//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

.:: Juhud [Usaha] Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari (1122- 1227 H) dalam Memberantas ‘Aqidah Sesat & Wihdatul Wujud di Bumi Nusantara ::.

A. Muqaddimah

Di antara sekian banyak faham sesat yang menjangkit di Nusantara adalah faham shufi ekstrim macam wihdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti. Memang faham ini sekali-kali tidak pernah diajarkan oleh Islam, akan tetapi ia berasal dari ajaran Hindu-Budha atau filsafat Yunani yang kemudian ‘dibajak’ ke dalam Islam. Karena sesatnya yang begitu jauh, sehingga faham ini pu banyak membuat resah ditengah masyarakat termasuk yang terjadi di Kasultanan Banjar abad ke-12 H sehingga membuat sulthan merasa harus bertindak tegas menghadapi kenyataan semacam ini. Ketegasan sulthan dibuktikan dengan memberikan hukuman mati kepada penganutnya atas fatwa Syaikh Al Banjari.

B. Biografi Ringkas
Ulama kenamaan asal Banjarmasin ini bernama lengkap Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al Banjari Asy Syafi’i rahimahullah. Lahir pada 13 Shafar 1122 H di Luk Gabang, Kec. Astambul, Kab. Banjar, Kaltim dari rahim seorang Fathimah.

Al Banjari belajar sekitar 30 th. di Makkah, 5 th. di Madinah, dan beberapa waktu di Mesir bersama tiga shahabatnya yang juga berasal dari Nusantara, ‘Abdush Shomad Al Falimbani, ‘Abdurrohman Al Batawi, dan ‘Abdul Wahhab Al Bughisi. Beberapa tahun sebelum ia kembali ke Nusantara, diriwayatkan dia sudah mengajar santri-santri di Masjid Al Haram dan berfatwa.

Di antara guru-gurunya Al Banjari adalah:
1. Muhammad bin Sulaiman Al Kurdi
2. ‘Athoullah
3. Muhammad bin ‘Abdul Karim Al Marani
4. ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Mubin Pauh Bok Al Fathani
5. Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh
6. Al Musnid Muhammad ‘Aqib bin Hasanuddin Al Falimbani
Setelah sekian lamanya melawat ke Timur Tengah dalam rangka thalabul ‘ilmi, Al Banjari merasa terpanggil untuk berdakwah dan menyebarkan ilmunya di tanah kelahirannya. Di sini beliau diangkat sebagai qadhi & mufti Kerajaan Banjar yang memang tempat di mana ia dibesarkan.

Di antara karya tulis Syaikh Al Banjari adalah:
1. Sabilul Muhtadin lit Tafaqquh fi Amrid Din. Sebuah kitab fikih dalam bahasa Arab-Melayu. Kitab ini dicetak beberapa kali di Makkah -kemungkinan besar oleh Syaikh Ahmad Al Fathani-, Cairo oleh Mathba’ah Isa Al Halabi, Istanbul, Beirut oleh Darul Fikr, dan tentunya di beberapa daerah di Nusantara. Cetakan-cetakan yang beredar itu kebanyakan disertai tashih & sya’ir taqrizh (sanjungan) Syaikh Ahmad Al Fathani.
2. Kanzul Ma’rifah (Pebendaharaan Makrifat).
3. Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqah Imanil Mu’minin wa Ma Yufsidu min Riddatil Murtadin (Hadiah Buat Para Pecinta Berupa Penjelasan Hakekat Imannya Kaum Mukminin dan Apa yang Merusaknya). Ditulis th. 1180 H.
4. Al Qaulul Mukhtashar fi ‘Alamatil Mahdil Muntazhar (Bahasan Ringkas Mengenai Tanda-Tanda Kedatangan Imam Mahdi yang Dinanti)
5. ‘Ilmu Ushuliddin
6. Kitab An Nikah
7. Kitab Al Faraidh (Kitab Ilmu Waris)
8. Tuhfatul Ahbab
9. Hasyiyyah Fathul Jawwad karya Ibnu Hajar Al Haitami
10. Salinan Al Quran
11. Luqthotul ‘Ajlan fil Haidh wal Istihadhoh wan Nifas wan Nisyan (tentang hukum ibadahnya orang yang haidh, istihadhah, nifas, dan lupa)
12. Bulughul Marom

C. Juhudnya [Jasa] dalam Memberantas ‘Aqidah Sesat & Menyimpang

Kasus yang terjadi pada diri seorang Al Hallaj, penganut faham wihdatul wujud, ternyata juga terjadi di beberapa tempat di Nusantara. Terlepas dari perdebatan sah tidaknya riwayat-riwayat itu, di daerah Banjar juga terjadi kasus serupa.

Alkisah, seorang penganut dan penyebar faham manunggaling kawulo gusti bernama Haji ‘Abdul Hamid. Di antara faham yang ia ajarkan adalah, “Tiada maujud melainkan Dia, tiada wujud yang lainnya. Tiada aku, melainkan Dia dan aku adalah Dia…” Tentu ini adalah ajaran yang disebarkan oleh tokoh-tokoh sebelumnya seperti Al Hallaj, Abu Yazid Al Busthami, Ibnul Faridh, Ibnu ‘Arabi (bukan Imam Abu Bakar bin Al ‘Arabi Al Maliki penulis ‘Aridhatul Ahwadzi syarh Jami’ At Tirmidzi & Ahkamul Quran), dll.

‘Abdul Hamid juga mengajarkan bahwa pelajaran yang selama ini dipelajari (baca: syariat) hanyalah kulit saja belum sampai tingkat isinya (baca: haqiqat). Tentu ini adalah salah satu ajaran menyimpang shufi yang membagi agama menjadi kulit & inti.

Ketika Haji ‘Abdul Hamid dipanggil sulthan untuk menghadap, ia malah berkata, “Di sini tidak ada Haji ‘Abdul Hamid, yang ada adalah Tuhan.” Ketika suruhan kedua datang memanggil ‘tuhan’ supaya datang ke Istana, ia menjawab, “Tuhan’ tidak bisa diperintah.” Akhirnya, atas fatwa dan nasihat Syaikh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al Banjari, Sulthan mengambil keputusan untuk menghukum mati Haji ‘Abdul Hamid karena faham sesatnya yang sampai sedemikian jauh.

Di sini kita bisa lihat ketegasan fatwa Syaikh M. Arsyad Al Banjari dalam menyikapi kaum sesat dan menyimpang. Menurutnya, hal semacam ini sudah tidak perlu ada toleransi, kompromi, atau tawar-menawar lagi. Penganut semacam ini sudah tidak lagi layak untuk menginjakkan kakinya di muka bumi ini, terlebih jika ia sampai menyebarkannya di tengah kaum muslimin.

Bentuk lain yang dilakukan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari rahimahullah dalam memberantas firqah bid’ah sesat adalah dengan menulis kitab Tuhfatur Raghibin. Di akhir pembahasan kitab ini, beliau menyebutkan (baca: mentahdzir)enam induk firqah sesat.

Syaikh Al Banjari rahimahullah berkata dalam kitabnya itu, “Hubaya-hubaya, hai saudaraku yang beriman! Wajib arasmu beri’tiqad dengan i’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitulah jalan Nabi Allah, shahabatnya, dan segala mereka yang mengikuti mereka itu hingga kiamat. Dan wajib atasmu menjauhi sekalian i’tiqad bid’ah yang sesat [seperti] i’tiqad kaum yang tujuh puluh dua (72) yang tersebut bilangan mereka itu di dalam hadits yang tersebut.”

Setelah itu beliau menyebutkan gembong-gembong firqah sesat yang darinya. Beliau berkata, “[Kata] segala ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, ‘Bahwa kaum yang tujuh puluh dua (72) kaum itu asalnya enam (6) kaum jua, yaitu:
1. Kaum Rafidhah
2. Kaum Kharijiyyah
3. Kaum Jabariyyah
4. Kaum Qadiriyyah
5. Kaum Jahimiyyah
6. Kaum Murjiah


Tentang kaum Rafidhah, Syaikh M. Arsyad Al Banjari rahimahullah mengatakan, “Syahdan, adalah kaum Rafidhiyyah adalah sejahat-jahat ahlul bid’ah. Seperti sabda Nabi, ‘Lagi akan dating di akhir zaman dinamai akan mereka itu kaum Rafidhi, ditinggalkan akan mereka itu agama Islam. Hendaknya kamu bunuh mereka itu, dari karena bahwasanya mereka itu kaum kafir jua.’” Allaha’lam.[]

 


Refrensi:
Steenbrink, Karel A. 1984. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19. Jakarta: Bulan Bintang
Azra, Azyumardi. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Al-Banjari, Muhammad Arsyad. Ttp. Tuhfatur Raghibin fi Bayan Haqiqah Imanil Mu’minin. Tidak diterbitkan
Dll.

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: