//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Seruan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari Kepada Manhaj Salafi

Salaf
Tamhid
Nama Syaikh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al Jawi Al Banjari Asy Syafi’i (1122-1227 H/1710-1812)(1) rohimahulloh nampaknya sudah tidak lagi asing di telinga kaum muslimin di ranah Melayu terutama di Indonesia. Pasalnya beliau merupakan seorang ulama kenamaan asal Banjarmasin Kalimantan yang pernah menjabat sebagai qadhi Kerajaan Banjar di zamannya juga penulis kitab fiqih Sabilul Muhtadin fit Tafaqquh fi Amriddin (1193) yang masyhur itu atas permintaan Sulthan Kerajaan Banjar kala itu, Sulthan Tahmidullah bin Sulthan Tamjidullah Al Banjari rahimahullah. Beliau juga seorang ulama yang terhitung sebagai ahli falak pertama negeri ini.

Pengaruh Syaikh Al Banjari di ranah Melayu dapat dibuktikan dengan diabadikannya nama kitab fiqih beliau tersebut di atas sebagai nama sebuah masjid jami’ di daerah Kalimantan. Juga kitab-kitab beliau yang terus dicetak dan dipelajari hingga saat ini. Tidak hanya itu, sudah puluhan pengamat sejarah yang membahas tentang beliau, biografi dan pemikirannya yang menunjukkan masih adanya daya tarik beliau hingga dewasa ini.

Dikatakan bahwa Syaikh Al Banjari adalah salah satu ahli falak pertama negeri ini yang kemudian sempat membenahi arah kiblat beberapa masjid di Batavia(2) dan lainnya.

Sejauh ini para pengamat sejarah yang mengamati dan menulis tentang Syaikh Muh. Arsyad Al Banjari sangat sedikit perhatiannya terhadap manhaj & aqidah Syaikh Al Banjari. Mereka banyak memusatkan penelitian dalam bidang fiqih dan semacamnya dari masalah-masalah furu’iyyah.

Dari sedikit pengamat manhaj & aqidah Syaikh Muh. Arsyad Al Banjari itu menyimpulkan bahwa beliau adalah seorang yang bermanhaj shufi yang banyak beramal bid’ah, jauh dari manhaj Salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah.
Namun dalam kesempatan kali ini, saya hendak mengajak pembaca untuk mengoreksi kembali bahwa ternyata Syaikh Muh. Arsyad Al Banjari terpengaruh dengan manhaj Salaf bahkan mengajak umat Islam untuk komitmen memegang manhaj Salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah. Pernyataan dan ajakan beliau ini dapat dijumpai dalam salah satu kitab aqidahnya yang bertajuk Tuhafur Roghibin fi Bayan Haqiqhh Imanil Mukminin Wama Tufsiduhu min Riddatil Murtaddin (1180 H) dengan bahasa Arab Melayu (Arab Pegon).

Dalam tulisan ringkas ini saya juga hendak membuktikan kepada khalayak masyarakat Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya bahwa kenyataannya seruan manhaj Salafi sudah dikumandangkan sedari lama. Yaitu jauh sebelum tiga jamaah(3) haji asal Minangkabau pada 1803M.

Dalam tulisan ini saya juga hendak menasihati kepada orang-orang yang mengagungkan Syaikh namun tiada menggubris seruan ini. Maka mudah-madahan ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi dan kaum muslimin seluruhnya.

Seruan Syaikh M. Arsyad Al Banjari Kepada Manhaj Salafi
Pertama-tama Syaikh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al Banjari Asy Syafi’i rohimahulloh menegaskan bahwa umat ini akan berpecah menjadi 73 firqah dan hanya satu yang selamat dalam kitabnya tersebut di bawah pasal Firqah-Firqah Dalam Islam:
“Syahdan, beberapa i’tiqad yang memutuskan Islam lain daripada yang tersebut itu seperti segala i’tiqad kaum yang tujuh puluh dua yang sesat lagi bid’ah yang tersebut bilangan mereka itu di dalam hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

Yakni, ‘Bahwasanya kaum Bani Israil bercerai-cerai mereka itu kemudian daripada Nabi Musa ‘alaihissalam tujuh puluh tiga kaum sekaliannya di dalam neraka kecuali satu jua yang masuk syurga. [Dan] kemudian bercerai-cerai mereka itu kemudian daripada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam tujuh puluh duakaum sekaliannya di dalam neraka melainkan suatu kaum jua yang masuk syurga. [Dan lagi] bercerai-cerai umatku kemudian daripada aku tujuh puluh tiga kaum sekaliannya isi neraka melainkan suatu kaum jua yang masuk syurga. [Maka] sembah (baca: bertanya dengan sopan) segala Shahabat, ‘Siapa yang suatu kaum itu, ya Rosululloh?’ Maka sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, ‘Iaitu yang aku di dalamnya dan segala Shahabatku [yakni iaitu jalanku yang betul dan jalan segala Shahabatku, iaitu jalan Ahlussunnah wal Jama’ah](4).’

Menurut realita yang ada, yang mengkampanyekan agar tidak mencukupkan diri dengan hanya mengikuti Al Quran dan Sunnah saja namun harus berdasarkan pemahaman Shahabat rodhiyallohu ‘anhum ajma’in adalah golongan Salafiyyun sebagaimana yang dapat kita saksikan bersama. Tidak ada ceritanya kaum Asy’ariyyun, Maturidiyyun, apalagi Khorijiyyun dan lainnya mengajak dan meneriakkan agar kaum Muslimin harus berpegang kepada manhaj para Shahabat. Sekiranya mereka meneriakkannya dan mengamalkannya, niscaya mereka tidak akan tersesat sebagaimana ketersesatan mereka sampai detik ini.
Selanjutnya beliau rohimahulloh menjelaskan manhaj satu-satunya golongan yang selamat yang berhak memperolah surga di akhirat kelak. Beliau berkata:

Hubaya, hai saudaraku yang beriman! Wajib atasmu beri’tiqad dengan i’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah. [Karena] iaitulah jalan Nabi Allah dan Shahabatnya dan segala mereka yang mengikuti akan yang mengikuti mereka itu hingga hari kiamat.
Dan wajib atamu menjauhi sekalian i’tiqad bid’ah yang sesat [seperti] i’tiqad segala kaum yang tujuh puluh dua yang tersebut bilangan mereka itu di dalam hadits yang tersebut.”

Lihatlah bagaimana Syaikh menyerukan dan meneriakkan agar kita tidak hanya berpegang kepada jalan (sunnah) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam saja tanpa memperhatikan cara memahaminya dengan benar dan selamat. Namun beliau menegaskan agar juga memahami Islam ini dengan pemahaman para Shahabat. Yang demikian itu karena pemahaman Shahabat adalah pemersatu kaum muslimin dalam beragama. Berapa banyak kelompok-kelompok sesat dalam Islam yang mengaku berpegang kepada Al Quran dan Sunnah namun seluruh firqah dan kelompom itu berbeda pemahaman serta beragamanya. Kenapa demikian? Aljawab karena masing-masing orang akan memahami Al Quran dan Sunnah sesuai pemahamannya. Dengan demikian, masing-masing orang itu juga akan mengamalkan apa yang ia fahami dengan bentuk yang berbeda-beda. Nah, agar dalam mengamalkan Islam ini kaum muslimin dapat bersesuaian dan senada, maka harus digunakan pemahaman pemersatu. Itulah pemahaman para Shahabat rodhiyallohu ‘anhum ajma’in. Oleh karena itu beliau menegaskan:

“Hai saudaraku yang beriman! Wajib atasmu beri’tiqad dengan i’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah. [Karena] iaitulah jalan Nabi Allah dan Shahabatnya dan segala mereka yang mengikuti akan yang mengikuti mereka itu hingga hari kiamat.”

Dalil-dalil yang mewajibkan mengikuti para Shahabat dalam beragama sangat banyak dan bertebaran. Namun bukan di sini tempat pemaparannya. Pembaca boleh membaca kitab-kitab tentang ini. Di antara yang paling ringkas namun bermanfaat adalah kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah karya Syaikh ‘Abdussalam bin Salim As Suhaimi atau dalam bahasa Indonesia bukunya Usatadz Yazid bin ‘Abdul Qodir Jawas yang bertajuk Mulia dengan Manhaj Salaf. Bacalah!

Maka sangat heran sebagian kalian yang foby dengan istilah bid’ah dari kalangan Asy’ariyyah di negeri ini. Terlampau puluhan tahun silam ulama negeri ini dengan tegas memperingatkan umat dari segala bentuk bid’ah, terutama bid’ah yang berkaitan dengan aqidah.
Dalam pernyataan Syaikh dapat ditarik kesimpulan bahwa kebenaran itu hanya ada satu. Adapun selainnya adalah bathil dan sesat. Ini adalah bantahan bagi setiap penyeru liberalisme, baik dalam beragama maupun bermanhaj.
Syaikh rohimahulloh berkata:

“[Kata] ‘Abdullah Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, ‘Adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menguris (menggaris) pada bumi dengan suatu garis yang betul. [Maka] sabdanya, ‘Ikut oleh kamu agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi-Nya yang mustaqim.’ Kemudian digurislah beberapa guris di kiri dan kekanan garis yang betul itu. [Maka] sabdanya, ‘Inilah beberapa jalan. Atas setiap satu jalan itu syaitan memanggil kepada jalan itu.’ Lalu dibaca Nabi Allah ayat Quran (yang artinya), Yakni, ‘Bahwasannya inilah jalanku yang betul, [maka] ikutilah olehmu jalan ini. [Dan] jangan kamu ikut segala jalan syaitan, niscaya dicerai-beraikanlah akan kamu dari jalan Allah yang betul(5).’ [QS Al An’am: 153]

Ini merupakan penegasan Syaikh untuk yang kedua kalinya bahwa yang (manhaj) benar hanya satu sedang selainnya adalah bathil.
Selanjutnya setelah Syaikh menjelaskan bahwa manhaj yang haq adalah manhaj Salafi, Ahlussunnah wal Jama’ah, beliau menyebutkan keistimewaan manhaj yang haq ini. Yaitu, manhaj Salafi adalah manhaj pertengahan. Sebagaimana Islam adalah agama pertengahan di antara agama-agama yang ada.

Kenapa Syaikh Muh. Arsyad Al Banjari rohimahulloh perlu menyebutkan keistimewaan manhaj Salafi? Aljawab, agar kaum muslimin yang mendengarkan seruan beliau ini semakin tertarik untuk mengikuti manhaj Salafi. Sebab, jika beliau hanya menjelaskan keabsahan manhaj Salafi saja tanpa menyebutkan keistimewannya sedikit pun, boleh jadi ‘pemirsa’ hanya akan menganggukkan kepala tanpa ingin jauh lebih tahu tentang manhaj ini.
Syaikh berkata:

“[Syahdan] adalah jalan Ahlussunnah wal Jama’ah itu antara madzhab Jabariyyah dan Qadariyyah, (antara) madzhab Tasybih dan Ta’thil, (antara) madzhab Khoriji dan Rofidhi (Syi’ah).”

Untuk memperkuat keistimewaan berupa pertengahan (wasathiyyah) Ahlussunnah wal Jama’ah, Syaikh membawakan perkataan salah satu ulama Ahlussunnah sebagai bentuk pengakuan bahwa beliau hanyalah ulama biasa yang juga membutuhkan penjelasan ulama lain.

“[Sekali] peristiwa peristiwa ditanya oleh orang Imam rodhiyallohu ‘anhu daripada madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah. [Maka] jawabnya, ‘Bahwa madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah itu tiada Khoriji dan tiada Rofidhi dan tiada Jabariyyah dan tiada Qodariyyah dan tiada Tasybih dan tiada Ta’thil.”

Penjelasan mas-alah wasathiyyah sebuah manhaj hanya ada dalam aqidah Salafiyah. Adapun yang lainnya, maka sampai saat ini saya –dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki- belum menemukannya, baik dalam kitab-kitab mereka maupun yang dinukil ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam mas-alah wasithiyyah Ahlussunnah wal Jama’ah di antara firqah-firqah dan penjelasannya, kita dapat menelaah lebih lanjut kitab Wasathiyyah Ahlissunnah wal Jama’ah Bainal Firoq karya Syaikh Dr. Muhammad Ba Karim bin Muhammad Ba ‘Abdullah atau bisa juga syarah Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dan lainnya atas Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah .

Ikhtitam
Dalam tulisan singkat ini, untuk sementara waktu saya tidak mendakwakan apalagi berkesimpulan bahwa Syaikh M. Arsyad Al Banjari bermanhaj Salafi secara pasti. Sebab, saya belum menelaah kitab-kitab beliau lainnya yang cukup banyak untuk mendukung kesimpulan pemikiran seseorang karena memang sampai detik ini saya belum menemukannya. Mungkin ada di antara para pembaca sekalian yang tahu dan mau menunjukkan atau memberi informasi kepada saya kitab-kitab beliau yang lainnya. Syukur-syukur memberikannya secara cuma-cuma.
Namun pada kenyataan dalam kitab Tuhfatur Roghibin ini Syaikh dengan jelas dan terang menegaskan bahwa dengan hanya berpegang dengan apa yang ada pada para Shahabat berupa pengamalan Islam adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan yang haqiqi di dunia maupun akhirat. Dengan artian bahwa Al Quran dan Sunnah harus dipahami dengan pemahaman para Shahabat rodhiyallohu ‘anhum ajma’in.

Akhirnya saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kaum muslimin sekalian agar berpegang teguh dengan manhaj Salaf ini. Satu-satunya manhaj yang selamat di dunia dan akhirat. Waffaqonallah lima yuhibbu wa yardho. Allahua’lam. []

Footenote____________________
[1] Lihat biografinya dalam:
a. Thabaqatus Syafi’iyah, Ulama Syafi’i dan Kitab-Kitabnya dari Abad ke Abad (hal. 367-374), karya KH Siradjuddin ‘Abbas.
b. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19 (hal. 91-100), karya Dr. Karel A. Steenbrink.
c. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII (hal. 315-320 dan di beberapa tempat lainnya di buku ini), karya Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA.

[2] Periksa Jaringan Ulama (hal. 318).

[3] Masing-masing mereka bernama Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Di saat mereka berhaj pemurnian ajaran Islam di Hijaz memang mulai mendapat tempat sehingga banyak jama’ah haji yang mendapatkan pencerahan dari usaha pemurnian itu dan pada gilirannya saat mereka pulang mendakwahkan di daerah masing-masing yang di antara mereka adalah tiga jamaah haji asal Minangkabau ini.

Sebagian sejarawan menyimpulkan bahwa ketiga jamaah haji inilah yang pertama kali memperkenalkan dakwah Salafiyyah kepada masyarakat Nusantara. Di antara mereka adalah Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Abdul Hamid Al Halabi Al Atsari dan Thomas Arnold.
Diriwayatkan bahwa ketiga jamaah haji ini seusai melaksanakan ibadah haji tidak langsung pulang ke tanah air, namun belajar dahulu kepada sejumlah Ulama Salafi di Tanah Suci itu sehingga tatkala pulang dapat berdakwah di atas ilmu dan bashiroh. Allahua’lam.

[4] Tentang hadits perpecahan umat, sejauh pengetahuan saya, tidak ada riwayat semacam ini yang menyebutkan bahwa kaum Nabi Musa alias Yahudi berpecah menjadi 73 golongan, namun kaum Yahudi berpecah menjadi 71, kaum Nasrani menjadi 72, dan yang menduduki peringkat terbnayak adalam umat ini menjadi 73 golongan. Berikut haditsnya:
عن أبي هريرة قال
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ” افترقت اليهود على إحدى أو ثنتين وسبعين فرقة وتفرقت النصارى على إحدى أو ثنتين وسبعين فرقة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة .”
Dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata, bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Yahudi telah berpecah menjadi 71 atau 72 firqah, Nasrani telah berpecah menjadi 71 atau 72 firqah, dan umatku akan berpecah menjadi 73 firqah.” [HR Abu Dawud (no. 4596, ini lafazhnya) Kitab As Sunnah, At Tirmidzi (no. 2640): Bab Ma Ja-a fi Iftiroq Hadzihil Ummah, dan lainnya]
Dalam riwayat lain, At Tirmidzi (no. 2641) mencatat sebuah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh akan datang (terjadi) kepada umatku sebagaimana apa yang datang (terjadi) kepada Bani Israil, sejajar sandal dengan sandal. Sampai-sampai jika ada di antara mereka yang mendatangi (menzinai) ibunya secara terang-terangan, niscaya ada di antara umatku yang melakukan hal itu. Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Seluruhnya di neraka kecuali satu.” Mereka bertanya, “Siapakah dia itu, ya Rosulululloh?” “Apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.”
[5] Hadits shohih. Diriwayatkan Imam Ahmad dan An Nasa’i.

Kampus Al Hadi Sleman, Yogyakarta
03 Robi’ul Awwal 1434
15 Januari 2013
Firman Hidayat Al Marwadi

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

2 thoughts on “Seruan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari Kepada Manhaj Salafi

  1. Allah dan RasulNya SAW telah memberi isyarat kepada kita semua akan kebenaran ASWAJA dengan suatu bukti nyata yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun, kecuali oleh mereka yang menutup dirinya dari kebenaran.
    Isyarat yang telah diberikan oleh Allah dan Rasulullah SAW adalah sebuah hadits yang terkenal

    Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْاَمِيرُ اَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

    “Sungguh akan terjadi Futuh Kota Konstantinopel di tangan Islam. Pemimpin yang berhasil melaksanakan Futuh itu adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

    Sudah diketahui bersama bahwa hadits ini sudah terbukti kebenarannya bahwa Konstantinopel sudah dibuka (futuh) oleh Umat Islam di bawah pimpinan Sultan Muhammad II yang digelari Al Fatih, yaitu Sultan ke-7 dari Kerajaan Usmaniyah pada tanggal 29 Mei 1453. Kota Konstatinopel kemudian diubah namanya menjadi Islambol (Islampol = kota Islam), yang sekarang dikenal dengan Istanbul. Sultan Muhammad Al Fatih dan tentaranya itulah yang disebut dan dipuji Rasulullah SAW 800 tahun sebelumnya. Jika Rasulullah SAW telah memuji seseorang atau suatu kelompok, tentulah benar Aqidahnya, kemas syariatnya dan elok pula akhlaknya.

    Aqidah Kerajaan Usmaniyyah adalah Ahlusunnah Wal Jama´ah Asy´ariyyah/Maturidiyyah. Umat Islam dalam menjalankan syariat di semua wilayah pemerintahannya mengikut salah satu dari Imam Mazhab. Dalam kerajaan diangkat Mufti dari setiap Mazhab untuk tempat bertanya bagi Umat Islam sesuai dengan Mazhabnya. Umat Islam hidup bertoleransi dalam berfiqih. Tidak pernah ada perpecahan sebab perbedaan Mazhab. Pengajian tasauf dan tariqat sangat banyak, bahkan para Sultan dan pembesar kerajaan pada umumnya bertariqat dengan bimbingan seorang Mursyid sebagai Murobbi.

    https://pemudade.wordpress.com/2015/12/01/isyarat-rasulullah-saw-membenarkan-aqidah-aswaja-asyariyyahmaturidiyah-berfiqih-dengan-bermazhab-dan-bertasauf/

    Posted by Pemuda Desa | 27/12/2015, 8:37 am
  2. Ulama Tauhid 3 serangkai memahami Sifat dan Asma Allah secara zahir, bahkan sampai begitu kaku dan fanatik dengan lafaz zahirnya dan tidak mau bergeming dari makna zahir itu, sehingga mereka memahami ayat-ayat yang menurut Ahlussunnah wal Jamaah adalah termasuk ayat Mutasyabihat mereka pun memahaminya dengan makna zahirnya. Beberapa contoh :

    1. An Nisyan (lupa) adalah salah satu sifat Allah.
    (lihat abul-jauzaa.blogspot.de/2012/04/nis-yaan-salah-satu-shifat-allah-taala)

    2. Al Makru (makar) dan Al Kaid (menipu daya) adalah sifat Allah.
    (lihat http://www.facebook.com/notes/abu-hashifah-rickywahyudi/syarah-al-aqidah-al-wasithiyah-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah-studi-tentang-aqidah)

    3. Allah mempunyai tangan, bahkan disebutkan bahwa tangan Allah itu ada dua dan keduanya adalah kanan.
    (lihat abul-jauzaa.blogspot.de/2010/06/sifat-dua-tangan-allah )

    4. Allah bersemayam di atas arasy
    (lihat muslim.or.id/56-sifat-istiwa-allah-di-atas-arsy )

    Namun ketika membahas Sifat Allah yang diakui oleh orang kafir, mereka lupa pada kaidahnya sendiri, sehingga ketika disebut dalam Quran orang kafir mengaku Allah sebagai Khaliq yang mencipta manusia, mereka langsung mengatakan “orang
    kafir mengakui Tauhid Rububiyah” seolah olah itulah sifat Rububiyah keseluruhan, lupa dengan maknya zahir Rububiyah/Robb yang ertinya Maha Memelihara dengan kasih sayang.

    https://pemudade.wordpress.com/2015/10/06/anomali-tauhid-asma-wa-sifat-yang-memahami-sifat-allah-sesuai-lafaz-zahir-asma-dan-sifat-allah-kecuali-sifat-rububiyah/

    https://pemudade.wordpress.com/2015/09/05/tauhid-rububiyyah-dalam-tauhid-3-bagian-melanggar-tauhid-al-asma-was-sifat/

    Bahkan dalam Quran disebut dengan jelas bahwa orang kafir tidak mentauhidkan Allah sebagai Robb mereka. Orang kafir mengakui arbaba (banyak robb) selain Allah

    https://pemudade.wordpress.com/2015/10/07/al-quran-membantah-bahwa-orang-kafir-mengakui-tauhid-rububiya/

    Posted by Pemuda Desa | 20/08/2016, 10:38 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: