//
you're reading...
Tafsir & Ilmunya

Kewajiban Bercadar dalam Tafsir NU Part I

Yang saya maksud dengan tafsir NU adalah tafsir kerap menjadi rujukan kaum NU. Salah satunya adalah kitab yang bertajuk Tafsir Al Munir.

Tafsir Nawawi atau juga terkenal dengan nama Muroh Labid li Kasyf Ma’na Quran Majid dan At Tafsir Al Munir li Ma’alimut Tanzil almusfir ‘an Wujuh Mahasinit Ta’wiladalah sebuah kitab tafsir yang ditulis seorang ulama kenamaan asal Banten yang pengaruhnya cukup berpengaruh di dunia pesantren, khususnya pesantren tradisional [Priksa Sayyid Ulama Hijaz]. Beliau adalah Syaikh Abu ‘Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arobi bin ‘Ali Al Bantani Al Jawi Asy Syafi’i (*) (w. 1316) rohimahulloh yang konon digelari Sayyid ‘Ulama Al Hijaz oleh penduduk Taimur [Priksa Al A’lam (VI/318)]

Karya-karyanya banyak diajarkan di pesantren-pesantren tradisional, bahkan beberapa di antaranya menjadi buku wajib bagi setiap santri, seperti Syarh ‘Uqud Al Lujjain bi Bayan Huquq Az Zaujain. Termasuk buku tafsirnya ini yang merupakan salah satu buku rujukan para kiainya. Syaikh Nawawi Banten sendiri merupakan guru daripada kebanyakan ulama Nusantara, seperti Ustadz Ahmad Dahlan Jogja yang pendiri Muhammadiyyah, Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari Jombang yang pendiri NU, dan lain-lain. Atu juga bisa dikata bahwa beliau merupakan ‘guru’ orang-orang NU.

Namun nampaknya buku-buku Syaikh Muh. Nawawi hanya diajarkan secara teori saja. Adapun secara tathbiqi (praktek), belum ada tanda-tanda pengamal. Di antaranya adalah masalah hijab. Berikut adalah pandangan penulis Tafsir Muroh Labid tentang kewajiban bercadar dan berburqoh bagi setiap wanita muslimah merdeka. Adapun yang bukan muslimah, maka terserah.

وَ قُلْ لِلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصرِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُوْرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ وَ لَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتُهُنّ إِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ …إلخ

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka…dsb.” (QS An Nur: 31)

Syaikh Muhammad Nawawi Banten rohimahulloh berkata:

“وَ قُلْ لِلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصرِهِنَّ (Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminah, agar mereka menundukkan pandangan mereka)’, maka janganlah mereka melihat kepada yang tidak dihalalkan melihatnya, ‘وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ (dan agar mereka mennjaga kemaluan-kemaluan mereka)’, dengan menjaga dari perzinaan, ‘وَ لَا يُبْدِيْنَ زِيْنُتُهُنَّ (dan agar mereka tidak menampakkan perhiasan), yaitu tiga (3) hal:

  1. Baju.
  2. Perhiasan, seperti cincin, gelang, gelang kaki, gelang tangan, kalung, mahkota, selempang, dan anting, anting.
  3. Warna-warna, seperti celak, warna di bulu mata, lesung pipi, dan hina’ di kedua telapak tangan dan kaki.

‘إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا (Kecuali yang nampak darinya)’, ketika peraktek hal-hal (tertentu) yang harus darinya, biasanya, seperti cincin, warna di kedua telapak tangan (hina’?), ghomaz, dan pakaian.

[Hal ini tidak akan bisa dicapa kecuali dengan mengenakan cadar dan burqah yang berwarna gelap. Karena warna, menurut beliau, termasuk perhiasan yang hendaknya ditutupi].

Sebab diperbolehkan melahat kepadanya (yang dikecualikan itu) adalah bahwa dalam menutupinya adalah sesuatu yang jelas sulit, karena wanita (juga) harus menerima (mengambil) sesuatu dengan kedua tangannya, dan keperluan menyingkap wajahnya dalam persaksian, peradilan, nikah (nazhor ?). dalam hal itu, sangat dilarang dalam menampakkan tempat-tempatnya, sebagaimana tidak samar.

‘وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُوْرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ (Dan hendaknya mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka)’, artinya hendaklah mereka menjulurkan cadar mereka ke dada mereka.

Adalah kebiasaan wanita-wanita menurut adat jahiliyyah, mengurai jilbab dari belakang, maka nampaklah leher dan kalung dari dada mereka. Oleh karena itu, mereka diperintah menjulurkan cadar ke dada supaya leher dan sebelah atas dada mereka.

‘وَ لَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتُهُنَّ (Dan hendaklah mereka tidak menampakkan perhiasan)’, yang samar (namun) terlarang dari menampakkannya kepada laki-laki asing (baca: bukan mahrom).

‘إِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ (Kecuali kepada suami mereka)’, karena wanita dimaksudkan berhias, dan boleh bagi mereka (suami) melihat ke seluruh badan istri-istri sampai pun tempat yang dijanjikan (faraj), namun hal itu makruh.

Saya berkata, “Pendapat yang mengatakan bahwa makruh melihat kemaluan istri adalah sebuah pendapat yang lemah, karena tidak adanya dalil shahih yang melarangnya, bahkan yang ada hanyalah hadits dha’if. Di antaranya adalah hadits yang mengatakan:

((إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلْيَسْتَتِرْ وَلَا يَتَجَرَّدْ تَجَرُّدَ الْعَيْرَيْنِ))

Apabila salah seorang kalian mendatangi istrinya (untuk berjima’), hendaklah berpenutup, dan janganlah ia bertelanjang sebagaimana bertelanjangnya dua ekor onta.’

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah )no. 1921) dengan drajat dha’if, di dalam perawinya terdapat Al Ahwash bin Hakim yang lemah hafalannya. Al Haitami menilainya dha’if dalam Az Zawaid karena perawi tabi’innya tidak dikenal.

عن عائشة؛ قالت: ما نظرت، أو ما رأيت فرجَ رَسُول اللَّهِ صَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم قط

Dari ‘Aisyah, beliau berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kemaluan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.’

Hadits ini juga diriwayatkan Ibnu Majah (no. 1922), dari jalan maula ‘Aisyah. Akan tetapi maula di sini majhul, sehingga drajatnya dha’if.

Mereka beralasan karena hal itu menyebabkan wanita tidak senang [Minhaj Al Muslim (hal. 309)]. Ini juga tidak beralasan.”

Saya berkata, “Bahkan dalam Sunan Ibnu Majah (no. 1920) terdapat sebuah hadits tegas yang menyatakan bolehnya menampakkan aurat laki-laki kepada istrinya:

اِحْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِيْنُكَ

Jagalah auratmu kecuali kepada istri dan budakmu.”

[Diriwayatkan juga Abu Dawud (no. 4107) Bab Ma Ja’a fi At Ta’arri dan At Tirmidzi (no. 2769) Bab Ma Ja’a fi Haifzh Al ‘Auroh. At Tirmidzi berkata, ‘Ini adalah adits hasan.’ Al Mubarokfuri berkata, ‘Dan juga dikeluar Abu Dawud di Kitab Al Hammam, An Nasa’i di Kitab ‘Usyroh An Nisa’, Ibnu Majah di Kitab An Nikah, dinilai shohih oleh Al Hakim, dan disebutkan Al Bukhori dalam Shahih-nya secara ta’liq.’ Dinilai hasan oleh Al Albani].”

Lihat juga Hadits-Hadits Dha’if & Maudhu’ (no. 19), karya Al Ustadz ‘Abdul Hakim bin ‘Amir ‘Abdat hafizhohulloh.

Kembali ke pembahasan…

Setelah itu Syaikh Nawawi Banten menyebutkan tafsir ayat pengecualian bagi wanita menampakkan wajahnya. Allahua’lam. []

 

 

NB: Tulisan ini terinspirasi dari tulisan guru kami, Ustadz Aris Munandar hafizhohulloh wa ro’ah di blog beliau (www.ustadzaris.com)

Refrensi:

Albantani, Muhammad Nawawi bin ‘Umar. 2011. Muroh Labid li Kasyf Quran Majid. Beirut: Darul Kutub Al Ilmiyyah

Albantani, Muhammad Nawawi bin ‘Umar.th. Al Ma’alim At Tanzil wa Huwa Tafsir Nawawi Al Musamma Muroh Labid li Kasyf Al Quran Al Majid. Beirut: Darul Fikr

Abdat, ‘Abdul Hakim bin ‘Amir. 1432. Hadits-Hadits Dha’if & Maudhu’. Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Alqozwaini, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Dalam mauqi’ duror

Abudawud, Sulaiman bin Al Asy’ats. 1418. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ibn Hazm

Attirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. 1996. Al Jami’ Al Kabir. Beirut: Dar Al Ghorb Al Islami

Almubarokfuri, Muhammad bin ‘Abdurrohman. Th. Tuhfah Al Ahwadzi syarh Jami’ At Tirmidzi. KSA: Baitul Afkar Ad Dauliyyah

Addahlawi, ‘Abdussattar. 1430. Faidh Al Malik Al Wahhab Al Muta’ali bi Anba’ Awail Al Qorn Ats Tsalits ‘Asyar wa At Tawali. KSA: Maktabah Al Asadi

Amin, Syamsul. 2011. Sayyid Ulama Hijaz Biografi Syaikh Nawawi Al Bantani. Yogyakarta: Pustaka Pesantren

Dll.

 

 

 

(*) Lihat biografinya di:

1. Al A’lam (VI/318), karya Khoiruddin Az Zarkali

2. A’lam Al Makkiyyin (II/969-970), karya ‘Abdulloh Al Mu’allimi

3. Tarikh Asy Syu’aro’ Al Hadhromiyyin (III/171)

4. Mu’jam Al Muallifin (XI/87)

5. Mu’jam Al Mathbu’at (hal. 1879-1883), karya Sarkis

6. Hadiyyah Al ‘Arifin (II/394), karya Isma’il Basya Al Baghdadi

7. Al Mukhtashor min Nasyr An Nur wa Az Zuhar (hal. 504)

8. Nazhm Ad Duror (hal. 214), karya ‘Abdulloh Mirdad Abul Khoir

9. Siyar wa Tarojim (325), karya ‘Umar ‘Abdul Jabbar

10. Faidh Al Malik Al Wahhab Al Muta’ali (III/1637), karya ‘Abdussattar bin ‘Abdul Wahhab Ad Dahlawi As Salafi

11. dll.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: