//
you're reading...
Refleksi

Ar-Rudud al-Marwadiyyah (Menyingkap Kebenaran)

downloadMaaf, guru, panjenengan salah faham. Yang saya tanyakan bukan dalil dan hujjah yang dipakai Syaikh Muhammad Hassan dan Syaikh Muhammad Hussain Yaqub, tapi sumber daripada khabar tersebut.

Oleh karena yang saya tanyakan adalah sumber berita dan bukan dalilnya, maka saya pikir termasuk sesuatu yang wajar dan bahkan boleh jadi wajib dalam keadaan tertentu. Sebab menurut yang saya pelajari di madrasah, hal ini termasuk daripada keunggulan dan keistimewaan umat Muhammad; yang dengannya ilmu hadits dipelajari. Mengingat adanya larangan qiila wa qaala. Bukan berarti saya pakarnya, namun sebagaimana kata penyair, “Fatasyabbahu inlam takunu mitslahum * inna tasyabbuha bil kiraami falaahu.”

Ini sebatas yang saya tahu yang saya dapatkan dari madrasah, kalau-kalau ada yang salah dan kelirunya, mohon koreksinya.

Adapun kalau saya menanyakan mana hujjahnya, maka sangat tidak layak dan bahkan mungkin terkesan lancang. Bagaimana tidak, kedudukan saya yang hanya baru thuwailibul ‘ilm mau memunaqasyahi para ulama sekaliber Syaikh Muhammad Hassan dan Syaikh Muhammad Husain Yaqub yang merupakan salah satu dari sekian ulama yang saya tekuni nasehat dan ta’limnya. Siapakah saya dibandingkan ulama-ulama itu? Maka barang tentu bandinganya adalah baena sama’ wa sumur, tidak lagi baena sama’ wa ardh.

Tentu saja sebagai thuwailibul ‘ilm, tidak layak bagi saya membicarakan permasalahan-permasalahan besar semacam ini yang hanya pantas dan layak dikaji oleh ulama-ulama sekaliber beliau-beliau itu.

Adapun klaim bahwa saya lebih tentram dengan fatwa yang difatwakan ulama-ulama Saudi dan merasa ada nazhar untuk fatwa dari ulama-ulama selainnya, maka saya tegaskan bahwa klaim ini salah dan keliru.

Pertama harus dijelaskan bahwa tidak ada sangkut pautnya antara pribadi seorang ulama dengan tempat tinggalnya. Boleh jadi ulama-ulama yang bertempat tinggal di pedalaman Afrika atau India lebih mumpuni daripada ulama-ulama yang bermuqim di Tanah Suci. Oleh sebab itu nasehat yang masih saya ingat dari Ust. Amri Suaji bahwa yang menjadi ibrah bukanlah sebuah tempat tinggal, namun semangat belajar. Karenanya ketika ada seorang ulama masa silam ditawari untuk tinggal di tanah suci, beliau menjawab bahwa tanah suci itu tidak akan membuat penduduknya suci.

Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi sendiri mengakui bahwa Syam merupakan sebuah negeri yang menjadi gudangnya para ulama; dari dulu hingga sekarang. Lihat saja misalnya pakar hadits abad ini siapa lagi kalau bukan seorang ulama dari negeri Syam. Syaikh Muh. Jamaluddin Al-Qasimi yang merupakan maha gurunya Syaikh Ahmad Syakir juga dari Syam. Pakar tafsir Syaikh Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi yang berpenampilan layaknya budak namun diakui kealimannya berasal dari Mauritania, Afrika.

Bagaimana dengan Mesir? Tak terkecuali negeri Kinanah yang satu ini. Anda bisa menjumpai misalnya As-Suyuthi, Asy-Syarbini, Al-Manfaluthi, Khudhari Bek, Mahmud Syaltut, Al-Maraghi, dan semacamnya.

Adapun ulama masa kini, maka kita jumpai di antaranya Mushthafa Al-‘Adawi, Abu Ishaq Al-Huwaini, Muhammad bin Ibrahim bin Hassan, Hani Al-Haaj, Al-‘Audhi, Ahmad Farid, Al-Qardhawi, dan Muhammad Sa’id Ruslan. Tentu apa yang disebutkan di sini terlepas dari kesalahan masing-masing.

Wallahulmuwaffiq.

Pertamakali dipublikasikan: https://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/201013706733007

Artikel: almarwadi.wordpress.com

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: