//
you're reading...
Hadits Nabawi & Ilmunya

Keberuntungan dalam Islam

وما منْ دابّةٍ فى الأرْض إلّا على الله رزْقُهَا

Alloh Ta’ala berfirman, “Tidaklah binatang melata kecuali rizkinya ditanggung (‘alaa) Alloh.” (Hud: 6)

  • Penjelasan

Kata-kata “على” menunjukkan atas kewajiban yang harus, akan tetapi jika disandarkan kepada Alloh maka bermakna karunia dan kebaikan-Nya.

Hadits ke-522 dari kitab Riyadhush Sholihin karya Imam An Nawawi rohimahulloh. Dari ‘Abdulloh bin ‘Amru rodhiyallohu ‘anhuma, bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

قَدْ أَفلحَ منْ أَسْلَمَ وَ رُزِقَ كَفَافاً وَ قَنَّعَهُ الله

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan diberikan rizki cupun, dan Alloh jaikan ia qona’ah (merasa cukup dengan apa yang ada di tangannya).” (Riwayat Muslim)

  • Mengenal Perawi Hadits

Shahabat perawi hadits ini bernama ‘Abdulloh bin ‘Amru bin Al ‘Ash Al Qurosyi rodhiyallohu ‘anhuma. Masuk Islam sebelum ayahnya. Umur ayahnya lebih tua 13 tahun. Seorang shahabat ahli ibadah, sholih, banyak bertaubat, ‘alim, banyak menghafal. Wafat tahun 63 H atau 70 H, menurut suatu riwayat lain. Beliau ini termasuk dari ‘Ubadalah, mereka itu adalah:

  1. ‘Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma
  2. ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma
  3. ‘Abdulloh bin ‘Amru bin Al ‘Ash rodhiyallohu ‘anhuma
  4. ‘Abdulloh bin Az-Zubair bin Al ‘Awwam rodhiyallohu ‘anhuma

[‘Ubadalah adalah empat shahabat yunior yang keseluruhannya bernama ‘Abdulloh, demikian Imam Ahmad menyebutnya. Sedangkan di kalangan shahabat yang bernama ‘Abdulloh berjumlah sekitar 220 atau 300. (Lihat Manhaj Dzawin Nazhor hal. 154, karya Muhammad Mahfuzh At Tirmisi dan Taisir Mushtholahil Hadits hal. 165, karya Mahmud Ath Thohhan )]

  • Penjelasan Hadits

Sabda Rosululloh, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam…” dsb. Hadits ini menerangkan syarat menjadi orang yang beruntung di dunia & akhirat, yaitu:

1. Muslim.

[Ini merupakan syarat mutlak sebuah keberuntungan]. Maka orang kafir tidak termasuk orang yang beruntung meski secara zhahir –bisa jadi- hartanya terlihat banyak melimpah.

Dan orang-orang kafir itu akan diazab karena 3 sebab:

1.1.         Kekafirannya. Ini sudah tidak isykal lagi bagi siapa saja. Semua penganut madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah bersepakat bahwa tidak ada perbuatan yang mengekalkan pelakunya selain perbuatan kufur seperti syirik dan seterusnya.

1.2.         Makanan dan barang-barang yang mereka kenakan. Alloh ta’ala berfirman, “Tidak berdosa bagi orang-orang dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan (dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman serta mengerjakan amal sholih, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka tetap beriman dan berbuat kebajikan. Dan Alloh mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Maidah: 93).

Alloh juga berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Alloh yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya, dan rezki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Itu semua untuk orang-orang beriman dalam kehidupan dunia, dan terkhusus lagi hanya untuk mereka di hari kiamat.’ (Al A’rof: 32)

Al ‘Allamah ‘Abdurrohman bin Nashir As Sa’di rohimahulloh mengatakan ketika mengomentari ayat mulia ini, “Mafhum ayat ini adalah bahwa orang yang tidak beriman kepada Alloh tidak dihalalkan menikmati rizki-rizki itu, bahkan mereka menjadikan menjadikannya (makanan-makan dan rizki itu) sebagai sarana melakukan maksiat yang mereka lakukan.  Maka mereka akan disiksa karenanya dan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah mereka nikmati itu.” (Taisirul Karimirrohman hal. 265)

1.3.         Peninggalan mereka terhadap rincian-rincian sariat, seperti meninggalkan sholat, zakat, puasa, dan seterusnya. Toh apabila mereka tetap nekat mengerjakannya, juga tidak diterima disebabkan kekufurannya.

Alloh Ta’ala berfirman kepada orang-orang kafir di Neraka, “Apa yang menyebabkan kalian masuk neraka Saqor? Mereka menjawab, ‘Dahulu ketika di dunia kami tidak termasuk dari orang-orang melaksanakan sholat , dan tidak pula memberi makan orang-orang miskin. Bahkan kami biasa berbincang (dengan tujuan batil) bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai dating kematian kepada kami.’” (Al Muddatsir: 42-47)

2. Diberi rizki yang cukup.

Dalam sebuah hadits, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Siapa yang diberikan makanan yang cukup untuk hari ini dan esok, maka seakan-akan ia telah diberi dunia dan seisinya.”

Hadits ini memfaidahkan tolak ukur kecukupan harta. Dan inilah ajaran Islam yang terlihat sederhana namun ternyata sangat agung dampak dan pengaruhnya.

3. Sikap qona’ah.

Qona’ah adalah merasa cukup dengan apa yang sudah ada di tangannya. Dan sesungguhnya sikap qona’ah inilah yang menjadi barometer kekayaan seseorang. Karena dalam bahasa ‘Arab, kaya disebut dengan غِنَى(subjeknya غَنِيّ) yang bermakna cukup. Sedangkan rasa cukup itu adalah sesuatu yang relative. Dan kerelativan ini sudah ada rambu-rambunya di dalam Islam, yaitu sebagaimana hadits di atas barusan. Allohua’lam. []

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: