//
you're reading...
Akhlaq dan Adab

Waktu Membaca Doa Masuk Masjid, Kapan?

masjid6Selama ini banyak orang awam yang beranggapan bahwa waktu membaca doa masuk masjid ialah ketika ia sampai di depan pintu ruangan utama masjid.Demikian juga waktu membaca doa keluar masjid, yaitu ketika sampai di dekat pintu ruangan utama masjid. Artinya meski ia telah menginjakkan kakinya di teras masid pun, doa tersebut belum dibacanya, sebab belum pada tempatnya. Pemahaman semacam ini kiranya perlu kita cermati dan tinjau ulang seteliti mungkin agar amalan yang kita lakukan lebih sesuai sunnah. Baiklah, mari segera kita mulai tinjauan dan penelitian kita. Semua orang sepakat bahwa awal mula dibacanya doa masuk masjid ialah ketika seorang muslim hampir memasuki area masjid. Namun ternyata banyak di antara mereka (bahkan boleh jadi mayoritasnya) yang belum faham batas-batas yang masuk dalam kategori hukum masjid. Apakah yang disebut masjid adalah hanya sebatas ruang utama masjid, sehingga terasnya tidak terhitung masjid. Atau teras terhitung masjid, sehingga doa dibaca ketika kaki hendak menginjak ke teras masjid. Atau bahkan doa masuk masjid sudah dibaca saat seorang muslim berada persis di dekat pintu gerbang halaman masjid. Manakah yang lebih benar dalam hal ini.

 

Untuk pendapat pertama, jelas tidak benarnya. Sebab, semua sepakat bahwa teras masjid termasuk bagian dari masjid. Sehingga hukum-hukum yang berkaitan dengan masjid berlaku di sana. Seumpama larangan bertransaksi jual beli di sana, boleh shalat sunnah tahiyyatul masjid di sana, dan seterusnya. Oleh karena itu, pendapat kedua sudah diketahui statusnya. Adapun untuk pendapat yang ketiga, maka, “Tentang status halaman masjid kita jumpai dua pendapat ulama. Ada yang merinci dan ada yang berpendapat bahwa halaman masjid itu bukanlah bagian dari masjid. Pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah dengan merinci apakah masjid itu memiliki pagar ataukah tidak. Jika masjid tidak memiliki pagar muka halaman masjid adalah bukan masjid. Jika masjid memiliki pagarmuka halaman masjid yang berada di dalam pagar adalah bagian dari masjid sehingga berlaku padanya segala ketentuan-ketentuan untuk masjid semisal sah i’tikaf di sana dan dilarang mengadakan transaksi jual beli di sana. Inilah pendapat yang dinilai lebih kuat oleh Syaikh Ibnu Baz dan Lajnah Daimah.” (Faidah dari Ustadzuna Aris Munandar –hafizhahullah wa ra’ah– di blog beliau, ustadzaris.com)

 

Dengan demikian, menurut pendapat yang lebih kuat ini, maka doa masuk masjid hendaknya dibaca di saat seorang muslim berada di tepat pintu gerbang masjid tersebut. Sebab itulah permulaan area masjid. Adapun membaca doa hendak masuk masjid setelah masuk pintu pagar masjid, maka sudah tidak lagi disyariatkan. Bahkan boleh jadi bid’ah. Karena yang kita ketahui juga, salah satu dari sekian ketentuan amalan yang sesuai sunnah ialah sesuai dalam hal tempatnya. Meskipun penilaian bid’ah ini kiranya perlu ditinjau ulang oleh para ahli ilmu yang mumpuni di bidangnya. Maka sebenarnya, pembahasan ini tidak terbatas pada kapan dimulainya membaca doa masuk masjid, namun juga hukum-hukum yang terkait dengannya. Sebagai contoh, larangan berdagang di halaman masjid yang berpagar meskipun halaman masjid tersebut luas. Maka larangan ini sudah berlaku pula di halaman masjid yang berpagar.

 

“Kami menghormati orang yang memili pendapat yang berbeda dengan pendapat yang kami pilih jika dia memilih pendapat tersebut karena berpandangan bahwa pendapat tersebut adalah pendapat yang lebih kuat ditinjau dari dalilnya. Akan tetapi adalah TERCELA orang yang mengambil pendapat yang lain dikarenakan itulah yang cocok dan selaras dengan SELERA dan HAWANAFSUNYA.” (UstadzAris.Com)

 

Jika demikian, penulis pun merasa sangat perihatin dengan tindakan sebagian ikhwan yang biasa berdagang di area masjid, terutama saat diadakannya kajian. Padahal ikhwan tersebut sangat berkemungkinan besar sudah ngaji dan tahu hukumnya. Penulis kira orang yang berdagang di area terlarang tersebut hanya dilakukan oleh orang-orang awam yang belum ngaji dan sebagian ikhwan Jama’ah Tabligh. Saat pertama kali penulis dapati mereka berdagang di masjid Metro, Lampung. Gerang memang. Namun belum saatnya dinahimunkar dengan tangan dan lisan. Dalam hal ini, penulis sangat setuju dengan apa yang biasa berlaku di saat kajian nasional yang digelar setahun sekali di Masjid Manunggal Bantul, Yogyakarta. Meski di samping digelarnya daurah masyayikh, ada pula bazzar yang mayoritas pedagangnya ikhwan Salafiyyin. Namun tetap dengan norma dan aturan, yaitu -sebatas yang penulis tahu-:

 

1. Bazzar hanya boleh dibuka di waktu istirahat saja dan para pedagangnya pun selalu menolak mengadakan transaksi jual beli ketika kajian tengah berlangsung.

2. Di wakti-waktu shalat, bazzar juga harus ditutup sehingga tidak menganggu ibadah yang lebih fardhu. Meskipun ada juga yang bandel, maka ini lain cerita.

Wallahua’lam.
Jatinegara, Jakarta Timur,
12:59 Selasa, 03 September 2013 M.

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: