//
you're reading...
Tafsir & Ilmunya

Baju Taqwa yang Sesungguhnya

TaqwaDi negeri kita terkenal dengan istilah baju taqwa, yaitu pakaian yang biasa dikenakan saat menunaikan ibadah shalat dan semacamnya. Sementara itu di dalam Al-Quran juga terdapat istilah baju taqwa, yaitu firman Allah Ta’ala:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.[QS Al-A’raf: 26]

Pertanyaannya adalah, apakah yang dimaksud dengan baju taqwa di sini? Apakah seperti yang ada pada benak kita masing-masing? Ayaukah ada pentafsiran yang lainnya?

Sebelum kita menbahas lebih jauh permasalahan ini, selayaknya kita mengingat sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Siapa yang berbicara tentang Al-Quran berdasarkan akalnya –atau dalam riwayat lain, tanpa berdasarkan ilmi-, hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [HR At-Tirmidzi]

Baiklah, kita dengarkan penjelasan Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Khathib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i (wafat 977 H) dalam tafsirnya yang bertajuk “At-Tafsir Al-Munir fi Al-I’anah ‘ala Ma’rifati Ba’dhi Ma’ani Kalami Rabbina Al-Hakim Al-Khabir” (I/542-543):

“{Dan baju taqwa}, Ibnu ‘Abbas menjelaskan, ‘Ia adalah amal shalih.’ Selanjutnya Allah menambahkan untuk mengagungkan makna dengan firman-Nya {Yang demikian itu lebih baik}, yaitu baju taqwa itu lebih baik daripada baju pakaian. Karena ia meruapak satu dari dua pakaian yang terbaik. Sebab, melepaskannya berarti akan menyingkap aurat kongrit dan abstrak. Sekiranya ada orang yang berhias dengan pakaian yang paling bagus sementara ia tidak bertaqwa, maka semuanya dipandang sebagai aurat (baca: auratnya tetap terlihat).

Dan sekiranya ada orang yang tidak memiliki pakaian kecuali sepotong pakaian yang hanya cukup menutupi auratnya, tentu ia dalam keadaan sangat indah dan sempurna.

Mereka (yang menafsirkan semacam ini) bersyair:

إذا أنت لم تلبس ثيابا من التقى *** عريت و إن وارى القميص قميص

“Sekiranya engkau tidak mengenakan baju dari ketaqwaan, tentu kamu tetap telanjang meski pakaian ditutupi pakaian lain.”

 

Qatadah berkata, ‘Baju taqwa adalah iman.’

Al-Hasan Al-Bashri –radhiyallahu ‘anhu–  berkata, ‘Ia adalah rasa malu. Sebab ia akan mendorong menuju ketaqwaan.’

‘Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu– menjelaskan, ‘Ia adalah prilaku yang baik.’

Ibu Az-Zubair –radhiyallahu ‘anhu– berkata, ‘Ia adalah khasy-yah kepada Allah.’

Dan amal shalih mencakup seluruh perkara ini.”

Jadi manakah yang lebih Anda prioritaskan? Apakah menyibukkan diri dengan berhias denga berbagai perhiasan agar diri Anda menjadi Nampak indah dan melupakan prilaku? Ataukah sebaliknya?

almarwadi.wordpress.com

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: