//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Sedikit Beramal Banyak Pahala, Sebuah Kaidah Fiqih

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

v Sebuah Muqaddimah & Renungan

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَحْدَه، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ وَ لَا رَسُوْلَ بَعْدَه،

أما بعد

Tersebutlah Ahmad seorang kuli bangunan yang amat giat bekerja dengan semangat yang membara. Ia adalah potret kuli terbaik se-kotanya, bahkan konon se-negerinya. Tubuhnya saja sekekar Dray. Sementara itu, Muhammad hanya seorang mandor yang hanya melihat-lihat serta mengontrol kerja para kuli-kuli, tentu saja termasuk Ahmad.

Akan tetapi yang mengherankan adalah gaji yang diterima Ahmda & Muhammad tidak sama. Mungkin ada yang menyangka bahwa yang layak mendapat gaji besar adalah Ahmad karena kerjanya yang berat. Tapi sekali-kali tidak. Justru yang mendapat gaji besar adalah Muhammad meski kerjanya lebih ringan dari Ahmad yang seorang kuli.

Sehingga ia bekerja menggunakan kekuatan tubuhnya yang kekar itu. Sementara Muhammad pernah mengenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi, maka tidak heran jika ia lebih menggunakan otaknya daripada tubuhnya ketika bekerja.

 

v Meraih Pahala dengan Sedikit ‘Amal

Dari ilustrasi di atas, kiranya sudah dapat kita tangkap maksud dan tujuan muqaddimah itu. Ya, itulah perbedaan antara orang yang berilmu dengan orang yang di bawahnya (baca: tidak berilmu). Maka tidak mengherankan jika drajat seorang ulama itu dapat mengungguli ahli ibadah yang setiap waktu selaluAnda menjumpainya dalam keadaan rukuk dan sujud di kehening malam dan di siang harinya dalam keadaan  menahan makan dan minum. Sementara seorang ulama di bawah ahli ibadah itu dalam beribadah. Kenapa? Karena ulama beribadah dengan disertai ilmunya sementara ahli ibadah hanya mengandalkan kekuatannya.

Di antara ilmu seorang yang berilmu adalah sebuah kaidah fikih yang berkedudukan agung dan merupakan nikmat besar dari Allah ‘Azza wa Jalla. Kaidah itu adalah sebagai berikut:

إِذَا اجْتَمَعَتْ عِبَادَتَانِ مِنْ جِنْسٍ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ ليست إحداهما مفعولة على جهة القضاء و لا على طريق التبعية للأخرى في الوقت تَدَاخَلَتْ أَفْعَالُهُمَا وَ اكْتَفَي فيهِمَا بِفِعْلٍ وَاحِدٍ

“Apabila ada dua ibadah (atau lebih) yang sejenis dan dikerjakan di satu waktu, salah satunya bukan dikerjakan dalam rangka mengqadha’ juga bukan karena mengikuti ibadah lainnya yang satu waktu, maka dengan mengerjakan satu saja sudah bisa mewakili lainnya.”

[Kaidah ini dicantumkan Imam Ibnu Rojab rohimahulloh dalam Taqrib Al Qowa’id wa Tahrir Al Qowa’id dalam kaidah ke-18 (I/142). Lafazh yang semakna juga bias dilihat dalam Al Qowa’id wa Al Ushul Al Jami’ah karya ‘Abdurrohman bin Nashir As Sa’di rohimahulloh pada kaidah ke-41(hal. 168), Al Fawaid Al Janiyyah karya Al Fadani rohimahulloh pada kaidah ke-9 (II/161), Al Qowa’id Al Fiqhiyyah (Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islami) karya Ahmad Sabiq hafizhohulloh pada kaidah ke-4 (hal. 207). Lihat juga Al Mantsur fi Al Qowa’id (I/137), Al Asybah wa An Nazhoir (hal. 140) karya As Suyuthi rohimahulloh, Mausu’ah Al Qowa’id Al Fiqhiyyah (I/218), dan lain-lain]

Dalam lafazh Al Qowa’id wa Al Ushul Al Jami’ah dinyatakan:

Jika ada dua ibadah yang (1) jenisnya sama, (2) cara pengerjaannya sama, maka sudah mencukupi bila hanya mengerjakan salah satunya.”

v Makna Kaidah

Kasus ini ada dua macam, yaitu:

Pertama, cukup mengerjakan salah satu dari dua macam ibadah tadi. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab hanbali, disyaratkan meniatkan keduanya bersama-sama.

Contoh:

  • Orang yang memiliki hadats besar dan kecil sekaligus, maka cukup bersuci hadats besar saja untuk mensucikan kedua hadats tersebut.
  • Jama’ah haji yang mengambil manasik qiron yang berniat haji & ‘umroh sekaligus, cukup baginya mengerjakan satu thowaf dan satu sa’i.

Kedua, cukup dengan mengerjakan satu ‘ibadah, maka ibadah yang lain gugur (tanpa diniatkan).

Contoh:

  • Jika seorang masuk masjid saat iqomah sudah dikumandangkan, maka gugur baginya sholat sunnah tahiyyatul masjidn jika ia mengerjakan sholat wajib berjama’ah.
  • Jika orang yang berumroh masuk Makkah, maka ia langsung melaksanakn thowaf ‘umroh dan gugur baginya thowaf qudum.
  • Apabila seseorang menjumpai imam sedang ruku’, lalu ia bertakbir untuk takbiratul ihrom, maka gugur takbir ruku’, menurut suatu pendapat.

 

Kesimpulannya bahwa yang bias masuk dalam kaidah ini apabila memenuhi beberapa syarat berikut:

Pertama, ibadah-ibadah itu sejenis. Misalnya sama-sama puasa, sholat, thowah, dan lainnya.

Kedua, salah satunya tidak mengikuti yang lain. Contohnya sholat sunnah qobliyyah shubuh tidak bias digabung dengan sholat fardhu shubuh, karena sholat qobliyyah shubuh itu mengikuti sholat fardhu shubuh.

Ketiga, ibadah-ibadah itu ditunaikan di satu waktu.

Keempat, salah satunya bukan dikerjakan dalam rangka mengqadho’ ibadah wajib yang pernah ditinggalkan. Contohnya tidak diperbolehkan menggabungkan niat puasa syawwal dengan puasa qadho’ Romadhon.

Sepantasnya seorang muslim mengetahui serta memahami kaidah penting ini. Karena dengannya  seseorang akan meraih pahala banyak dengan satu perbuatan. Sementara bagi orang yang tidak memahaminya maka ia hanya akan memperoleh satu pahala saja.

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Ini termasuk nikmat dari Allah dan kemudahan dari-Nya, bahwa satu amalan setara dengan beberapa amalan.” [Al Qowa’id wa Al Ushul Al Jami’ah (hal. 168)]

v Dalil Kaidah Agung Ini

Secara umum, kaidah ini masuk ke dalam  keumuman hadits yang dibawakan ‘Umar bin Al Khoththob rodhiyallohu ‘anhu berikut:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَ إِنَّمّا لِكُلٍ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang itu memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.” [Hadits shohih. ‘Direkam’ oleh Imam Al Bukhori (no. 1) & Muslim (no. 1907)]

v Contoh Penerapan Kaidah Ini

Di antara contoh penerapan dari kaidah ini adalah sebagai berikut

  • Seseorang yang baru saja wudhu, kemudian ia masuk masjid ketika adzan sudah dikumandangkan dan belum iqomah. Pada keadaan seperti ini ada tiga (3) macam sholat sunnah yang sebiknya ia kerjakan di satu waktu, yaitu (1) sholat usai wudhu, (2) sholat tahiyyatul masjid), dan (3) sholat rowatib / antara adzan & iqomah. Maka orang ini cukup mengerjakan dua raka’at dengan tiga niat sholat sunnah di atas.
  • Seseorang yang dalam keadaan suci (wudhu’) kemudian wudhu tersebut batal dengan buang air kecil & besar, serta kentut, maka ia tidak perlu melakukan wudhu sebanyak tiga kali, namun cukup satu wudhu’ saja.
  • Hal yang sama jika seseorang yang menjumpai pada dirinya beberapa sebab yang mewajibkan ia mandi wajib, seperti mimpi basah, jima’ (hubungan pasutri), dan hari itu adalah hari Jum’at, maka cukup ia melakukan satu mandi wajib saja, tidak perlu tiga kali mandi wajib.
  • Hari ini adalah hari khamis, yaumul bidh (11, 12, dan 13), dan kebetulan bertepatan dengan hari puasa daudnya, maka dalam situasi seperti ini ia dapat melaksanakan satu puasa dengan 3 niat puasa sunnah di atas di satu hari. Lagi pula tidak mungkin juga seseorang puasa tiga kali dalam satu hari.
  • Dan lain-lain

 

v  Refrensi:

  • Ibnu-Rojab, ‘Abdurrohman bin Ahmad. Th. Taqrir Al Qowa’id wa Tahrir Al Fawaid. KSA: Dar Ibnu ‘Affan
  • As-Sa’di.2004. Al Qowa’id Al Ushul Al Jami’ah wa Al Furuq wa At Taqosim Al Badi’ah An Nafi’ah ma’a Ta’liq Al ‘Utsaimin. Mesir: Maktabah As Sunnah
  • Abu-Yusuf, Ahmad Sabiq bin ‘Abdul Lathif. 1433. Al Qowa’id Al Fiqhiyyah Kaedah-Kaedah Praktis Memahami Fiqih Islami. Gresik Jatim: Pustaka Al Furqon
  • Al-Fadani, Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa. 1417. Al Fawaid Al Janiyyah hasyiyah Al Mawahib As Saniyyah syarh Al Fawaid Al Bahiyyah fi Nazhm Al Qowa’id Al Fiqhiyyah. Beirut: Darul Basyair Al Islamiyyah
  • Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Sholih. 2008. Asy Syarh Al Mumti’ ‘ala Zad Al Mustaqni’. Mesir: Jannatul Afkar
  • Dan lainnya

Allahua’lam, semoga sholawat beriringan salam tetap terjurah kepada Muhammad, keluarga, shahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.

Kampus Al Hadi Sleman

11:41 pm Khamis, 16 Dzul Qo’dah 1433 H

 

NB: Ini adalah artikel yang saya tulis atas permintaan guru-guru SMA N 1 Turi, Sleman, Yogyakarta

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: