//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

:: Salafi, Antara Manhaj & Kelompok ::

Bahasan ini saya tulis karena banyak orang salaf faham terhadap istilah salaf dan salafi. “Banyak orang” di sini tentu orang-orang yang tidak dan belum tahu tentang hakekat istilah salaf dan salafi.

Banyak orang yang menyangka bahwa salaf adalah istilah baru dalam Islam sehingga dikenai hukum bid’ah. Padahal kelompok ini sebelumnya tidak tahu tentang bidngah… bahkan foby terhadap istilah yang satu ini. Namun tiba-tiba ketika menemui segolongan kaum muslimin yang berpegang dengan salaf yang tentunya banyak menentang syirik dan bid’ah, disematkanlah istilah bid’ah ini.

Kelompok kedua mengira bahwa salaf dan salafi adalah firqoh. Tentu yang dimaksud firqoh di sini adalah hizb yang dilarang di dalam Islam kecuali hizb yang satu. Sehingga, menurut kelompok ini, firqoh salafi sudah tidak satu lagi, melainkan sudah berpecah menjadi beberapa bagian. Buktinya adalah adanya saling tahdzir di kalngan mereka.

Tentu dalam masalah ini harus ada klarifikasi.

Untuk memecahkan permasalahan ini, kita harus tahu terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan salaf dan salafi sehingga di dalam membahas tidak keluar dari jalur dan satu tema ini.

Menurut etimologi, salaf adalah lawan dari khalaf (belakangan). Salaf berarti setiap yang mendahuluimu dari bapak-bapakmu dan nenek moyangmu.

Sedangkan salaf menurut terminologi adalah tiga generasi pertama umat ini yang oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dikatakan sebagai sebaik-baik generasi.

Beliau bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku. Kemudian orang-orang setelah mereka. Kemudian orang-orang setelah mereka.”

Berikutnya definisi salafi.

Istilah salafi merupakan ‘copas’ dari istilah salaf. Hanya saja mendapat imbuhan “i” dalam tulisan Latinnya atau “ya'” dalam tulisan Arabnya. “I” atau “ya'” dalam salafi disebut sebagai ya’un nisbah. Artinya sesuatu yang menunjukkan penisbattan kepada kata yang diimbuhi. Maka salafi berarti pengikut salaf.

Sebelum melangkah lebih lanjut, di sini saya akan menukilkan bukti bahwa salaf bukanlah istilah baru yang bid’ah sebagai bantahan untuk orang-orang yang memandangnya dengan kacamata kuda.

Imam Muslim dalam Shohih-nya merekam sebuah hadits dari baginda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata kepada putrinya, Ftahimah, “Sebaik-baik salaf adalah aku bagimu.” Juga riwayat lain (…)

Imbuhan-imbuhan ya’ dalam suatu kata semacam ini sudah ma’lum di kalngan orang Arab. Namun karena mayoritas manusia pengguna bahasa selain Arab seperti manusia di negeri ini tidak pandai berbahasa Arab, kiranya perlu dijelaskan agar tidak salah faham.

Kembali kita lanjutkan pembahasan.

Setelah kita tahu pengertian kedua istilah ini, barang kali ada yang bertanya, “Kenapa harus salaf yang diikuti? Padahal di zaman dulu ‘kan belum ada kemajuan sebagaimana dewasa ini? Apa keistimewaan mereka sehingga dielu-elukan?”

Tentu saja mereka para salaf diikuti bukan karena keduniaan yang ada pada mereka. Akan tetapi mereka diikuti karena cara beraga mereka yang benar dan selamat. Oleh karena itu mereka adalah sebaik-baik generasi, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku. Kemudian orang-orang setelah mereka. Kemudian setelah mereka.” Terlebih, Allah ‘Azza wa Jalla telah merekomendasi mereka (para shahabat) di dalam Al Quran, tepatnya di surat At Taubah:

“Dan as-sabiqun al-awwalun dari kalangan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridhoi mereka dan mereka pun ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan surga ‘Adn untuk mereka yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya.”

Sudah banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kum muslimin agar berpegang dan merujuk kepada mereka dalam beragama karena sejumlah alasan dan sebab yang sudah dijelaskan para ulama Salafi di kitab-kitab mereka. Di sini saya hanya akan menyebutkan dua dalil dari Al Quran dan Sunnah karena terbatasnya tempat. Barangkali di lain waktu saya bisa menukilkan lebih banyak dalil dalam tulisan khusus.

Pertama, firman Allah di atas dalam surat At Taubah.
Kedua, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan At Tirmidzi dan lainnya dari shahabat Abu Najih ‘Irbadh bin Sariyyah rodhiyallohu ‘anhu, “Sesungguhnya kelak akan menjumpai perselisihan yang banyak. Haruslah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rosyidin yang mendapat petunjuk setelahku.”

Rekomendasi di atas bukan tanpa alasan. Para shahabat pantas dijadikan panutan karena mereka hidup di saat wahyu masih turun, bahasa mereka Arab yang juga wahyu turun dengan itu, tidak adanya penyimpangan di masa mereka, memperoleh pendidikan di Madrasah Muhammadiyyah (ingat, bukan madrasah muhammadiyah) yang langsung diawasi Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang bukan dari bagian agama di zaman mereka, juga bukan bagian agama seusainya. Dan generasi-generasi belakangan ini tidak akan benar kecuali dengan apa yang ada pada generasi awal umat ini.

Sampai di sini mulai nampak apa yang dimaksud dengan salafi, yaitu sebuah manhaj atau metode dalam berislam yang sering diterjemahkan dengan Al Quran dan Sunnah sesuai pemahaman para shahabat.

Nampaklah bahwa salafi bukan salafi adalam istilah penisbatan kepada generasi terbaik itu yang memang disyariatkan. Maka jika ada pihak-pihak tertentu yang menisbatkan diri kepada manhaj salafi kemudian berselisih, bukan berarti salafi berpecah. Kenapa? Karena setidaknya ada dua jawaban dalam masalah ini. Pertama, sebagaimana orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam kemudian mereka berselisih bukan berarti Islam telah berpecah. Kedua, jika benar seseorang itu bermanhaj dengan manhaj salafi dengan benar dan jujur, maka bisa dijamin tidak akan ada perselisihan di antara mereka kecuali dalam masalah furu’.

Kiranya di sini juga perlu ditanbih, bahwa sebagian orang tidak faham antara perselisihan yang memang diperbolehkan dengan perselisihan yang murni dilarang dan tidak ada tawar menawar lagi. Karena ketidakfahaman sebagian orang inilah yang menyebabkan salah dalam menillai perselisihan di kalangan salafiyyin sehingga apa pun perselisihannya tetap dinilai berpecah.

Tanbih berikutnya adalah ada memang di kalngan tertentu yang hanya menisbatkan diri kepada manhaj salafi meskipun sebetulnya tidak bermanhaj salafi. Mereka menamakan diri dengan salafiyyin namun dalam prakteknya tidak demikian bahkan sangat bertentangan bagai timur dan barat yang tidak akan pernah diketemukan titik samanya. Inilah yang diisyaratkan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahulloh dalam salah satu ceramahnya.

Maka orang-orang yang mengaku-aku salafi ini tidak bisa dijadikan dasar penilaian. Justru dianggap tidak ada.

Tanbih ketiga. Saya teringat dengan muhadharah yang disampaikan Syaikh Shofiyyurrohman Al Mubarokfuri rohimahulloh kepada para muallaf di Saudi, bahwa jika seseorang akan menilai sebuah agama (tentu di sini masuk juga firqoh), nilailah lewat sumber muktabar dalam agama tersebut. Bukan termasuk langkah yang benar dan bijak jika seseorang menilai suatu agama lewat penganutnya karena boleh jadi mayoritas penganutnya (di sini saya lupa konteks perkataan beliau) mengamalkan amalan yang bukan bagian dari agamanya namun dinisbatkan kepadanya secara paksa atau melakukan ritual tertentu yang dianggap bagian dari agama itu. Allahua’lam. []

_______________
Senin, 24/Shafar/1434 H
Dalam sebuah safar Sumsel-Yogyakarta
Rajabasa, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Firman Hidayat Al Marwadi

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5#!/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/124270651073980]

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: