//
you're reading...
Tazkiyatun Nufus

Catatan di Kampung Saya: Sabar Tanpa Batas dalam Berdakwah

Dakwah
Tantangan dakwah memang mesti ada. Tidak ada seorang pun kecuali ada yang menyukainya dan pula yang membencinya. Baik maupun buruk.

Seorang da’i sejati adalah orang yang kebribadian kuat, lapang dada, tegar, sabar, bercita-cita tinggi, tidak cepat putus asa, tahan banting, dan berkasih sayang yang tinggi.

Apalagi seorang salafi yang berdakwah di tengah ahlul bida’ wal ahwa’ atau masyarakat awam yang dibodoho kiainya. Ia harus siap menanggung segala kemungkinan yang akan terjadi.

Cacian, makian, cemoohan, hinaan, cibiran, bahkan tendangan sekalipun. Itu adalah hal-hal yang bisa saja terjadi. A’adzanallah minha.

Jika Rosululloh yang jelas-jelas makhluk termulia secara muthlak saja memperoleh hinaan, caciaan, ‘hadiah’ kotoran unta, lemparan batu, gelar-gelar miring semacam dukun, penyihir, peramal, orang gila, dan seterusnya. Bagaimana dengan manusia macam kita yang tingkatannya jauh di bawa beliau? Tentu sesuatu yang sangat wajar dan lumrah.

Hal penting yang harus dimiliki setiap da’i adalah sikap berbaik sangka kepada mad’u, yang didakwahi. Anggaplah mereka orang jahil yang perlu dibenahi dan diajari. Jika mereka menolak, anggaplah penolakan mereka sebagai kejahilan mereka yang perlu dicerdaskan.

Lihatlah bagaimana dahulu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tatkala didustakan bahkan dilempari batu dan diteriaki orang gila oleh penduduk Thoif kemudian Malaikat akhsyabain menawarkan bantuannya jika beliau berkehendak gunung akhsyabain akan ditimpakan kepada mereka, namun justru beliau menjawab bahwa sesungguhnya meraka orang-orang tidak tahu dan bahkan beliau berharap kelak ada di antara keturunan mereka yang menjadi pejuang-pejuang Islam. Dan betullah.

Sekiranya mereka mencemooh, memaki, menghina, ‘menusuk’, dan sikap-sikap negatif lainnya, balaslah dengan senyuman, sapaan, kebaikan, dan penghormati. Tambahlah kebaikan untuknya. Mudah-mudahan hatinya tersentuh oleh kebaikan kita.

Betapa banyak manusia yang pada awalnya sangat membenci seorang da’i namun pada akhirnya justru menjadi pendukung dan pembela terdepan da’i tersebut.

Di kampung saya ada seseorang yang pada awalnya merendahkan kemampuan saya dan memandang kerdil saya lantaran umur saya yang masih tergolong sangat muda. Pada awalnya merendahkan saya, namun pada akhirnya termasuk yang menghargai saya.

Di zaman yang penuh dengan fitnah juga syubhat dan begitu pula syahwat, tantangan, menjamurnya kebodohan dan ketersesatan, hendaknya masing-masing da’i salafi membekali diri dengan ilmu yang mencukupi dan kesabaran yang luar biasa.

Tidakkah kita ingat masalah keempat di awal-awal Tsalatsatul Ushul yang disampaikan Imamud Da’wah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, hendaknya seseorang bersabar terhadap gangguan ketika mendakwahkan ilmunya yang sudah diamalkan itu.

Gangguan ketika dakwah itu mesti adanya. Para rosul sendiri menerimanya. Bahkan di antara mereka sampai dibunuh kaumnya sendiri. Tidakkah kita ingat Nabi Zakariya yang dibunuh kaumnya lantaran dakwahnya? Hal ini Allah abadikan di dalam Al Quran agar da’i-da’i Islam bersabar sebagaimana para nabi dan rasul bersabar. “Yang demikian itu karena mereka ingkar terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh nabi-nabi dengan tanpa alasan yang benar.” (QS Alu ‘Imran: 112)

Oleh karena itu, sebaik-baik manusia adalah para nabi kemudian para ulama yang mendapatkan cobaan di bawah mereka dan seterusnya.

Dimusuhi manaka meneriakkan kebenaran merupakan sebuah kepastian. “Dan demikianlah untuk tiap-tiap nabi Kami jadikan musuh, yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.” (QS Al An’am: 112)

“Begitulah, bagi tiap-tiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang pendosa. Tetapi cukuplah Robb-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS Al Furqon: 31)

Dan ingatlah, bahwa di akhir zaman Islam akan nampak asing sebagaimana dahulu awal mula munculnya juga terlihat asing.

“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana ia mulai. Maka keberuntungan bagi orang-orang asing (yang mengamalkan Islam tatkala mayoritas manusia meninggalkannya).” (HR Muslim)

Di dalam riwayat lain yang ‘direkam’ Abu ‘Amru Ad Dani dengan sanad shahih: “Maka keberuntungan bagi orang-orang asing, yaitu orang-orang yang benar manakala manusia pada rusak.”

Juga peganglah erat-erat pesan sang kekasih, “Dan sesungguhnya pertolongan itu beserta kesabaran.” Hanya memerlukan sedikit kesabaran, maka pertolongan akan segera menghampiri kita. Cepat atau lambat.

Berkat kesabaran Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat, Isalam dapat diterima penduduk bumi. Ingat, seorang da’i harus memiliki kesabaran dan stok tahan banting tanpa batas.

So, semangat meneriakkan panji Islam dan bersabarlah.

Waffaqonallah wa iyyakum.

Belitang, OKU Timur, Sum-Sel
19/Shafar/1434
Firman Hidayat Al Marwadi

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/122067074627671]

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: