//
you're reading...
Kisah & Hikmah

Kisah Seorang Istri yang Minta Dicerai Suaminya Karena ‘Cemburu’ dengan Buku

Kami mendengar guru kami, Al Ustadz Aris Munandar hafizhohulloh wa ro’ah, bercerita dalam sebuah kajian (Rabu, 17 Dzul Qo’dah 1433 H) kitab Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh ketika membahas mas-alah mahabbah (cinta) menurut Ahlussunnah yang mengatakan bahwa perasaan cinta itu tidak diharuskan kepada sesama jenis. Berbeda dengan akidah kaum Mu’tazilah yang mensyaratkan sejenis. Maka menurut akal mereka, Alloh itu tidak mungkin mincentia manusia, karena Alloh tidak sejenis dengan manusia. Pendapat ganjil ini telah didustakan nash & realita yang ada. Sebagaimana kisah seorang ulama di bawah ini yang sangat mencintai buku-bukunya sehingga istrinya pun merasa cemburu, bahkan minta dicerai. Selamat menikmati dan mengambil hikmahnya…

Alkisah, salah seorang ulama staf pengajar di Islamic University of Madinah yang bernama Syaikh Prof. ‘Abdul ‘Aziz Al Ahmadiadalah ulama yang sangat gandrung dengan buku-buku (kutu buku). Setiap harinya nyaris beliau selalu di perpustakaan pribadinya melahab buku-buku yang ada di situ. Karena sangking seringnya beliau di perpustakaan pribadinya itu, sehingga istrinya pun terkadang tidak disentuhnya. Setiap kali pulang dari kerja atau urusan di luar rumah, yang pertama kali beliau tuju & sentuh apabila pulang rumah adalah buku-buku yang ada di perpustakaan pribadinya, istrinya dibiarkan begitu saja. Ternyata lama-lama istrinya pun tidak betah & cemburu dengan tingkah suaminya yang cenderung ‘menelantarkannya’, seakan-akan ia adalah istri kedua (atau yang lebih tepatnya istri pertama yang suaminya sudah berpoligami). Akhirnya istri Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al Ahmadi ini pun meminta untuk dicerai saja. Maka keduanya pun cerai.

Berikutnya, karena sudah tidak memiliki istri lagi, tentu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al Ahmadi menikah untuk yang kedua kalinya. Namun meski Syaikh sudah menikah lagi, namun kebiasaannya yang dulu belum juga hilang atau bahkan susut pun tidak. Ternyata istri yang kedua ini adalah seorang yang jalan otaknya (baca: cerdas). Setiap kali Syaikh keluar rumah, perpustakaannya pun dikunci sehingga ketika Syaikh sudah pulang rumah dan hendak memasuki perpustakaan, beliau mendapatinya dalam keadaan terkunci. Tentu saja mau tidak mau beliau harus bertanya kepada sang istri. Sang istri pun mengatakan bahwa kunci perpustakaan itu ada pada dirinya dan dia lah yang telah menguncinya. Ia tidak akan memberikan kunci itu sampai Syaikh menyentuhnya. Maka begitulah seterusnya*. Allohua’lam. []

_________
* Ditulis dengan penyesuaian.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: