//
you're reading...
Akhlaq dan Adab

Cukil Mata Bagi Si Mengintip

Bedeg-5Yang dimaksud pengintip di sini adalah orang yang mengintip rumah atau kamar orang lain tanpa seizin empunya. Dalam hal ini telah diriwayatkan beberapa hadits dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang larangan dan ancaman bagi orang yang suka melakukan perbuatan semacam ini.

Dalam Mirqâh Shu’ûd At-Tashdîq fi Syarh Sulam At-Taufîq ilâ Mahabbatillâh ‘alâ At-Tahqîq (hlm. 118), Syaikh Muhammad Nawawî bin ‘Umar Al-Bantanî Asy-Syâfi’î rahimahullâh berkata, “{(Di antara perbuatan maksiat yang dilakukan oleh mata adalah) melihat rumah orang lain tanpa seizinnya} dengan mengintip dari celah lubang sempit pada rumah orang lain tanpa seizinnya atas keharamannya.

Allah Ta’âlâ berfirman (yang artinya), ‘Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan mereka…’ (QS An-Nur: 30)

Dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Siapa yang mengintip rumah suatu kaum tanpa seizin mereka, maka sungguh telah dihalalkan bagi mereka untuk mencukil matanya.’ Dilaporkan oleh Al-Bukhârî & Muslim dari Abû Hurairah.

Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa yang mengintip rumah suatu kaum lalu kemudian mereka mencukil matanya, maka tidak ada diyat dan qishah untuk mereka (yang mencukil).’ Diriwayatkan An-Nasâ’î (dan dinilai shahîh oleh Al-Albânî dalam Shahîh Al-Jâmi’).

At-Tirmidzî telah meriwayatkan suatu hadîts gharîb, ‘Sekiranya ada seseorang yang melewati suatu pintu yang tidak berpenutup lalu ia melihat aurat penghuninya maka ia tidak berdosa, akan tetapi yang berdosa adalah penghuni rumah.’

Yang demikian itu disebutkan oleh Ibnu Hajar (Al-Haitamî) dalam Az-Zâwajir (fî Iqtirâh Al-Kabâir).”

Riwayat-riwayat tentang larangan dan ancaman bagi orang yang suka mengintip rumah orang lain tanpa seizin penghuninya masih banyak.

Dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, bahwasannya ada seorang laki-laki yang mengintip sebagian kamar-kamar Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi pun mendatanginya dengan membawa satu atau beberapa anak panah yang bermata panjang. Seakan-akan aku melihat kepada beliau memperdaya seseorang untuk menikamnya.” (HR Al-Bukhârî, Muslim, Abû Dâwûd, dan At-Tirmidzî)

An-Nasâ’î juga melaporkan dengan lafazh, “Bahwasannya ada seorang Arab badui yang mendatangi pintu Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan memasukkan matanya lubang celah pintu, namun Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun memergokonya dan menujunya dengan membawa besi atau kayu buat mencukil matanya. Akan tetapi setelah orang badui tadi mengetahui beliau, ia pun beralih. Maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya kamu tadi masih tetap (seperti tadi), tentu matamu aku cukil.”

Al-Bukhârî, Muslim, At-Tirmidzî, dan An-Nasâ’î merekam suatu hadits dari Sahl bin Sa’d radhiyallâhu ‘anhu, bahwasannya ada seorang lelaki yang mengintip Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari salah satu kamar Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau tengah membawa sisir untuk menggaruk kepalanya. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكَ تَنْظُرْ لَطَعَنْتُ بِهَا فِي عَيْنِكَ، إِنّمَا جُعِلَ الْإِسْتِئْذَانِ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ

“Seandainya tadi aku melihat kamu mengintip, tentu aku tikam matamu dengannya (baca: sisir). Perizinan itu hanya disyariatkan karena pandangan.”

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nur: 59)

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mendatangi rumah lewat depan pintunya, akan tetapi datangilah ia dari sisinya. Mintalah izin, jika kalian diizinkan masuklah, namun jika tidak maka pulanglah.” (HR Ath-Thabrânî dalam Al-Mu’jam Al-Kabîr. Ibnul Jauzî berkomentar berkata, “Dari salah satu jalurnya yang jayid”)

Artikel: almarwadi.wordpress.com

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: