//
you're reading...
Hadits Nabawi & Ilmunya

Kegigihan Ulama-Ulama Nusantara dalam Berkhidmat Kepada Hadits Nabawi

  Daerah ini (Nusantara) adalah daerah yang paling minim perhatiannya terhadap hadits karena penduduknya lebih cenderung kepada fikih dan tasawwuf.Maka sering kita menjumpai kitab-kitab fikih dan tasawwuf yang ditulis ulama Melayu, bahkan lebih banyak dari disiplin manapun.Namun demikian bukan berarti tidak ada sama sekali tokoh-tokoh yang mengarah ke sana, meski sedikit jumlahnya.

Yang perlu disebutkan di sini ialah bahwa ulama-ulama di negeri ini lebih banyak mengajar dan berdakwah di jalan Alloh.Terlebih lagi saat masa penjajahan kaum kuffar dari kalangan Belanda, Jepang, dan Jepang.Juga perlu sekiranya diingat bahwa penjajah-penjajah itu tidak hanya membatasi diri dengan hanya menjajah, tetapi juga melancarkan usaha menyebarkan idiologi mereka masing-masing; seperti kristenisasi, komunisasi, dan seterunya.

Celakanya ada oknum-oknum tertentu yang dipandang sebagai ulama namun hubungannya dengan penjajah sangat mesra, sehingga ia cenderung mendukung usaha-usaha buruk mereka. Maka umat pun dibuatnya bingung.Dari sini ulama-ulama yang benar-benar tulus memainkan perannya sebagai juru dakwah dan penyelamat umat dari virus-virus aqidah dan idiologi yang menyimpang.Karena ulama adalah laksana lentera dikegelapan malam, atau sebagaimana yang dikatakan imam Al Hasan Al Bashri rohimahulloh, “Jika sekiranya tidak ada para ulama, manusia tak ubahnya seperti hewan.”

Barangkali keabsenan para ulama itu dalam menulis didiplin hadits disebabkan karena beberapa hal tersebut di atas, atau bahkan yang lainnya.

Kembali ke pembahasan.Di antara buah usaha-usaha mereka itu adalah kita menjumpai –dengan karunia Alloh- sejumlah yang tidak mengapa oraing-orang yang disibukkan diri dengan hadits dewasa ini dari kalangan masyayikh dan ustadz-ustadz perguruan tinggi dan pesantren-pesantren Islam.

Di antara ulama-ulama yang menulis syarah kitab-kitab hadits itu adalah:

1. Syaikh Nuruddin Muhammad bin ‘Ali bin Hasanji Al Hamidi Ar Raniri Al Asyi rohimahulloh (w. 1068 H). Beliau menulis sebuah kitab kumpulan hadits yang kemudian diterjemahkan ke dalam Melayu tentang anjuran dan larangan yang bertajuk Hidayatul Habib fi At Targhib wa At Tarhib atau Al Fawaid Al Bahiyyah min Al Ahadits An Nabawiyyah.

Metode yang digunakan dalam penulisan kitab ini adalah sebagaimana metode Imam An Nawawi dalam kitab Riyadhush Sholihin, yaitu mengawalinya dengan menyebutkan beberapa ayat Al quran yang berkaitan dengan judul, lalu disusul dengan hadits-hadits nabawi, sebagaimana isyarat Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII (hal. 226).Syaikh ‘Abdurrouf bin ‘Ali Al Fanshuri Al Asyi (w. 1094 H). Beliau mempunya dua buah karya dalam bidng hadits, yaitu:

  • Syarh Arba’in karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarof An Nawawi Ad Dimasyqi Asy Syafi’i rohimahulloh (w. 676 H)
  • Al Mawa’izh Al Badi’ah, yaitu sebuah kumpulan hadits qudsi.

 2. Syaikh Wan ‘Ali bin ‘Abdurrohman Kutan Al Kalantani. Beliau memilikiالجوهرالموهوبومنبهاتالقلوب(Al Jauharul Mauhub wa Munabbihatul Qulub), yaitu sebuah syarah kitab لبابالحديثkarya As Suyuthi. Selesai ditulis tahun 1306.

Dewasa ini, kitab tersebut dicetak oleh Al Haromain Indonsia dan Mathba’ah Hilali, kemungkinan juga oleh percetakan lain.

3. Al ‘Allamah Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al Bantani (wafat 1314 H/1897 di Makkah). Beliau banyak menulis karangan-karangan yang bermanfaat, konon mencapai 100 kitab. Beliau memiliki dua buku syarah kitab hadits, yaitu:

  • تنقيحالقولالحثيثبشرحلبابالحديث(Tanqihul Qoulil Hatsits bi Syarh Lubabil Hadits), syarah terhadap karya As Suyuthi.

Dalam muqaddimahnya, Syaikh Al Bantani menyebutkan motifnya dalam menulis syarah ini, “Sesungguhnya kitab ini –yaitu Lubabul Hadits– banyak mengalami penyelewengan karena tidak adanya syarah terhadapnya. Meski begitu, ia banyak dipakai orang-orang penduduk Jawah. Dan aku tidak menjumpai naskah yang benar di dalamnya, aku juga tidak mampu mentashhih dan menyempurnakan maksudnya karena kekuranganku, hanya saja sebagian keburukan itu lebih ringan dari sebagiannya.”

Kitab ini sudah dicetak berulang kali oleh, di antaranya: Mushthofa Al Halabi Mesir, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut (edisi lux), Darul  Kutub Al Islamiyyah Jakarta, Al Haromain Jatim, dll.

Kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Ustadz Zaid Hasan Al Hamid.

  •  نصائحالعبادشرحالمنبهاتعلىالإستعدادليومالمعاد (Nashoihul ‘Ibad syarh Al Munabbihat ‘alal Isti’dad Liyaumil Ma’ad)yang dinisbahkan (yaitu kitab المنبهات ) sebagai karya Al Hafizh Ibnu hajar Al Asqolanirohimahulloh.

Kitab ini sudah dicetak berulang kali di beberapa belahan dunia.Dewasa ini dicetak kembali oleh Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut, Darul Kutub Al Islamiyyah Jakarta, Al Haromain Surabaya, dan lainnya. Berikutnya, kitab ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan beberapa penerbit, seperti IBS (Irsyad Baitussalam) dengan judul Nashaihul ‘Ibad; Nasihat-Nasihat untuk Para Hamba, dan lainnya.

4. Al Musnid Al ‘Allamah Syaikh Muhammad Mahfuzh binAl ‘Allamah ‘Abdulloh bin ‘Abdul Mannan At Tirmisi Al Jawi. Seorang ulama yang banyak ahli di bidang qiroat, hadits, ushul, dan fikih. Beliau menulis beberapa kitab hadits & mushtholahnya, yaitu:

  • Al Minhah Al Khoiriyyah min Kalam Khoiril Bariyyah (sebuah hadits Arba’in)
  • Al Khil’ah Al Fikriyyah syarh Al Minhah Al Khiriyyah (syarah kitab hadits sebelumnya)
  • Manhaj Dzawin Nazhor syarh Alfiyatil Atsar karya Imam As Suyuthi

5. Syaikh ‘Abdul Qodir bin ‘Abdul Muthollib Al Mandili (Mandailing) Al Makki (1322-1385 H). Beliau memiliki sejumlah karya, di antaranya adalah kumpulan hadits Al Bukhori & Muslim, yaitu Tuhfatul Qori’il Muslim fil Ahaditsil Muttafaq ‘Alaiha Bainal Imamil Bukhori wal Imam Muslim (Hadiah Buat Pembaca Muslim Berupa Hadits-Hadits yang Disepakati Imam Al Bukhori & Imam Muslim)

6. Syaikh Muhammad Idris bin ‘Abdurrouf Al Marbawi Al Indunisi (1313-1410 H/1989-1892 M). Beliau telah meraih hadiah migrasi perama tahun 1408 H. Beliau lah yang pertama kali memenangkan hadiah ini setelah didirikannya di Malaysia. Ia memiliki beberapa kitab syarah, yaitu:

  • بحرالماذيلشرحمختصرصحيحالترمذي(Bahrul Madzi li Syarh Mukhtashor Shohih At Tirmidzi) dalam 22 juz.

Ini termasuk kitab syarah kitab hadits terbesar dengan bahasa Melayu. Kitab ini sudah dicetak untuk pertama kalinya oleh percetakan Mushthofa Al Babi Al Halabi wa Auladuh di Mesir tahun 1379 H/1960 M dibawah pengawasan penulisnya sendiri. Di kemudian hari juga dicetak dan diterbitkan oleh Darul Fikr Beirut (10 jilid), Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut, dan telah disalin ke dalam tulisan latin di Malaysia.

  • كتابإيداغنكورو : صحيحالبخاريومسلم(Kitab Idangan Guru; [Kumpulan Hadits-Hadits] Shohih Al Bukhori & Muslim )dalam dua jilid, cetakan perdananya dicetak  tahun 1355 H di Mesir.
  • Beliau juga telah menerjemahkan kitab بلوغالمرام(Bulughul Marom min Adillatil Ahkam karya Al Hafizh Ibnu Hajar)beseta ta’liqnya (syarah kecil/catatan kaki) yang dicetak di Mesir, dan telah diterbitkan di Timur Tengah.

7. Ustadz Mushthofa bin ‘Abdurrohman (wafat 1968 M). Beliau mempunyai:

  • Syarah terhadap hadits Arba’in Nawawiyyah karya Imam An Nawawi dengan tajuk: 40 Hadits; Terjemahan & Syarahan. Kitab ini sudah dicetak dengan cetakan perdananya di Maktabah Ar Rowi tahun 1966 M.
  • ترجمهنمختصرابنأبيجمرة, yaitu sebuah terjemahan Melayu untuk ringkasan Shohih Al Bukhori karya Imam Ibnu Abi Jamroh. Di dalamnya juga terdapat ta’liqta’liq dari penulis.

8. Al Ustadz Al Fadhil ‘Abdul Halim Al Hadi (wafat 1981 M), mudir di Dairotul Ma’arif Al Wathniyyah dahulu, serta murid dari Al ‘Allamah Al Mufti Syaikh ‘Abdulloh Fahim, mufti Penang dahulu. Beliau mempunyai sejumlah kitab hadits, seperti:

  • إلهامالباريشرحصحيحالبخاري(Ilhamul Bari syarh Shohih Al Bukhori). Namun belum disempurnakannya, dan telah sampai Kitabul Janaiz.
  • شرحصحيحمسلم(Syarh Shohih Muslim), barangkali juga belum diselesaikannya.
  • تجذيبأطرافالحديثبشرحمافيكتابمختارالأحاديثللشيخمحمدالهاشمي(Tajdzib Athrofil Hadits bi Syarh Ma Fi Kitab Mukhtarul Ahadits karya Syaikh Muhammad Al Hasyimi), dicetak tahun 1957 M. Akan tetapi  dalam kitab Mukhtarul Ahadits banyak memuat hadits-hadits palsu dan lemah.

9.  Ustadz ‘Ishbirin Ya’qub. Beliau menulis Hadits Empat Puluh beserta syarahnya.

10.  Syaikh Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad Zain Al Kalantani. Beliau menulis kitab كنزالأمينفيشرحالأربعين(Kanzul Amin syarh Al Arba’in) sebuah syarah Arba’innya Imam An Nawawi.

11. Ustadz Fauzi Ong. Beliau menulis حديثأمفتفولوه(Hadits Empat Puluh) beserta syarahnya.

12. Syaikh Sayyid Ahmad Sumaith, mufti Singapura. Beliau mempunyai kuliah shubuh, yaitu sebuah syarah Arba’in Nawawiyyah.

 13. Ustadz Ahmad Hasan Bandung Al Indunisi. Beliau menulis terjemah Bulughul Marom beserta ta’liqnya.

14. Al Musnid Syaikh Abul Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa Al Fadani Al Indunisi Al Makki. Sorang ulama yang menonjol dalam pelbagai disiplin ilmu, seperti hadits dengan kedua macamnya, ushul, falak, dan lainnnya. Beliau telah banyak menulis kitab-kitab yang amat berharga, di antaranya adalah berkenaan dengan hadits, yaitu:

  • Ad Durrul Mandhud fi Syarh Sunan Abi Dawud, dalam 20 jilid. Sayangnya kitab ini masi dalam bentuk manuskrib dan belum dicetak. Konon sebagian naskahnya ada yang hilang sehingga tidak lengkap. Oleh karena itu sebagian penerbit pun enggan menerbitkannya.
  • Fathul ‘Allam syarh Bulughil Marom, dalam 4 jilid besar.
  • Bughyatul Murid min ‘Ilmil Asanid
  • Dll.

Belakangan, ustadz-ustadz Indonesia lebih mencurahkan ilmunya untuk menulis kumpulan hadits-hadits lemah & dho’if agar dapat diwaspadai oleh orang-orang awam.Dan ini adalah usaha yang amat mulia demi menjaga kemurnian Islam dan sebagai bentuk iqomatul hujjah.

Dan perlu diketahui bahwa banyak kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama kita tempo dulu yang memuat banyak hadits-hadits lemah, palsu, bahkan yang tidak ada asal usulnya. Padahal kitab-kitab itu diajarkan di pesantren-pesantren, baik di Indonesia maupun di luar sana. Anda tahu dampaknya? Dampaknya adalah seperti apa yang kita sudah saksikan saat ini. Banyak sekali khotib dan penceramah dengan pe-denya membawakan hadits-hadits bathil tersebut.Sehingga agama yang mereka amalkan bukan berdasarkan wahyu shohih, namun dibangun berdasarkan kebathilan di atas kebathilan.

Kenapa kebatilan di atas kebatilan?Karena (1) mereka menyampaikan hadits-hadits batil itu tanpa menyebutkan drajatnya, (2) menyeru agar manusia mengamalkannya, (3) menentang orang-orang yang menentang amalan-amalan batil mereka, dan seterusnya.

Lihat saja kitab maulid-nya Syaikh Al Bantani, misalnya.Dalam kitab itu, sebagaimana kata Ustadz ‘Ali Mushthafa Yaqub dalam Hadis-Hadis Bermasalah, memuat banyak hadits-hadits & atsar-atsar yang tidak ada asal uasalnya.Buruknya riwayat-riwayat itu disampaikan dengan shighat jazm (yakin). Sehingga terjadi apa yang terjadi, yaitu bertebarannya hadits-haidits yang sebenarnya bukan hadits.

Dalam Tafsir Muroh Labid, Al Bantani misalnya menyebutkan hadits yang tidak ada asal usulnya: “Siapa yang telah mengenal dirinya, maka ia sudah mengenal Robb-nya.”

Juga bias dilihat pula kitab Mathla’ul Badroin karya Ahmad Dawud Al Fathoni.Kitab ini juga tidak kalah dengan kitab sebelumnya.

Adapun kitab-kitab yang ditulis dalam rangka menjelaskan hadits-hadits dho’if dan maudhu’ adalah sebagai berikut:

  • Hadits-Hadits Bermasalah, karya Ustadz Prof. ‘Ali Mushtafa Yaqub hafizhohulloh
  • Hadits-Hadits Dha’if & Maudhu’ dalam 2 jilid, karya Al Ustadz Abu Unaisah ‘Abdul Hakim bin ‘Amir ‘Abdat hafizhohulloh
  • Koreksi Hadits-Hadits Lemah & Palsu Populer, karya Al Ustadz Abu ‘Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi hafizhohulloh

 

 

Ada juga karya-karya yang ditulis dalam bentuk lain, yaitu syarah atau lainnya, seperti:

  • Koleksi Hadits Hukum, karya Ustadz Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqi rohimahulloh.
    Buku ini sudah dicetak dalam 9 jilid oleh banyak penerbit.
  • Syarah Arba’in Nawawiyyah, karya Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas hafizhohulloh. Buku ini sudah dicetak Pustaka Imam Asy Syafi’I Jakarta dalam satu jilid tebal.
  • Dan lain-lain.

Dicupik dan diterjemahkan dari http://www.flyarb.com/f.asp?t=120818 dengan tambahan dan pengurangan

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

2 thoughts on “Kegigihan Ulama-Ulama Nusantara dalam Berkhidmat Kepada Hadits Nabawi

  1. Semoga bermanfa’at bagi segenap umat… Aamiin..

    Posted by ustadmukhlis | 12/03/2013, 1:27 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: