//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Pembelaan Ibrahim Al-Kurani Atas Ibnu Taimiyyah

Ithaf al-DhakiSiapa yang tidak mengenal Al-‘Allamah Al-Muhaddits Burhanuddin Abu Thahir Ibrahim bin Hasan bin Syihabuddin Al-Kurani Asy-Syahrazuri (Asy-Syahrani) Asy-Syafi’i –rllahimahuah– (1023-1101 H). Beliau adalah seorang ulama kenamaan yang pandai dalam pelbagai disiplin ilmu syariat semacam hadits, tafsir, fiqih, dan seterusnya. Beliau juga merupakan ulama yang namanya tidak hanya harum di bumi Timur Tengah, akan tetapi namanya juga berkibar di bumi Timur Jauh (Nusantara/Melayu).

Dalam ‘Aun Al-Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud, Syaraful Haqq Al-‘Azhimabadi (1273-…) memilihnya sebagai mujaddid (pembaharu) Islam abad ke-11/17. Al-Muradi dalam Silk Ad-Durar menyebutnya sebagai, “Sebuah gunung di antara pegunungan ilmu dan sebuah laut di antara lautan ‘irfan (pengetahuan).”

Sejarah menjacatat bahwa ada sejumlah ulama Jawa (Nusantara) yang nyantri padanya saat ia tinggal di Makkah Al-Mukarramah. Murid-muridnya yang dari Jawa itu pun banyak berkonsultasi tentang permasalahan keagamaan yang terjadi di negeri mereka. Atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada beliau oleh santri-santrinya yang berbangsa Jawa itu, beliau menyambutnya dengan penyambutan yang hangat dan dijawablah persoalan-persoalan itu dalam bentuk kitab yang bertajik “Jawab Sualat min Baladah Sahil Ash-Shin Jawah”. Di antara muridnya yang berbangsa Melayu adalah Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Fanshuri Al-Jawi, penulis tafsir pertama di Nusantara Turjuman Al-Mustafid fi Tafsir Al-Quran Al-Majid.

Namun tahukah Anda, apakah aqidah dan manhaj beliau? Selama ini banyak orang yang berkesimpulan bahwa beliau bermadzhab Asy’ari-Shufi, sebagaimana yang dilakukan Azyumardi Azra dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah” secara paksa. Namun saya mendapati bahwa beliau memiliki sebuah kitab ‘aqidah yang jika dilihat dari judulnya dapat diasumsikan beliau bermadzhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Kitab itu berjudul “Ittihaf Al-Khalaf fi Tahqiq Madzhab As-Salaf”. Meski saya tidak bisa memastikan secara pasti, namun tentu saja permasalahan ini memurlukan penelitian yang lebih mendalam lagi agar permasalahannya menjadi jelas dan gamblang.
Berikut pembaca akan saya ajak menyimak bagaimana pembelaan beliau terhadap manhaj Salaf dan pengembannya.

Berkata Al-‘Allamah Ibrahim Al-Kurani –rahimahullah– dalam hasyiyahnya yang bertajuk “Mujalla Al-Ma’ani ‘ala Syarh ‘Aqaid Ad-Dawani”, “Ibnu Taimiyyah tidak berpendapat tajsim. Sungguh beliau telah menegaskan dalam sebuah risalah yang membahas tentang hadits turunnya Allah ke langit bumi, bahwa Allah Ta’ala itu bukanlah jisim. Di sebuah risalah lain, beliau mengatakan, “Siapa yang berpendapat bahwa Allah Ta’ala itu seperti tubuhnya manusia atau Allah Ta’ala menyerupai suatu makhluk, maka ia telah berdusta atas nama Allah Subhanah.”

Selanjutnya Al-‘Allamah Al-Kurani berkata, “Bahkan beliau berada di atas madzhab Salaf, yaitu mengimani (nash-nash) yang mutasyabihat disertai pensucian, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apa pun.”

Al-Alusi dalam Jala’ Al-‘Ainain menukil pernyataan Ibrahim Al-Kurani dalam kitabnya, “Ifadhah Al-‘Allam”, di saat beliau membawakan perkataan Ibnu Hajar terhadap Syaikhain (Ibnu Taimiyyah & Ibnul Qayyim) dan beliau (Al-Kurani) pun mengkritiknya, “Adapun menetapkan jihat (arah) dan jisim yang dinisbatkan kepada keduanya (Ibnu Taimiyyah & Ibnul Qayyim), maka perkaranya sudah jelas, bahwa keduanya tidak menetapkan jisim sama sekali. Bahkan keduanya menegaskan penafiannya di tidak hanya pada satu tempat dalam karangan-karangan keduanya. Keduanya juga tidak menetapkan jihat dengan sisi yang menjerumuskan kepada larangan. Akan tetapi keduanya menetapkan firman Allah, “Kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arsy,” secara lahirnya yang sesuai dengan kemulian Dzat Allah Ta’ala, bukan secara lahir yang termasuk sifat-sifat makhluk yang membawa pemikiran tajsim…

Kesesuaian yang dinampakkan Ibnu Taimiyyah adalah kesesuaian yang benar, tidak mengharuskan tajsim, tidak berpendapat seperti itu (baca: tajsim) sebagaimana yang disangka Ibnu Hajar (Al-Haitami). Bahkan berada di atas kejelasan yang benar pada kenyataannya diiringi penyucian dengan, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu pun.”

Pernyataan Ibnu Taimiyyah secara umum dan khusus menunjukkan bahwa Allah Yang Mahabenar nampak dengan bentuk apapun sebagaimana yang Dia kehendaki diiringi pensucian bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu pun dalam setiap keadaan, sampai pun penampakan-Nya pada kenyataan. Inilah puncak keimanan dan juga keilmuan.” (Ara’ Ibnu Hajar Al-Haitami Al-I’tiqadiyyah hlm. 87, karya Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syayi’).
Allahua’lam. []

Kampus Al-Hadi Sleman Yogyakarta, 05 Jumadal Ula 1433/17 Maret 2013

[http://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/147657942068584]

almarwadi.wordpress.com


About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: