//
you're reading...
Sejarah Islam

Cupikan Episode Ahmad Dahlan & Muhammadiyah

MuhammadiyahMuhammadiyah adalah sebuah organisasi masyarakat (ormas) yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pelayanan masyarakat lainnya. Organisasi ini berdiri karena beberapa faktor pendorong. Berangkat dari keperihatinan KH Ahmad Dahlan alias Muhammad Darwis bin Ketib (Khothib) Abu Bakar terhadap kemerosotan dan keterbelakangan umat Islam di lingkungannya terkhusus di Nusantara juga.

Kemerosotan dan keterbelakangan ini selain karena ulah penjajah kala itu juga karena keyakinan-keyakinan bid’ah yang mengekang umat Islam. TBC merupakan keyakinan yang dipertahankan waktu itu bahkan dibela pula oleh keraton.

Berbekal ilmu dan semangat yang diperolehnya dari pelopor pemberontakan penjajah yang juga gurunya, Syaikh Ahmad Khathib Minangkabau di Makkah, Ahmad Dahlan bertekat mendirikan pergerakan yang di kemudian hari dikenal dengan Jam’ijah Muhammadijah.

Jam’iyyah Muhammadiyyah disetting sedemikian rupa oleh pendirinya agar berpedoman dengan sumber Islam, Al Quran dan Sunnah.

Adapun biaya untuk mendirikannya adalah langsung diambil dari dompetnya. Bahkan tidak hanya harta saja, namun juga jiwa pun dikorbankan oleh pendirinya agar terwujud cita-citanya itu. Oleh karena itu ketika Ahmad Dahlan wafat, ia tidak meninggalkan harta sepeser pun untuk keluarganya karena habis untuk biasa Muhammadijah.

Yang pertama kali diinginkan oleh Ahmad Dahlan adalah memberikan pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat. Kala itu tidak ada yang menyelenggarakan pendidikan kecuali pemerintah Belanda yang kafir sehingga materi-materinya pun menjurus kepada agama yang dianutnya. Maka tidak heran jika ada, mungkin juga banyak, siswa-siswa yang belajar di sana beralih agama di kemudian hari. Inilah salah satu misi besar Belanda datang ke Indonesia.

Melihat situasi semacam ini, Ahmad Dahlan semakin kuat tekaatnya untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di sekitar lingkungannya dengan sistem meja, bangku, dan papan tulis yang kala itu ditentang mayoritas ulama di Nusantara. Ulama-ulama yang menentang dan menolak menggunakan sistem meja, bangku, dan papan tulis mengira bahwa hal itu sama dengan tasyabuh dan ikut-ikut kebiasaan kaum kuffar. Namun Ahmad Dahlan, juga sebelumnya segelintir ulama Minangkabau seperti Syaikh ‘Abdul Karim Amrullah dan Muhammad Djamil Djembek, tidak mempedulikan penolakan mayoritas ulama kala itu.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa kegigihan Ahmad Dahlan dalam membasmi TBC adalah berkat keakrabannya dengan kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyimil Jauziyyah, selain juga pengaruh guru utamanya di Makkah, Ahmad Khathib Minangkabau.

Tidak usah ditanya bagaimana tantangan dan rintangan serta penolakan mayoritas masyarakat kepada dakwah tauhid yang dilancarkan Ahmad Dahlan. Masyarakat yang sudah akrab dan bahkan mendarah daging dengan sesaji, takhayul, khurafat, dan bentuk-bentuk kemusyrikan berabad-abad lamanya secara turun-temurun ternyata ada ‘anak’ kamarin sore berani mempermasalahkannya. Maka jangan heran jika tamparan dan cacian di majlis Ahmad Dahlan kerap dijumpai. Ya, ditengah pengajiannya, Ahmad Dahlan biasa memperoleh tamparan di tempat. Tidak ada jalan baginya kecuali sabar, sabar, dan sabar. “Pertolongan hanya bersama kesabaran.” Barangkali pesan Nabi ini yang membuat Ahmad Dahlan menjadi tegar, sabar, dan tahan ‘banting’.

Karena usahanya siang-malam yang tak kenal lelah dan bahkan kerap memaksakan diri meski kesehatan sedang menurun (baca: sakit), Ahmad Dahlan mulai mencium buah dakwahnya. Terbukti dengan banyaknya ulama yang bergabung bersama organisasi Muhammadiyah yang didirikan pada 1912 M itu. Di antara sekian ulama yang tertarik adalah Syaikh Abdul Karim Amrullah di Minangkabau dan Mas Mansur di Surabaya.

Maka mulailah bermunculan cabang dan ranting Muhammadiyah di penjuru Indonesia.

Perlu dikatahui di sini bahwa berdirinya cabang dan ranting Muhammadiyah waktu itu tidak dikatakan resme kecuali jika sudah dihadiri Ahmad Dahlan langsung. Tak heran jika Ahmad Dahlan terlampau sering ke Jakarta, Surabaya, dan kota lainnya tanpa mempedulikan kesehatan badan dalam rangka menghadiri peresmian ranting dan cabang organisasi yang dirintisnya itu.

Juga hal yang tidak diketahui banyak orang bahkan mungkin anggota Muahammadiyah sekalipun adalah bahwa anggota Muhammadiyah waktu itu sangat sedikit dibandingkan umat Islam di Indonesia. Hal itu dikarenakan menjadi anggota Muhammadiyah saat itu tidak mudah. Orang yang hendak bergabung dengan Muhammadiyah harus diseleksi terlebih dahulu. Akhlak dan perangainya harus mulia dan bagus. Lihat perbedaan yang teramat jauh antara Muhammad tempo dulu dan dewasa ini!?

Melihat fenomena keberhasilan perjuangan Ahmad Dahlan dalam menegakkan Islam yang murni dan memberantas TBC, mulailah bermunculan pendengki dan pesaing. Mereka adalah kalangan yang mempertahankan keyakinan bid’ah dan budaya Jawa yang menyimpang dari Islam. Di antara mereka adalah Ki Hadjar Dewantara dengan Tamsisnya dan KH Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jombangi dengan NU-nya. Hal ini bukan saya yang menyatakan, akan tetapi para sejarawan yang ahli dalam bidangnya. Yang pertama disebutkan oleh Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah I dan yang kedua disebutkan oleh Prof. Rincles.

Namun setelah keberhasilan Ahmad Dahlan dengan jam’iyyahnya, mulai generasa penerusnya sedikit-demi sedikit lupa akan dasar dan tujuan yang dicanangkan Ahmad Dahlan. Semakin lama semakan berubah dakwah Muhammadiyah. Jika dahulu Ahmad Dahlan menjadikan Islam sebagai tujuan utama dan Muhammadiyah sebagai sarananya, sekarang terbalik. Berapa banyak di sekolah-sekolah Muhammadiyah ditulis misinya: “Membentuk Generasi Muhammadiyah,” bukan “Membentuk Generasi Islam.” Oleh karena itu -mungkin- tidak berlebihan jika Ustadz Armen Halim Naro -mantan anggota tarjih Muhammadiyah Riau- mengatakan, “Saya katakan kepada orang-orang Muhammadiyah di Riau ini, sekiranya Ahmad Dahlan melihat Muhammadiyah sekarang ini, niscaya ia akan menyesal mendirikan Muhammadiyah!”

Kenapa sedemikian kerasnya Ust. Armen Halim memperingatkannya. Karena sudah bobroknya Muhammadiyah dewasa ini. Sekolah-sekolah dan RS-RS Muhammadiyah memang maju, namun semangat menegakkan Islam yang murni mulai menurun. Lihatlah bagaimana dewasa ini Muhammadiyah dipimpin orang-orang yang sudah digodog di negeri kafir. Memang profesor, namun profesor di perguruan kafir. Akal sehat manapun tidak akan membenarkan orang yang mempelajari Islam di negeri kafir macam Amerika. Yang ada malah diajar pastur dan pendeta. Pulang-pulang ke tanah air membawa racun mematikan penduduknya.

Tidak ingatkah dahulu Ahmad Dahlan menimba ilmu di Makkah dan Mesir? Kenapa ia tidak belajar di Amerika atau Ingris? Karena ia tahu bahwa pusat Islam ada di Timur Tengah, bukan di Barat. Namun anehnya hal semacam ini dibanggakan sebagian kalangan. Akhirnya nampaklah pemikiran-pemikiran liberal, plural, dan …

Mungkin pemimpin-pemimpin Muhammadiyah sekarang jika hidup di masa awal-awal Muhammadiyah akan ditolak mentah-mentah karena ilmunya salah dan pemikirannya yang kaprah. Maka keganjilan-keganjilan dalam memutuskan tarjih seringkali dijumpai. Berita ini saya terima langsung dari mantan anggota tarjih wilayah Bantul atau Yogyakarta yang juga salah seorang pengajar di sekolah kami.Wallahulmusta’an. []

Selasa, 25/Shafar/1434 H
Dalam sebuah safar Sumsel-Yogyakarta
Temanggung, Jawa Tengah.

Firman Hidayat Al Marwadi

________________
Refrensi utama:
1. Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia atau Pengaruh Ajaran dan Pikiran Al Ustadz Al Imam Syeikh Muhammad ‘Abduh di Indonesia yang dipaparkan Hamka dalam bahasa Arab di hadapan guru-guru besar Al Azhar Uneversity
2. Api Sejarah I, Ahmad Mansur Suryanegara

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/124540787713633]

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: