//
you're reading...
Hadits Nabawi & Ilmunya

Cinta Tanah Air Bagian dari Iman?

Di antara sekian ungkapan yang digembor-gemborkan di mimbar-mimbar dan di kesempatan-kesempatan lainnya oleh kaum nasionalis untuk menipu kaum muslimin adalah sebuah ungkapan yang dipalsukan sebagai hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam (baca: hadits maudu’):

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Cinta Negara termasuk bagian dari iman.”

Ungkapan ini dicantumkan Ustadz Ali Mushthafa Yaqub dalam Hadits-Hadis Bermasalah dan Ustadz Abu ‘Ubaidah dalam Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer. Lebih lanjut, pembaca bias menelaah lebih lanjut tentang drajat hadits ini di link Ustadz Abu ‘Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi hafizhohulloh (http://abiubaidah.com/hadits-palsu-cinta-tanah-air.html/)

Setelah diketahui bahwa hadits tersebut adalah palsu (maudhu’), apakah secara makna ungkapan itu benar? Banyak orang serta merta menendang makna yang terkandung dalam ungkapan ini. Sekali palsu, tetap palsu, kata mereka. Namun tahukah Anda bahwa ungkapan ini ada benarnya jika… Berikut adalah pelajaran yang saya terima dari Fadhilatul Ustadz Aris Munandar hafizhohulloh:

Meski hadits ini maudhu’, akan tetapi secara makna bias dibenarkan jika yang dimaksud tanah air di sini adalah negeri akhirat. Bahkan jika yang dimaksud adalah negeri akhirat, maka termasuk syarat iman. Karena konsekuensi cinta harus didahului iman kepada hari akhir yang merupakan rukun iman.

Ibarat seorang perantau yang jauh dari negerinya untuk mencari harta. Meskipun ia jauh dari kampung halaman, ia tetap cintu dan merindukan kampong halamannya. Buktinya di momen-momen tertentu semacam lebaran, mereka menyempatkan diri untuk pulang kampong. Atau setelah masa kerjanya di perantauan habis, ia akan tetap ingin pulang ke kampong halamannya.

Di perantauan ia mencari uang sebanyak-banyaknya untuk bias membangun rumah di negerinya. Setelah uang itu terkumpul, ia akan segera pulang kampong untuk mewujudkan cita-citanya itu.

Nah, demikianlah sejatinya manusia. Sesungguhnya kampung halaman manusia adalah surga, karena dahulu babak mereka bertinggal di surga yang ‘merantau’ ke bumi ini. Maka hendaknya seseorang mencari bekal sebanyak-banyaknya di ‘perantauannya’ ini untuk kemudian bisa mendapat tempat di surga kelak.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ السَّبِيْل

Jadilah seakan-akan orang asing atau perantau di dunia ini.”

bnu Umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” [Riwayat Imam Al Bukhori]. Allahua’lam. []

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: