//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Potret Madrasah Nabawiyyah, Menanamkan Aqidah Kepada Anak Sejak Dini

images

 

Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam merupakan sosok pendidik nomer wahid di sepanjang sejarah manusia. Yang menjadi titik berat pendidikan yang beliau lancarkan adalah pendidikan aqidah. Karena aqidah merupakan pondasi semua kebaikan dan kesuksesan.

 

Dengarkan dengan seksama kesaksiat Abul ‘Abbas Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, “Suatu ketika aku membonceng di belakang Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah, Dia akan menjagamu; jagalah Allah, kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan bila kamu hendak meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.

Ketahulah, seandainya umat ini bersatu untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, pasti mereka tidak bakal bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang sudah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk membahayakanmu dengan sesuatu, pasti mereka tidak bakal mampu memberimu bahaya kecuali dengan sesuatu yang sudah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena sudah diangkat dan lembaran-lembaran pun sudah mengering (tidak aka nada lagi perubahan).’

[Hadits ini ‘direkam’ At Tirmidzi, beliau berkomentar, “Hasan shahih.” Juga ‘direkam’ Imam Ahmad, Ath Thobroni dalam Al Ausath, Al Hakim, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, dan lainnya. Dinilai sebagai hadits shahih oleh Al Albani]

Menurut suatu riwayat dari selain At Tirmidzi dinyatakan, “Jagalah Allah, kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, Dia akan mengenalmu di saat kau dalam kesulitan.

Ketahuilah, bahwa apa saja yang terluput darimu, tidak akan menimpamu dan apa saja yang menimpamu, tidak akan terluput darimu.

Ketahuilah, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, jalan keluar bersama penderitaan, dan kesulitan diiringi kemudahan.”

Hadits yang mulia ini mengandung sejumlah pesan berkaitan dengan aqidah Islamiyyah yang jika dipegang dengan penuh keimanan dan keyakinan, orang tersebut akan tenang di setiap gerak-gerik dan sepak-terjangnya.

Di antara pesan-pesan itu ialah sebagai berikut:

1. Perintah untuk mentaati perintah Allah dan menjauhi serta meninggalkan seluruh larangan-Nya. Dengan demikian, seorang hamba akan Allah menjaga di setiap hembusan nafasnya. Dan tentu tidak ada penjagaan yang lebih sempurna dibanding penjagaan Robbul ‘alamin.

2. Dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, seorang hamba akan mendapati Allah di depannya menunjukkan setiap kebaikan, mendekatkan, dan membimbingmu menuju kepada-Nya.

3. Perintah untuk hanya meminta dan memohon pertolongan kepada Allah semata. Lihatlah keindahan pendidikan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Bukankah saat itu Ibnu ‘Abbas masih tergolong anak kecil, kurang dari 10 tahun, yang pada umumnya selalu mengadu dan mengeluh kepada orangtua dan orang-orang yang lebih berumur di sekelilingnya.

Kebanyakan orangtua menasihati anaknya yang masih kecil, “Nak, kalau ada apa-apa dan keperluan, bilang ibu ya.” Dampaknya, anak selalu ketergantungan dengan orangtuanya. Sedikit-sedikit ngeluh kepada orangtuanya yang malah membuat orangtua merasa capek dan letih menuruti permintaan anaknya. Padahal tidak semua hal bisa dilakukan orangtua. Namun manakala seseorang hanya meminta dan memohon pertolongan kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang Mahaperkasa, Mahapengasih, Mahamemberi, dan Mahamendengar doa.

Tidakkah kita ingat doa yang selalu kita panjatkan kepada-Nya di setiap rakaat dari sholat kita. “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” [QS An Naml: 62]

Berkaitan dengan hal ini, saya teringat kisah yang diceritakan Syaikh ‘Abdul Hamid bin Ahmad Al Khothib Al Makki rohimahulloh tentang pendidikan yang ia terima dari ayahnya, sebagaimana yang direkam Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar dalam kamus biografinya, Siyar wa Tarojim hal. 179. “Dulu waktu kecilku jika aku meminta sesuatu dari ayahku, “ kenang Syaikh ‘Abdul Hamid Al Khothib, “Beliau mengatakan, ‘Mintalah kepada Allah, Dia akan memberimu.’ ‘Allah di mana, yah?,” tanyaku. Beliau menjawab, “Dia berada di atas langit. Dia melihatmu, sedangkan kamu tidak dapat melihat-Nya.’ Kemudian beliau mendatangiku sembari berkata, ‘Ni, Allah telah mengirim kepadamu apa yang tadi kamu minta.’

“Dulu aku selalu jika meminta sesuatu kepada Allah sembunyi-sembunyi namun tidak kudapatkan, aku kembali kepada ayahku dan aku keluhkan, ‘Aku sudah minta ini dan itu kepada Allah, tapi Allah tidak memberiku.’ Ayahku pun menjawab, ‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali jika datang dari dirimu yang membuat Allah murka. Misalnya kamu berleha-leha dalam ibadahmu, terlambat sholat, atau kamu mengghibah seseorang. Maka bertaubatlah kepada Allah dan minta ampunlah kepada-Nya, niscaya Dia mengampunimu dan Dia akan memberimu apa yang kamu minta.’ Aku pun melakukan wasiat ayahku, maka terwujudlah apa yang aku minta.”

4. “Ketahulah, seandainya umat ini bersatu untuk memberimu manfaat…” Wasiat ini mengharuskan bagi orang yang meyakini dan mengimaninya untuk hanya berharap dan takut kecuali kepada Allah. Ia tidak akan mengharap manfaat dari sesamanya dan tidak takut kepada sesamanya meski semua orang di seluruh jagad raya ini berencana dan bersatu mencelakainya. Tidak! Dia tidak akan takut dan gentar. Dia yakin bahwa manfaat dan mudharat hanya datang dari Allah Jalla wa ‘Ala.

5. “Pena-pena sudah diangkat…” sampai akhir hadits riwayat At Tirmidzi. Maksudnya apa yang Allah tulis berupa ketetapan telah usai, sudah tidak ada lagi perubahan keputusan-keputusan Allah Ta’ala.

6. “Kenalilah Allah di waktu lapang, Dia akan mengenalmu di saat kau dalam kesulitan.” Artinya, tunaikanlah titah-titah Allah di waktu lapang, maka Allah akan mengenalmu di saat sulitmu. Allah akan menolong dan membantumu.

7. “Ketahuilah, bahwa apa saja yang terluput darimu..” Yaitu, apa yang bukan menjadi ketetapan dan taqdir Allah tidak akan terjadi kepadamu dan apa yang sudah menjadi ketetapan Allah atasmu pasti terjadi. Taqdir Allah tidak akan pernah meleset.

8. “Ketahuilah, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran.” Saat datangnya bencana dan musibah, jangan terburu-buru memperoleh pertolongan. Sabarlah dulu, karena Allah bersama orang-orang yang bersabar.

Imam Al Bukhori, Muslim, dan Abu Dawud rohimahumulloh mencatat sebuah hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Jangan sekali-kali kalian mengharap berjumpa musuh. Mohonlah keselamatan dari Allah. Namun jika kalian bertemu musuh, bersabarlah dan jangan melarikan diri. Karena Allah bersama orang-orang yang bersabar.”

9. “Jalan keluar bersama penderitaan.” Ini mirip dengan pepatah orang Indonesia, “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Jangan kamu harap jalan keluar dan solusi itu dapat diraih dengan berlengahlengah, namun harus diawali dengan usaha, usaha, dan usaha yang boleh jadi membuat sedikit menderita atau bahkan menderita dan sengsara. Maka pada saat itulah jalan keluar akan segera menghampiri kamu.

10. “Kesulitan diiringi kemudahan.”  Di suatu kesempatan lain, diriwayatkan dari baginda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Satu kesedihan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan.” [HR Al Hakim. Dinyatakan mursal oleh Adz Dzahabi dan dinilai lemah oleh Al Albani.]

Di dalam kitab-Nya, Allah Ta’ala berfirman:

 فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 

 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [QS Al Insyiroh: 5-6]

 

Setelah membaca hadits dan sekelumit keterangannya ini, berusahalah Anda terapkan pada diri Anda dan kemudian Anda pegang lembut buah hati Anda yang masih kanak-kanak itu dan nasehatilah dengan nasihat nabawi ini. Lihatlah pengaruh dan hasilnya. Jika Anda yakin dan berusaha menyampaikan pesan-pesan ini dengan baik, Anda akan beruntung dengan izin Allah semata. Namun jika tidak, jangan salahkan kecuali diri Anda*. Allahua’alm.

 

Kota Pelajar Yogyakarta,

Sabtu menjelang ‘ashar, o1 Shafar 1433 / 15 Desember 2012

Firman Hidayat bin Marwadi

 

 

 

[*] Penjelasan ini saya rangkup dari penjelasan Imam An Nawawi dan Ibnu ‘Utsaimin

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: