//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Memahami Hakikat Ihsan dalam Kehidupan Nyata (Jawaban dari Sebuah Pertanyaan)

ihsan

Pertanyaan:
Apakah arti ihsan itu?

Jawab:
Segala puji hanya kepunyaan Allah.
Shalawat beriringan salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada
baginda Nabi Muhammad, keluarga,
shahabat, dan orang-orang yang
senantiasa meniti jalan mereka dengan
baik.

Adapun selanjutnya…
Berkaitan dengan pertanyaan di atas,
maka berikut jawaban ringkas yang
mudah-mudahan memberikan
kepuasan dalam hati.

Ketahuilah -semoga Allah merahmati saya dan Anda- bahwa ihsan itu ada dua
macam, yaitu: ihsan kepada sesama
makhluk dan ihsan kepada Al-Khaliq.

1- Adapun ihsan kepada makhluq
maka maknanya ialah bersikap dan
berbuat baik kepada mereka. Hal ini
sebagaimana yang diterangkan oleh
baginda Nabi Muhammad –shallallahu
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam– dalam
sebuah hadits yang ‘direkam’ Imam
Muslim dalam “Shahih”-nya, dari
Syaddad bin Aus –radhiyallahu ‘anhu-,
beliau berkata, “Dua hal yang aku
hafal dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi
wa sallam-, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan
ihsan kepada segala sesuatu. Jika
kalian membunuh, maka bunuhlah
dengan cara yang baik, dan apabila
kalian menyembelih, maka sembelihlah
dengan cara yang baik. Hendaknya
kamu tajamkan pisaunya dan bersikap
lembut pada sesembelihannya.”

2- Macam ihsan yang kedua ialah
ihsan kepada Khaliq. Untuk
menjelaskan ihsan jenis kedua ini, kita
simak saja penjelasan Rasulullah –
shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam
ketika beliau ditanya oleh Jibril yang di
saat itu menjelma dalam bentuk
seseorang yang mengajukan beberapa
pertanyaan. Di antara sekian
pertanyaan itu ialah katanya, “Beritahu
aku tentang ihsan?” Mendengar
pertanyaan ini, maka baginda Nabi
Muhammad –‘alihi afdhalush shalatu
wa atammut taslim– menjawab,
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau dapat melihat- Nya. Jika sekiranya engkau tidak dapat melihat-Nya, maka (yakinlah dalam dirimu bahwa) sejatinya Dia melihatmu.” (HR Imam Muslim) Wallahua’lam.

Berkaitang dengan hadits di atas,
berikut adalah penjelas yang
disampaikan Syaikh Abu ‘Abdul Mu’thi
Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-
Bantani Asy-Syafi’i –rahimahullah-
dalam salah satu kitabnya yang
bertajuk “Kasyifah As-Saja syarh
Safinah An-Naja” (hlm. 26). Beliau
berkata:

“Sabda beliau, ‘Engkau beribdahak
kepada Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya. Jika sekiranya engkau
tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya
Dia melihatmu’, ini termasuk jawami’
kalim (baca: ucapan yang ringkas
namun padat dan luas maknanya)
beliau -shallallahu ‘alaihi wa alihi wa
sallam-. Sebab ia mencakup:
1. Maqam musyahadah.
2. Maqam muraqabah.
Penjelasan dan keterangannya adalah
sebagai berikut:

Bahwasannya seorang hamba itu dalam
ibadahnya memiliki 3 maqam, yaitu:

Pertama, seorang hamba tersebut
mengerjakan suatu ibadah dengan
bentuk yang sudah gugur darinya
tuntutan syariat dengan dipenuhinya
berbagai syarat dan rukun (ibadah
yang dikerjakannya itu).

Kedua, ia mengerjakannya dengan
rupa yang demikian itu dan ia telah
tenggelam dalam lautan mukasyafah,
sehingga seakan-akan ia melihat Allah
Ta’ala. Ini merupakan maqam
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa alihi
wa sallam-, sebagaimana sabda beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
‘Dijadikan penyejuk hatiku itu dalam
shalat.’

Ketiga, ia mengerjakan ibadah dengan
rupa yang demikian (rupa pertama)
dan telah dirasakannya bahwasannya
Allah Ta’ala menyaksikannya. Ini
merupakan maqam muraqabah.

Maka sabda beliau, ‘Jika sekiranya
engkau tidak dapat melihat-Nya’, turun
dari maqam mukasyafah ke maqam
muraqabah. Artinya, jika sekiranya
engkau tidak menyembah-Nya dan
engkau termasuk orang yang bisa
seolah-olah melihat-Nya, maka
sembahlah Dia, sedangkan engkau
berkeyakinan bahwa Dia melihatmu.
Semua maqam tiga tersebut adalah
ihsan. Hanya saja ihsan yang
merupakan syarat sahnya suatu ibadah
hanyalah yang pertama. Karena ihsan
yang dua terakhir adalah termasuk sifat
orang-orang yang istimewa dan banyak
orang yang tidak mampu
melakukannya.

Wallahua’lam.

Walhamdulillah. Semoga shalawat
beriringan salam terlimpahkan kepada
baginda Nabi Muhammad.

Belitang,
Waktu Dhuha Senin, 26 Agustus 2013 M.

(Pertanyaan di atas diajukan kepada
kami oleh seorang ikhwan –
waffaqoniyallah wa iyyah- selepas
shalat ‘isya tadi malam)

Aertikel: almarwadi.wordpress.com

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: