//
you're reading...
Tafsir & Ilmunya

Sekelumit Tentang Ilmu Tajwid

بسم الله الرحمن الرحيم

            Ifadatul Mustafid min Ahkam At-Tajwid

  1. 1.     Mabadi’ ‘Asyrah[1] dalam Ilmu Tajwid

Ash-Shabban[2] berkata:

إن مبــــــــادئ كل علم عشـــره * الحد و الموضـــــوع ثم الثمــــرة

و نسبة و فضله و الواضــــــــع * و الاسم و الاستمـداد حكم الشارع

مسائل و البعض بالبعض اكتفى * و من درى الجمـــــيع حاز الشرفا

Sebagian ulama menambahkan satu lagi, yaitu kemuliannya.

Oleh karena itu, inilah mabadi’ ‘asyrah untuk ilmu tajwid:

  1. Hadd (batasan-batasan) ilmu tajwid
  • Ø Secara etimoligi, tajwid berasal dari جوّد- تجويدا. Isimnya adalah الجودة, yaitu lawan dari الرداءة. Tajwid adalah tahsin (membaguskan). Seseorang dikatakan جوّد الرجل الشيء apabila seseorang melakukan hal yang baik dan ucapannya sesuai dengan perbuatannya.
  • Mnurut terminology, tajwid adalah mengeluarkan huruf dari setiap tempat keluarnya dengan memberikan hak dan mustahaknya.
  1. Maudhu’ (bahasannya) ilmu tajwid
  • Kata-kata Al-Quran ditinjau dari segi penunaian hak dan mustahaknya tanpa takalluf (mempersulit diri) dan ta’assuf (menyimpang dan semau sendiri).
  • Kata-kata hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut suatu pendapat. Al-Badiri –rahimahullah– berkata dalam akhir syarahnya terhadap Al-Manzhumah Al-Baiquniyyah, “Adapun membaca hadits dengan tajwid sebagaimana tajwidnya Al-quran maka dianjurkan. Sebab, sejatinya tajwid termasuk keindahan ucapan, bahasa orang ‘Arab, dan kefashihan dalam berbicara. Seluruh arti ini terhimpun pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, siapa yang berkata dengan hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya ia memperhatikan apa yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi –rahimahullah– berkata, “Dan tidak samar lagi bahwa tajwid termasuk tuntutan bahasa ‘Arab karena termasuk dzat sifat. Sebab, orang ‘Arab tidak berucap kecuali bertajwid. Maka barangsiapa yang berucap dengannya tanpa bertajwid, seakan-akan ia tidak berucap dengannya. Sebenarnya ia termasuk keindahan perkataan bahkan bagian dari dzatnya. Jadi, ia termasuk tabiat bahasa. Oleh sebab itu siapa yang meninggalkannya, maka ia telah terjerumus ke dalam perbuatan lahn jail. Karena orang ‘Arab tidak mengetahui perkataan kecuali secara bertajwid.”[3]

  1. Buahnya.
  • Menjaga lisan agar tidak salah ketika membaca Al-Quran & hadits.
  1. Keutamannya.
  • Termasuk ilmu yang paling mulia dan utama karena keterkaitannya dengan firman Allah Ta’ala.
  1. Kedudukannya di antara ilmu-ilmu syariat lainnya.
  • Ilmu tajwid termasuk dalam kategori ilmu-ilmu syariat yang berhubungan dengan Al-Quran Al-Karim.
  1. Peletaknya.
  • Adapun peletaknya dari segi ilmunya adalah baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana Al-Quran diturunkan kepadanya melalui perantara Jibril ‘alaihissalam.
  • Adapun peletaknya dari segi kaidah dan permasalahannya, maka terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan Abu Al-Aswad Ad-Du’ali. Ada yang berpendapat Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam. Dan ada pula yang berkata Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi.
  1. Namanya.
  • Namanya adalah ilmu tajwid.
  1. Sumbernya.
  • Adapun sumbernya adalah dari kaifiyat bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dari kaifiyat bacaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum setelahnya dan tabi’in serta imam-imam ahli qiraat sampai kepada kita yang bersambung secara mutawatir.
  1. Hukum ilmu tajwid.
  • Hukum perakteknya adalah wajib ‘aini atas setiap muslim.

Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang ayat:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil.”[4]

Maka beliau pun menjawab:

الترتيل: تجود الحروف و معرفة الوقوف

“Tartil adalah memperbagus huruf (bacaan) dan mengetahui waqaf.”[5]

  • Adapun mempelajarinya secara teori, maka hukumnya adalah fardhu kifayah.
  1.  Masailnya.
  • Masailnya adalah kaidah-kaidahnya.
  1. 2.     Dasar-dasar tahsin.     

v Memperbaiki kesalahan-kesalahan umum yang kerap terjadi pada orang yang membaca Al-Quran

2.1.            Kesalahan pada pengucapan mad ashli yang biasanya dibaca lebih dari kadar panjangnya.

Solusinya adalah setiap kali menemui huruf mad, maka suara harus diayunkan.

Tidak boleh membaca mad terlalu penjang melebihi 2 harakat kecuali setelah huruf mad ditemui 3 huruf, yaitu:

  1. ء. Contoh: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
  2. ـْ. Contoh: ءالأن
  3. ـّ. Contoh: وَلَا الضَّالِّينَ

2.2.            Kesalahan saat mengucapkan ghunnah yang bisanaya tergesa-gesa untuk menahan sejenak (dua harakat).

Solusinya adalah tahanlah nafas Anda saat menjumpai huruf-huruf ghunnah, yaitu:

  1. نّ (nun musyaddadah)
  2. مّ (mim musyaddadah)
  3. نْ (nun sukun)
  4. ــٍـــــًـــــٌــ (tanwin)
  5. مْ (mim sukun) bertemu ب (ba’)

2.3.            Kesalahan pada saat pengucapan huruf fat-hah (vocal A).

Solusinya adalah membuka rongga mulut secara sempurna.

2.4.         Kesalahan saat mengucapkan huruf sukun yang biasanya sering terdengar pantulan atau qalqalah padahal bukan pada huruf-huruf qalqalah yang lima, yaitu: (ق، ط، د، ج، ب).

  1. 3.     Pengucapan huruf  hijaiyyah

3.1.            ء: makhraj tenggorokan yang terjauh.

Kesalahan yang sering terjadi adalah tatkala huruf hamzah bertemu dengan huruf ‘ain. Contoh: أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ.

3.2.            ب: makhrajnya merapatkan kedua bibir. Ketika sukun terdengar ada pantulan atau qalqalah.

Kesalahan yang sering terjadi adalah kelupaan memantulkannya karena ia termasuk huruf qalqalah.

3.3.            ت: makhraj menyentuhkan ujung lidah dengan gusi gigi seri bagian atas. Ketika diucapkan akan terdengar nafas yang mengalir (hams).

Kesalahan yang kerap terjadi biasanya ketika mengucapkannya posisi lidah diapit oleh kedua gigi bagian depan dan nafasnya tidak mengalir.

3.4.            ث: makhrajnya dengan menyentuhkan ujung lidah dengan dinding-dinding gigi seri bagian atas disertai desisan suara & nafas yang mengalir.

Kesalahan yang kerap terjadi adalah hanya mengalirkan nafas tanpa suara dan mengeluarkan lidah terlampau panjang.

3.5.            ج: makhrajnya dengan menyentuhkan tengah-tengah lidah dengan dengan langit-langit.

Kesalahan yang kerap terjadi adalah mengalirnya nafas ketika mengucapkannya. Karena sifatnya adalah jahr yang berarti nafas tidak boleh keluar.

3.6.            ح: makhrajnya di keluarkan dari tengah-tengah tenggorokan.

Kesalahan yang sering terjadi adalah keterpengaruhannya dengan huruf ha’(ه).

3.7.            خ: makhrajnya dari pangkal tenggorokan dengan mengalirkan nafas (hams).

Kesalahan yang sering terjadi adalah ketika mengucapkannya tidak menebalkan suara padahal ia memiliki sifat isti’la’ dan setiap huruf yang bersifat isti’la diucapkan dengan menebalkan suara.

3.8.            د: makhrajnya dengan menyentuhkan ujung lidah dengan gusi dua gigi seri bagian atas.

Kesalahan yang sering terjadi adalah dengan menyentuhkan lidah dengan langit-langit dan melupakan sifat qalqalah yang dimiliki huruf dal.

3.9.            ذ: makhrajnya dengan menyentuhkan ujung lidah dengan dinding dua gigi seri bagian atas seperti pengucapan huruf tsa’. Ujung lidah boleh dinampakkan dan boleh juga tidak dinampakkan.

Kesalahan yang sering terjadi adalah suara yang sering tertahan ketika dalam keadaan sukun dan memantulkan suara padahal ia tidak termasuk huruf qalqalah.

3.10.        ر: makhrajnya dengan menyentuhkan punggung lidah dengan langit-langit.

3.11.        ز: makhrajnya ujung lidah berada di antara dua gigi bagian atas dan bawah dengan mengalirkan suara tanpa nafas karena ia bersifat jahr.

3.12.    س: makhrajnya ujung lidah berada di anatara dua gigi seri bagian atas persis dengan pengucapan huruf  tsa’.

3.13.    ش: makhrajnya dengan mengangkat tengah lidah ke langit-langit dan ia bersifat tafasysyi yaitu menyebarnya udara di dalam mulut.

3.14.        ص: makhrajnya ujung lidah berada di antara dua gigi seri dan ia bersifat shafir yaitu adanya suara tambahan yang menyerupai suara angsa.

3.15.        ض: makhrajnya dengan menyentuhkan sisi lidah dengan dengan sisi gigi graham bagian atas; boleh satu sisinya atau keduanya sekaligus. Sifat yang menonjol dari huruf ini adalah sifat istithalah yaitu suara terdengar memanjang dan lembut saat mengucapkannya.

Kesalahan yang sering terjadi adalah adalah mengucapkannya dengan diiringi pantulan sementara ia bukan termasuk huruf qalqalah.

3.16.        ط: makhrajnya ujung lidah disentuhkan dengan gusi gigi seri bagian atas. Sifat yang nampak pada huruf ini ketika diucapkan adalah sifat isti’la’ & ithbaq sehingga suara Nampak menebal.

Kesalahan yang sering terjadi adalah melupakan keqalqalahannya.

3.17.        ظ: makhrajnya ujung lidah dengan disentuhkan dengan dua gigi seri bagian atas sebagaimana pengucapan huruf dza’. Bedanya dengan huruf dza’ ialah zha’ memiliki sifat isti’la dan ithbaq yang tidak dimiliki huruf dza’ sehingga huruf dza’ terdengar lebih tipis dibangdingkan dengan huruf zha’.

3.18.        ع: makhrajnya dari tengah-tengah tenggorokan.

Kesalahan yang sering terjadi adalah saat mengucapkan suara keluar dari hidung (khaisyum), menyerupakannya dengan huruf hamzah, dan meng-nga-kannya sebagaimana nga-nya orang Jawa. Juga ketika dalam posisi sukun, suara tidak boleh mati.

3.19.        غ: makhrajnya dari pangkal tenggorokan sebagaimana ketika mengucapkan huruf kha’ hanya saja yang membedakan ialah mengalirkan nafas ketika mengucapkan huruf kha’ dan tidak pada saat pengucapan huruf gha’in. keduanya memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memiliki sifat isti’la yang berarti suara terdengar tebal.

3.20.        ف: makhrajnya dengan menyentuhkan dua gigi seri atas dengan bibir bawah bagian dalam. Sura dan anginnya keluar dengan lembut.

3.21.        ق: makhrajnya dengan menyentuhkan pangkal lidah dengan langit-langit bagian belakang dengan suara tebal.

3.22.        ك: makhrajnya mengangkat pangkal lidah  di depan posisi huruf qaf dengan mengalirkan nafas.

3.23.        ل: makhraj mengangkat ujung lidah, disentuhkan dengan langit-langit di depan pengucapan huruf ra’.

3.24.    م: makhrajnya dengan merapatkan kedua bibir.

3.25.        ن: makhrajnya menyentuhkan ujung lidah di antara posisi ra’ dan lam.

3.26.        هـ: makhrajnya dikeluarkan dari tenggorokan terjauh.

Kesalahan yang sering terjadi adalah mengucapkannya dari dada padahal dalam makharaijul huruf tidak pernah dikenal pengucapan huruf dari balik dada.

3.27.        و: makhrajnya dengan memonyongkan dua bibir.

3.28.        ي: makhrajnya dengan membuka kedua bibir dengan sempurna.

Refrensi:

  • Hidayah Al-Qari ila Tajwid Kalam Al-Bari, karya ‘Abdul Fattah bin Sayyid ‘Ajami Al-Marshafi Al-Mishri Asy-Syafi’i, terbitan Dar Thayyibah KSA cet. ke-3
  • At-Ta’shil fi Ushul At-Takhrij wa Qawa’id Al-Jarh wa At-Ta’dil, karya Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid, terbitan Dar Al-‘Ashamah KSA cet. pertama
  • Al-Mulakhkhash Al-Mufid fi ‘Ilm At-Tajwid, karya Abu Zakariya Muh. Ulin Nuha bin Muhtadi Al-Qudsi, tidak diterbitkan
  • Ilmu Tajwid, karya Achmad Toha Husein Al-Mujahid, terbitan Darussunnah Indonesia cet. ke-4
  • Qawa’id At-Tahdits min Funun Mushthalah Al-Hadits, karya Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, tahqiq Muhammad Bahjah Al-Baithar, taqdim Muhammad Rasyid Ridha, terbitan Daar An-Nafaes Beirut cet. kelima
  • Belajar Mudah Tahsin Al-Quran, bersama Abu Rabbani, Venusia Productions
  • Dan lain-lain.

Sleman, 24 Rabi’ Tsani 1434 H

Alfaqir ila maulah:

Firman Hidayat bin Marwadi

hafizhahullah wa ra’ah

 [Tulisan ini saya gunakan untuk mengajar di Kampus Tahfizh]


[1] Penjelasan tentang Mabadi’ ‘Asyrah dan buku-buku tentangnya:

  • Al-Azhar Ath-Thayyibah An-Nasyr ‘ala Al-Mabadi’ Al-‘Asyar, karya Muhammad Ath-Thalib bin Hamdun (wafat 1273 H), qadhi Marakisy.
  • Tahqiq Mabadi’ Al-‘Ulum Al-Ahad ‘Asyar, karya ‘Ali Rajab Ash-Shalihi.

Perlu diketahui bahwa banyak ulama –terutama kalangan mutaakhirin- yang memulai karya-karya mereka dengan mabadi’ ‘asyrah ini.

[2] Ash-Shabban: Abu Al-‘Irfan Muhammad bin ‘Ali Ash-Shabban . Wafat di Cairo pada 1606 H (Al-A’lam VI/297). Perkataan Ash-Shabban ini disebutkan oleh Muhammad bin Yusuf Al-Khayyath (wafat 1303 H) dalam kitabnya, La-ali Ath-Thill An-Nadiyyah syarh Al-Bakurah Al-Janiyyah fi ‘Amal Al-Jaibiyyah. Al-A’lam (VII/156).

[3] Priksa Qawa’id At-Tahdits min Funun Mushtalah Al-Hadits (hlm. 145-246), karya Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullah.

[4] QS Al-Muzammil: 4.

[5] Di antaranya lihat An-Nasyr fi Al-Qiraat Al-‘Asyar (I/209), karya Ibnul Jazari, Syarh Al-Muqaddimmah Al-Jazariyyah (hlm. 20), karya Al-Mulla ‘Ali bin Sulthan Al-Qari Al-Hanafi.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

4 thoughts on “Sekelumit Tentang Ilmu Tajwid

  1. akhi bagaimana dengan membaca hadis nabi? fungsi seperti idghom, ikhfa dll apa tetap berguna dan dipakai?

    Posted by amif whiteseito | 02/03/2014, 8:06 am
  2. Alhamdulillah,,, bertambah lagi ilmuku
    Terimakasih ilmunya,,,
    Semoga berkah dan manfaat,,. Aamiin

    Posted by Siswinarti | 08/09/2016, 10:13 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Sedikit Tentang Hadits | Setitik Cahaya di Rimba Raya Dunia Digital - 19/05/2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: