//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Ketatnya Madzhab Syafi’i

kitab-ilustrasi-_120227162757-931Sependek telaah yang saya lakukan terhadap kitab-kitab (meski tidak begitu banyak) fiqih bermadzhab syafi’i, saya –sementara ini- berkesimpulan bahwa madzhab syafi’i adalah madzhab yang cukup ketat, tidak sebagaimana madzhab-madzhab yang lainnya.
Penulis Nihayah Az-Zain fi Irsyad Al-Mubtadi’in syarh Qurrah Al-‘Ain bi Muhimmat Ad-Din (hlm. 10) berkata pada catatan kakinya, “Sebagian ulama mengatakan, ‘Madzhab Syafi’i lebih terpercaya, Madzhab Malik lebih luas, Madzhab Abu Hanifah lebih banyak, dan Madzhab Ahmad lebih wara.’”

Di antara hal yang menunjukkan ketatnya madzhab syafi’i adalah sebagai berikut:
Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani Asy-Syafi’i –rahimahullah– berkata dalam kitabnya, Mirqah Ash-Shu’ud At-Tashdiq fi Syarh Sulam At-Taufiq ila Mahabbatillah ‘ala At-Tahqiq (hlm. 53-54):

“Walhasil, bahwasannya takbiratul ihram mencakup (baca: mempunyai) 16 syarat dan 6 sunnah.
Syararnya adalah:
1. Mendatangkan seluruh hurufnya dalam keadaan berdiri saat diwajibkan berdiri. Maka apabila huruf terletak di selain berdiri, maka shalatnya tidak sah.
2. Memperdengarkannya pada dirinya.
3. Memakai lafazh jalalah (baca: Allah).
4. Memakai lafazh “Akbar”.
5. Menggunakan shigat “af’al” (untuk “Akbar”).
6. Dengan menggunakan bahasa Arab bagi yang mampu. Ibnu Hajar berkata, “Siapa yang tidak mampu mengucapkan takbir dengan bahasa Arab dan saat itu tidak memungkinkannya belajar, ia harus mengalihbahasakannya ke dalam bahasa apa pun dan dzikir lain (selain “Allahu Akbar”) tidak dapat menggantikannya.”
7. Mendahulukan lafazh jalalah (baca: Allah) atas lafazh “Akbar”.
8. Tidak memanjangkan hamzah pada lafazh jalalah.
9. Tidak memanjangkan “ba’” pada lafazh “Akbar”.
10. Tidak mentasydid “ba’” pada lafazh “Akbar”.
11. Tidak menambah huruf “wawu” sukun maupun berharakat di antara kedua lafazh tersebut.
12. Tidak memutuskan antara kedua dengan dhamir fashl. Jika ia berucap, “Allahu huwa Akbar,” maka shalatnya tidak sah.
13. Tidak waqaf (berhenti) panjang di antara kedua kata itu.
14. Masuk (Jawa: manjing) waktu shalat.
15. Meletakkan (melafazhkan) seluruh hurufnya usai menngerjakan kewajiban.
16. Mengakhirkan takbir saat bermakmum dari takbirnya imam.”

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/147292985438413]

http://www.almarwadi.wordpress.com

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: