//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Inilah Logika Lemah Pengagum Sesaji

sesajen

Analogi yang Bukan Analogi

Di suatu malam menjelang subuh, saya menyalakan ‘totak ajaib’ bernama tv. Kebetulan saya mendapati suatu cheanel tv swasta yang tengah menayangkan dialog bersama ‘tokoh’ masyarakat. Nara sumber sedang menjelaskan kenapa seseorang membuat sesaji buat setan.

Nara sumber mengatakan bahwa saji dibuat untuk setan dan jin dengan menganalogikan seseorang yang  hendak menyebrang suatu jalan yang kebetulan di jalan itu terdapat anjing yang suka mengganggu. Suapaya anjing itu tidak mengganggu orang yang hendak lewat jalan itu, ia harus memberinya tulang atau semacamnya untuk memalingkan perhatian anjing dan disibukkan dengan tulangnya sehingga ia dapat dengan leluasa dan nyaman saat melewati jalan itu. Demikian juga, kata nara sumber tadi, ketika seseorang hendak berdoa kepada Allah. Ia harus memberikan sesaji kepada setan dan jin agar makhluk ghaib ini disibukkan dengan saji yang diberikan tadi dan tidak menggangu ritual doa yang akan dilakukan. Fa yaa subhanalloh.

Dalam tulisan ini, kami akan berusaha dengan segala kekurangan yang ada pada kami –tentu tetap dengan pertolongan dan taufiq dari Allah semata- menyingkap dan menelanjangi kebatilan logika dan tradisi saji atau sajen ini.

Kami katakana kepada orang semacam ini, dengarkanlah firman pencipta dan pemilik setan dan jin itu:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

”Dan bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” [QS Al Jinn: 6]

Tentang ayat ini, Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Bahwa manusia menyembah jin dan meminta perlindungan kepadanya ketika dalam keadaan takut dan genting. Maka manusia pun justru membuat jin bertambah رَهَقًا, yaitu aniaya dan sombong karena mereka melihat manusia menyembahnya dan meminta perlindungan kepadanya.

Dan dimungkinkan kata ganti (dhomir) زَادُوهُمْ, yaitu dhomir و, kembali kepada jin. Jika demikian, maka maknanya adalah: maka jin pun membuat manusia bertambah takut dan khawatir ketika mereka melihat manusia meminta perlindungan kepadanya, agar mereka dapat memaksa mereka berlindung kepadanya. Adalah kebiasaan manusia jika singgah (atau lewat) di suatu lembah yang menakutkan, mereka berkata, ‘Aku berlindung kepada penghulu lembah ini dari kebodohan kaumnya (penduduknya).’” [Taisirul Karimirrohman (hal. 852) cet. Dar Ibn Hazm Beirut]

Perhatikanlah! Sesaji yang dipersembahkan manusia untuk jin justru membuat jin menjadi tambah sombong dan berani sekaligus membuat manusia bertambah takut dan khawatir. Di Jawa masih dijumpai segolongan orang apabila mereka melewatu suatu tempat yang dikira angker, mereka akan permisi, “Mbah, amit.” “Permisi, kek.” Dan mbah dalam hal ini adalah jin.

Bahkan sesaji dan kurban yang dipersembahkan untuk setan dan jin dapat membatalkan Islam. Apa pun dan sekecil apa pun. Bukankah Allah memerintahkan manusia agar sholat, sembelihan,  hidup, dan mati hanya diperuntukkan Allah? Dia berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

 Katakanlah: ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” [QS Al An’am: 162-163]

Juga firman-Nya, “Dan sholatlah dan berkurbanlah untuk Robb-mu.” [QS Al Kautsar: 2]

Bahkan dalam hadits lalat disebutkan ada seseorang yang masuk surga karena lalat da ada pula orang yang masuk neraka dengan sebab lalat. Kisahnya sebagai berikut. Dari Thoriq bin Syihab, bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menceritakan, “Ada seseorang yang masuk surga karena lalat dan juga seseorang masuk neraka disebabkan lalat.” Seketika para shahabat yang mendengar terheran dan segera bertanya, “Wahai Rosululloh, bagaimana hal itu bisa terjadi?” “Ada dua orang yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala, “ jawab Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Mereka tidak mengizinkan seorang pun melewatinya sampai berkurban dengan sesuatu (untuk berhala itu). Mereka berkata kepada salah seorang dari keduanya, ‘Berkorbanlah!’ Ia menimpali, ‘Aku tidak punya sesuatu pun yang dapat kujadikan sebagai kurban.’ Mereka berkata lagi, ‘Berkurbanlah meski dengan seekor lalat.’ Ia pun mempersembahkan lalat dan kaum itu membukakan jalan untuknya. Namun ia masuk neraka.

Kaum itu berkata kepada seorang lainnya, ‘Berkurbanlah!’ Dia menjawab, ‘Aku tidak akan berkurban dengan sesuatu pun kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.’ Kaum itu pun memenggal lehernya dan dia masuk surga.” [Dikeluarkan Imam Ahmad dalam Az Zuhd dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’]

Orang yang berkurban untuk selain Allah berarti siap menerima laknat dari Allah Ta’ala. Ali menuturkan, “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepadaku dengan empat kalimat, ‘Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, Alla melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya, Allah melaknat orang yang memindah batas tanah.’” [Riwayat Muslim]

Adapun analogi yang disebutkan di atas, yaitu penyamaan antara tulang untuk anjing dan sajen buat setan, maka sangatlah nampak kebatilannya. Analogi yang bukan analogi. Ditinjau dari beberapa sisi.

Sisi pertama, anjing adalah makhluk yang nampak sementara setan makhluk ghaib yang hakekatnya tidak dapat diketahui kecuali melalui jalan wahyu.

Sisi kedua, benar anjing mungkin dapat disibukkan dan dipalingkan perhatiannya dengan tulang, namun siapa yang tahu setan dapat dipalingkan dengan sajen? Bahkan jin tidak memakan telur, nasi, sayur, uang bahkan. Tapi makanannya adalah tulang dan kotoran, berdasarkan khabar dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Allahua’lam. []

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: