//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Seruan Ulama Nusantara Kepada Tauhid

Tauhid
Berbeda dengan mayoritas ulama bermanhaj Asy’ari pada umumnya yang hanya mementingkan tauhid rububiyyah dalam dakwahnya yang memang sudah diyakini seluruh manusia yang masih memiliki fitrah dan bahkan pula diyakini jauh-jauh hari oleh kaum musyrikin di zaman Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al Bantani Asy Syafi’i justru gencar menyerukan tauhid uluhiyyah alias tauhid ibadah yang banyak diingkari dan dilanggar banyak orang -baik dahulu terlebih dewasa ini-.

Di dalam kitab tafsirnya yang banyak dibaca dan diajarkan di pesantren-pesantren tradisional dan bahkan di masyarakat umum lainnya, Syaikh Al Bantani ketika mentafsirkan ayat ke-110 dari surat Alu ‘Imron, beliau berkata:

“{Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia} artinya dinampakkan untuk manusia sehingga dapat diistimewakan, dikenal, dan dibedakan antaranya dan antara selainnya {kalian menyerukan kemakrufan} yaitu dengan tauhid dan ittiba’ kepada Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam {dan kalian melarang kemungkaran} yaitu dari kemusyrikan dan menyelisihi Rosululloh {dan kalian beriman kepada Allah} dengan keimanan yang berkaitan dengan setiap yang wajib diimani berupa rosul, kitab, hisab, dan pembalasan.

Berkata Qotadah: mereka adalah umat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam yang nabi sebelumnya tidak dititahkan untuk berperang…” (Tafsir Muroh Labid I/125)

Dan benarlah apa yang beliau katakan itu. Karena sebaik-baik amar makruf dan nahi munkar adalah menyerukan tauhid dan melarang kesyirikan. Kenapa bisa demikian? Jawabnya karena risalah dan misi utama para nabi dan rosul dari awal hingga akhir adalah dakwah tauhid.

Dalil-dalil yang menegaskan bahwa misi utama dakwah para nabi dan rosul adalah tauhid sangatlah banyak bertebaran di dalam Al Quran dan Sunnah, baik secara umum maupun secara khusus.

Di antara sekian banyak dalil itu adalah firman Allah: “Allah menurunkan para malaikat dengan membawa ruh (wahyu) dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, ‘Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Aku, maka bertaqwalah kepada-Ku.” (QS An Nahl: 2)

Alangkah indahnya pentafsiran Syaikh Al Bantani tentang ayat ini. Beliau berkata: “{Peringatkanlah} baritahukan kepada manusia {bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah} dengan mendatangkan ibadah kepada-Ku.

“Pengikraran kalam ini bahwasanya Dia menurunkan para malaikat kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Allah menyuruh hamba tersebut yang malaikat turun kepadanya, agar ia menyampaikan kepada seluruh makhluk bahwa tuhan alam ini esa. Allah membebani mereka agar mengetahui tauhid dan beribadah kepada-Nya. Dan Allah menjelaskan bahwa sekiranya mereka melaksanakan hal itu, mereka bakalan succes dengan sekaligus dua kebaikan, dunia & akhirat. Namun seandainya mereka malah ingkar, mereka pasti akan terjerumus kedalam keburukan dunia dan akhirat. Dengan jalan ini, jadilah hamba tersebut diistimewakan dengan pengetahuan-pengetahuan ini dari seluruh makhluk.

Maka, firman Allah Ta’ala {Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku} merupakan isyarat kepada hukum-hukum prinsip (ushul) dan firman-Nya {Bertaqwalah kepada-Ku} adalah isyarat kepada hukum-hukum cabang (furu’).” (Tafsri Maroh Labid I/494)

“Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rosul kepada setiap umat agar mereka menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thoghut.”

“Dan tidaklah Kaim mengutus seorang rosul sebelum kamu (Muhammad) kecuali Kami wahyukan kepada mereka bahwasannya Dia tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS Al Anbiya’)

Perlu dicatat di sini bahwa Syaikh Al Bantani tidak mengartikan syahadat Laa ilaaha illallah dengan tidak ada tuhan selain Allah yang memang salah kaprah dan fatal, namun beliau mengartikan dengan arti yang diinginkan Allah dan rosul-Nya serta yang difahami ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari dulu hingga detik ini. Beliau berkata, “{Allah tidak ada tuhan} yaitu tidak ada sesembahan yang haq di alam {kecuali Dia yang Mahahidup}.” (Maroh Labid I/82)

Demikian juga dalam Kasyifatus Saja syarah Safinatin Naja, beliau menerangkan lebih jelas lagi.

Sekarang mari berfikir sejenak bersama saya. Penafsiran beliau di atas bisa saudara bandingkan dengan penafsiran mayoritas ‘ahli’ agama di negeri ini bahkan di seluruh penjuru alam terkhusus kalangan tradisional yang Asy’ari itu.

Sebenarnya para ulama kita di negeri ini sejak dulu sudah menegakkan hujjah bahwa yang namanya tauhid itu ialah hanya menyembah kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan.

Buku-buku yang bertebaran di negeri ini dan bahkan terjemahan Al Quran depag, ketika mengartiakan syahadat tauhid itu dengan pengertian yang salah dan fatal.

Allahua’lam. []

Kamis 20/Shafar/1434
Belitang, OKU Timur, Sum-Sel
Firman Hidayat bin Marwadi

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/122796477888064]

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: