//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Akidah Islam Tentang Mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla

A. Definisi Tauhid
Ditinjau dari segi etimologi, tauhid adalah mashdar dari wahhada-yuwahhidu-tauhidan, yang bermakna menjadikan sesuatu menjadi satu.

Sedang menurut terminologi berarti adalah mengesakan Alloh Ta’ala dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ & shifat.

B. Tauhid Rububiyyah
Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Alloh dalam perbuatan-perbuatan-Nya seperti menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, menguasai, mengatur, dan selainnya.

Tauhid macam ini juga diimani kaum kuffar Quraisy namun tidak membuat mereka masuk ke dalam Islam, dan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memerangi mereka padahal mereka mengimaninya (mengimani tauhid rububiyyah).

Alloh Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian tanyakan kepada mereka, siapakah yang telah menciptakan langit-langit & bumi? Pasti mereka akan menjawab, ‘Alloh (lah yang menciptakannya).'”[Luqman: 25 & Az Zumar: 38] (Lihat pula firman-Nya di Al ‘Ankabut: 61 & 63, Az Zukhruf: 9, dan Yunus: 31 -pent.)

Iman mereka (terhadap rububiyyah) ini tidaklah berguna bagi mereka, bahkan Rosululloh telah memerangi mereka. Beliau ‘alaihishsholatu was salam, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan bahwa aku adalah utusan Alloh. Apabila mereka telah melakukannya, maka darah & harta mereka terjaga kecuali dengan cara yang benar.”

Tauhid macam ini hanya diingkari minoritas manusia seperti Fir’aun. Alloh telah berfirman tentang (pernyataan)nya, “Akulah tuhan tertinggi kalian.” [An Nazi’at: 24]

Demikian pula telah diingkari ahli dahr (materialisme). Alloh berfirman tentang ucapan mereka, “Tidaklah ada yang membinasakan kami selain dahr (masa).” [Al Jatsiyyah: 24]

C. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid uluhiyyah atau ibadah adalah mengesakan Alloh dengan perbuatan-perbuatan hamba seperti berdoa, khauf (takut), nadzar, menyembelih, istighatsah (memohon pertolongan tatkala dalam kesulitan), dan selainnya.

Tauhid inilah yang tidak diiminai kaum kuffar Quraisy. Bahkan mereka mengatakan (sebagaimana yang Alloh abadikan di dalam Al Quran), “Apakah dia (Muhammad) menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi tuhan yang satu saja? Ini adalah sesuatu yang aneh.” [Shod: 5]

Karena tauhid macam inilah diciptakan makhluk. Alloh berfirman, “Tidaklah Aku ciptakan jin & manusia kecuali hanya untuk menyembah-Ku.” [Adz-Dzariyat: 56]

Karena tauhid macam ini diciptakan surga & neraka, diturunkan kitab-kitab (suci), karenanya pula diutus rosul, dan karenanya pula manusia terbagi menjadi kafir & mukmin.

D. Tauhid Asma & Shifat
Tauhid asma’ & shifat adalah mengesakan Alloh dengan nama-nama & shifat-shifat-Nya. Serta beriman dengan setiap nama & shifat yang terdapat di dalam Al Quran & Sunnah tanpa tahrif (menyelewengkannya), takyif (membagaimanakannya), tamtsil (menyamakannya), dan ta’thil (membatalkannya).

Tauhid macam ini, telah melenceng di dalamnya Jahmiyyah yang telah mengingkari asma & shifat, telah melenceng pula Mu’tazilah yang…, dan demikian juga Asy’ariyyah yang telah mentakwilkan banyak shifat.

E. Dalil Pembagian Tauhid Menjadi Tiga
Soal: Sebutkan dalil Ahlussunnah wal Jama’ah atas pembagian tauhid ini?

Jawab: Firman Alloh [dalam surah Maryam: 65]:

“Dialah Robb (pencipta, penguasa, pengatur) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama (samiyy)dengan-Nya?”

Arti samiyy adalah tandingan dan serupa.

Menurut bahasa, ibadah adalah menghinakan diri dan tunduk. Sedang menurut istilah adalah sebuah ungkapan untuk setiap apa saja yang Alloh cintai & ridhai; baik berupa perkataan maupun perbuatan, lahir maupun batin.

Demikian pula Ahlussunnah juga berdalil dengan surat Al Fatihah.

Dan Ahlussunnah wal Jama’ah telah memperhatikan dalil-dalil Al Quran & Sunnah, maka mereka mendapati bahwa tauhid itu terbagi menjadi tiga bagian. Di antara mereka itu adalah:
1. Imam Abu Hanifah
2. Abu Yusuf -murid Abu Hanifah-
3. Ibnu Mandah
4. Ibnu Baththah Al ‘Uqbari rohimahumolloh.

Para imam-imam ini hidup (jauh) sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohmatulloh ‘alaihim ajma’in.

Pembagian Ahlussunnah ini sebagaimana pembagian ahli bahasa seperti ilmu alat & shorof. Begitu pula ulama fikih yang membagi fikih menjadi ushul fikih, qowa’id fiqhiyyah. Demikian pula pembagian ilmu dewasa ini menjadi ilmu pasti (matematik), hitung, arsitek, dan lain-lain*. Allohua’lam. []

_________
* Dekte dari Syaikh Dr. ‘Abdul Karim ‘Isa Ar Ruhaili hafizhohulloh ketika daurah di Darunnajah Ulujami, Jakarta.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: