//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Fatwa Syaikhul Azhar Tentang Haul & Tawasul ‘(Ngemis)’ dengan Mayit

Soal:

Apakah hukum syariat tentang berziarah ke kuburan wali-wali, berthawaf mengelilingi rumah berbenteng, menciuminya, dan bertawasul dengan wali-wali?

Fadhilatul Imamil Akbar Hasan Ma’mun* rohimahulloh (syaikhul Azhar & mufti Mesir- menjawab**:

Pertama-tama aku menyukai untuk mengingatkan bahwa pondasi dakwah Islam itu tegak di atas tauhid, dan Islam memerangi –berjihad- setiap yang mendekatkan seseorang kepada kegelinciran syirik kepada Allah.

Tidak diragukan lagi bahwa bertawasul dengan kubur-kuburan dan orang-orang mati adalah termasuk salah satu penggelincir ini, dan dia adalah kejahiliahan yang tenggelam (bobrok).

Jika kita melihat kepada apa yang dikatakan orang-orang musyrik ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mencela peribadatan mereka kepada patung-patung. Mereka berkata kepadanya (Rosul), “Tidaklah kami menyembah mereka (patung & berhala) kecuali agar merke mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” [QS Az Zumar: 3]. Maka ia adalah sebuah alasan sama yang dilontarkan hari ini oleh penyeru-penyeru tawasul dengan wali-wali untuk memenuhi hajat di sisi Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dari fenomena ziarah ini timbullah perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan ibadah-ibadah Islam yang tetap secara umum.

Dalam Islam, thawaf itu tidaklah disyariatkan kecuali di sekeliling Ka’bah yang mulia. Setiap thawaf mengelilingan tempat apa saja selainnya adalah perkara yang haram menurut syariat. Sedangkan mencium dalam Islam tidaklah disyariatkan kecuali kepada Hajar Aswad. Sampai pun Hajar Aswad, ‘Umar bin Al Khoththob mengatakan tentangnya ketika beliau menciumnya, “Demi Allah, seandainya aku tidak melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mencimmu, aku tidak akan melakukan (mencium).”***

Maka menciaum a’tab dan tembaga kubur dan tempat apa saja darinya adalah sesuatu yang haram secara pasti.

Setelah itu datang permasalahan syafa’at, dan ini selainnya di dunia. Syafa’at itu terikat dalam benak-benak kita dengan apa yang terjadi di kehidupan ini dari pertengahannya seseorang kepada orang lain, telah salah di sisi ketuanya dan siapa yang di tangannya perkara. Ia meminta kepadanya agar memaafkan kekeliruan ini, meskipun yang salah ini tidak berhak dimaafkan dan diampuni. Hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membatasi jalan syafa’at di akhirat.

Syafa’at ini tidak aka nada kecualia Allah ridha kepada mereka untuk memberi syafa’at orang-orang yang berhak memperoleh syafa’at ini. Mereka (yang mendapat syafa’at) juga dibatasi Allah. Jadi, semua ini bergantung dengan izin Allah dan keputusan-Nya.

Jika sudah kita dahulakan (penyebutan) hukum ini, bahwa meminta syafa’at kepada manusia mana saja itu merupakan kesia-siaan, karena kita tidak biasa mengetahui (jawa: niteni) siapa yang akan Allah beri izin untuk mendapatkan syafa’at dan siapa yang akan memberikan syafa’at kepada mereka. Karena itu, jelaslah bahwa setap ziarah kubur-kubur , thawaf mengelilinginya, mencium rumah berbenteng dan a’tab, dan bertawasul dengan wali-wali, serta meminta syafa’at dari mereka; semua ini adalah haram yang menafikan syariat, dan di dalamnya juga terdapat unsur mensekutukan Allah.

Hendaknya para ulama mengatur pengemban-pengemban sejati untuk menjelaskan hakekat-hakekat (perkara) ini. Karena banyak dari kalangan orang awam, bahkan orang khusus (kalangan elit), ada yang belum memiliki pengetahuan Islam yang benar. Mereka terjerumus ke dalam mangsa kejahiliahan yang tenggelam yang berlawanan dengan Islam.

Apabila manusia itu didakwahi dengan lembut, pasti mereka akan menerima dakwah, karena semua orang sangat antusias –tidak diragukan lagi- untuk mengenal hakekat-hakekat (kebenaran) agama mereka****.

 

Fotenote:

[*] Syaikh Hasan Ma’mun termasuk ulama yang dilahirkan pada tahun 1894 M di Cairo. Pekerja memegang jabatan kehakiman di Mesir & Sudan selama 45 tahun. Pada 1941 beliau ditunjuk sebagai qadhi untuk hakim-hakim Sudan, dan menjabatnya selama 6 tahun. Kemudian kembali ke Mesir sebagai ketua Peradilan (Mahkamah) Mesir. Pada tahun 1955 ditunjuk sebagai qadhi negeri Mesir menggantikan Syaikh Hasanain Makhluf

[**]Fatwa ini dipublikasikan Majalah Al Idza’ah (7/9/1957 M)

[***] Diriwayatkan Al Bukhori (1610) dan Muslim (1270). Sedangkan lafazh keduanya adalah: “Seandainya aku tidak melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

[****] Diterjemahkan dari Fatawa Kibar ‘Ulama Al Azhar Asy Syarif Haula Al Adhrihah wal Qubur wal Mawalid wan Nudzur ( hal. 53-56) dengan pengantar dari sejumlah ulama, cet. Ke-5, Darul Yusr Mesir

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: