//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Kewajiban Bersatu & Larangan Berpecah dalam Beragama

Oleh: Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahulloh

 

Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman, “Tunaikanlah (semua titah) agama dan jangan berpecah-pecah di dalamnya.” [Asy Syuro: 13]

Firman-Nya, “Tunaikanlah (tegakkanlah) agama.” Menegakkan agama adalah Anda menyembah Alloh dengan ikhlas menjalankan agama berdasarkan syariat yang dibawa Nabi shollalloh ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan menegakkan agama.

“Janganlah kalian berpecah-pecah,” yaitu: jangan berkelompok-kelompok, setiap kelompok memvonis sesat yang lain, menilainya bid’ah, dan mengingkarinya. Oleh karena itu, berhizib-hizib termasuk hal yang Alloh larang (dan termasuk) dari berpecah-pecah. Dan tidak diperkenankan menjadikan umat Islam sebagai hizib-hizib. Dan hizib-hizib ini dimaksudkan untuk memerangai Islam itu sendiri, karena Alloh telah berfirman, “Dan janganlah kalian berselisih yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang, dan bersabarlah! Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” [Al Anfal: 46]

Akan tetapi jika didapati kelompok-kelompok kafir yang menyimpang (atheisme), baik yang menamakan dirinya dengan Islam atau tidak, maka dalam keadaan semacam kita harus mendirikan hizib yang menentangnya, dalam rangka menangani sesuatu dengan kebalikannya.

Adapun jika tidak ada hizib-hizib kafir, maka tidak diperbolehkan bagi kita untuk berkelompok-kelompok. Misalnya kita mengatakan, ini adalah orang Ikhwanul Muslimun, ini orang JT (Jama’ah Tabligh), ini orang Ishlah, ini orang Salafi, ini Atsari, dan selainnya yang terdapat di dewasa ini.

Tidak ragu lagi bahwa hal semacam ini bertolak-belakang dengan apa yang dibawa oleh syariat. Kenapa umat ini tidak bersepakat di atas satu kata (dan nada), yaitu kita tidaklah menyembah kecuali hanya kepada Alloh dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun?! Adapun kita menjadikan manhaj-manhaj; setiap umat memiliki manhaj, dan setiap kelompok (firqah) memiliki manhaj (sendiri). Maka yang seperti ini dimaksudkan agar musuh-musuh merasa gembira dengan musibah yang menimpa umat Islam, dan berpecahnya hawa. Nas-alullohal ‘afiyah*.
_____________
* Syarh ‘Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah (hal. 178) oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahulloh, cet. ke-4 th. 1431, Dar Ibnul Jauzi Cairo Mesir.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: