//
you're reading...
Sejarah Islam

Perang Sabil di Ranah Minang

Minang

Persetruan antara hak dan bathil, sunnah dan bid’ah, yang beriman dan kufur akan senantiasa terus berlangsung sampai Allah menentukan kehendak-Nya. Peristiwa perseturuan keduanya di masa dulu ada kalanya menjadi pelajaran penting bagi umat ini untuk menjadi landasan beramal atas apa yang yang seharusnya kita lakukan, agar kita tetap istiqamah dalam berpijak pada kebenaran. Dari peristiwa terdahulu pun kita semakin tahu musuh-musuh semacam apa yang senantiasa menghalangi kebenaran dan terus memeranginya yang seakan kebenaran itu harus dimusnahkan dari muka bumi ini.

Negeri ini sarat dengan pelajaran penting bagi para penegak dakwah sunnah yang berada di atas pemahaman salaful ummah. Ternyata pendahulu umat negeri tercinta ini memiliki semangat yang begitu besar dalam menyebarkan dakwah salafiyyah, meskipun harus mengorbankan harta dan jiwa raga mereka melawan musuh-musuh dakwah dari kalnagan ahli bid’ah, ahli maksiat, dan penjahat-penjahat agama lainnya. Tidak sekedar itu, kelak keutamaan mereka dalam memperjuangkan dakwah mulia ini diupayakan secara sistematis untuk memiliki kesan butuk di mata generasi mendatang dengan sebutan alirang keras, pemberontak, perusak adat dan gelaran-gelaran buruk lainnya yang diharapkan tidak ada lagi generasi yang berpaling, mempelajari dan mengikuti jejak mereka.alih-alih mengikuti, untuk melakukan pembelaan atas prinsip-prinsip kebenaran yang mereka bawa pun keberanian itu tidak nampak. Agar tidak dianggap sebagai generasi yang melupakan sejarah itu sebagai pahlawan bangsa dan penentang para penjajah.

Itulah kaum Paderi –diambil dari kata Pedir, sebuah pelabuhan di Sumatera Timur yang biasa digunakan masyarakat Minang berangkat ke Tanah Suci- di Minangkabau dulu. Langkah-langkah mereka menancapkan dakwah sunnah di sana telah menyadarkan kita bahwa yang kita lakukan saat ini ternyata belum seberapa dibandingkan langkah-langkah panjang mereka. Perjuangannya mengusng dakwah mulia ini seharusnya menjadi pemantik bagi kita bahwa dengan keterbatasan sarana, transportasi, teknologi dan kebesahajaan ternyata menjadikan dakwah mereka mampu menciutkan nyali musuh-musuh agama dan masyarakat. Betapa tidak, Paderi adalah perang terlama dan sangat melelahkan dalam sejarah kolonial Belanda. Hampir 35 tahun penjajah Kristen ini baru bisa mengalahkan para pemuka kaum Paderi. Belajar dari kenyataan itu, para penjajah dan antek-anteknya hingga saat ini sedapat mungkin mata rantai yang menghubungkan antara generasi Paderi dengan sesudahnya dalam memahami esensi perang Paderi harus diputuskan. Oleh karenanya kita bisa melihat helihat hampir semua refrensi dan rujukan sejarah peristiwa besar di ranah Miang yang menggambarkan situasi saat dakwah sunnah menyebar, umumnya memuat afsiran sejarah subjektifitas kolonial. Selain semua rujukan berkiblat kepada penulis dan peneliti barat (baca: Hindia Belanda), seperti Boelhower, De Stuers, De Lange untuk menyebutkan sebagian kecilnya saja, setting pun senantiasa diarahkan agar peristiwa heroik itu sebuah perlawanan rakyat atas penjajah semata. Satu hal yang paling ditabukan adalah bangkitnya kaum Paderi itu karena alasan –sebagaimana perinsip kaum Paderi saat itu- perang membela gamanya. Inilah yang dilupakan oleh generasi kita saat ini. Inilah mata rantai yang diputus akibat dikaburkan secara sistematis oleh musuh-musuh Islam yang kemudian diikuti penulis likal semacam Datok Majo Lelo dan Ahmad Marzuki, Muhammad Rajab, dan terakhir ditulis MD Mansur dkk. (Syafnir Aboe Nain: 1993)

Awal dari kebangkitan dakwah sunnah di ranah Miang tidak terlepas dari tradisi kuat sebahagiaan urung awak dalam mencari ilmu. Kesuburan tanahnya dan ketekunan masyarakatnya mengakibatkan hasil bumi mereka mampu mensejahterakan kehidupan mereka. Dari rejeki itulah banyak putra-putra Mianng yang pergi melaksanakn ibadah ke tanah suci Makkah serta belajar ilmu agama di sana. Adapun ekses negatifnya adalah munculnya budaya hedonis dan hidup berfoya-foya yang dilakukan oleh pemuka adat dan pengikutnya sehingga kemaksiatanpun seperti minum khamr, zina, judi, menyabung ayam tumbuh pula dengan suburnya. Ketika sekitar tahun 1803 para thalabul ‘ilmi itu pulang dari belajar kepada masyayikh seperti Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhabrahmatullah ‘alaih– (1703-1792) dan ulama-ulama Ahlus Sunnah lainnya, cahaya Islam pun mulai menerangi kegelapan bumi Miangkabau. Tak dapat dipungkiri pula bahwa gerakan-gerakan pembaharuan telah menggejala di sana, tapi setelah kembalinya Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang gelora dakwah semakin menjadi-jadi. Hal ini bisa terjadi karena sikap dakwah mereka yang begitu memegang prinsip-prinsip yan utuh terhadap pemuka-pemuka agama dari kalngan tradisionalis yang mengabaikan kemaksiatan merajalela dengan dalih harus mengerti perasaan orang lain dan menghindari terpecahnya sendi-sendi persatuan masyarakat. Dan kelak akan terlihat pemeluk Islam tradisional dan pelaku maksiat inilah yang paling keras penentanannya dalam membendung dakwah sunnah yang dilakukan oleh para penuntt ilmu yang baru pulang belajar di Makkah.

Berbeda dengan para pemuka agama tradisional yang mengkeramatkan kuburan-kuburan orang shalih serta memuja arwah-arwah mereka, berdoa dan meminta kepada mereka serta meneruskan ajaran Hindu-Budha seperti melakukan upacara kematian berhari-hari sebagai warisan dari kerajaan Hindu-Budha Pagaruyung masa kepemimpinan raja Aditiawarman dulu, kaum Paderi bertolakbelakang dengan sikap mereka. Prinsip akidah shahihah adalah pengharaman terhadap segala bentuk penyembahan selain Allah. Inilah prinsip yang dibawa para rasul hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diteruskan oleh pengikutnya. Sikap ini didukung oleh para pemuka agama yang memiliki cara berpikir jernih dan muak terhadap kemaksiatan. Maka ketika dakwah sunnah memaklumatkan seperti pengharaman penyembahan terhadap kuburan, melaran laki-laki dan wanita mandi bersama di sungai, mengharamkan minuman keras, rokok dan menginang, melarang berjudi dan menyabung ayam, menganjurkan wanita menutup wajahnya, tidak menurunkan pakaian laki-laki di bawah mata kaki dan anjuran-anjuran agama lainnya, maka dukungan pemuka agama itupun mengalir seperti dari Tuanku Nan Renceh dari Kamang, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Ladang Laweh di Banuhampu, Tuanku Galung di Sungai Puar, Tuanku di Kota Halaban, Tuanku di Lubuk Aur Candung, Tuanku Mansiangan Nan Mudo di Mansiangan. Mereka adalah as-sabiqunal awwalun di Minangkabau yang membuat tidak nyenyak tidurnya ahlul bid’ah dan ahlul maksiat. Keresahan kelak akan semakin menjadi-jadi setelah generasi lapis kedua yang dimotori oleh Muhammad Syahab bin Chatib Bayanuddin atau yang lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol, memimpin gerakan pemberangusan terhadap ahli dan pelaku bid’ah serta perlawanan terhadap the big bos mereka yakni penjajah salibis dengan cara-cara yang lebih rapi, terorganisir dan terencana.

Tuanku Imam melakukan semuanya itu karena ia lahir di lingkungan yang cinta terhadap ilmu dan jihad. Didikan para ulama dari satu suaru ke surau lainnya, membuat Muhammad Syahab kecil yang telah ditinggal selamanya oleh sang ayah tatkala ia berumur tujuh tahun menjadikan dirinya matang dalam pengetahuan agama. Sehingga pantas pada usia 25 tahun dia mencapai tingkatan tinggi dalam tradisi thalabul ‘ilmi di ranah Minang dengan gelar Peto. Sejak itu pula ia bergelar Peto Syarif, yang mendapat rekomendasi dari gurunya untuk mengajar dan berfatwa.

Demikian Allah berkehendak babak baru memperjuangkan dakwah sunnah di negeri ini lahir dari mereka yang senantiasa gelisah terhadap kemungkaran yang dilakukan para penipu agama dan ahli maksiat. Hadangan terbesar dari musuh abadi ini yang ki setan yang berbentuk jin dan manusia terus berusaha dengan segala macam cara agar dakwah ini berhenti dari lajunya, baik cara yang halus seperti melalui pengaruh Tuanku Kota Tuo, Pengawal Thariqat Syattariyah yang memiliki banyak pengikutnya ataupun dengan cara-cara yang kasar seperti yang dilakukan para preman kampung atas suruhan penghulu (pembesar negeri) yang kesukaannya kepada kemaksiatan mulai terusik. Labih dari itu ketika pertikaian memuncak di antara mereka, ahli bid’ah dan pelaku maksiat ini bahu-membahu menggadaikan bangsanya kepada kolonial Belanda agar apa yang selama ini mereka kerjakan terjamin kelangsungannya. Lihatlah proses penjualan bangsa yang mereka lakukan  pada tanggal 10 Pebuari 1821 dengan perjanjian jual beli yang sangat mengerikan, seperti yang tertera dalam pasal 1 dan 2 Kontrak Penyerahan Kerajaan Minangkabau kepada Belanda:

“Penghulu-penhulu tersebutdenga ini menyerahkan secara resmi dan sebulat-bulatnya negeri-negeri Pagaruyung, Sungai Tarub dan Surauso serta negeri-negeri lainnya di dalam kerajaan Minangkabau kepada pemerintah Hindia Timur, Penghulu-penghulu di atas dengan khidmat berjanji baik untuk sendiri maupun semua anak buah dan anak-cucunya, akan menurutkan semua perinatah kecuali dari Gubernamen dengan cepat, dengan tiada kecualinya dan tidak akan pernah menyanggahnya.”

Innalillah!

Lantas apa yang mereka dapatkan dari proses jual beli bangsa ini? Ayat 5  pada perjanjian yang ditandatangani wakol Belanda saat itu James de Puy memuat harga yang mereka kehendaki:

“Kebiasaan dan adat lama di negeri dan berhubungan antara penghulu-penghulu dengan anak buahnya seperti yang ada sekarang akan tetap dipelihara dan sekali-kali tidak akan dilanggar…”

Setelah terjadinya kontrak jual beli bangsa ini maka perang dahsyat pun berkecamuk di ranah Minang. Perang yang esensinya tidak pernah diungkap dalam buku-buku sejarah negeri ini sebagai bagian dari perang mempertahankan akidah dan keyakinan yang dijual oleh musuh agama dan musuh masyarakat dari kalangan ahli bid’ah dan ahli maksiat. Perang antara ahlul haq dan ahlul bathil yang memakan korban ribuan dalam rentang waktu yang cukup lama dan melelahkan.

Pada awal-awal pertempuran Belanda mengalami kesulitan besar untuk menundukkan kaum Paderi. Kendati diperlengkapi dengan persenjataan anggih pada masa itu seperti meriam, senapan dan batu-batu api, Belanda mengalami kesulitan untuk menguasai daerah-daerah yang telah dijadikan basis kekuatan para mujahidin. Semangat jihad mempertahankan kekuatan tersendiri bagi kaum Paderi. Demikianlah, Allah memberikan kekuatan kepada hamba-haba-Nya yang membela kehormatan agama-Nya dengan kemenangan-kemenangan serta menjadikan musuh-musuh-Nya ciut dan berputus asa.

Untuk menguasai Bonjol saja kolonaial Belanda membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun, itu pun dilakukan setelah belasan tahun Belanda menyisir dan menguasai daerah-daerah keci di sekitar Bonjol sebagai strategi memutus jalur logistik.

Sungguh pun begitu, keadaan yang berlangsung cukup lama itu, harus diakhiri dengan sebuah kenyataan pahit. Seiring dengan luasnya wilayah yang dikuasai oleh kaum Paderi yang mengakibatkan kontrol atas wilayah itu tidak efektf dan kemaksiatan yang banyak dilakukan oleh kaum kaum Paderi itu sendiri akibat berbondong-bondongnya para oportunis dan munafiqin yang berjejer di barisan kaum Paderi untuk mendapatkan harta dan kedudukan, atau sekedar untuk menuntaskan dendam mereka karena pernah dihina dan direndahkan para penghulu nagari. Akibatnya, pertolongan Allah pun terhalangi. Demikian yang pernah diungkapkan oleh Shahabiyyul Jalil, Abu Hafshah (yang benar Abu Hafsh) Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Kemenangan yang kalian raih bukan semata-mata kehebatan kalian, melainkan karena kedurhakaan musuh kalian kepada Allah. Jika kedurhakaan itu kalian lakukan, maka tak ada lagi pertolongan Allah atas kalian.” Demikianlah peringatan beliau atau ucpan yang semakna dengan itu. Belum lagi pembusukan dari dalam yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang sengaja ditampilkan untuk memecah kekuatan Muslimin. Tuanku Nan Tuo misalkan, meminta para mujahidin segera kembali ke Bonjol dan Rao tatkala mereka behasil menghancurkan kekuatan kuffar dan munafiqin. Alasan Tuanku dari Kota Tuo ini sama seperti yang sering kita dengar sekarang: mencegak permusuhan yang lebih besar dan hendaknya berdakwah itu dengan penuh kelembutan.

Akhirnya, Belanda dibantu antek-anteknya mulai menguasai satu demi satu wilayah Minangkabau yang semula dikuasai kaum Paderi. Pada 25 November 1837 Belanda dapat menguasai Bonjol serta memaksa Tuanku Imam menekan perjanjian untuk tidak lagi melakukan perlawanan kepada kolonial. Tuanku Imam kemudian dibuang ke Cianjur. Bebrapa bulan kemudian beliau dipenjarakan di Ambon. Setelah sekian lama di sana, beliau dipindahkan ke Manado. Sampai akhir hayatnya beliau di kota tersebut.

Akhir yang menyakitkan memang. Tapi demikianlah kehendak Allah agar kita mengambil pelajaran penting atas peristiwa itu. Ternyata, kita memiliki pendahulu yang demikian gigih, gagah dan membanggakan dalam mengusung dakwah ini. Kita pun akhirnya mengetahui bahwa ahli bid’ah dan ahli maksiat itu rela menjual apa saja yang mereka miliki termasuk harag diri dan kehormatan bangsa dan agamanya demi terpenuhinya hawa nafsu mereka. Oleh karenanya, saling mengasihi dan kerjasama dengan mereka adalah sesuatu yang tidak patut dilakukan dengan dalih dan alasan apa pun. Demikian halnya dengan stereotif Wahabi yang sengaja untuk tidak dipisahkan dari perjuangan kaum Paderi, seakan itu adalah beban berat dipundak penerus dakwah mereka. Oleh karenanya, harus kita yakini itu adalah bagian dari konspirasi salibis dan penganut Islam Tradisional yang selalu trauma dengan kebangkitan dakwah ini.

Jika di masa sekarang negeri ini sedang diharu-biru karena munculnya penguasa dari kalangan tradisionalis, kita tidak merasa aneh lagi jika kehormatan agama dan bangsa dijualbelikan untuk kepentingan hawa nafsunya, lagi pula belajar dari masa lalu, insya Allah kita sudah tahu apa yang seharusnya kita lakukan saat ini.

Wallahu a’lam.

Daftar pustaka:

  • Tuanku Imam Bonjol; Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau 1784-1822, Syafnir Aboe Nain, cet. Ketiga, penerbit Esa Padang, 1993.
  • Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1838), Muhammad Radjab, Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P dan K, 1954
  • Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Siradjuddin Abbas
  • 40 Masalah Agama, Siradjuddin Abbas.

 

Sumber: tulisan Al-Ustadz Abu Zaky bin Muchtar Al-Atsari dalam Majalah Salafy, edisi 38/1422 H/2001 M

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: