//
you're reading...
Bimbingan Islam

Mencari Sinyal Keikhlasan di Medan Dakwah dan Fenomena Riya’ yang Tersembunyi

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahulloh berkata dalam Al Qoul Al Mufid ‘ala Kitab At Tauhid (hal. 81):

“Demikian juga termasuk hal penting adalah tidaklah seseorang itu bergembira atas perkataannya (ceramahnya dan selainnya) yang direspon orang-orang karena (ia merasa bahwa yang ditermia itu adalah) ucapannya. Akan tetapi ia (boleh) bergembira terhadap orang-orang yang merespon positif ucapannya jika ia melihatnya kebenaran karena memang kebenaran (haq), bukan karena itu ucapannya.

Demikian juga seseorang tidaklah bersedih ketika manusia menolaknya mentah-mentah ucapannya karena itu adalah ucapannya (pendapatnya). Karena di saat seperti ini ia menyeru kepada dirinya (bukan kepada Allah). Akan tetapi ia (boleh) sedih karena manusia menolaknya karena (yang diserukan adalah) kebenaran. Dengan ini, terwujudlah keikhlasan.

Maka ikhlas itu sangatlah sulit. Hanya saja seseorang yang menghadap (mengarah & menuju) kepada Allah dengan penghadapan yang jujur (ikhlas) lagi benar di atas jalan lurus, Allah akan menolongnya dan memudahkan untuknya.”

Kesimpulannya, orang yang ikhlas dalam berdakwah, baik dengan lisan maupun tulisan, adalah orang yang tidak peduli sikap orang lain terhadap dakwah yang diserukannya, apakah mereka menerima atau menolak. Jika dakwah yang ia lancarkan direspon dengan respon positif, maka ia boleh bergembira karena orang-orang menerima kebenaran, bukan semata-mata menerima ucapan & pendapatnya. Namun juga sebaliknya, apabila orang-orang tidak menerima dakwah yang ia serukan, maka ia bersedih karena mereka tidak atau belum menerima kebenaran.

 

Fenomena riya’ dalam berdakwah ini bias terjadi dengan sikap ujub kepada diri sendiri. Dalam dunia maya, misalnya. Ada sebagian orang yang memasang status di facebook atau twitternya dengan tujuan agar dilaike banyak orang. Berjam-jam ia mempersiapkan status barunya hanya agar dijempoli temannya se-maya. Atau orang yang berselancar di dunia blog-mengeblog. Nah, dengan adanya perasaan bangga kepada tulisan yang banyak dilaike orang banyak bisa menggugurkan usahanya yang seharusnya berbuah pahala, namuk di akherah hanya bagai debu yang diterpa angin. Adakah bagian untuknya? Allahua’lam. []

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.

Jadi, saat ini Anda ada di posisi yang mana?

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu memebrikan rizki-Nya berupa keikhlasan dalam segala tindak-tanduk saya, Anda, dan kaum muslimin.

 

 
Kampus Al Hadi Sleman, Yogyakarta
Khamis, 16 Dzul Hijjah 1433 H
Firman Hidayat bin Marwadi Al Marwadi
-semoga Allah mengampuni dosa-dosanya-

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: