//
you're reading...
Akhlaq dan Adab

Fenomena Prilaku Riya’

Ketahuilah, bahwa orang yang berbuat riya’ itu banyak, terkumpul dalam lima (5) macam:

Pertama, riya’dalam agama dengan badan.Seperti menampakkan kekurusan, kepucatan, dan mengusatkan rambut, agar dengan kekurusan itu menunjukkan sedikit makan, dengan kepucatan menunjukkan begadang di malam hari (sholat malam) dan banyak bersedih terhadap agama (banyak menangis), dengan mengusatkan rambut menunjukkan keantusiasannya terhadap agama sehingga tidak ada waktu untuk merapikan rambut.

Kedua, riya’ dengan penampilan dan pakaian. Seperti menundukkan kepala ketika berjalan, berlaku tenang, menyisakan bekas sujud (warna hitam di jidat), berpakaian buruk, tidak membersihkan pakaian dan membiarkannya koyak-koyak, dan memakai pakaian yang bertambal.

Ketiga, riya’ dengan perkataan. Seperti berucap dengan kata-kata hikmah, mengkomat-kamitkan kedua bibir ketika berdzikir di hadapan manusia, amar ma’ruf & nahi munkar dengan disaksikan makhluk [namun ketika tidak ada orang, tidak amar ma’ruf & nahi munkar], menampakkan kemurkaan terhadap kemunkaran, menampakkan keperihatinan terhadap bercampurnya manusia dengan kemaksiatan-kemaksiatan, melemahkan suara ketika berbicara, memperindah (menipiskan) suara ketika membaca Al Quran. Yang demikian itu agar menunjukkan ketakutan & kesedihan.

Keempat, riya’ dengan perbuatan. Seperti orang yang sholat memperlihatkan panjangnya berdiri, ruku’, dan sujud, tidak menoleh-noleh, menampakkan ketenangan, serta menyejajarkan kedua kaki & tangin. Demikian juga dalam ibadah puasa, haji, shodaqoh, dan memberimakan.

Kelima, riya’ dengan kawan-kawan, pengunjung (tamu-tamu), dan orang-orang yang berbaur (dengannya).Seperti orang yang memaksakan diri untuk meminta agar ulama, ahli ibadah, raja, atau pegawai dari pegawai-pegawai penguasa berkunjung (ke kediamannya) agar dikatakan, “Mereka itu bertabarruk (ngalapberkah) dengannya karena ketinggian martabatnya dalam agama.” Juga seperti orang yang sering menyebut-nyebut guru-guru (syaikh-syaikh) agar dia terlihat bahwa dia bertemu banyak syaikh dan mendapatkan faidah (ilmu) dari mereka, maka ia pun berbangga dengan syaikh-syaikhnya (ustadz-ustadz) itu.

[Lima macam fenomena riya’ ini sering dijumpai di kalangan shufi. Allahua’lam.]

Maroqil ‘Ubudiyyah Syarh Bidayatil Hidayah (hal. 147-148), karya Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al Bantani Asy Syafi’i rohimahulloh

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: