//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Jika Imam Shalat Menangis?

TetesanAirPertanyaan:
Saya ingin bertanya tentang apabila imam shalat menangis? Dan bagaimanakah hukumnya apabila ada salah seorang jama’ah shalat (baca: ma’mum) mengulangi shalatnya karena ketidaksukaannya terhadap imam yang terbiasa menangis saat mengimami?

Jawab:
Alhamdulill…ah. Wash shalatu was salam ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi, wa man walah.

Amma ba’du…
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami akan menyusunnya dalam beberapa pembahasan:

Pertama, kita katakan bahwa menangis karena takut kepada Allah merupakan suatu tindakan yang sangat dianjurkan dan ditekankan. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang dorongan dan anjuran menangis karena Allah Ta’ala.

Di antara dalil-dalil yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1- Allah berfirman, “…dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS Al-Isra’: 109)

2- Allah berfirman, “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (QS An-Najm: 59-60)

3- Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, ‘Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena Allah, sampai susu kembali ke tetek. Dan debu di jalan Allah tidak akan berkumpul dengan asab Jahannam.'” (HR At-Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits hasan shahih.” Juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i)

4- Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan Al-Bahili –radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dua tetes dan dua jejak. Tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah. Adapun dua jejak, ialah jejak di jalan Allah dan jejak di salah satu kewajiban yang Allah wajibkan.” (HR At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits hasan. Dinilai sebagai hadits shahih oleh Al-Albani dalam “Shahih At-Tirmidzi”)

Imam An-Nawawi –rahimahullah– berkata dalam Al-Adzkar (hlm. 197), “Dan sungguh sekelompok Salaf telah bermalam membaca satu ayat dalam semalam suntuk atau sebagian besar malam untuk mentadabburinya. Ada sejumlah orang di antara mereka yang sampai pingsan ketika membaca (Al-Quran) dan sekelompok lainnya hingga wafat.

Dan dianjurkan menangis dan pura-pura menangis bagi siapa yang tidak bisa menangis. Sebab, menangis ketika membaca Al-Quran merupakan sifat orang-orang ‘arif dan syiarnya hamba-hamba Allah yang shalih. Allah berfirman, ‘Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan bertambah khusyu’.” (QS Al-Isra’: 109)

Aku telah membawakan banyak atsar yang berkaitan dengan hal itu dalam At-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran.”

Kedua, jika imam shalat menangis?
‘Abdullah bin Asy-Syikhkhir –radhiyallahu ‘anhu– meriwayatkan, bahwa apabila Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengerjakan shalat, terdengar didihan dari dadanya bak didihan priuk karena tangis an. (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ahmad yang dinilai shahih oleh Al-Albani)

Dalam Mirqah As-Su’ud syarh Sunan Abi Dawud, Imam As-Suyuthi menjelaskan, “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tangisan itu tidak membatalkan shalat. Sama saja apakah terdengar dua atau satu huruf.” Beliau berdalil dengan firman-Nya, “Jika dibacakan ayat-ayat Allah Ar-Rahman kepada mereka, mereka pun tersungkur sujud menangis.”

Dari Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhu-, beliau menghikayatkan, “Ketika sakit Rasulullah –shallallahu ‘alaih wa sallam– semakin parah, diberitahukan kepadanya bahwa waktu shalat telah tiba. Seketika beliau bersabda, ‘Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami orang-orang.’ ‘Aisyah menyela, ‘Sesungguhnya Abu Bakar itu adalah lelaki yang lembut. Jika beliau membaca Al-Quran, beliau dikalahkan oleh tangisan. Beliau bersabda, ‘Suruhlah ia untuk mengimami manusia!'”

Dalam riwayat lain, dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, beliau berkata, “Sesungguhnya jika Abu Bakar berdiri di tempat engkau (menjadi imam), beliau tidak mampu memperdengarkan (bacaan kepada) orang-orang karena sebab tangisan.” (HR Al-Bukhari & Muslim)

Ketiga, adapun yang berhubungan dengan pertanyaan kedua, yaitu tentang imam yang dibenci makmum sehingga membuat makmum mengulangi shalatnya, maka ketahulah bahwa telah diriwayatkan dari Abu Umamah, ia berkata bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

“Ada 3 golongan yang mana shalat mereka tidak melampaui telinga mereka:
(1) Hamba sahaya… yang melarikan diri (dari tuannya) hingga kembali,
(2) Seorang wanita yang bermalam sementara suaminya dalam keadaan memarahinya,
(3) Dan seorang yang menjadi imam suatu kaum sementara mereka membencinya.”
(HR At-Tirmidzi dengan derajat hasan dengan berbagai jalurnya, dan dikuatkan oleh riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Namun ancaman ini khusus bagi imam yang dibenci suatu kaum karena agamanya, karena menyelisihi sunnah, atau hal-hal lainnya yang menimpa banyak imam dewasa ini. Di samping itu ia juga seorang yang bodoh terhadap agamanya.

Adapun orang yang menegakkan sunnah, maka yang memperoleh dosa ialah orang yang membencinya.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, beliau berkata, ‘Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menunjuk Umamah sebagai panglima atas suatu kaum, namun mereka melecehkan kepemimpinannya. Maka, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

“Jika kalian melecehkan kepemimpinannya, maka kalian kalian telah melecehkan kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, dia adalah orang yang paling layak menjadi panglima. Ayahnya merupakan orang yang paling kucintai, dan puteranya ini adalah orang yang paling kucintai setelah ayahnya.” (HR Al-Bukhari & Muslim)

Maka sungguh, orang yang disebut tadi, yang membenci imam yang biasa menangis ketika mengimami dan bahkan sampai-sampai mengulangi shalatnya, berada dalam bahaya besar dan selayaknya orang semacam ini kiranya sangat perlu dinasehati.

Tentu saja ini merupakan kebodohan di atas kebodohan. Hal ini ditinjau dari beberapa sudut:
Pertama, jika ia tidak tahu tentang hadits yang menganjurkan menangis, minimal fitahnya dapat membenarkannya. Bagaimana tidak, sangat pantas dan wajar jika ada seorang hamba yang merengek dan menangis karena takut kepada Allah.
Kedua, jika ia merasa terganggu, maka di manakah hatinya?
Ketiga, jika ia mengetahui hukumnya, tentu ini merupakan kesombongan. Padahal baginda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang pada dirinya terdapat sebiji sawi berupa kesombongan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan wanusia.”

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita menuju jalan yang diridhai-Nya.

Wallahua’lam.

Belitang, di perpustakaan pribadi, menjelang waktu Maghrib,
Senin, 26 Agustus 2013 M

Artikel: almarwadi.wordpress.com

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

One thought on “Jika Imam Shalat Menangis?

  1. Terima kasih wawasannya

    Posted by edi | 18/06/2015, 2:52 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: