//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Menyingkap Aliran Kebatinan ala Ki Hadjar Dewantara

tamsis

Prof. Ahmad Mansur Suryanegara menulis di bawah kolom “Ki Hadjar Dwantara”:

“Pendiri, Bapak dan Pimpinan Umum Taman Siswa di Yogyakarta. Semula namanya Soewardi Soerjaningrat pernah menjadi pimpinan Sjarikat Islam Bandung, bersama Abdoel Moeis dan Wignjadisastra. Aktif pula dalam Indische Partij, 1913 M, pimpinan E.F.E. Douwes Dekker Danudirdjo Setiabudi, keturunan Douwes Dekker Multatuli, bersama Dr. Tjipto Mangoenkoesumo.

Setelah Soewardi Soerjaningrat ditangkap dan diasingkan ke Belanda, sepulangnya bergabung dalam KEBATINAN SELOSO KLIWON (dalam naskah aslinya Kebatinan Seloso Kliwon). Kemudian, diubah menjadi Taman Siswo dan namanya berubah pula menjadi Ki Hadjar Dewantara.

Menurut M.C. Riklefs dalam “Sejarah Modern Indonesia”, menyatakan Taman Siswa, 1922 M yang dipimpin oleh Ki Hadjar Dewantara MENOLAK Islam pembaharuan Persjarikatan Moehammadijah, 1912 M, sepuluh tahun lebih dahulu didirakan di Yogyakarta.” [Api Sejarah (I/443) cet. ke-3 Ramadhan 1431]

“Sebenarnya,” masih kata Prof. Ahmad Mansur Suryanegara di halaman berbeda dalam Api Sejarah, “Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Modern Indonesia Modern kehadiran Taman Siswa yang dipimpin Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta pada 31 Desember 1922 merupakan benruk PENOLAKAN terhadap Islam pembaharuan atau Persjarikatan Moehammadijah. Sekolah Taman Siswa menggunakan kebudayaan Jawa sebagai landasan orientasi pendidikannya.”

Maka sangat disayangkan sekali manaka masyarakat Indonesia dewasa ini membanggakan ajaran dan ‘jasa’ Ki Hadjar Dewantara yang justru menolak Islam sebagai dasar ajarannya. Sudah begitu dirayakan pula tanggal berdirinya. Minimal di sini ada tiga kesalahan fatal. Pertama, merayakan perayaan yang bukan dari Islam. Kedua, tasyabbuh dengan adat orang-orang kafir yang suka merayakan ulang tahun. Ketiga, tidak mengetahui hakikat ajaran Taman Siswa.

Kalau boleh jujur, sebenarnya jasa dan sumbangan Ustadz Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya jauh lebih besar daripada jasa Ki Hajar Dewantara. Lihat saja kenyataannya. Madrasah-madrasah mana yang lebih banyak tersebar di seluruh negeri ini, Madrasah Muhammadiyah atau Taman Siswa yang kejawen itu? Sekiranya boleh dirayakan, tentu kelahiran Muhammadiyah lebih berhak dan lebih layak untuk itu. Allahua’lam. []

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/121303008037411]

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: