//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Ingin Makin BODOH, Teruslah Merokok!!!

akibat merokok, akibat dari merokok, rokok dan akibatnya, dampak negatif merokok, bahaya merokok dan akibatnya, merokok dan akibatnya, sebab dan akibat merokok, bahaya merokok jangka pendek,

Anggapan orang bahwa merokok adalah tindakan BODOH dan T-O-L-O-L semakin mendekati kebenaran. Para perokok dianggap BODOH karena mengabaikan ancaman yang tertulis dalam setiap kemasan rokok:

“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.”

Namun lebih dari itu, merokok ternyata benar-benar MENURUNKAN tingkat kecerdasan si perokok.
Setidaknya inilah yang dibuktakan Dr. Mark Weister dari Sheba Medical Center di Tel Hashomer, Israel. Dalam penelitiannya yang melibatkan 20.000 calon taruna militer Israel, didapatkan bahwa mereka merokok ternyata memiliki IQ lebih rendah daripada yang tidak merokok.

Sebanyak 28 % dari peserta penelitian merokok setidaknya sebatang sehari, 3 % adalah mantan perokok, dan 68 % tidak pernah merokok.

Setelah menjalani test, terlihat bahwa perokok signifikan memiliki sekor IQ lebih rendah daripada non-perokok. IQ rata-rata non-perokok sekira 101, sedangkan para perokok memiliki poin 94. Secara pasti, poin IQ ini terus menerus seiring meningkatnya konsumsi rokok, dari 98 pada keompok yang menghabiskan 5 batang rokok sehari, dan 90 pada kelompok yang menghabiskan lebih dari 1 bungkus per-hari. Peneliti juga membandingkan IQ pada 70 pasang saudara kandung, di mana terdapat satu saudara merokok dan yang lain tidak. Sekali lagi, IQ rata-rata untuk non-perokok pada kelompok saudara kandung lebih tinggi dibandingkan dengan perokok.

Jadi, kalau mau BODOH dan T-O-L-O-L, teruskanlah kebiasaan merokok!*

Benarlah kaidah syariat:

“Tidaklah Syari’ (pembuat syariat, yaitu Allah) memerintahkan kecuali yang murni bermashlahat atau dominan bermashlahat. Dan tidaklah Syari’ melarang kecuali yang murni bermudharat atau dominan bermudharat.”

Parahnya, ada sebagian kalangan yang dipandang sebagai ulama dan pemuka agama yang terang-terangan mengajarkan merokok yang ‘baik’. Awalnya dihukumi makruh, akhirnya dihukumi mubah tak mengapa dengan alasan tak ada nash tegas yang mengharamkannya! Wallohul musta’aan. Sungguh benar penelitian di atas, IQ perokok akan semakin rendah dan menurun dengan seringnya ia mengkonsumsi rokok si ‘tuhan’ 10 cm.

Ketika orang yang dipandang sebagai pemuka agama tersebut menghukumi rokok sebagai tindakan makruh, mungkin IQ-nya masih tinggi, namun karena hukum yang ditetapkannya itu ‘hanya’ sebatas makruh, ditafsirkannya: ‘Yuk, sama-sama merokok’, bukan ‘Yuk sama-sama tinggalkan si ‘tuhan’ 10. Cm.’ Jadilah IQ-nya semakin menurun dan berkurang sehingga mengira tidak ada nash Al Quran dan Sunnah yang mengharamkan rokok! Bodoh sekali.

Menurut informasi sementara yang saya terima, sebagian pesantren yang dikelan mengajarkan Islam kepada santri-santrinya, malah justru mendapatkan suplai berupa bantun materi dan tenaga dari perusahaan-perusahaan rokok, dan diterima. Bukan rahasia lagi bahwa penghasilan pabrik rokok sangatlah besar, tentu sumbangan yang diberikan juga besar. Mungkin ini yang membuat silau mata-mata hati si “ulama” sehingga enggan mengatakan yang sesungguhnya. Pesantren kami pun pernah mendapatkan tawaran bantuan dan sumabangan dari salah satu perusahaan rokok, namun dengan tegas kami abaikan dan tolak. Tidak pantas mengorbankan agama demi dunia bak fatamorgana yang bakal musnah dan fana. Lagi pula bantuan yang dihasilkan pabrik rokok adalah barang haram, jadi haram pula dimakan!

Jika harta yang dimakan haram, tentu hasil pendidikkan di pesantren yang menerima bantuan dari pabrik rokok tentu juga buruk.

Kembali kepembahasan. Yang sangat mencengkan ialah di tahun 2011 terbit buku “Kitab Kopo dan Rokok” yang merupakan terjemahaan dari “Tuhfatul Ikhwan fi Bayan Al Qohwah wad Dukhon” oleh Kiai Syaikh Ihsan bin Muhammad Dahlan Al Kadiri Al Jamfasi atau Kiai Ihsan Jampes -penulis Sirojuth Tholibin syarh Minhajil ‘Abidin lil Ghozali-. Inti buku itu membolehkan rokok karena tidak adanya nash penharaman secara tegas. Di akhir buku dijelskan hukum-hukum fikih seputar rokok.

Berkaitan dengan IQ, Anda bisa menyaksikan secara langsung masyarakat Indonesia. Apakah mayoritas masyarakat negeri ini cerdas atau tumpul IQ-nya? Jika cerdas, tentu kemiskinan tidak akan menjamur. Namun jika tumpul IQ-nya, kemiskinan terus merajalela. Jawabannya saya serahkan kepada Anda yang membanggakan Indonesia. Allahua’lam. []

_______________
* Dinukil dari Majalah Ar Risalah (hal. 37) no. 106/Vol.IX/10 Rabi’ul Akhir-Jumadal Ula 1431 H / April 2010 dengan sedikit perubahan tulisan.

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: