//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Meninjau Hukum Suara Wanita

Oleh: Syaikh Dr. ‘Abdul Karim bin Muhammad Amrullah Al-Minangkabawi –Rahimahullah

            Ketahuilah, hai seluruh umat Islam!

Bahwasannya suaran wanita asing itu merupakan suatu perkara yang wajib pula dibahas dengan sejelas-jelasnya. Yang mana perkara ini belum pula dibuka-buka orang di daerah kita, Indonesia ini. Oleh karena itu lihatlah pula pertikaian (baca: perselisihan) paham imam-imam pada perkara itu seperti berikut!

Pertama, tersebut di dalam kitab Nawazil, Al-Kafi, Al-Muhith, dan Al-Fat-h, keempat-empat kitab ini menyatakan suaranya perempuan berlagu-lagu itu aurat juga adanya! Oleh sebab itu maka tidaklah halal mereka bernyanyi-nyanyi berlagu Quran sekalipun, apabila didengarkan oleh laki-laki asing.

Dan berkata Ibnu Al-Hammam –rahimahullah-, “Menurut ketetapan itu, kalau sekiranya dikeraskan suaranya membaca Fatihah, umpamanya, di dalam sembahyang, niscaya batal sembahyangnya. Sebab, terbuka aurat juga namanya.”

Kedua, menurut ketetapan ulama Syafi’iyyah, suara itu bukanlah aurat! Hanya semata-mata makruh saja mereka itu menyaringkan suara atau berlagu-lagu dekat laki-laki orang lain (baca: asing, bukan mahram).

Sedang sebabnya akan makruh:

  1. Ialah karena keluar dari perbantahan (baca: perselisihan) ulama tadi.
  2. Karena memelihara akan fitnah dan syahwat laki-laki yang mendengar.
  3. Menyampaikan (baca: menghantarkan) juga kepada memandangnya memperhatikan rupanya yang telah tetap haramnya tadi. Apatah lagi pada masa kita yang telah umum (baca: menjamur/merata) fasiqnya segala hamba Allah. Tak dapat tidak akan timbul pikiran lain karena mendengarkan suaranya perempuan berlagu bernyanyi yang mengandung tutur manis-manis dengan hebat. Aksi-aksi yang manis pula pakaian pun indah-indah dan lain-lain sebagainya. Yang mana akhirnya  jadi haram juga. Ibarat “ditanam padi, jelatung tumbuh.” Wallahua’lam.

Syahdan. Kita memikirkan barang yang tersebut pada hadits yang shahih. Sabdanya junjungan kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

اَلتَّسْبِيْحُ لِلرِّجَالِ وَ التَّصْفِيْقُ لِلنِّسَاءِ

Yakni, “Bermula laki-laki apabila melihat ia akan imamnya salah pada bilangan rakaat sembahyang, umpamanya, maka hendaklah ditegurnya dengan ucapan tasbih (subhanallah) sedangkan perempuan (hendaklah menegur itu dengan tepuk tangan).”

Apakah tidak menunjukkan peraturan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwasannya suara perempuan itu dikhawatirkan akan jadi fitnah atau aurat yang wajib ditutup daripada laki-laki???

Demikian lagi sabdanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Baehaqi, begini lafazhnya:

لَيْسَ عَلَى النِّسَاءِ آذَانٌ وَ لَا إِقَامَةٌ

Yakni, “Tiadalah atas segala perempuan itu azan dan tidak pula qamat.”

Yang mana kedua-dua perkara itu menyeru orang kepada amal shalih dan memberitahukan masuk waktu sembahyang dan dzikrullah semata-mata yang lebih gunanya daripada membaca Quran  buat dirinya lebih juga daripada berpadat, memberi perselak dan lain-lainnya. Tetapi karena suaranya itu tidak pantas didengar orang lak-laki lain, maka tiadalah disyariatkan oleh junjungan kita, perempuan itu azan dan qamat; sebagaimana disyariatkan bagi kita, laki-laki.

Dan juga izan, iqamat, dan Quran itu disunnahkan belaka oleh segala umat Islam mendengarkan dengan hati-hati. Akan tetapi karena jangan jatuh kepada yang kurang baik, lantas dilarang perempuan mengeraskan suaranya pada yang tiga perkara itu supaya tetap pada agama suci bahwa menolak yang akan melarut. Dinamakan daripada mengambil maslahat.

Pendeknya (baca: ringkasnya), hilang tuntunan sunnah kalau akan menerbitkan (baca: menimbulkan) yang haram.

Ingat betul-betul akan qaidah –undang-undang- yang tersebut, karena madlulnya rata kepada segala pekerjaan. Wallahua’lam.

Datang lagi sabdanya junjungan kita pada hadits Bukhari-Muslim:

وَ الْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ

Yakni, “Bermula dua kuping –telinga- itu zina keduanya ialah mendengarkan suaranya perempuan.”

Ialah seperti keadaan dua mata berzina puladengan memandang sebagaimana yang telah kita terangkan tentang kenyataan melihat perempuan tadi!

Maka belum juga kah kita kaum laki-laki menaruh takut akan terjerumus kepada zina telinga itu? Hingga akan diharuskan saja perempuan baligh berlagu-lagu Quran bernyanyi. Berpadat dihadapan laki-laki yang dipenuhi hati mereka dengan macam-macam sifat yang keji-keji serta dilihat pula rupanya dengan sejelas-jelasnya. Kita berlindung kepada Allah dari bid’ah-bid’ah yang merusak agama.

Dengar lagi firman Tuhan di dalam Quran ayat 31 [yang benar ayat ke-32 daru surat] Al-Ahzab:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

     Yang artinya, “Hai segala istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-! Tiadalah kamu seperti seorang perempuan yang lain-lain. Jika kamu ada menaruh takut akan Allah, maka janganlah kamu lunak lembutkan suara kamu dengan berkata-kata atau apa-apa yang kamu baca! Karena jangan kelak cenderung dan terperdaya orang yang ada di dalam hatinya itu penyakit –munafiq-syahwat-ingin- tetapi kalau karena darurat atau hal yang amat penting yang wajib disampaikan, maka berkata-katalah dengan perkataan yang makruf, menyuruh yang wajib-wajib dan menegah yang haram-haram. Sekedar yang fardhu saja.”

Yang dimaksud dengan kata lunak lembut itu, ialah kata-kata yang menjelaskan kepermpuanannya sedangkan mereka dibalik dinding. Apatah lagi bernyanyi-nyanyi berlagu-lagu berkata-kata yang dielok-elokkan susunnya di hadapan laki-laki banyak! Apakah kita tidak menaruh takut akan Allah?

Bahkan, betul firman itu pada asal terhadap kepada segala istri junjungan kita! Akan tetapi tidak syakk dan tidak ragu-ragu nun bahasa madlulnya rata kepada segala perempuan umat Islam yang ada menaruh takut akan Allah! Sedangkan yang dituju dengan segala pengarajan Quran itu ialah segala kaum Islam laki-laki dan perempuan. Maka tidaklah detelkan lagi kepada sebab-sebab turunnya  yang semula itu!

Ingatlah suapaya jangan jatuh pula kepada menyempitkan madlul Quran yang sangat lapang dan luas!

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami dan kaum muslimin  melalui Al-Quran.

Dan lagi adakah orang-orang yang ada sekarang terlebih suci hatinya daripada orang-orang laki-laki ada di masa hidupnya segala istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– itu? Ya Subhanallah, Allahuakbar! Wallahua’lam bish shawab.  []

[Cermin Terus, Berguna Untuk Pengurus-Penglihat Jalan yang Lurus hlm. 105-109, karya Dr. Abdul Karim Amrullah]

Artikel: almarwadi.wordpress.com

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: