah (pengetahuan) yg dikaruniakan oleh Allah Jalla wa ‘Ala di hati seorang mukmin.
Nabi tatkala ditanya oleh Jibril, apakah “ihsan” itu? Beliau menjawab,
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika kau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim)
(Syarh al-Usul ats-Tsalatsah oleh Syaikh Benothaymeen dengan sedikit perubahan)

:: Mengenal Hak-Hak Allah atas Segenap Manusia::

Allah berhak diesakan (ditauhidkan) oleh makhluqnya, yaitu dalam 3 perkara:
1. Rububiyyah,
2. Uluhiyyah, dan
3. Asma’ & Shifat
Akan datang penjelasannya secara ringkas berikut:

:: Tauhid Rububiyyah ::


Yaitu, beriman bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, tidak ada sekutu dalam hal itu. [Ad-Durusul Muhimmah]

Oleh karna itu harus ada pengakuan bahwa Allah adalah Robb segala sesuatu, yang merajai, menciptakan, memberi rizki. Dan bahwasannya Dia menghidupkan, mematikan, memberi manfaat, memberi mudharat. Mahaesa dalam mengabulkan doa dalam keadaan genting. Di Tangan-Nya segala perkara, di Tangan-Nya pula seluruh kebaikan. Mahamampu atas segala sesuatu yg dikehendaki-Nya. Tidak ada sekutu dalam hal itu.
Semata-mata tauhid ini tidak mencukupi bagi seorang hamba dalam meraih Islam, akan tetapi harus diringi dengan tauhid uluhiyyah di samping tauhid ini. [Hasyiyah Ad-Durusil Muhimmah hal. 122 karya Dr. Ahmad bin Shalih bin Ibrahim Ath-Thuyan]
Penulis Al-Qowa’idul Arba’ berkata,
“Bahwasannya kaum musyrikin yg diperangi Rasululloh, mereka mengakui bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rizki & pengatur. Akan tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk ke dalam Agama Islam.

Dalilnya adalah firman Allah Jalla wa ‘Alaa, “Katakan siapa yang memberi kalian rizeki dari langita dan bumi, atau siapakah yang mampu (menciptakan) pendengaran & penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (QS Yunus: 31)
Bersambung insyaAllah….

:: Memahami Tauhid Uluhiyyah ::


Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata,
“Adapun ‘tauhid rububiyyah’, yaitu beriman bahwasannya Allah Subhanah adalah sesembahan (ma’bud) yg haq tidak ada sekutu dalam hal itu. Dan inilah makna “Laa ilaaha illallah”. Karena makna kalimat itu adalah tidak ada sesembahan yg haq kecuali Allah. Maka seluruh ibadah berupa shalat, puasa, dan selainnya wajib diikhlaskan untuk Allah semata dan tidak mengalihkan sesuatu dari ibadah itu kepada selain-Nya.”

Dr. Ahmad bin Shalih Ath-Thuyan menjelaskan pernyataan di atas dengan berkata,
“Tauhid Uluhiyyah dibangun di atas pengikhlasan persembahan kepada Allah berupa kecintaan, khouf (takut), mengharapa (roja’), tawakal, roghbah, rohbah, doa kepada Allah semata. Dan semua itu di bangun di atas keikhlasan kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dalam semua bentuk ibadah, baik lahir maupun batin, tidak mempersembahkan sesuatu dari ibadah itu untuk selain-Nya.

Tauhid inilah yang terkandung dalam firman Allah Ta’ala, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin [Hanya kepada-Mu lah kami beribadah & hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan].”
Tauhid jenis ini merupakan agama yang pertama dan akhirnya; baik lahir maupun batin.
Tauhid ini pula lah yang didakwahkan pertama kali oleh para Rosul dan akhirnya. Dan karena tauhid ini, makhluq diciptakan, diutus para Rosul, dan diturunkan Kitab-Kitab. Karenanya pula manusia terbagi menjadi 2, yaitu mukmin dan kafir. [Hasyiyah ad-Durusil Muhimmah hal. 122-123]

Ket.:
* Tawakal kepada Allah adalah menggantungkan diri kepada Allah sebagai pemberi kecukupan dalam mendatangkan manfa’at & mencegah mudharat (bahaya).
* Roghbah adalah keinginan memperoleh sesuatu yang disukai.
* Rohbah adalah ketakutan yg menumbuhkan tindakan menghindar dari yang ditakuti. Jadi, rohbah adalah rasa takut yang diiringi dengan tindakan
* Khauf adalah takut, yaitu reaksi emosional yg muncul disebabkan oleh dugaan seseorang tentang adanya kebinasaan, bahaya, atau gangguan yang akan menimpa dirinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar beriman.” [QS Alu ‘Imran: 175]

[Syarh Tsalatsatul Ushul oleh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Abu ‘Abdillah]
Penulis berkata, “Tauhid inilah yang terkandung dalam kalimat agung ‘Laa ilaaha illallaah’. Akan datang penjelasan ringkasnya pada waktu mendatang, insyaAllah.”
Bersambung, insyaAllah…..

:: Memahami Kalimat Agung ‘Laa ilaaha illallaah’ ::


Ketahuilah wahai saudaraku seiman, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita, bahwa kalimat ‘laa ilaaha illallaah’ adalah sebaik-baik kalimat yang diketahui oleh makhluk dan seagung-agungnya ibadah karena makna yang begitu tinggi serta pahalanya yang sangat besar.
Rasululloh shollallohu ‘alaih wa sallam bersabda, “(Nabiyullah) Musa (bin ‘Imran) berkata (kepada Allah), ‘Wahai Robb-ku, ajarilah aku sebuah kalimat yang dengannya aku berdoa kepada-Mu.” Alloh berfirman, ‘Katakanlah Laa ilaaha illallaah.’

Musa berkata, ‘Wahai Robb-ku, semua hamba-Mu mengatakan (kalimat) ini.’
‘Hai Musa, seandainya langit yang tujuh beserta isinya selain-Ku,’ jawab Allah, ‘Dan bumi tujuh lapis dalam sebuah daun timbangan dan Laa ilaaha illallaah dalam suatu timbangan, niscaya Laa ilaaha illallaah lebih berat.'” [Lihat: ‘Kitabut-Tauhid’, Bab II: ‘Siapa yang Berkata Laa ilaaha illallaah dengan Ikhlas Niscaya Masuk Surga ‘ oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Sulaeman al-Tamimi rohimahulloh]

Layaknya ibadah-ibadah lainnya yang memiliki rukun & syarat, demikian pula kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ ini memiliki rukun & syaratnya.

* Makna ‘Laa ilaaha illallaah’
Yaitu, tidak ada tuhan YANG BERHAK diibadahi selain Allah Jalla wa ‘Alaa. Maka (Laa ilaaha) adalah menafikan segala sesuatu yang disembah selain Allah dan (illallaah) adalah menetapkan seluruh ‘ibadah hanya diperuntukkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. [ Lihat makna ‘Laa ilaaha illallaah’ dalam buku “Taisirul ‘Azizil Hamid syarh Kitabit-Tauhid” hal. 74 dan “Risalah ‘Laa ilaaha illallaah’ karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz ]
Penjelasan:
Makna ‘Laa ilaaha illallah’ adalah keyakinan & pengakuan bahwa tidak ada yang berhak menerima ‘ibadah selain Allah, lalu berkomitmen dan mengamalkannya.
Alloh berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya Dia ‘Laa ilaaha illallaah’ dan mohon ampunlah untuk dosamu.” [QS Muhammad: 19]

2.Rukun ‘Laa ilaaha illallaah’
Kalimat ini memiliki dua rukun, yaitu:
1. Peniadaan seluruh sesembahan yang membatalkan syirik dengan berbagai macamnya dan mengharuskan mengingkari setiap yang disembah selain Allah.
2. Penetapan (Illallaah -selain Allah-) yang menetapkan bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah selain Allah.
Makna yang seperti ini telah disebutkan dalam Alquran.
Alloh berfirman, “Dan siapa yang mengingkari thaghut (rukun ke-1. Pent.)dan beriman kepada Allah (rukun ke-2. Pent), maka dia telah berpegang teguh dengan tali yang kuat.” [QS Albaqarah: 256]
Lihat pula: QS Az-Zukhruf: 26-27

Makna ini pula lah yang diyakini oleh ulama semenjak dahulu hingga sekarang. Sebut saja Ibnu Katsir dalam “Tafsir“-nya, Asy-Syarbini al-Khathib, Syaikh Salim bin Sumair al-Hadhrami al-Batawi asy-Syafi’i dalam “Safinatun-Najah“,Syaikh Muh. Nawawi al-Bantani al-Jawi -yang konon bergelar ‘Sayyid Ulama al-Hijaz‘ (Penghulu para ulama Hijaz) dalam “Kasyifatus-Saja“, “Tafsir Murah Labid / at-Tafsir al-Munir” ketika mentafsirkan ayat Kursi, Asy-Syathiri dalam “Nailur-Roja“, Syaikh Imam Ahmad al-Khathib al-Mingkabawi al-Jawi -imam & khatib Masjidil Haram- dalam “Hasyiyah An-Nafahat“, Syaikh Abul Faidh Muh. Yasin al-Fadani al-Makki dalam “Al-Fawaid al-Janiyyah“, dll.

Bahkan kaum musyrikin di zaman Rosululloh pun mengetahuinya. Oleh karena itu, tatkala mereka diminta untuk mengucapkan kalimat ini, mereka merasa sombong dan pada akhirnya enggan [Lihat: QS ash-Shoffat: 35-36]. Allah berfirman menitir jawaban kaum musyrikin, “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja?! Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang mengherankan!” [QS Shod: 5]

Oleh karena itu, telah salah besar orang yang mengartikan kalimat ini dengan ‘tidak ada tuhan selain Allah’ tanpa disela dengan kalimat ‘yang berhak disembah’. “Karena jika demikian,’ tulis Syaikh Ahmad al-Khathib Minangkabau dalam An-Nafahat, ‘Niscaya tidak ada manfaatnya kalimat ini!”

Benar saja, karena jika tidak ada tuhan selain Allah, maka akan berarti bahwa tidaklah pohon-pohon, patung-patung, batu-batu yang disembah oleh orang-orang musyrik itu kecuali adalah Allah. Subhanallah, Mahasuci Allah dari segala sekutu-kutu! Sungguh, sangat fatal keslahan ini. Celakanya, banyak orang yang tidak mempedulikannya, tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu!?

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: