//
you're reading...
Hadits Nabawi & Ilmunya

Bila Penceramah Tidak Menjelaskan Perawi Hadits?

Hadith Berikut adalah fatwa Al ‘Allamah Ibnu Hajar Al Haitami rohimaholloh dalam Al Fatawa Al Haditsiyyah (hal. 63), sebagaimana yang dinukil Muhammad Jamaluddin Al Qosimi rohimahulloh dalam Qowa’idut Tahdits (hal. 260-266 cet. Muassasah Ar Risalah), tentang penceramah yang tidak menjelaskan pentakhrij (perawi) hadits. Berikut teksnya:

“Beliau ditanya tentang seorang khotib (penceramah) yang menaiki mimbar setiap Jum’at. Ia meriwayatkan (membawakan) banyak hadits namun tidak menyebutkan pentakhrijnya, tidak pula perawi-perawinya. Apakah kewajiban atasnya?

Beliau, Ibnu Hajar menjawab:

“Apa yang ia bawakan berupa hadits-hadits dalam khutbah-khutbahnya tanpa menyebutkan perawi-perawinya, atau ada juga yang menyebutkannya, maka diperbolehkan dengan syarat, yaitu jika ia termasuk ahli ilmu di bidang hadits atau ia menukilnya dari sebuah kitab yang penulisnya ahli ilmu di bidang hadits. Adapun bersandar dalam meriwayatkan hadits-hadits dengan hanya melihatnya terdapat dalam sebuah buku yang penulisnya bukan ahli hadits, atau di khutbah-khutbah yang penulisnya tidak demikian, maka hal itu tidak dihalalkan untuknya! Dan siapa yang melakukannya, ia harus dita’zir dengan ta’zir yang keras.

“Inilah kenyataan mayoritas para khotib. Dengan hanya mereka melihat (melihatnya) dalam sebuah khutbah yang di dalamnya disebutkan hadits-hadits yang kemudian mereka menghafalnya lalu mereka pun berkhutbah dengannya tanpa mengetahui apakah hadits-hadits itu memiliki asal atau tidak.

          “Maka wajib atas hakim-hakim (pemerintah) setiap negeri untuk mencegah khotib-khotibya melakukan hal semacam itu. Juga wajib atas seluruh hakim suatu negeri melarang khotib ini jika melakukannya.”

Lantas beliau mengatakan, “Maka wajib atas khotib ini untuk menjelaskan sandaran yang ia pakai dalam periwayatannya. Jia sandarannya benar, tidak ada sanggahan atasnya, namun jika tidak benar, ia boleh diprotes. Bahkan pemerintah, semoga Allah menguatkan agama dengannya dan menghancurkan musuh-musuh dengan keadilan-Nya, diperkenankan untuk menjabut khotib tersebut dari berkhutbah, sebagai bentuk penjegahan untuknya agar ia tidak berani melaksanakan pekerjaan mulia (baca: khutbah) ini tanpa haq.” Selesai secara ringkas.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: