//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Menyoal Kalender Masehi & Sekelumit Tentang Perayaan Tahun Barunya

new-year

          Sebelumnya saya hendak menjelaskan masalah ini dengan kata-kata saya, namun ternyata saya melihat Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdussalam Al Harroni rohimahulloh telah menjelaskan mas-alah ini dalam kitabnya yang sangat bermanfaat, Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (hal. 310-311), yang barang tentu ulasan beliau lebih berbobot ketimbang ulasan yang hendak saya paparkan. Oleh karena itu, berikut saya kutipkan dari kitab tersebut secara ringkas dan kemudian saya kutipkan dari kitab lainnya yang mendukung bahasan.

Adapun rothonah (berbicara dengan bahasa ‘ajam/ selain bahasa ‘Arab) dan menamkan nama bulan-bulan dengan bahasa ‘Ajam, maka berkata Abu Muhammad Al Kirmani –yang disebut Harb-, “Bab: Penamaan Bulan-Bulan dengan Bahasa Persia.” “Aku berkata kepada Ahmad (bin Hanbal), ‘Sesungguhnya Persia memiliki hari-hari & bulan-bulan. Mereka menamainya dengan nama-nama yang tidak dikenal?’ Beliau pun membenci yang demikian itu dengan kebenci yang sangat.”  Di dalamnya, ia meriwayatkan sebuah hadits dari Mujahid, bahwa beliau membenci menyebut adzar mah(1) dan dzi mah. Aku berkata, “Jika nama seseorang, apakah aku namai dengannya?” Beliau pun membencinya.

Ia berkata, Aku bertanya kepada Ishaq. Aku berkata, “Sejarah kitab ditulis dengan bulan-bulan Persia, seperti adzar mah & dzi mah?” Beliau menjawab, “Jika seandainya dalam nama-nama yang demikian itu tidak didapati nama yang makruh, maka aku berharap (tidak mengapa).”

Ia berkata, “Ibnul Mubarok membenci izdan yang dipakai sumpah.”

Aku bertanya kepada Ishaq sekali lagi, “Seseorang mempelajari bulan-bulan Romawi & Persia?” Beliau menjawab, “Setiap nama yang dikenal dalam perkataan-perkataan mereka, maka tidaklah mengapa.”

Syaikhul Islam berkata, “Adapun yang dikatakan Ahmad bahwa ini adalah nama-nama yang dibenci (makruh yang merupakan saudaranya haram), maka ada dua sisi:

Pertama, apa bila nama itu tidak diketahui maknanya. Diperbolehkan dengan makna yang haram. Maka seorang muslim tidaklah mengucapkan dengan yang tidak diketahui maknanya. Oleh karena itu, dimakruhkan meruqyah dengan bahasa ‘ajam (selain ‘Arab), seperti Ibrani, Suryani, dan selainnya, karena ditakutkan terjerumus ke dalam makna yang tidak diperbolehkan.

Makna inilah yang dianggap Ishaq. Akan tetapi jika diketahui bahwa makna (nama-nama itu) makruh, maka tidak ragu dimakruhkannya, Apabila tidak diketahui artinya, Ahmad membencinya. Dan pendapat Ishaq dimungkinkan beliau tidak memakruhkannya.

Kedua, kebenciannya itu karena seseorang membiasakan berucap dengan bahasa ‘ajam. Karena bahasa ‘Arab merupakan syiar Islam dan pemeluknya, sedangkan bahasa-bahasa itu termasuk syiar-syiar terbesar umat-umat yang dengannya mereka dapat dibedakan. Karena itu, banyak dari kalangan ahli fikih atau mayoritas mereka memakruhkan doa-doa & dzikir di dalam sholat, Allah didoai dan dizdikiri dengan selain bahasa ‘Arab.” Selesai kutipan dari Al Iqtidho’.

Berikut adalah nama-nama bulan Masehi beserta artinya yang menunjukkan bahwa menamai bulan-bulan dengan nama yang sudah dikenal saat ini (baca: Masehi) sangat jelek dan buruk. Sesuai dengan apa yang ‘dikhawatirkan’ Syaikhul Islam di atas.

Nama Dewa Dalam Kalender Masehi(2)

Dalam system penanggalan kalender Nasehi atau Gregorian, satu tahun terdiri dari 12 bulan. Kentalnya hubungan antara kalender Masehi dengan kepercayaan pagansme Romawibisa dilihat dari nama-nama bulan yang dipergunakan. Berikut dafatar keduabelas bulan nama bulan tersebut:

  • Ø JANUARI. Merupakan bulan pertama dalam tahun masehi berasal dari nama Dewa Janus, Dewa bermuka dua, yang satu menghadap ke depan dan yang satunya lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus juga disebut Dewa Pintu.
  • Ø FEBRUARI. Merupakan bulan kedua dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewa Februus, Dewa Penyucian.
  • Ø MARET. Merupakan ketiga dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewa Mars, Dewa Perang. Pada asalnya, Maret merupakan bulan pertama dalam kalender Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Ceaser menambahkan bulan Januari dan Februari di depannya sehingga menjadi bulan ketiga.
  • Ø APRIL. Merupakan bulan keempat dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Aprilis, atau dalam bahasa Latin disebut juga Aperire yang berarti “membuka”. Diduga kuat sebutan ini berkaitan dengan musim bunga di mana kelopak-kelopaknya mulai membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta orang Romawi.
  • Ø MEI. Merupakan bulan kelima dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Kesuburan bangsa Romawi, Dewi Maia.
  • Ø JUNI. Merupakan bulan keenam dari tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Juno.
  • Ø JULI. Merupakan bulan ketujuh dari tahun Masehi. Di bulan ini Julius Caesar lahir, sebab itu ia dinamakan bulan Juli. Sebelumnya bulan Juli disebut sebagai Quintilis, yang berarti bulan kelima dalam bahasa Latin, karena kalender Romawi pada awalnya menempatkan Maret sebagai bulan pertama.
  • Ø AGUSTUS. Merupakan bulan kedelapan dari tahun Masehi. Seperti juga nama bulan Juli yang berasal dari nama  Julius Augustus. Pada awalnya, ketika Maret  masih menjadi bulan pertama, Agustus menjadi bulan keenam dengan sebutan Sextilis.
  • Ø SEPTEMBER. Merupakan bulan kesembilan dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Septem, yang berarti tujuh. September merupakan bulan ketujuh dalam kalender Romawi sampa dengan tahun 153 SM.
  • Ø OKTOBER. Merupakan bulan kesepuluh dalam tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Octo, yang berarti delapan. Oktober merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi sampai tahun 153 SM.
  • Ø NOVEMBER. Merupakan bulan kesepuluh dalam tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang berarti Sembilan. November merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
  • Ø DESEMBER. Merupakan bulan keduabelas atau terakhir dalam tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Decem, yang berarti sepuluh. Desember merupakan bulan kesepuluh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.

Setelah kita mengetahui bahwa nama-nama kalender Masehi memiliki arti berhala-berhala, maka sepantasnya kita jauhi sejauh mungkin, tidak menggunakan kecuali terpaksa. Toh, sekiranya tidak boleh tidak harus menggunakannya, sebaiknya disertai penanggalan Islamnya, yaitu kalender qomariyyah, yang juga dipakai Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Dari paparan yang saya utarakan ini, nampakklah bagi pembaca yang budiman bahwa ikut serta dalam perayaan Natal dan tahun baru masehi merupakan perbuatan yang sangat tidak terhorbat bagi setiap orang yang mengaku muslim. Kenapa demikian? Karena jelas, dari nama-nama bulan yang digunakan saja sudah menyalahi syariat, apalagi berbangga dan ikut serta merayakan tahun barunya.

Karena, juga, ternyata perayaan tahun baru Masehi merupakan rangkaian perayaan daripada Natal yang dirayaakan kaum kuffar.

Rizki Ridyasmara dalam bukunya, Valentine Day, membuat judul bab ke-3 dengan, “Tahun Baru Masehi Bagian dari Perayaan Natal.” Di antaranya ia menulis, “Perayaan tahun baru Masehi tidak lepas dari perayaan Hari Natal, 25 Desember. Orang-orang Romawi setelah merayakan hari Brumalia yang berupa hari penyembahan Dewa Matahari, pada tanggal 1 Januari merayakan hari perpisahan dengan matahari tua dan penyambutan terhadap matahari muda.”

Bukankah baginda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebut(3).”  Begitu juga dengan hadits yang diriwayatkan shahabat ‘Abdulloh bin ‘Amru bin Al ‘Ash rodhiyallohu ‘anhuma, baginda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami(4).”

Mungkin jika Anda dipecat dari sebuah perusahaan, Anda tidak akan ambil pusing karena di luar sana masih banyak perusahaan yang membutuhkan pekerja. Namun coba sekarang Anda bayangkan jika baginda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ‘memecat’ dan mengeluarkan Anda dari umatnya, apa yang di benak Anda? Bangga? Senang? Merasa hebat? Tentu sebagai seorang muslim akan sedih dan akan mengemis kepada beliau agar dimasukkan ke dalam umatnya lagi. Dan demikianlah. Jika Anda ingin dianggap sebagai golongan Muhammad, taatilah titah dan perintahnya dan jauhilah larangannya yang di antaranya adalah tidak menyerupai kebiasaan dan tradisi kaum kuffar. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita dari segala keburukan.

Tidakkah kaum muslim merasa cukup dengan hari raya yang telah Allah tetapkan untuk mereka? Yaitu, hari raya Idul Fitri dan Idul Adhha. Anas bin Malik ceritakan, “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah dan mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari yang di dalamnya merea bermain-main. Lantas beliau bertanya, ‘Dua hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Dulu ketika jahiliyyah kami bermain-main di dalamnya.’ Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya Allah telah menganti keduanya untuk kalian yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari Adhha dan hari Fithri(5).’

Seorang muslim hendaknya merasa cukup dengan apa yang Allah berikan untuknya. Buktikan bahwa Anda seorang muslim sejati yang hanya melakukan apa yang Allah syariatkan. Ikut serta dalam perayaan-perayaan semacam ini hanya akan membuat kaum kuffar merasa gembira dan kuat karena mereka berhasil mengelabuhi dan menakhlukkan kaum muslimin dari segi keyakinan dan budaya.

Rosululloh mengajarkan kepada umatnya agar selalu bangga dengan keislamannya karena hanya dengan Islam seseorang akan selamat. Kepada raja Heraclius, beliau berkata, “Masuklah Islam, Anda pasti selamat. Masuklah Islam, Allah akan memberimu pahala dua kali lipat(6).” [HR Al Bukhori]

Sekarang katakan kepada dunia, “SAKSIKANLAH AKU SEORANG MUSLIM!”

Jumat, 14 Shafar 1434 di

Kompleks Pesantren Hamalatul Quran

Kota Pelajar Yogyakarta

Firman Hidayat bin Marwadi

Footenote________

[1]  Adzar mah & dzi mah adalah nama bulan-bulan Persia. Sedangkan arti “mah” adalah bulan. Lihat As Sami fil Asami karya An Naisaburi (hal. 360)

[2] Valintene Day, Natal, Heppy New Year, April Mop, Halloween; So What? hal. 68-69 karya Rizki Ridyasmara

[3] HR Abu Dawud.

[4] HR At Tirmidzi.

[5] HR Abu Dawud dan dinilai shohih oleh Al Albani.

[6] HR Al Bukhori.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: