//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Kapankah Dibolehkannya Menengadahkan Tangan Ketika Berdoa?

berdoa_web
Soal:
Apakah ada kaidah untuk mengetahui kapan diperbolehkan mengangkat (menengadahkan) kedua tangan ketika berdoa dan kapan dilarang? Dan apakah boleh mencukupkan mengangkat kedua tangan dalam doa istisqo tanpa selainnya sebagai bentuk pengamalan hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya beliau menceritakan:
«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِي الاسْتِسْقَاءِ»
“Dahulu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengangkat kedua tangannya dalam sesuatu dari doanya selain dalam istisqo.”(1)? Berikan kami faidah (ilmu). Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan kepada Anda.
Jawab:
Segala puji hanya milik Allah, Robb semesta alam. Sholawat beserta salam semoga tercurahkan kepada manusia yang Allah utus untuk semesta alam, atas keluarga, dan para saudaranya sampai hari pembalasan.
Adapun selanjutnya…
Secara umum, mengangkat kedua tangan ketika berdoa termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya. Yang demikian itu karena adanya banyak hadits menunjukkan disyariatkannya (mengangkat kedua tangan tatkala berdoa). Ia telah absah dari sabda dan perbuatannya yang mencapai derajat mutawatir secara makna.
An Nawawi rohimahulloh berkata, “Telah tsabit (riwayat) Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dalam doanya di beberapa tempat selain istisqo. Itu lebih banyak dari dihitung. Aku telah menghimpun darinya mencapai 30 hadits dalam dua kitab Shohih (Shohih Al Bukhori & Shohih Muslim) atau salah satu dari keduanya(1).”
As Suyuthi rohimahulloh berkata, “Telah diriwayatkan dari beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam mencapai 100 hadits dalam pengangkatan kedua tangannya dalam berdoa. Dan aku telah mengumpulkannya dalam sebuah Juz namun dalam perkara-perkara beragam. Setiap perkara darinya ada yang tidak mutawatir. Dan kadar yang musytarak di dalamnya –yaitu mengangkat kedua tangan ketika berdoa- mutawatir dilihat dari keseluruhannya(3).”
Di antara hadits-hadits qouliyyah yang valid dari beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah sabda beliau:
«إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ، أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»

“Sesungguhnya Robb kalian Mahamalu Mahamulia. Dia malu dari hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu ia menurunkannya kembali dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan doanya)(4).”
Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah Mahaindah. Dia tidak berfirman kecuali yang baik…” Selanjutnya beliau menyebutkan seseorang dalam perjalanan jauh yang rambutnya tiada teratur penuh dengan debu. Ia menjulurkan kedua tangannya ke langit berdoa, ‘Ya Robbi, ya Robbi…” sampai selesai hadits(5).
Dan di antara hadits-hadits fi’liyyah, bahwasannya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sampai-sampai terlihat putihnya kedua ketiak beliau berdoa untuk kebaikan Utsman(6).
Di antaranya adalah perbuatan Kholid bin Al Walid rodhiyallohu ‘anhu bersama Bani Jadzimah. Di dalamnya diceritakan, “Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya seraya berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku bebas kepada-Mu dari apa yang dilakukan Kholid.’ Dua kali(7).”
Ketika Fat-h Makkah, beliau mengangkat kedua tangannya. Beliau pun mulai memuji-muji Allah dan berdoa dengan apa yang beliau kehendaki berdoa(8).
Dalam kisah peristiwa gerhana matahari, “Maka aku (perawi) sampai kepada beliau sedang beliau dalam keadaan mengangkat kedua tangannya berdoa(9).”
Dalam doanya untuk penghuni (pemakaman) Al Baqi’, “Beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali(10).”
Dalam hadits Usamah rodhiyallohu ‘anhu, “Aku pernah membonceng di belakang Nabi shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam di Arafat. Beliau mengangkat kedua tangannya berdoa. Ontanya condong maka jatuhlah tali kekangnya. Beliau pun mengambilnya dengan salah satu tangannya sedang tangannya yang lain diangkat(11).”
Dan dalam hadits qunut(12), beliau mengangkat kedua tangannya –juga- dan selainnya dari hadits-hadits shohih.
Ini adalah hadits-hadits mutawatir secara makna. Telah datang dari hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu yang ‘menyelisihinya’ secara zhahir. Nash haditsnya adalah:
«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِي الاسْتِسْقَاءِ»
“Adalah Nabi shollallohu ‘alaihi wa alihi sallam tidak mengangkat kedua tangannya pada sesuatu pun dari doanya selain ketika istisqo(13).”
Dan para ulama telah mengkompromikan antara keduanya –untuk menyesuaikan antara dalil-dalil- dari dua sisi:
Pertama, bahwasannya penafian (mengangkat kedua dalam berdoa kecuali ketika istisqo) dalam hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu adalah sifat khusus. Sifat itu adalah apa yang dinamaikan Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma dengan ibtihal (doa sepenuh hati). Karena sesungguhnya pengangkayan Nabi shollallohu ‘alaihi wa alihi sallam tangannya dalam istisqo adalah sangat dahsyat (getir) yang mana beliau menyelisihi lainnya dalam hiper (mubalaghoh) di dalamnya. Maka terlihatlah putihnya kedua ketiaknya dan badannya doyong. Dan dari sana,  sesungguhnya penafian sifat khusus tidak mengharuskan menafikan asli pengangkatan. Meski demikian, sesungguhnya sifat khusus semacam ini tidak hanya sebatas dalam istisqo, bahkan telah absah (riwayat) dalam tempat-tempat lainnya.
Dalam kisah Ibnul Lutbiyah:
«ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبِطَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ»»
“Kemudian  beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat rambut kedua ketiknya. Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan, ya Allah apakah aku telah menyampaikan(14).”
Abu Dawud telah meriwayatkan dalam Al Marosil(15) dari hadits Abu Ayyub Sulaiman bin Musa Ad Dimasyqi rohimahulloh:
«لم يُحفظ عن رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم أنه رفع يديه الرفعَ كلَّه إلاَّ في ثلاثة مواطنَ: الاستسقاء، والاستنصار، وعشيَّة عرفة، ثمَّ كان بعدُ رفعٌ دون رفعٍ»

“Tidak pernah dihafal dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau mengangkat kedua tangannya dengan mengangkat keseluruhan (tinggi-tinggi) kecuali di tiga tempat, yaitu istisqo, istinshor (memohon pertolongan, dan malam Arafah. Kemudian setelah itu hanya mengangkat tangan di bawah angkatan (di tiga tempat ini).”
Kedua, dimungkinkan membawakan hadits Anas bin Malok rodhiyallohu ‘anhu kepada penafian mengangkat kedua tangan di atas mimbar di hari Jumat. Karena tidak pernah dinukil dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pula dari para Shahabatnya yang mulia mengangkat kedua tangan ketika khutbah di hari Jumat meskipun terdapat banyak Jumat dan berbanyakan faktor untuk menukilkannya. Akan tetapi riwayat yang valid dari beliau shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam, bahwasannya bliau tidak menambah atas mengangkat jari telunjuknya. Dan sifat mengangkat jari telunjuk dari tangan kanan adalah tsabit ketika berdzikir dan berdoa saat khutbah di mimbar. Demikian juga ketika tasyahud dalam sholat dan di saat-saat umumnya berdzikir, tahlil, tasbih di luar sholat.
Dan yang menguatkan hal itu adalah hadits ‘Umaroh bin Ruaibah, ia berkata, “Bisyr bin Marwan meliahat di atas mimbar (seorang khatib) mengangkat kedua tangannya seraya berkata, ‘Semoga Allah memperjelek kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak menambah atas berdoa dengan tangannya begini,” dan ia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya(16).”
Inilah. Jika telah tetap bahwa pada asalnya dalam adab berdoa dan sebab dikabulkannya adalah menengadahkan kedua tangan secara mutlak. Hanya saja dikecualikan darinya doa tertentu (muqoyyad) dalam ibadah yang sifatnya dinukil tidak adanya pengangkatan kedua tangan dengan penukilan yang valid, maka jadilah –ketika itu- dikecualikan dari hukum asal di atas dengan sunnah tarkiyyah (meninggalkan). Seperti mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam sholat atau dalam tasyahud akhir atau ketika khutbah di hari Jumat dan selainnya dari ibadah-ibadah yang tidak ada pengangkatan kedua tangan.
Dan ilmu ada di sisi Allah Ta’ala. Dan doa akhir kami adalah segala puji hanya milik Allah, Robb semesta alam. Semoga Allah bersholawat dan bersalam kepada Muhammad, keluarganya, para Shahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan.
Jaza-ir, 28 Dzul Hijjah 1432 H
Bertepatan 26 Oktober 2011 M
Penerjemah: Firman Hidayat bin Marwadi
Artikel: http://www.almarwadi.wordpress.com

Footnote______________________
[1] Diriwayatkan Al Bukhori dalam Al Jumu’ah, bab Rof’ul Imam Yadah fil Istisqo (no. 1031) dan Muslim dalam Sholatul Istisqo (no. 895), dari hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu.
[2] Syarh An Nawawi ‘ala Shohih Muslim (VI/190).
[3] Tadribur Rowi, karya As Suyuthi (II/162).
[4] Diriwayatkan Abu Dawud dalam Ash Sholah bab Ad Du’a (1488) dan At Tirmidzi dalam Ad Da’awat (3556), dari hadits Salman rodhiyallohu ‘anhu. Dinilai shohih oleh Al Albani dalam Shohih Abu Dawud (1337).
[5] Dikeluarkan Muslim dalam Az Zakah (1015), dari hadits Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu.
[6] Diriwayatkan Ath Thobroni dalam Al Ausath (VII/195), dari hadits Abu Mas’ud Al Badri rodhiyallohu ‘anhu. Dinilai hasan oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (IX/96).
[7] Diriwayatkan Al Bukhori dalam Al Maghozi, bab Ba’ts An Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam Kholid bin Al Walid ila Bani Jadzimah (4339), dari hadits ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma.
[8] Diriwayatkan Muslim dalam Al Jihad wa As Sair (1780), dari hadits Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu.
[9] Diriwayatkan Muslim dalam Al Kusuf (913), dari hadits ‘Abdurrohman bin Samuroh rodhiyallohu ‘anhu.
[10] Diriwaytakan Muslim dalam Al Janaiz (974), dari hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha.
[11]  Diriwayatkan Ahmad dalam Musnad-nya (36/146) dan An Nasa’i dalam Manasikul Hajj rof’ul yadain fid du’a bi Arafah (3011), dari hadits Usamah bin Zaid rodhiyallohu ‘anhu. Dinilai hasan oleh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam tahqiq-nya terhadap Jami’ul Ushul (III/272).
[12] Ditakhrij Ahmad dalam Musnad-nya (XIX/394), dari hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu. Hadits tersebut dinilai jayyid oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrij Al Ihya (I/130). Lihat Al Irwa’ (II/163) dan As Silsilah Adh Dho’ifah (VI/60), keduanya karya Al Albani.
[13] Telah lewalat takhrij-nya.
[14] Diriwayatkan Al Bukhori dalam Al Hibbah wa Fadhluha wat Tahridh ‘Alaiha, bab Lam Yuqbal Al Hadiyyah li ‘Illah (2597) dan Muslim dalam Al Imaroh (1832), dari hadits Abu Humaid As Sa’idi rodhiyallohu ‘anhu.
[15] (I/153).
[16] Ditakhrij Muslim dalam Al Jumu’ah (874).

Sumber : http://www.ferkous.com/site/rep/Bq144.php

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

2 thoughts on “Kapankah Dibolehkannya Menengadahkan Tangan Ketika Berdoa?

  1. Ijin copi gambarnya ya ustadz

    Posted by Saadisugih | 20/04/2013, 3:47 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: