//
you're reading...
Akhlaq dan Adab

Pengaruh Keshalihan Orangtua Terhadap Keturunannya

buah
Barang kali jika saya katakan bahwa orangtua yang sholih itu akan memiliki pengaruh besar terhadap anaknya dalam pendidikan, Anda akan segera mengamini ucapan saya tadi. Namun jika saya katakan bahwa kesholihan orangtua akan juga berpengaruh kepada keturunannya sampai pun setelah kewafatannya, mungkin ada banyak pertanyaan, benarkah? Apa hubungannya orangtua yang sholih akan berpengaruh terhadap keturunannya sampai pun setelah wafatnya? Thayyib, berikut saya sebutkan buktinya.

Tentu Anda ingat kisah ‘petualangan’ Nabi Khidir dan Nabi Musa ‘alaihissalam. Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat Al Kahfi. Manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekedar menjamu mereka berdua karena kebakhilan sebagaimana riwayat Muslim. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir roboh. Dengan ringan tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Maka Nabi Khidir pun beralasan, bahwa rumah itu milik dua anakn yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orangtua mereka dan orangtuanya itu sholih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan memanfaatkan dari harta itu.

Silahkan lihat kisahnya di surat Al Kahfi ayat 77 dan 80.

“Maka keduanya (Khidir dan Musa) berjalan; hingga ketika keduanya sampai kedua penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya menjumpai dinding rumah yang nyaris roboh (di negeri itu), lalu ia (Khidir) menegakkannya. Dia (Musa) berkata, ‘Jika engkau berkehendak, tentu engkau dapat meminta imbalan untuk itu.'”

Perlu diketahui bahwa di masa silam tidak ada penjual makanan jadi atau bisnis kuliner. Maka ketika seorang musafir kehabisan bekalnya, mau tidak mau ia harus meminta bekal kepada rumah yang dilewatinya dengan jalan bertamu. Karena tidak, ia akan binasa meski punya uang.

Syaikh Nawawi Al Bantani berkata: “Seorang lapar yang meminta jamuan merupakan perkara mubah di seluruh syariat bahkan bisa menjadi wajib jika khawatir terjadi bahaya besar.” (Muroh Labid I/556)

Selanjutnya, Nabi Khidhir beralasan kenapa ia mengulurkan jasa tanpa imbalan: “Dan adapun dinding rumah itu milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta milik keduanya, dan ayahnya seorang sholih. Maka Robb-mu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai bentuk rahmat dari Robb-mu.”

Para ulama ahli tafsir menyebutkan bahwa di antara pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah Allah akan menjaga keturunan orang yang sholih meskipun setelah wafatnya kelak.

Ibnu Katsir berkata: “{Dan adalah bapaknya seorang yang sholih} di dalamnya terdapat dalil bahwa seorang yang sholih akan dijaga keturunannya. Dan barakah ibadahnya mencakup untuk mereka di dunia dan di akhirat dengan syafaat untuk mereka, Allah angkat derajat mereka sampai drajat tertinggi di surga karena matanya sejuk dengan mereka (keturunan), sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran dan Sunnah.

Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas: Keduanya dijaga karena kesholihan bapaknya dan keduanya tidak disebutkan kesholihan. Dan telah lewat bahwa itu adalah ayah ketujuh (kakek).” (Tafsir Ibnu Katsir V/179)

Muhammad Nawawi berkata: “{Dan adalah bapaknya seorang yang sholih} dan ini menunjukkan bahwa kesholihan orangtua memfaidahkan perhatian (Allah) terhadap anak-anak. Dan telah diriwayatkan bahwa Allah akan menjaga seorang sholih dalam tujuh keturunannya.” (Muroh Labid I/557)

Petikan faidah senada juga di sampaikan Ibnu Jarir Ath Thobari, Al Qurthubi, Jalaluddin Al Mahalli, Muhammad Nawawi Al Bantani, ‘Abdurrohman bin Nashir As Sa’di, dan lainnya di dalam tafsir-tafsir mereka.

Maka jika ada orangtua yang meminginkan keturunannya sholih dan bermanfaat bagi manusia, hendaknya ia memperbaiki diri terlebih dahulu. Karena berapa banyak orangtua yang jauh dari agama dan tidak berusaha untuk memperbaiki diri namun menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang-orang sholih yang rajin beribadah, gemar membantu orangtua, tidak menyusahkan makhluk, dan seterusnya.

Maka benarlah pribahasa kita: “Buah itu tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.”

Allahua’lam. []

21/Shafar/1434
Belitang/OKU Timur/Sum-Sel
Firman Hidayat bin Marwadi

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/122870574547321]

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: