//
you're reading...
Tazkiyatun Nufus

Dosakah Jatuh Cinta?

jatuh-cinta
Dalam kitab Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin (hlm. 95), Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah –rahmatullah ‘alaih– menyebutkan perbedaan apakah mabuk rindu adalah sesuatu yang idhthirari (di luar batasan pilihan manusia):

“Mereka (orang yang berpendapat mabuk rindu adalah perkata idhtirari) beragumen, ‘Dan banyak ulama Salaf yang telah mentafsirkan firman Allah Ta’ala:
رَبّ…َنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.” [QS Al-Baqarah: 286]
Maksudnya adalah jatuh cinta.

Golongan lain berpendapat, “Jatuh cinta merupakan suatu pilihan (ikhtiyari) yang mengikuti hawa nafsu dan iradatnya.”

Ibnul Qayyim berkata, “Dan pemutus perdebatan antara dua kelompok ini, bahwasannya permulaan rindu dan sebab-sebabnya merupakan perkara ikhtiyari yang masuk dalam lingkaran taklif. Sebab pandangan, pikiran, dan singgungan cinta merupakan perkara ikhtiyari. Jika ada orang yang melakukan sebab, maka akan timbul musabbab (dampak sebab) di luar ikhtiyarnya.”

Selanjutnya Ibnul Qayyim menyebutkan sebuah sya’ir.
Beliau melanjutkan, “Hal ini seperti mabuknya orang yang meminum arak. Meminum arak merupakan perkara ikhtiyari dan adapun yang timbul dari arak berupa mabuk adalah perkara idhthirari (di luar batasan kemamouan). Kapan sebab itu terjadi karena kehendaknya, maka tidak ada uzur atas apa yang timbul darinya yang di luar kehendaknya. Oleh karena itu, jika sebab itu diharamkan, maka mabuk tidak ada uzur.

Dan tidak diragukan bahwa mengikuti pandangan dan selalu memikirkan adalah seperti meminum arak yang dicela karena sebabnya. Karena itu, jika terjadi jatuh cinta (kerinduan) dengan sebab yang tidak terlarang, maka ia tidak dicela orangnya. Sebagaimana orang yang rindu kepada istri atau budak wanitanya kemudian ia menceraikannya sedangkan kerinduan masih terasa yang tak juga berpisah dengannya, maka yang semacam ini tidak tercela (baca: tidak dosa) sebagaimana penjelasan yang telah lalu menenai kisah Barirah dan Mughits.

Demikian juga jika ada orang yang melihat sepintas (tidak sengaja) kemudian ia memalingkan pandangannya namun ternyata kecintaan dan kerinduan telah mengakar kokoh di dalam relung hatinya di luar keinginannya padalah ia telah berjuang untuk menolak dan memalingkannya dari hatinya dengan melawannya, apabila ada sesuatu (cinta dan kerinduan) yang mengalahkannya maka itu tidak tercela setelah perjuangannya dalam menolaknya.

Di antara hal yang menjelaskan pendapat kami, bahwa mabuk rindu lebih dahsyat daripada mabuk arak, adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang orang-orang yang dimabuk rindu gambar hidup dari kaum Luth, “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan.” [QS Al-Hijr: 72]

Jika salah satu dari mabuk saja orangnya tidak diampuni jika ia mengerjakan sebab-sebabnya, lalu bagaimanakah orang yang mabuk berat sedang ia melakukan sebab-sebabnya?”

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: