//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Ar-Risalah Al-Marwadiyyah: Bantahan Buat Neo-Mu’tazilah

mu'tazilahSekapur Sirih

Segala puji hanya milik Allah atas segala kebaikan dan nikmat-Nya. Semoga shalawat beriringan salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad, keluarga, shahabat, serta orang-orang yang isyiqamah menita jalan mereka.

Selanjutnya…

Ini merupakan kalimat ringkas yang kami tulis sebagai bentuk pelaksanaan amanah yang dibebankan kepada kami oleh guru kami, Al Ustadz ‘Abdussalam Busyro, Lc. hafizhahullah wa ra’ah, menyangkut masalah haram-haram mengkonsumsi daging anjing.

Tulisan ini lebih layak disebut bantahan terhadap selebaran berisikan syubhat-syubhat yang lemah tentang halalnya daging anjing untuk dikonsumsi yang dikirim oleh seseorang kepada ustadz kami. Dalam selebaran itu pengirim meminta agar permasalahan-permasalahan serta pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dalam bentuk tulisan.

Permasalahan ini sudah lama diperbincangkan oleh banyak kalangan. Di anatara yang paling keras suaranya dalam mendengung-dengungkan masalah ini, setahu kami, adalah Majelis Tafsir Al Quran (MTA) yang berpusat di Solo Jawa Tengah. Empat tahun yang lalu kami juga mendapatkan pertanyaan yang sama, namun saat itu kami belum bisa menjawab keculai dengan mengatakan ‘haram’ tanpa mampu memberikan alasan dan hujjah yang memadai.

Maka jika si penanya benar-benar hendak mencari kebenaran, saya memohon kepada Allah agar berkenan memberinya petunjuk dan taufiq. Namun jika hanya ingin mendebat dan mencari kepopuleran, sungguh kami berlepas diri dari itu.

Risalah singkat ini kami beri tajuk dengan:

زاد المشتاق فى الرد على من زعم أن الأشياء التي لم ترد فى القرآن تحريمها حل أكلها على الإطلاق

“Bekal Untuk Orang yang Rindu; Bantahan Atas Orang yang Berperasangka Bahwa Segala Sesuatu yang Tidak Disebutkan Haramnya di Dalam Al Quran Halal Dimakan Secara Mutlak”

Atau: “Menyingkap Kebatilan; Sebuah Bantahan Terhadap Mu’tazilah Gaya Baru”.

Berikutnya kami katakana, kritik dan saran senantiasa kami tunggu demi tercapainya kebenaran.

Kami berharap risalah ini diberkahi Allah dan bermanfaat bagi siapa pun dan menjadi perbendaharaan kami di hari pembalasan kelak. Hanya kepada Allah lah kami memohon agar selalu diberikan petunjuk dan taufiq-Nya ke jalan yang lurus.

الفقير إلى الله

المؤلف

 Muqaddimah: Manhaj (Metode) yang Benar dalam Berdalil menurut Ahlussunnah wal Jama’ah

Semua kaum muslimin telah berkonsesus bahwa dasar agama Islam adalah Al Quran dan Sunnah. Namun demikian mereka berselisih dalam menjalankan ajaran yang terdapat dalam dua sumber tersebut, sehingga seakan-akan dasar yang menjadi pegangan nampak berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan karena pemahaman mereka yang berbeda. Padahal Allah dan rasul-Nya telah memerintahkan agar kaum muslimin bersatu dan tidak berpecah-belah. Oleh karena itu diperlukan adanya pemersatu pemahaman, yaitu menjadikan pemahaman para shahabat rodhiyallahu ‘anhum sebagai dasar memahami Al Quran dan Sunnah. Dengan demikian kaum muslimin akan bersatu.

Syaikh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Yang menjadi rujukan dalam memahami Kitab dan Sunnah adalah nash-nash (teks Al Qur’an atau hadits) yang menjelaskannya, pemahaman para salaf yang shaleh dan para imam yang mengikuti mereka serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Namun jika hal tersebut sudah benar maka tidak dipertentangkan lagi dengan hal-hal yang hanya berupa kemungkinan sifatnya menurut bahasa.” [Mujmah Ushul Ahlissunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah]

Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, baik dalam Al Quran, Sunnah, ataupun pernyataan para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti mereka dengan baik. Di antaranya adalah sebagai berikut:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” [QS Al Fatihah: 6]

Dari ‘Ashim Al Ahwal (w. 142 H), dari Abul ‘Aliyah rahimahullah tentang tafsir firman-Nya “اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ”, beliau mengatakan, “Dia adalah Rasulullah ﷺ dan kedua sahabatnya, yaitu Abu Bakar dan ‘Umar, dan orang-orang setelahnya.” ‘Ashim berkata, “Aku pun menyebutkannya (penafsiran Abul ‘Aliyah) kepada Al Hasan (Al Bashri), beliaupun berkomentar, ‘Abul ‘Aliyah telah benar dan telah menasihati.” [Diriwayatkan Ath Thabari dalam tafsirnya, Jami’ul Bayan (I/175), Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkamil Quran (I/227), dan menurut Dr. Abdullah At Turki dalam tahqiqnya terhadap tafsir Al Qurthubi sebagiannya disebutkan Ibnu ‘Athiyyah dalam Al Muharrar Al Wajiz (I/74)]

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang telah kalian beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian).” [QS Al Baqarah: 137]

Seluruh kaum muslimin bersepakat bahwa Al Quran diturunkan di masa shahabat Nabi ﷺ, maka kata ganti (dhamir) di atas tentunya kembali kepada para shahabat yang memang ada saat itu. Bila demikian, ayat di atas bermakna, “Jika mereka beriman sebagaimana yang diimani para shahabat, sungguh mereka telah memperoleh petunjuk…”

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS An Nisa’: 115]

Yang dimaksud jalan orang-orang mukmin di sini bukan semua orang mukmin dari awal sampai akhir, namun para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah…” [QS At Taubah: 100]

Adapun dalil-dalil dari Sunnah, maka juga teramat banyak, di antaranya adalah sabda Nabi ﷺ, “Siapa yang hidup di antara kalian kelak, niscaya ia akan menjumpai perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian memegang sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegangteguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi graham kalian.”

Juga sabda beliau ﷺ, “Janganlah kalian mencela para shahabatku. Demi Allah, seandainya kalian berinfak emas sebesar gunung uhud, pastilah ia tidak akan mencapai satu mud mereka, setengahnya pun tidak.”

Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan, beliau melanjutkan

كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلَّا مِلّة وَاحِدَة: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِي

“Seluruhnya di neraka  kecuali satu golongan, yaitu orang yang senantiasa berada di atas jalanku dan shahabatku pada hari ini.” [HR At Tirmidzi]

Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri menjadikan pendapat shahabat sebagai sandaran. Jika dalam satu permasalah terdapat dua pendapat dari kalangan shahabat, beliau tidak akan keluar dari dua pendapat tersebut karena secara tidak langsung para shahabat telah berkonsesus tidak ada pendapat lain selain itu.

Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullah mengatakan dalam Minhaj Al Firqah An Najiyyah hal. 8, “Golongan yang selamat adalah yang komitmen manhaj Rasulullah di dalam kehidupannya dan manhaj para shahabat setelahnya, yaitu Al Quran yang Allah turunkan kepada rasul-Nya dan beliau jelaskan kepada para shahabatnya dalam hadits-hadits shahih serta menyuruh kaum muslimin agar berpegangteguh dengan keduanya (Al Quran & Sunnah).”

Maka Al Quran dan Sunnah tidak boleh ditafsirkan menurut akal masing-masing, karena akal bukan landasan Islam. Sangat disayang manakala banyak orang tertipu dan terlena dengan hadits palsu, “Agama adalah akal. Siapa yang tidak punya agama, maka ia tidak punya akal.” Tidakkah Anda ingat perkataan ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika mengomentari kenapa sepatu yang diusap itu atasnya dan bukan bawahnya padahal yang kotor tentu yang bawah:

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الخُّفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أّعْلّاهُ

 “Seandainya agama itu dibangun berdasarkan akal, pastilah sepatu bagian bawah lebih utama untuk diusap daripada atasnya.” [HR Abu Dawud dengan sanad hasan]

Menafsirkan Al Quran dan Sunnah dengan menggunakan akal masing-masing tanpa dasar yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya hanya akan menimbulkan perpecahan dan kesesatan. Bukankah Nabi ﷺ pernah memperingatkan, “Siapa yang mengatakan tentang (tafsir) Al Quran berdasarkan pendapatnya atau dengan sesuatu yang tidak ia ketahui, hendaknya ia menyediakan tempat duduknya di neraka.” [HR Ahmad, At Tirmidzi no. 2950 dan beliau berkomentar, “Ini merupakan hadits hasan shahih.”. Juga dikeluarkan An Nasa’i, dan Ibnu Jarir]

Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Takutlah kalian meriwayatlan hadits dariku kecuali yang sudah kalian ketahui. Siapa yang sengaja berdusta atas namaku, hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Dan siapa yang berbicara tentang tafsir Al Quran dengan pendapat (akal)nya, sungguh ia telah berlaku keliru.” [HR At Tirmidzi no. 2951, dan beliau berkata, “Hadits ini hasan.” Al Mubarakfuri mengatakan, “Dan dikeluarkan pula oleh Ahmad dengan bentuk lain.” (Tuhfatul Ahwadzi VII/278)]

Dari Jundub bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang berkata (tentang tafsir Al Quran) dengan semata-mata dari pendapat (akal)nya dan (kebetulan) benar (tafsirannya), maka ia (tetap dianggap) keliru.” [Dicatat At Tirmidzi no. 2952 dan beliau berkata, “Hadits ini gharib (asing). Sebagaian ahli hadits mempermasalahkan Suhail bin Abu Hazm (salah seorang perawi hadits ini).”

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah mengatakan setelah membawakan hadits di atas, “Yang dimaksud beliau ﷺ adalah ia telah keliru karena perbuatannya, yaitu dengan perkataannya yang berdasarkan akal, meskipun pendapatnya bertepatan dengan kebenaran di sisi Allah karena pendapatnya tentang Al Quran berdasarkan akal.”

Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At Tirmidzi rahimahullah mengatakan, “Demikian yang diriwayatkan dari sebagian ahli ilmu dari kalangan shahabat Nabi ﷺ dan selainnya, bahwasannya mereka bersikap keras dalam hal ini, yaitu dalam menafsirkan Al Quran. Kita tidak boleh berperasangka kepada mereka bahwa mereka mengatakan tentang Al Quran atau menafsirkannya tanpa dasar ilmu atau menurut mereka sendiri. Sesungguhnya telah diriwayatkan dari mereka yang membuktikan apa yang telah kami paparkan, bahwa mereka tidak mengatakan (tentang tafsir Al Quran) menurut pendapat mereka pribadi tanpa ilmu.”

Dengarkanlah penegasan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Bumi bagian mana yang mau menjadi pijakanku dan langit mana yang mau menaungiku jika aku mengatakan tentang kitab Allah (Al Quran) yang tidak aku ketahui ilmunya.” [Dicatat Imam Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Jami’ul Bayan (I/78 no. 78)]

Dari Abu Mulikah, bahwasannya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang suatu ayat yang jika ditanyakan kepada sebagian kalian niscaya ia akan membicarakannya, namun beliau justru malah enggan membicarakannya.” [Diriwayatkan Ath Thabari dalam tafsirnya (I/86 no. 98)]

Dari Yahya bin Sa’id, beliau mengatakan bahwa Sa’id bin Al Musayyab rahimahullah (seorang ulama tabi’in) tidak pernah berbicara tentang Al Quran kecuali yang sudah diketahui.” [Direkam Ath Thabari dalam tafsirnya (I/86 no. 95)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Adapun menafsirkan dengan semata-mata berdasarkan akal, maka haram.”

Karena sesungguhnya Al Quran hanya boleh ditafsirkan dengan Al Quran, Sunnah, dan bahasa Arab yang masih murni. Selain hal ini tidak boleh dan sangat dilarang keras. Bahkan seseorang yang hendak menafsirkan Al Quran harus ada pada dirinya sejumlah persyaratan, tidak boleh tidak. Syaikh Dr. Muhammad Husain Adz Dzahabi rahimahullah dalam At Tafsir wal Mufassirun (I/229-231) menyebutkan ilmu-ilmu yang harus dimiliki orang tersebut, yaitu ilmu bahasa Arab, nahwu, sharaf, isytiqaq (perpecahan kata), ilmu balaghah dengan ketiga macamnya (ma’ani, bayan, dan badi’), ilmu qira’ar, ushuluddin atau aqidah, ushul fiqih, ilmu asbabun nuzul, ilmu sejarah, ilmu nasikh dan mansukh, hadits-hadits yang menjelaskan tafsir global yang belum difahami, ilmu muhibah (pemberian hadiah dari Allah) yaitu ilmu yang Allah berikan kepada seseorang yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui.

Maka menafsirkan Al Quran bukan perkara yang mudah. Ia memerlukan banyak ilmu.

Tentang permasalah ini masih banyak yang perlu diperhatikan dan dijelaskan secara luas namun bukan ini tempatnya karena memerlukan pembahan khusus. Dengan pembahasan yang singkat ini mudah-mudahan dapat membuka pemahaman Anda bahwa menafsirkan Al Quran itu tidak semudah yang Anda sangka dan bayangkan.

         Kesimpulan dari Selebaran Itu

Sebelum memasuki pembahasan, izinkan kami menyimpulkan beberapa kesimpulan dari selebaran yang dikirim:

1. Nampak dari tulisannya, penulis terjerumus kedalam firqah Qurani, yaitu orang yang hanya menggunakan Al Quran saja sebagai landasan beragama. Ini pada hakekatnya membatalkan seluruh syariat Islam.

2. Dari tulisannya, penulis adalah neo-Mu’tazilah, atau Mu’tazilah gaya baru karena dalam memahami nash lebih banyak berdasarkan akal dan hawa nafsu.

3. Penulis memaksa orang lain untuk bertaqlid kepadanya.

4. Penulis berusaha sebisa mungkin mengutip ayat-ayat Al Quran untuk mendukung kebatilannya.

 

Halal-Haram

Rasanya Anda sudah tidak sabar lagi menanti-nanti jawaban dari kami tentang pertanyaan-pertanyaan yang Anda ajukan. Baiklah, saya akan mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan semata-mata berkat taufiq dan pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kami memohon kepada Allah agar Dia berkenan memberikan rizki berupa kebenaran kepada kami. Wallahul mufaffiq ila aqwamith thariq.

Pertama-tama kami katakana tentang dalil-dalil, kalau tidak mau dikatakan dalih-dalih, yang Anda bawakan dalam selebaran itu sebagaiamana yang dikatakan ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anh, “Sebuah kalimat yang haq namun diinginkan untuk kebatilan.”

Benar apa yang tersebut dalam kertas itu merupakan ayat-ayat dari Al Quran yang tidak diragukan lagi keabsahannya, namun dipakai untuk kebatilan karena ditafsirkan berdasarkan akal dan hawa nafsu yang merupakan ciri khas ahlul bida’ wal ahwa’.

Pertanyaan 1: Saudara percaya dengan QS Al An’am: 145 atau tidak?

Jawab 1: Ayat yang dimaksud adalah:

قُل لَّا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Kami katakana kami percaya dan berserah diri dengan kehendak Allah Ta’ala. Bagaimana tidak? Allah sendiri mengatakan, “Alif lam mim. Ini adalah sebuah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya.” [QS Al Baqarah: 1]

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.” [QS Fushshilat: 42]

Bahkan siapa yang mengingkari Al Quran meski satu huruf pun tanpa dasar dan usur qiraat, maka ia dianggap telah rela keluar dari agamanya karena Al Quran diriwayatkan secara mutawatir! Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan [Syarh Ushul fit Tafsir hal. 17], “Bahkan para ulama mengatakan, ‘Siapa yang mengingkari dari Al Quran meski satu huruf, maka ia bisa kafir. Karena ia telah mendustakan Allah, rasul-Nya, dan konsesus kaum muslimin. Satu huruf saja, kecuali apa diperselisihkan qiraatnya. Karena terkadang di dalam qiraat terdapat penghilangan huruf maknawi bukan huruf susunan.”

Pertanyaan 2: Di ayat itu, Nabi diperintahkan Allah untuk katakana bahwa TIDAK ADA MAKANAN YG HARAM, kecuali 4 macam: bangkai, darah yg mengalir, daging babi dan binatang yang disembelih bukan karena Allah. Betul atau salah?

Jawab 2: Betul. Anda juga membawakan sami’na wa atha’na-nya Nabi, itu juga benar. Nabi juga diperintahkan untuk menjelaskan Al Quran, menjabarkan, mentaqyid, dan lainnya. Dan itu juga berdasarkan semata-mata wahyu dari Allah. Allah sendiri menyatakan demikian. Perhatikanlah:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” [QS An Najm: 4-5]

Sebagaimana kata para ulama, bahwa Al Quran itu lebih membutuhkan Sunnah daripada sebaliknya. Dan Anda perlu mengetahui bahwa Sunnah terhadap Al Quran memiliki 3 fungsi, sebagaiman yang dinyatakan oleh Imamuna Asy Syafi’i rahimahullah. Tiga fungsi itu adalah:

1. Memperkuat hokum apa yang sudah ada di dalam Al Quran.

2. Menjelaskan kandungan Al Quram. Dalil-dalilnya akan segera kami sebutkan sebentar lagi, insya Allah.

3. Memberikan ajaran baru yang belum disebutkan Al Quran.

Pertanyaan 3: Jadi menurut QS 6/145 itu, daging biawak, daging anjing, daging harimau, daging buaya, daging ular, tidak haram dimakan. Betul atau salah?

Jawab 3: Betul. Namun nampaknya Anda hanya menafsirkan ayat itu dengan murni akal dan dugaan belaka. Jangan-jangan nanti Anda juga mengatakan daging manusia juga halal karena di ayat tersebut Allah tidak menyebutkan daging manusia termasuk daging yang haram dikonsumsi. Kami katakana, Mahasuci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang nyata!

Bertaqwalah kepada Allah!

Nampaknya Anda tidak tahu atau pura-pura bodoh! Semoga Allah memberimu petunjuk.

Perhatikan pernyataan Imam Asy Syaukani rahumahullah ketika menafsirkan ayat di atas dalam tafsirnya, Fathul Qadir (hal. 454 edisi 1 jilid), “Allah memerintahkan (nabi)-Nya agar mengkhabarkan kepada mereka bahwa tidak dijumpai apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang haram selain hal-hal yang disebutkan ini. Itu menunjukkan bahwa sesuatu yang haram itu terbatas di dalam ayat ini, sekiranya ia makkiyyah. Dan setelah ayat ini, turun di Madinah surat Al Maidah dan ditambahkan hal-hal yang haram ini, yaitu yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, dan yang ditanduk. Dan telah sah dari Nabi ﷺ, haramnya setiap binatang pemangsa yang bertaring dan setiap burug yang bercakar dan paruh yang tajam. Dan diharamkannya keledai kampung, anjing, dan semacamnya. Ringkasnya, meski keumuman ini hanya untuk hewan-hewan yang dimakan sebagaimana konteks pembicaraan, namun berfaidah pengecualian, maka harus disertakan apa yang terdapat dalam Al Quran atau Sunnah yang menunjukkan haramnya sesuatu dari hewan-hewan. Meski keumuman ini hanya segala sesuatu dari hewan yang Allah haramkan, sesungguhnya ia harus diikutkan apa yang disebutkan setelahnya sesuatu yang diharamkan dari sesuatu lainnya.

“Dan telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, dan ‘Aisyah, bahwasannya tidak ada yang haram kecuali apa yang Allah sebutkan dalam ayat ini. Begitu juga diriwayatkan dari Malik, dan ini pendapat yang jatuh (batal) dan sangat-sangat lemah karena konsekuensinya pengabaian terhadap apa-apa yang turun dari Al Quran setelahnya, serta mengabaikan apa yang telah valid dari Nabi ﷺ, yaitu apa yang beliau katakan setelah turunnya ayat ini.”

Pernyataan Imam Asy Syaukani tentang pendapat dari beberapa shahabat yang disebutkan di atas dilanjutkan oleh Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkamil Quran (VII/81), “Dan diriwayatkan dari mereka dengan kebalikannya.”

Maka ayat 146 di surat Al An’am ini termasuk makkiyyah, sebagaimana yang dinukil Al Qurthubi dari Ibnu ‘Abdul Barr [At Tamhid (I/146)] adanya konsesus ulama bahwa surat Al An’am adalah makkiyyah sampai firman-Nya: قل تعالوا أتل ما حرم ربكم عليكم tiga ayat. Dan sesudahnya telah turun banyak ayat dan sunnah yang melimpah.

Oleh karena itu hewan-hewan yang Anda sangka halal dimakan di atas harus dijelaskan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits dari Nabi ﷺ. Tidakkah Anda tahu bahwa Allah menegaskan Nabi Muhammad merupakan penjelas dan pentafsir daripada Al Quran? Jika Anda tidak mengetahui atau puta-pura tidak tahu, dengarkanlah saya yang akan membacakannya untuk Anda:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir.” [QS An Nahl: 44]

Dan Allah telah memerintahkan agar orang-orang yang beriman –kecuali jika ada orang yang tidak beriman- mematuhi apa yang keluar dari lisan Nabi ﷺ yang mulia dalam firman-Nya:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” [QS Al Hasyr: 7]

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS An Nisa’: 59]

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu…” [QS An Nisa’: 105]

Terlebih Allah mensyaratkan orang yang mencintai Allah harus mengikuti apa yang dititahkan Nabi ﷺ, “Katakanlah (hai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” [QS Alu ‘Imran: 31]

Rasulullah ﷺ juga menyatakan, “Sesungguhnya aku diberi Al Quran dan yang semisal dengannya.”

Dan masih banyak dalil-dalil yang kuat tentang wajibnya taat kepada Rasulullah.

Bukankah Rasulallah ﷺ telah mengharamkan anjing dan semisalnya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas. Beliau menuturkan, “Nabi telah melarang (makan) semua hewan pemangsa yang bertaring dan semua burung yang bercakar dan berparuh tajam.” [HR Muslim no. 4970 dan Abu Dawud]

Di dalam Al Minhaj (XII/84), An Nawawi rahimahullah berkata, “Kawan-kawan semadzhab dengan kami mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “yang bertaring” adalah untuk melindungi diri dan memangsa.”

Memang di dalam Al Quran dan Sunnah tidak disebutkan satu persatu makanan yang haram, namun syariat telah menetapkan kaidah-kaidahnya. Dan di balik ini terdapat hikmah yang sangat nampak bagi siapa saja yang masih memiliki akal yang sehat. Seperti firman Allah Ta’ala:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“…dan dia (Muhammad) melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik…” [QS Al A’raf: 157]

Dari sini para ulama metepatkan suatu kaidah emas:

الشارع لا يأمر إلا بما مصلحته خالصة أو راجحة، و لا ينهي إلا بما مفسدته خالصة أو راجحة

“Tidaklah syariat memerintah kecuali murni atau dominan bermaslahat dan tidak pula melarang kecuali yang murni atau dominan bermadharat.”

            Oleh sebab itu, berikut akan kami sebutkan alasan-alasan diharamkannya suatu hewan yang mungkin tidak disebutkan satu persatu di dalam Al Quran dan Sunnah. Karena jika kami hanya menyebutkan hukum khusus tentang daging anjing, dikhawatirkan di kemudian hari Anda akan mencari-cari dan mempermasalahkan daging-daging yang serupa dengan anjing yang memang tidak disebut satu persatu. Ya, setelah menyebutkan kaidah-kaidah ini, kami akan membahas haramnya anjing secara khusus berdasarkan Al Quran dan Sunnah serta pendapat para ahli ilmu.

Setelah melalui penelitian dalil-dalil yang ada serta alasan-alasannya, para ulama rahimahullah menyimpulkan sebab-sebab diharamkannya sutau makanan dan minuman:

1. Bahaya yang di kemudian menimpa badan atau akal. Allah berfirman, “Janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah Mahapenyayang terhadap kalian.” [QS An Nisa’: 29]

2. Memabukkan, melemahkan, dan menidurkan.

3. Najis yang tidak dimaafkan. Dan anjing merupakan binatang yang najis, maka haram dimakan. Sebagaimana pernyataan Al ‘Allamah Asy Syinqithi dalam tafsirnya, Adhwa’ul Bayan. Allah mengatakan sebab hewan diharamkan, “Karena sesungguhnya ia najis.”

4. Yang dianggap jijik menurut orang yang masih waras.

5. Tidak adanya izin secara syariat karena milik orang lain. [Shahih Fiqhissunnah (II/304) dengan ringkas dan sedikit penambahan, yang penulis (Abu Malik) nukil dengan ringkas dari Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah]

Tentang haramnya anjing, babi, dan yang semisalnya, terdapat sejumlah bukti ilmiah yang tidak akan mengingkarinya kecuali orang yang kurang akalnya. Di antaranya adalah:

1. Masuknya kategori anjing dalam sebab-sebab di atas.

2. Anjing merupakan binatang najis. Ini adalah kesepakan fuqaha.

3. Memilihara anjing termasuk perbuatan yang dapat mengurangi pahala yang besar, tepatnya dua gunung besar. Hal ini sebagaimana telah dimaklumi dari sabda Nabi ﷺ.

4. Pendapat para ulama rahimahumullah tentang haramnya anjing. Dan pendapat ini tidak ada yang menyelisihi kecuali segelintir orang yang nyeleneh. Di antara ulama yang mengharamkan adalah, sebagai contoh dan perwakilan:

a. Imam Malik rahimahullah. Sebagian kalangan beranggapan bahwa Imam Malik menghalalkan daging anjing untuk dimakan, namun kenyataannya justru sebaliknya. Ini dia salah satu buktinya. Di dalam kitab fonumentalnya, Al Muwaththa’ hal. 386 hadits ke-1108, Imam Malik meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْلُ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ حَرَامٌ

“Memakan setiap (hewan) yang bertaring dari hewan pemangsa adalah haram.”

Selanjutnya Imam Malik berkomentar, “Inilah yang benar menurut kami.”

Di dalam At Tamhid, Imam Ibnu ‘Abdul Barra Al Maliki rahimahullah berkata, “Di dalamnya dapat dipahami bahwa larangan memakan setiap yang bertaring dari binatang buas berupa larangan untuk pengharaman, bukan adab dan arahan.”

“Sebagian kawan-kawan kami semadzhab,” masih kata Ibnu ‘Abdul Barr, “Mengira bahwa larangan ini merupakan haram tanzih karena kotornya, namun saya tidak faham apa yang mereka maksud dengan kotor.” Atau perkataan semisalnya.

Kesimpulannya, mayorias ulama bermadzhab malikiyyah berpendapat haramnya anjing karena ia termasuk binatang buas, kecuali yang diriwayatkan dari Ibnul Qasim bahwa beliau memakruhkan.

b. Imam Asy Syafi’i.ini telah diketahui bersama.

c. Imam Abu Ishaq Asy Syirazi Asy Syafi’i rahumahullah. Beliau berkata, “Adapun yang najis, maka tidak halal dimakan, yaitu anjing dan babi. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Diharamkan atas kalian bangkai, darah, dan daging babi.” Dan firman-Nya, “Dan diharamkan atas mereka yang buruk-buruk.” Dan anjing termasuk yang buruk-buruk. Dalil buruknya anjing adalah sabda Nabi ﷺ, “Anjing adalah buruk, buruk harganya.” [Al Muhadzdzab fil Fiqh Asy Syafi’i (I/343)]

d. Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied Asy Syafi’i rahimahullah. Ketika sampai perkataan penulis Al Ghayah wat Taqrib atau yang biasa disebut dengan Mukhtashar Abi Syuja, “Dan diharamkan (memakan) hewan buas yang bertartaring kuat untuk memangsa,” beliau berkata, “Aku katakan, ‘Berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ, beliau besabda, ‘Memakan setiap (hewan) bertaring dari hewan buas adalah haram.” [HR Al Bukhari & Muslim] Maka diharmakan anjing, gajah, beruang, hewan buas, dan semacamnya.” [Tuhfatul Labib syarh At Taqrib hal. 445]

e. Imam Asy Syukani. Beliau menukil adanya ijma’ tentang haramnya hewan buas bertaring dan burung yang berkuku dan berparuh tajam. [As Sail Al Jarrah hal. 724]

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Hasil penjualan anjing itu khabits.”

Para ahli medis mengemukakan bahwa anjing memiliki berbagai cacing yang sangat berbahaya bagi manusia. Terlebih air liur anjing yang najis memperkuat keharaman mengkonsumsinya. Tentu saja anjing juga menelan air liurnya yang dapat mempengaruhi dagingnya. Sedangkan Nabi Muhammad ﷺ telah melarang hengkonsumsi hewan pemakan najis. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, “Nabi ﷺ melarang memakan (daging) dan susu hewan yang memakan kotoran (jalalah).” [HR At Tirmidzi dan lainnya]

Saya khawatir Anda termasuk di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kalian beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” [QS Al Baqarah: 85]

Pertanyaan 4: Hadits Shahih Al Bukhari menceritakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ melarang umatnya memakan daging binatang buas bertaring. Betul atau salah?

Jawab 4: Hadits yang Anda maksud adalah sebagai berikut:

Imam Al Bukhari rahimahullah berkata, telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah mengkhabari kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Abu Idris Al Khaulani, dari Abu Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنْ أَكْلِ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ

“Bahwasannya Rasulullah ﷺ melarang makan setiap yang bertaring dari binatang buas.”

Pertanyaan 4: Jadi menurut hadits Shahih Al Bukhari, daging anjing haram dimakan. Betul atau salah?

Jawab 4: Kali ini Anda benar.

Pertanyaan 5: Hadits Shahih Al Bukhari tersebut bertentangan dengan QS Al An’am ayat 145 atau tidak?

Jawab 5: Dengan tegas dan akan terus kami katakan: Tidak sama sekali! Bahkan saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Demikialah keadaan Al Quran dan Sunnah. Sebagaimana yang kami katakana di atas bahwa Sunnah memiliki 3 kedudukan terhadap Al Quran, salah satunya adalah menambah hokum yang belum tersebut di dalam Al Quran. Imam Badruddin Az Zarkasyi rahimahullah mengatakan dalam Al Burhan fi ‘Ulumil Quran (III/77), “Ketahuilah bahwa Al Quran dan Hadits saling membantu (menguatkan) selamanya dalam menyempurnakan yang haq dan menyampaikannya yang merupakan jalan-jalannya hikmah. Sampai satu dari keduanya mengkhususkan keumuman yang lain dan menjelaskan (tabyin) ijmalnya.”

Pertanyaan 6: Saudara percaya dengan hadits Shahih Al Bukhari tersebut?

Jawab 7: Percaya. Bahkan tidak hanya ikrar  hati dan lisan, namun juga kami buktikan dengan anggota badan.

Pertanyaan 8: Saudara percaya dengan kedua yang bertentangan satu sama lain?

Jawab 8: Sudah kami katakan di atas bahwa tidak ada pertentangan antara Al Quran dan Sunnah selamanya. Jika Anda punya kemusykilan dari keduanya, maka pemahaman Anda yang kurang dan ada sesuatu yang ganjil pada diri Anda. Jangan mentang-mentang Anda tidak bisa memahami suatu ayat dari Al Quran dan Sunnah sehingga Anda kira saling bertabrakan kemudian Anda berterika, “Ternyata Al Quran dan Sunnah ada kontradiksi!” Sekali lagi kami katakan, “Jangan sombong dengan kobodohan dan kejahilan.” Maka berhati-hatilah!

Para ulama telah menjelaskan nash-nash yang disangka kontradiksi. Semoga Allah merahmati Imam Ad Daruquthni ketika berkata, “Siapa yang di sisinya memiliki kemusykilan (kontradiksi) dalam hadits, datanglah kepadku.” Imam Ibnu Qutaibah mempunyai karangan Takwil Mukhtalafil Hadits dan Syaikh Muhammad Al Mukhtar bin Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mempunyai kitab Daf’u Ihabil Idhthirab ‘an Ayil Kitab. Bacalah!

Pertanyaan 9: Lebih percaya mana, lebih percaya Shahih Al Bukhari atau lebih percaya QS Al An’am ayat 145?

Jawab 9: Semua kami percayai. Tidak ada yang kurang dan lebih. Semuanya sama di sisi kami dan itulah yang menjadi madzhab resmi Ahlussunnah wal Jama’ah dari dulu hingga sekarang.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Dan Sunnah merupakan sumber kedua dalam pensyariatan.” Selanjutnya beliau memperjelas, “Dan makna pernyataannya kami ‘sumber kedua’ adalah dalam hitungan, bukan tertib. Karena sesungguhnya kedudukannya, jika telah abasah dari Nabi  ﷺ, maka sama kedudukannya dengan Al Quran.” [Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah (II/5)]

Pertanyaan 10: Jadi menurut saudara, daging anjing itu haram atau tidak?

Jawab 10: Anda tidak dengar apa yang kami nyatakan dengan tegas di atas?

Pertanyaan 11: Kalau haram, berarti saudara tidak percaya kepada QS 6/145, QS 6/119, dan QS 6/57? Ada ushul fiqih, “Semua muamalah boleh kecuali ada larangan dari Allah.”

Jawab 11: Kami tegaskan, kaidah itu benar adanya. Dan haramnya memakan daging anjing termasuk sesuatu yang ada larangannya dari Allah.

Nampaknya Anda tidak faham ilmu ushul; antara ‘am dan khash, muthlaq dan muqayyad, nasikh dan manshukh, serta lainnya. Anda kira suatu ayat yang dinasikh berarti tidak dipercaya? Kami tidak akan menjawab pertanyaan ini secara panjang, karena ini hanya kami anggap sebagai pertanyaan lelucon yang dipaksakan. Kami sarankan agar Anda membaca dan mempelajari Ar Risalah karya Imamuna Asy Syafi’i, I’lamul Muwaqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin karya Imam Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haqq min ‘Ilmil Ushul karya Imam Asy Syaukani, dan ilmu ushul lainnya agar Anda tidak malu karena kebodohan yang ada pada diri Anda!

Pertanyaan 12: Sudah dicocokkan dengan ayat di bawah ini atau belum: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” [QS Al A’raf: 40]

Jawab 12: Kami akan kembali menegaskan sebagaimana penegasan shahabat ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika mendapati kaum Khawarij membawakan ayat-ayat Al Quran untuk membela aqidah sesat mereka:

كَلِمَة الحَقِّ أُرِيْدَ بِهَا الْبَاطِلُ

“Sebuah kalimat yang hak namun diinginkan untuk kebatilan!”

Di sini Anda juga menafsirkan ayat Al Quran dengan semau sendiri. Tafsir “semau gue”. Sudah begitu, menyalahkan orang lain lagi! Tidakkah Anda bertaqwa kepada Allah? Ya Akhi, sadarkah Anda? Bangunlah dari keterlenaanmu.

Terakhir, kami akan memberikan bonus berupa jawaban pernyataan Anda yang sudah menyakiti hati kami, yaitu “haramnya dihadits Bukhori Muslim, pdhal mereka adalah manusia= tempat salah dan lupa”. Pernyataan Anda kali ini sangat-sangat fatal dan disayangkan. Nampaknya Anda tidak tahu menahu tentang hadits, entah memang tidak tahu atau pura-pura bodoh! Imam Al Bukhari dan Muslim hanya mencatat dan ‘merekam’ perkataan Nabi ﷺ,  bukan dari keduanya. Memang manusia tempatnya salah, tapi bukan Rasulullah ﷺ yang maksum dari kesalahan dan kekeliruan.

Sampai di sini saya mulai yakin bahwa penulis adalah temasuk dari pengekor faham Quraniyyun karena menganggap bahwa ada hadits yang juga merupakan wahyi dari Allah mengalami keliruan dan kesalahan. Wal ‘iyadzubillah.

Penutup

Kami kira perjumpaan kita sampai di sini dulu saja, lain waktu bisa dilanjutkan jika masih diperlukan demi tegaknya alhaq. Bantahan ini agaknya terlalu panjang, tapi mudah-mudahan dapat membuat puas diri Anda dan orang-orang yang sepaham dengan Anda atau yang masih dibingungkan dan hamper terjerumus mengikuti jejak Anda disebabkan selembaran yang Anda tulis.

Kami berkeinginan untuk lebih menjelaskan secara lebih luas dalam masalah ini dalam satu buku khusu semacam Kitab Al Ath’imah agar menjadi pegangan hidup setiap muslim yang menginginkan kebaikan dunia-akhirat. Juga karena memandang di negeri ini sudah banyak sebagian kalangan yang berani mendengung-dengung perkara yang sebenarnya sudah disepakati para ulama hukumnya, masih juga dipermasalahkan. Kami berikan satu contoh ringan. Seluruh ulama bersepakat wanita tidak boleh menjadi pemimpin suatu negeri. Ketika permasalah ini masuk ke negeri ini, sebagian kaum juhhal yang ditokohkan mempermasalahkannya serta berkata, “Ini masalah khilafiyyah, salinglah menghormati.”

Benarlah apa yang disabdakan Nabi ﷺ. Imam Al Bukhari (no. 100) dan Imam Muslim ‘merekam’ hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَ لكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاء، حَتَّى إِذَا لَم يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالَا، فَسُئِلُوْا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلَّوْا وَ أَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hamba-hamba dengan begitu saja, namun Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai ketika Dia tidak menyisakan seorang ulama pun, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin-pemimpin. Mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Sesat dan menyesatkanlah mereka.”

Mudah-mudahan Allah berkenan membukakan pintu hidayah-Nya kepada Anda dan orang-orang yang semisal dengan Anda.

Hanya Allah Dzat yang Mahamengetahui dengan tepat. Semoga shalawat beriringan salam senantiasa terlimpahkan kepada banginda Nabi Muhammad, keluarga, dan shahabatnya, serta orang-orang yang tegar meniti jalan mereka dengan baik. []

Selesai ditulis satu tahun yang lalu (1434 H) di Yogyakarta atas permintaan Ustadzuna ‘Abdussalam bin Busyro ‘Abdul Mannan –hafizhahullah wa ra’ah

Refrensi

1. Al Quran Al Karim

2. Tafsir Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Quran, karya Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, tahqiq & ta’liq Mahmud Muhammad Syakir, muraja’ah & takhrij Ahmad Muhammad Syakir, cet. ke-2 Maktabah Ibnu Taimiyyah Cairo

3. Tafsir Al Jami’ li Ahkamil Quran, karya Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al Qurthubi (w. 671 H), tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At Turki dkk., cet. Muassasah Ar Risalah Beirut

4. Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, karya Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi (w. 774), tahqiq Mushthafa As Sayyid Muhammad dkk., cet. Muassasah Qurthubah

5. ______________, taqdim ‘Abdul Qadir Al Arnauth, cet. ke-5 Jam’iyyah Ihyait Turats Al Islami Kuait

6. Tafsir Fathul Qadir al jami’ Baina Al Fannai Ad Dirayah war Riwayah min ‘Ilmit Tafsir, karya Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani (w. 1250 H), I’tina’ Yusuf Al Ghusy, cet. ke-5 Darul Ma’rifah Beiryt

7. Al Burhan fi ‘Ulumil Quran, karya Abu ‘Abdullah Muhammad bin Bahadur Az Zarkasyi (w. 794), taqdim & takhrij Mushthafa ‘Abdul Qadir ‘Atha, cet. ke-1 Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut

8. At Tafsir wal Mufassirun, karya Dr. Muhammad Husain Adz Dzahabi (w. 1977 M), cet. Darul Hadits Mesir

9. Ushul fit Tafsir, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Ustaimin, cet. ke-3 Dar Ibn Al Jauzi KSA

10. Syarh Ushul fit Tafsir, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin (w. 1421 H), tahqiq Shalahuddin Mahmud As Sa’id, cet. ke-1 Darul Ghaddil Jadid Cairo

11. Al Minhaj syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, karya Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi Asy Syafi’i Ad Dimasyqi (w. 676), tahqiq Khalil Makmun Syiha, cet. ke-8 Darul Ma’rifah Beirut

12. Tuhfatul Ahwadzi syarh Jami’ At Tirmidzi, karya Abul ‘Ula Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri (w. 1353 H), i’tina’ ‘Ali Muhammad Mi’wadh & ‘Adil Ahmad ‘Abdul Maujud, cet. ke-3 Dar Ihya’ At Turats Al ‘Arabi Beirut

13. Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Ustaimin, cet. ke-4 Dar Ibn Al Jauzi KSA

14. Shahih Fiqh As Sunnah, karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cet. Darut Taufiqiyyah lit Turats Cairo

15. Al Muhadzdzab fil Fiqh Al Imam Asy Syafi’i, karya Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali bin Yusuf Al Fairuzabadi Asy Syirazi, cet. Darul Fikr Beirut

16. ‘Aunul Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud, karya Abu ‘Abdurrahman Syaraful Haq Muhammad Asyraf Ash Shiddiqi Al ‘Azhimabadi (w. sebelum 1322 H), tahqiq, ta’liq, dan tashhih ‘Abdurrahman Muhammad ‘Utsman, cet. ke-1 Dar Ihya At Turats Al ‘Arabi

17. Al Muwaththa’, karya Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik, tahqiq Kulal Hasan ‘Ali, cet. Muassasah Ar Risalah Beirut

18. dan lain-lain.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: