//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Konsep Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah Menurut Al-Mandili

al-mandiliBermula “Sunnah” itu jalan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Artinya barang yang menyuruh ia dengan dia dan yang melarang ia daripadanya dan yang menyeru ia kepadanya dengan perkataan dan perbuatan.

Dan dikehendaki dengan “Jama’ah” itu sekalian shahabat –radhiyallahu ‘anhum– dan yang mengikuti akan mereka itu dengan berbuat kebajikan hingga hari kiamat.

Sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Bahwasanya yang mempunyai dua kitab (Taurat dan Injil) telah bercerai-berai mereka itu pada agama mereka itu atas tujuh puluh dua millah (artinya hawa nafsu). Dan bahwasanya ini umat selagi bercerai –berai mereka itu atas tujuh puluh tiga hawa nafsu. Semuanya di dalam api neraka, melainkan satu dan yaitu jama’ah.”

Dan pada satu riwayat, bersembah mereka itu, “Siapa ia, hai Rasulullah?” Bersabda ia, “Barang yang aku  atasnya dan sekalian shahabatku.”

Dan tiada ada syakk pada bahwasanya sekalian imam yang empat itu daripada Ahlussunnah wal Jama’ah. Dan barangsiapa mengikuti akan mereka itu pada sekalian simpulan iman, niscaya adalah ia daripada Ahlussunnah wal Jama’ah juga.

Adapun mereka itu pada segala masalah furu’, tetapi menyalahi ia akan mereka itu pada shuluddin, maka tiada ada ia daripada Ahlussunnah wal Jama’ah, seperti Az-Zamakhsyari, adalah ia masalah furu’ mengikuti akan Imam Abu Hanifah –rahimahullah Ta’ala-, tetapi pada simpulan iman mengikuti ia akan madzhab Mu’tazilah. Berkata Syaikh Muhammad ‘Abdul Haiyy Al-Lacknawi di dalam kitab Al-Fawaid Al-Bahiyyah fi Tarajib Al-Hanafiyyah, “Adalah ia Az-Zamakhsyari bangsa Hanafi oleh madzhabnya, bangsa Mu’tazilah oleh i’tiqadnya.” Wallahua’lam.

Selesai penjelasan Syaikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthallib Al-Mandili dalam Al-Madzhab Atau Tidak Bermadzhab (39-40).

Berikut adalah teks asli ucapan beliau di atas:

mazhab1

2

Apa yang dipaparkan Al-Mandili di atas jelas merupakan pemaparan yang lurus. Pada intinya, Ahlussunnah wal Jama’ah harus terkumpul padanya dua hal:

  1. Sunnah. Yaitu jalan yang dilalui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan orang-orang yang mengikuti dan mendakwahkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sekiranya kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosa kamu.’ Dan Allah Mahapengampun Mahapenyayang.” (QS Alu ‘Imran)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para shahabat –radhiyallahu ‘anhum– bertanya, “Siapakah yang enggan itu, wahai Rasulullah?” “Orang yang mematuhiku pasti masuk surga dan orang yang mendurhakaiku (tidak mentaatiku) dialah yang enggan (masuk surga),” jawab Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

  1. Jama’ah. Hanya sebatas mengikuti sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– saja tidak menjamin pelakunya selamat dari kesesatan jika sekiranya ia mengabaikan pemahaman dan praktek para shahabat –radhiyallahu ‘anhum– dalam beragama. Oleh karena itu, Al-Mandili mengimbuhkan ittiba’ (menepaki) jejak para shahabat dalam konsep manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Dan inilah yang membedakan antara pemahaman manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dan berbagai manhaj yang ada.

Dalil-dalil yang memerintahkan kaum musimin untuk tidak hanya mencukupkan diri dengan Al-Quran dan Sunnah, namun harus membatasi diri dalam memahami kedua sumber tersebut dengan pemahaman dan praktek para shahabat, sangatlah banyak. Di antaranya adalah dua dalil berikut:

Pertama, Allah Ta’ala berfirman (QS At-Taubah: 100):

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Di dalam ayat yang mulia ini Allah Jalla wa ‘Ala hanya akan meridhai 3 macam manusia, yaitu:

  1. Muhajirin.
  2. Anshar.
  3. Orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

Sebagai manusia generasi belakangan, kita tidak mungkin menjadi manusia jenis pertama dan kedua, karena masa mereka sudah usai dengan di tandai hijrah Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga kita hanya tinggal memiliki satu pilihan saja, yaitu menjadi manusia macam ketiga yang pada ayat di atas disebut sebagai, “…orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”

Kedua, Sabda baginda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana yang diceritakan Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah –radhiyallahu ‘anhu-, “Rasulullah memberi kami nasehat dengan nasehat yang menyentuh sehingga membuat hati takut dan air mata mengalir. Maka kami meminta kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan. Karena itu, berwasiatlah kepada kami.’ Beliau bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian untuk senantiasa mendengar dan patuh (kepada pemerintah) meskipun yang memimpin kalian adalah mantan budak Habasyah. Karena orang-orang yang hidup setelahku akan menjumpai banyak perselisihan. Oleh karena itu peganglah sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin yang memperoleh petunjuk setelahku. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan gigi graham.”

Alasan kenapa jalan Shahabat harus diikuti, karena semua sekte dan kelomok yang mengaku berada di atas kebenaran tidak ada yang mendakwakan dirinya tidak berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah. Baik itu kelompok Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Asy’ariyyah, ataupun yang lainnya. Meskipun demikian, mereka sama-sama berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, namun kenyataannya mereka memiliki aqidah dan keyakinan yang berbeda jauh. Satu sama lain terkadang saling mengkafirkan. Pemikiran masing-masing kelomok tersebut memiliki pemahaman berbeda-beda dalam mengamalkan Al-Quran dan Sunnah. Sebagiannya ada yang mengatakan Tuhan ada di mana-mana, sebagiannya lagi ada yang mengatakan akhirat tidak kekal, yang lain berpendapat bahwa siksa kubur tidak ada, dan seabreg-abreg pemikiran melenceng yang lain. Jangan dikira mereka yang berpemikiran sesat tersebut tidak ‘mendasari’ Al-Quran dan Sunnah. Mereka memiliki dalih-dalih (bukan dalil-dalil) yang diambil dari kedua sumber tersebut, namun dengan pemahaman kerdil mereka dan terkadang diiringi dengan hawa nafsu serta kejahilan yang boleh jadi disadiri ataupun tidak.

Oleh sebab itu untuk mempersatukan pemahaman, haruslah diikat denga pemahaman para shahabat –ridhwanullah ‘alaihim-. Contohnya ketika mentafsirkan ayat, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam permasalahan.” Sepintas ayat ini dipahami, Allah memerintahkan kita untuk memusyawarahkan semua perkara, meskipun itu perkara yang sudah menjadi kepastian. Apakah jilbab wajib? Apakah shalat wajib? Apakah puasa wajib? Sehingga terjadilah kesimpangsiuran. Namun ketika kita kembali kepada pentafsiran Ibnu ‘Abbas kita akan memperoleh pemahaman yang selamat dan benar. Beliau berkata, “Dan bermusyawarahlah dalam beberapa perkara.” Artinya tidak semua perkara harus dimusyawarahkan, namun cukup beberapa saja yang tidak ada nash tegas dalam Al-Quran dan Sunnah. Wallahua’lam.

08:06 WIB Ahad, 22 Sep. 13

Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Indonesia

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: