//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Fenomena Kemusyrikan di Zaman Ini, Antara Sadar dan Tidak Sadar

laut

Selama ini saya hanya menyaksikan ritual-ritual kemusyrikan yang dilakukan di pesisir pantai selatan pulau Jawa hanya melalui televisi, majalah, dan media-media cetak dan elektronik lainnya. Di pagi hari saat fajar mulai menyingsing saya berkesempatan mengunjungi pantai selatan di Pulau Jawa itu dan ternyata saya menjumpai ritual-ritual kemusyrikan berupa pemasangan sajen, dupa, dan semacamnya yang selama ini hanya saya dengar melalui perantara.

Sebelum saya sampai di TKP, saya sudah menduga, jangan-jangan di pagi yang cerah ini sudah ada yang bikin “masalah” dipantai. Ternyata benar persepsi saya itu.

Nampaknya tersangkanya bukanlah orang yang tidak punya, namun justru orang berpunya.

Benarlah apa yang dinyatakan sebagian ulama kita bahwa kemusyrikan dewasa ini lebih parah daripada kemusyrikan masa silam.

Di dalam kaidah keempat dari kitab Al Qowa’id Al Arba’, Syaikh Muhammad bin Sulaiman At Tamimi menulis: “Bahwasannya kaum musyrikin di zaman kita ini lebih parah syiriknya daripada orang-orang di awal-awal. Karena orang-orang di awal-awal hanya berlaku syirik di saat senggang namun berbuat ikhlas (tidak syirik) di waktu geting.

Dan orang-orang musyrik di zaman kita ini syiriknya terus menerus, baik di waktu lapang maupun genting.

Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan dalam beragama. Maka ketika Allah telah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka berlaku syirik.” (QS Al ‘Ankabut: 17).”

Hal semacam ini senada dengan firman Allah lainnya ayat ke-67 dari surat Al Isro’ (yang artinya), “Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, lenyaplah apa-apa yang kalian sembah kecuali Dia. Maka ketika Dia telah menyelamatkan kalian sampai ke daratan, kalian justru berpaling. Dan adalah manusia banyak berbuat kufur.”

Ayat yang lain bisa dilihat seperti Luqman: 32, Al ‘Ankabut: 65, dan lainnya.

Bernarlah apa yang disebutkan penulis Al Aowa’id Al Arba’ di atas. Lihat saja saat terjadi gempa 2007 atau erupsi Merapi beberapa tahun silam. Di saat genting semacam itu masih sempat-sempatnya sebagian kalangan penghoby syirik melakukan ritualnya dengan menanam kepala kerbau, sesajen, dan semacamnya. Padahal mayoritas mereka adalah orang Islam.

Terlepas apakah keterjerumusan mereka itu karena kebodohan atau tidak, yang jelas perlakuan musyrik merka justru malah menambah bencana dan musibah.

Tidakkah kita ingan bahwa umat-umat terdahulu yang dihancurkan, dibinasakan, dan dibinasakan mayoritasnya adalah kaum musyrikin? Dengarkan, Allah berfirman (yang artinya), “Adalah mayoritas mereka adalah orang-orang musyrik.”

Ketika terjadi bencana yang mencekam semacam itu, seorang yang berakal akan segera mendatangi Dzat yang menimpakan bencana itu, bukan justru mendatangi thaghut. Aneh memang.

Tidakkah mereka itu mengetahui bahwa kemusyrikan merupakan perbuatan yang membatalkan seluruh amalan terdahulu. Allah berfirman (yang artinya), “Sekiranya kamu berbuat syirik, sungguh pasti amalanmu akan batal.” Maka batallah amalan sholat, zakat, puasa, haji, dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Maka orang kafir itu bukan berati tidak sholat dan puasa, namun ada di antara mereka yang sudah haji bahkan akan tetapi sudah terjerumus kedalam kekafiran. Inilah yang disebut dengan “kafir tanpa sadar”. Wal ‘iyadzubillah.

Barangkali hal terbesar yang menjerumuskan ke dalam perbuatan yang berakibat fatal ini adalah kebodohan dan kejahilan. Hanya sebatas Islam warisan dan keturunan. Belajar Islam hanya sekedarnya, itu pun dari orang-orang yang juga senasib. Maka ini merupakan peluang dakwah bagi Anda kepada saudara-saudara kita yang masih dikekang kebodohan itu sehingga melemahkan semangat Islam mereka. Oleh karena itu tunjukkanlah kepedulian Anda kepada sesama. Entah itu dengan doa maupun langsung terjun ke lapangan.

Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla melindungi kita dan kaum muslimin lainnya dari perbuatan syirik dan hal-hal yang membatalkan Islam. []

Sabtu, 22/Shafar/1434
Belitang, OKU Timur, Sum-Sel

Firman Hidayat bin Marwadi

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/123181977849514]

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: