//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Madzhab ‘Wahhabi’ dalam Ushul & Furu’

 

Oleh: Syaikh ‘Abdulloh bin Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohiamhulloh

Maka kami khabarkan kepadanyanya bahwasanya madzhab kami dalam ushulud din adalah madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah dan metode kami adalam metode Salaf yang memang merupakan metode yang paling selamat, lebih mengetahui, dan lebih kokoh. Berbeda dengan orang yang mengatakan bahwasanya motede kholaflah yang paling mengetahui.

Yaitu, kami menetapkan ayat-ayat & hadits shifat sebagaimana zhahirnya. Dan kami menyerahkan ilmunya kepada Allah meski kami meyakini hakekatnya. Sesungguhnya Imam Malik, padahal beliau adalah termasuk pembesar ulama Salaf, ketika ditanyatentang istiwa’ (bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy) dalam firman Allah:

اَلْرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rohman (Allah) bersemayam di atas ‘Arsy.”

Beliau menjawab, “Istiwa’ itu sudah dapat diketahui, tatang caranya tidak dapat diketahui, mengimaninya adalah wajib, sedangkan mempertanyakannya adalah sebuah bid’ah!”

Kami juga berkeyakinan bahwa semua kebaikan dan keburukan di bawah kehendak Allah Ta’ah. Tidaklah ada sesuatu yang terjadi kecuali dengan keinginan-Nya. Sesungguhnya seorang hamba tidak dapat menciptakan perbuatannya. Bahkan itu merupakan kasab yang  mengakibatkan mendapatkan pahalah sebagai bentuk karunia dan mendapatkan hukuman karena keadilan. Dan itu tidak menjadi kewajiban Allah atas hamba-Nya sedikit pun.

Bahwasannya orang-orang mukmin itu melihat-Nya di Akhirat, tanpa (diketahi) bagaimana dan ihathahnya.

Dalam masalah furu’, kami memegang madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Kami tidak mengingkari orang yang bertaklid kepada salah satu imam yang empat, bukan selain mereka dikarenan madzhab-madzhab lainnya belum dikumpulkan, seperti Rofidhoh, Zaidiyyah*, Imamiyyah, dan selainnya. Secara zhahir kami tidak mengakui mereka sedikit pun dari madzhab-madzhab mereka yang rusak, bahkan akan kami paksa agar mereka bertaklid kepada salah satu imam yang empat.

Kami tidak berhak menduduki martabat ijtihad muthlaq, tidak juga salah satu dari kami yang mendakwakannya. Hanya saja kami di sebagian masalah jika telah sah menurut kami suatu nash yang jelas, baik dalam Al Quran maupun As Sunnah yang tidak dimansukhkan, atau ditakhshish, atau tidak menyelisihi pendapat yang lebih kuat darinya, danada di antara imam yang empat berpendapat dengannya, maka kami akan mengambilnya dan akan kami tinggalkan madzhab kami. Seperti pewarisan kakek dan saudara, maka kami mendahukan agar kakek mendapatkan warisan meski dislisihi madzhab Hanbali.[]

 

  • Barangkali penulis risalah ini belum melihat buku-buku Zaidiyyah dalam masalah fikih. Seandainya beliau membacanya, niscaya dapat diketahui bahwa madzhab mereka sudah dikumpulkan. Dan bahwasannya perbedan antara madzhab Zaidiyyah dengan madzhab yang empat hanyalah sedikit. Sedikin di antara para mujtahidnya yang berpendapat (dengan suatu pendapat) sendiri (yang tidak ada yang mendukungnya) dan menyelisihi consensus (ijma’) sebelumnya. Allahua’lam.

 

 

 

 

Al Hadiyyatus Saniyyah hal. 44 himpunan Syaikh Sulaiman bin Sahman rohimahulloh

5 Dzul Hijjah 1433 H

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: