//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

.:: ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Kitab Kifayatul Muhtadi Karya Syaikh Muhammad Nur Al Fathani (1290-1363) Rahimahullah ::.

A. Syaikh Muhammad Nur Al Fathani Seorang Ahlussunnah Tulen

Syaikh Muhammad Nur bin Muhammad Isma’il Al Jawi Al Fathani (1290-1363 H) rahimahulloh adalah seorang ulama asal Nusantara yang perjuangannya dalam menyebarkan madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah terhitung sangat gigih. Usahanya diekspresikan melalui beberapa cara seperti mengajarkan madzhab Ahlussunnah kepada santri-santri dari pelbagai penjuru seperti Melayu, dan tamu-tamu Allah di Masjidil Haram.

Tidak hanya sampai di itu usaha Syaikh Al Fathani, beliau juga menulis buku ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu melalui, terutama, dua karyanya: Tarjamah Al Hadiyyah As Saniyyah fil ‘Aqidah As Salafiyyah karya Syaikh Sulaiman bin Sahman rahimahullah & syarah kitab Sulamul Mubtadi fi Ma’rifah Thariqatil Muhtadi karya kakeknya, Syaikh Dawud bin ‘Abdullah Al Fathani rahimahullah, yang insyaAllah akan kita nukil beberapa pelajaran darinya di kesempatan kali ini.

Selain itu, bentuk lain dari partisipasi Syaikh Al Fathani terhadap manhaj yang haq ini adalah keikutsertaannya dalam menandatangani ‘dokumen nota kesepakatan ulama Makkah dan Nejed dalam mas-alah tauhid’ yang kemudian diterbitkan dengan judul “Al Bayanul Mufid Fi Ma Ittafaqa ‘alaih ‘Ulama Makkah wa Nejd min ‘Aqaidit Tauhid” (Penjelasan yang Bermanfaat mengenai Kesepakatan Ulama Makkah & Nejed dalam Masalah ‘Aqidah Tauhid) atau dalam edisi bahasa Indonesia diberi judul “Ulama Maakkah & Nejed Bersatu Padu Membela Tauhid dan Memerangi Kesyirikan”.

B. Muqaddimah Kitab Kifayatul Muhtadi

Kitab yang kita bahas kali ini berjudul lengkap “Kifayatul Muhtadi bi Syarh Sulamil Mubtadi”. Di tulis dalam bahasa Melayu dengan huruf ‘Arab. Mulai ditulis di Makkah dan diselesaikan di Madinah.
Dalam muqaddimahnya, Syaikh Al Fathani berkata, “Adapun kemudian daripada itu, sesungguhnya kitab yang berjudul ‘Sulamul Mubtadi’ karya Al ‘Alim Al ‘Allamah wal Qudwah Al Fahhamah Syaikh Dawud bin ‘Abdullah Al Fathani -semoga Allah meliputinya dengan rahmat & ridha-Nya, serta menempatkannya ke dalam surgaNy- adalah termasuk buku fikih yang ditulis dalam bahasa (Arab) Melayu yang baik bagi penuntut ilmu karena matannya yang dekat untuk disampaikan dan untuk orang yang memiliki akal. Karena mengandung tauhid Salafu Sholih, fikih dalam madzhab Imam Syafi’i yang rajih, nasihat-nasihat syariat, dan adab-adab yang seharusnya dijaga.” [Kifayah hal. 2]

C. Makna ‘Laa Ilaaha Illallaah’

Syaikh Muhammad Nur bin Muhammad Isma’il Al Fathani rahimahullah berkata, “{Asyhadu an laa ilaaha illalloh wa asyhadu anna Muhammadan Rosululloh}, artinya aku menyaksi bahwasanya tiada tuhan yang disembahkan dengan sebenar melainkan Allah jua dan aku menyaksi bahwasanya Muhammad utu pesuruhan Allah…” [Kifayah hal. 8]

“Adapun makna ‘an laa ilaaha illalloh’ itu maka yaitu seperti yang ditafsirkan akan dia oleh mushannif (penulis, yaitu Syaikh Dawud) dengan katanya, {akan bahwasanya tiada tuhan yang disembah dengan sebenar2 pada wujud (alam) ini melainkan Allah}.

Sekedar itu jua makna ‘an laa ilaaha illalloh’, tetapi lazim daripada demikian itu keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat dengan segala sifat kamal (sempurna), maka setengah (dalam bahasa EYD bermakna di antara / termasuk -pent.) daripadanya keadaan Tuhan itu {Tuhan yang Esa lagi tunggal di dalam keesaan-Nya}. Karena pada makna ‘laa ilaaha illalloh’ itu menafikan ketuhanan daripada yang lain daripada Allah dan menetapkan ketuhanan itu bagi-Nya jua.” [Kifayah hal. 9]

Lihat pimbahasan seputar makna ‘laa ilaaha illalloh’ di:
1. Al Qaulul Mufid hal. 87-berikutnya
2. Hasyiyah Ad Durusil Muhimmah hal. 47-berikutnya
3. Kitabut Tauhid karya Dr. Al Fauzan

D. Kaidah Ahlussunnah dalam Memahami Asma’ dan Sifat Allah ‘Azza wa Jall
Syaikh Muhammad Nur berkata, “{Dan Mahasuci} Allah Subhanahu wa Ta’ala {daripada dapat dibandingkan Dzat-Nya dengan segala dzat dan tiada menyerupai sifat-Nya dengan segala sifat dan tiada dapat dibandingkan af’alnya dengan af’al hawadits} yang baharu ini.”

E. Istiwa’ (Bersemayamnya) Allah di atas ‘Arsy

Syaikh Al Fathani rahimahullah berkata, “{Bersemayam di atas ‘Arsy} Allah Subhanahu wa Ta’ala. {Bersemayam yang berpatutan dengan kebesaran-Nya seperti barang yang dikehendaki-Nya}.

Istiwa Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ‘Ars-Nya itu istiwa’ yang patut dengan kebesaran-Nya yang tiada diketahuikan bagimana rupa-Nya. Berkata Syaikh Al Baghowi pada tafsirkan firman Allah, ‘Tsummastawa ‘alal ‘Arsy’, pada suroh Al A’rof. Katanya, “Berkata Al Kalbi dan Muqatil ma’na ‘istawa’: ‘istaqorro’ yakni tetap. Dan berkata Abu ‘Ubaidah: ‘sho’ada’, yakni naik.

Dan telah menakwilkn oleh Mu’tazilah akan istiwa’ dengan istila’ yakni memiliki atau memerintah. Adapun Ahlussunnah berkata mereka itu, bermula istiwa’ Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ‘Arsy-Nya satu sifat bagi Allah ‘Azza wa Jall tiada diketahuikan bagaimananya. Wajib atas seorang beriman dengan dia dan menyerahkan mengetahuikan bagaimananya itu kepada Allah jua.

Dan adalah seorang menanyakan Imam Malik akan firman Allah, ‘(Allah) yang Mahapengasih bersemayam di atas ‘Arsy’ [Surah Thaha]. Katanya, ‘bagaimanakah istiwa Allah ‘Azza wa Jalla atas ‘Arsy-Nya?’ Tanduk (menjitak) Imam Malik akan kepalanya sebentar serta berpeluh mukanya kemudian berkata, “Adalah istiwa itu maknanya tiada majhul dan bagaimana istiwa itu nisbah kepada Allah tiada dapat pada ma’qul dan menanyakan yang seumpama itu bid’ah. Dan sesungguhnya aku sangkakan kamu itu seorang yang sesat!” Maka dikeluarkan dia daripada majlisnya.” [Kifayah hal. 11]

F. Apa yang Dikehendaki-Nya Akan Terjadi dan Apa yang Tidak Dikehendaki-Nya Tidak Akan Pernah Terjadi [Ucapan Imam Asy Syafi’i Rahimahullah]

Syaikh rahimahullah berkata, “{Lagi ‘alim (mengetahui) dengan ilmu-Nya yang meliputi bagi segala yang maujudat dan segala ma’dumat lagi qodir (mampu) dengan qodrat-Nya atas barang yang dikehendaki-Nya lagi murid} yang berkehendak.”

G. Qadha & Qadar Allah Jalla wa ‘Ala

“{Dan} setengah dari yang dikhabarkan (Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam) {wajib kita percaya akan qadha dan qadar, baiknya dan jahatnya daripada Allah Ta’ala}. Karena telah menakdirkan kebaikan seseorang dan kejahatannya dahulu daripada menjadikan makhluk dan segala ka-inat itu dengan qadha Allah, dan qadar-Nya, dan iradat-Nya.

Dan segala pekerjaan yang baik dan jahatnya sekalian daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Ia lah yang menjadikan yang elok dan yang keji dan tiada bagi yang lainnya sesuatu pada barang mana kejadian (tidak ada yang menciptakan baik dan buruk selain-Nya sahaja -pent).

Tetapi karena beradab dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dibahasakan kejahatan kepada nafsu dan syaitan karena keduanya menyuruh memperbuat kejahatan. Tetapi pekerjaan yang baik itu dengan ridha Allah dan yang jahat tiada dengan ridha-Nya.”

Nabi bersabda, “Dan kebaikan ada di Tangan-Mu sementara keburukan tidak ditujukan kepada-Mu.” Riwayat Muslim no. 771.

“Dan lagi ada bagi hamba itu satu juz (bahagian) daripada iradat pada segala perbuatannya yang ikhtiyariyyah. Maka karena itulah diberi pahala bagi perbuatan yang baik dan dibalaskan dengan siksa pada perbuatan yang jahat.

Adapun makna qadha yaitu kehendak Allah akan segala asy-ya (sesuatu) pada sedia kala (dahulu kala) azali atas barang yang ada segala asy-ya itu atasnya pada masa sentiasa.

Dan makna qadar, yang ada oleh Allah akan sesuatu atas wajah (bentuk & keadaan) yang tertentu yang telah Ia kehendaki.” [Kifayah hal. 15-16]

{Dengan iradat-Nya barang yang dikehendaki-Nya ada (terjadi), dan barang yang tiada dikehendaki-Nya tiada dapat ada.}” [Kifayah hal. 9]

Syaikhul Islam berkata, “(Qadar / taqdir) adalah ilmu Allah, kitab-Nya, dan apa yang bersesuaian dengan hal itu berupa masyiah (kehendak) & penciptaan-Nya.” [Jami’ Ar Rasail wal Masail (2/355)]

H. Apa yang Dikhabarkan Nabi Berupa Hal-Hal Ghaib Adalah Benar Adanya dan Wajib Diimani Meskipun dari Hadits Ahad

Syaikh rahimahullah berkata, “{Dan bahwasanya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam itu benar}, yakni dan aku ketahui dan aku i’tikadkan bahwasa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam itu benar {pada tiap2 yang dikhabarnya} daripada segala ihwal kiamat, dan syurga, dan neraka, dan siksa kubur, dan kesenangan, dan sual Munkar & Nakir, dan bangkit hidup kemudian daripada mati, dan mizan, dan shiroth, dan lainnya.” [Kifayah hal. 12-13]

I. Ihwal di Kiamat, Surga, dan Neraka Serta Keadilan Allah ‘Azza wa Jalla

“{Wajib kita percayakan hari Kiamat lagi akan datang} dengan barang yang lagi akan jadi pada hari itu daripada dibangkitkan segala makhluk daripada matinya, dan dihisabkan sekaliannya atas amalan mereka itu; jahatnya & baiknya.
Dan berterbang berterbang segala shuhuf amalan mereka itu, dan ditimbang amalan mereka itu.

Ada yang dimasukkan ke dalam Syurga dengan semata-mata rahmat Allah jua dan ada yang dimasukkan (ke dalam) Neraka dengan semata-mata keadilan-Nya, dan yang lainnya daripada daripada yang demikian itu yang ada warid (tersebut) dengan nash shahih.” [Kifayah hal. 15]

J. Wajib Mengimani Nikmat & Adzab Kubur

“{Dan} setengah dari yang dikhabarkan (Nabi) {wajib kita percaya akan adzab kubur & nikmatnya}. Yakni, wajib kita i’tiqadkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiksakan segala orang yang kafir, dan musyrik, dan fasiq yang berdosa.

Dan memberi nikmat dan kesenangan bagi segala orang yang mukmin yang beramalan amalan yang shalih. Kemudian daripada matinya, sama ada ditanamkan di dalam kubur atau lainnya.” [Kifayah hal. 16]

K. Beriman dengan Fitnah Kubur

“{Dan} wajib kita i’tiqadkan {soal dua Malaikat yang dinamakan fitan (fitnah) kubur, yaitu Munkar & Nakir}

Kemudian daripada mengembalikan Allah Ta’ala akan roh si mati kepada jasadnya dan dihidupkan kehidupan yang tiada sempurna, hanya kehidupan yang pertengahan antara mati & hidup. Seperti adalah tidur itu (ke)hidupan yang pertengahan antara hidup & mati. [Kifayah hal. 16]

L. “{Dan} Wajib Kita I’tiqadkan Bahwa Sekalian Makhluk Itu {Bangkit Pada Hari Kiamat}” [Kifayah 16]

M. “{Dan} Setengah daripada yang Dikhabarkan (Rasululloh) Wajib I’tiqad Bahwa Ada Kemudian daripada Bangkit Itu {Hasyr & Nasyr}” [Kifayah hal. 17]

N. “{Dan} Lagi Wajib Kita I’tiqadkan Bahwa Ada Kemudian daripada Bangkit Itu {Hisab}” [Kifayah hal. 17]

O. Haudh Rasululloh

“{Dan} Setengah daripada yang dikhabarkan {wajib kita percaya haudh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam}. Yakni, kolam yang besar di dalam Surga yang diberikan dia kepada nabi kita shollallohu ‘alaihi wa sallam yang ada.

Warna airnya (lebih) putih seperti (daripada) laban (susu), dan baunya harum daripada kasturi, dan segala penyiduknya terlebih banyak daripada bintang di langit.

Barang siapa dapat minum daripadanya tiada dahaga selama-lamanya.” [Kifayah hal. 17-18]

Dalil adanya haudh adalah firman Allah, “Sesungguhnya kami telah memberimu alkautsar.”[Al Kautsar: 1]

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Haudhku (seluas) perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih dari susu, baunya lebih harum dari minyak misik, jumlah gayungnya sebanyak bintang-bintang di langit. Siapa yang meminum darinya, ia tidak akan pernah haus selama-lamanya.” [Riwayat Al Bukhari & Muslim]

Dalam Shahih Muslim dari hadits Tsauban dan Abu Dzarr, tentang sifat haudh, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan (rasanya) lebih manis dari madu.” Dalam riwayat Abu Dzarr, “Luasnya sama dengan panjangnya.”

P. Wajah Allah Ta’ala Dapat Dipandang Orang-Orang yang Beriman Kelak di Hari Kiamat

Syaikh rahimahullah berkata, “{Dan} lagi wajib kita i’tiqadkan dapat {melihat orang yang mukminin akan Tuhan-nya} pada Syurga. Maka yaitu harus pada akal karena Allah Subhanahu wa Ta’ala maujud (ada) dan tiap2 yang maujud itu mumkin dilihatkandia.

Dan telah tsabit (sah) pada syara’ pula dengan firman Allah, “Beberapa muka pada demikian itu hari yang sehabislah2 eloknya kepada Tuhan-nya memandang sekaliannya.” (dalam terjemah versi Depag: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhan-nya”) [QS Al Qiyamah 22-23] Dan pada hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam daripada Bukhari (7435). Sabdanya, “Bahwasanya kamu akan melihatkan Tuhan kamu dengan mata kamu.”

(Dalam lafazh lain: “Sesungguhnya kalian bakal melihat Robb kalian sebagaimana kalian melihat matahari dan rembulan. Kalian tidak merasakan bahaya (silau dan semacamnya).” Al Bukhari 554)

Dan lagi beberapa hadits yang menunjukkan atas yang demikian itu tetapi dilihatkan dengan tiada dapat dirupakan. (“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar Mahamengetahui.” [QS Asy Syura: 11])

Adapun orang kafir dan orang yang di dalam Neraka tiada dapat dilihatkan.

Kemudian berkata rohimahulloh, {maka adalah sekaliannya yang demikian telah datang khabarnya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, ia lah khotamul anbiya’}. Maka wajib kita percayakan segala yang tersebut itu karena telah mengkhabarkan dia oleh Nabi kita adalah ia kesudahan segala nabi.” [Kifayah hal. 19]

Q. Tentang Syafa’at dan Macam-Macamnya

Q.1. Syafa’at Kubra atau ‘Uzhma
“{Dan penghulunya yang mempunyai syafa’at kubra}, yakni penghulu segala Anbiya (Muhammad). [Kifayah hal. 19]

(Sebagaimana dalam sebuah hadits shahih, hadits syafa’at: Bahwasannya mereka (semua manusia) mendatngai Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, kemudian ‘Isa. ‘Isa pun berkata kepada mereka, ‘Pergilah menuju Muhammad, karena sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang dosanya telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.’

Beliau (Rosululloh) bersabda, ‘Mereka pun mendatangiku, aku pun bergegas pergi. Maka apabila aku melihat Robb-ku, aku sujud kepada-Nya tersungkur. Aku menyanjung-Nya dengan pujian-pujian yang Dia bukakan (ajarkan) kepadaku yang pada saat ini aku belum bisa menyanjung dengan sanjungan itu.

Robb-ku berfirman, ‘Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah maka (katamu) akan didengar, mintalah syafa’at maka kamu akan diberi syafa’at.’ Aku menjawab, ‘Wahai Robb-ku, umatku. Maka Dia memberiku batas dengan sebuah batasan dan memasukkan mereka (yang mukmin) ke dalam Surga…’ [HR Al Bukhari & Muslim]

Q.2. Makna Syafa’at
Dan makna syafa’at pada lughah (bahasa) itu mintak lepaskan yang berdosa daripada membalaskan dosanya (lawan dari ganjil). Dan pada agama (syara’), yaitu permohonan nabi atau orang yang sholih daripada Allah akan melepaskan orang yang berdosa daripada kesiksaan-Nya.”

Q.3. Syarat Syafa’at
“Maka permintaan yang tersebut tiada dapat melainkan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena firman Allah artinya, “Siapakah yang mensyafa’ati di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya.” [QS Al Baqarah: 255]

Mudah-mudahan kehendak-Nya siapalah dapat memohonkan daripada Allah akan melepaskan yang berdosa itu daripada siksa melainkan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya dahulu dan tentu Allah ‘Azza wa Jalla tiada mengizinkan bagi Nabi atau (orang) yang shalih daripada manusia atau Malaikat mensyafa’atkan bagi seorang melainkan adalah seorang itu Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhakan atasnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tiada ridhakan melainkan atas mukminin dan tiada ridha atas kafirin & musyrikin.

Maka nyatalah dari perkataan ini bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla iyalah Syafi’ & Musyaffi’. Dan tiadalah bagi seorang daripada makhluk ini sesuatu daripada segala pekerjaan.” [Kifayah hal. 19]

Q.4. Macam-Macam Syafa’at
Dan bagi nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam lima (5) syafa’at pertamanya, (yaitu):
Q.4.1. Pada Padang Mahsyar dan dinamakan dia Syafa’at Kubra, yang disebutkan oleh mushannif. Dan yaitu syafa’atnya bagi segala makhluk pada padang mahsyar supaya dilepaskan siksa-Nya daripada siksa berpanjangan berdiri pada padang itu.

Syafa’at yang besar ini ditentukan bagi nabi kita jua.

Q.4.2. Syafa’at yang kedua, syafa’at bagi ahli Syurga supaya dimasukkan mereka itu kepada Syurga.

Q.4.3. Yang ketiga, syafa’atnya bagi orang yang berdosa daripada ahli tauhid yang telah dimasukkan mereka itu ke dalam Neraka.

Q.4.4. Yang keempatnya, syafa’atnya bagi ahli Syurga supaya diangkatkan derajat mereka itu pada Syurga.

Q.4.5. Yang kelimanya, syafa’atnya bagi seorang daripada kuffar yang di dalam Neraka supaya diringankan siksanya, yaitu Abu Thalib. Allahua’lam. []

Keterangan:

1. Kalimat yang berada dalam {…} adalah ucaoan Syaikh Dawud bin ‘Abdullah Al Fathani rahimahullah

2. Kalimat yang berada dalam kurung (…) adalah tambahan dari saya

Refrensi:
‘Abduljabbar, ‘Umar. 1403. Siyar wa Tarajim Ba’dhi ‘Ulamaina fil Qarnir Rabi’ ‘Asyar lil Hijrah. KSA: Tihamah
Ulama, Sekumpulan. Ulama Mekah dan Nejd Bersatu Padu Membela Tauhid dan Memerangi Kesyirikan. KSA
Al-Fathani, Muhammad Nur. 1351. Kifayatul Muhtadi syarah Kitab Sulamil Mubtadi. Indonesia: Al Haramain
Al-Mushlih, Khalid bin ‘Abdullah. 1422. Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah min Kalam Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah. KSA: Dar Ibnil Jauzi
Al-’Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 1424. Al Qaulul Mufid syarh Kitabit Tauhid. KSA: Dar Ibnil Jauzi
Ath-Thuyan, Ahmad bin Shalih. 1431. Hasyiyah Ad Durusil Muhimmah li ‘Ammatil Ummah li Sammahatisy Syaikh ‘Abdil ‘Aziz bin Baz. KSA: Dar Thuwaiq lin Nasyr wat Tauzi’

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: