//
you're reading...
Fadhilah Amal

Keagungan Al-Quran & Pengembannya

Quran

          Sesungguhnya keagungan Al-Quran tidak dapat disangkal lagi. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak dan bertebaran di dalam Al-Quran maupun Sunnah. Selain itu juga dibuktikan dengan realita yang ada. Bahkan Al-Quran adalah sebaik-baik kitab yang Allah turunkan di muka bumi dan merupakan penyempurna kitab-kita terdahulu.

Jika demikian kenyataannya, maka jelas tentu orang yang disibukkan dengan Al-Quran adalah sebaik-baik manusia secara umum ditilik dari keagungan yang dengannya ia disibukkan.

A.    Seklumit Dalil-Dalil Tentang Keutamaan Al-Quran

Bukti-bukti yang menjukkan keutamaan dan keagungan Al-Quran sangatlah banyak. Cukup kita katakan bahwa Al-Quran adalah firman Allah, Rabb semesta alam, sudah menjadi bukti betapa agungnya Al-Quran itu.

Al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran (I/9), mengatakan ketika hendak menyebutkan dalil-dalil tentang keutamaan Al-Quran, “Ketahuilah bahwa ini merupakan tema yang luas lagi besar. Para ulama telah mengarang tentangnya buku-buku yang banyak.”

Masih di halaman yang sama dalam tafsirnya, beliau juga mengatakan, “Pertama-tama tentang (keutamaan Al-Quran) itu adalah seorang mukmin hendaknya merasa di antara keutamaan Al-Quran adalah bahwa ia merupakan perkataan Rabb semesta alam, bukan makhluk, perkataan Dzat yang tidak ada yang serupa dengan-Nya, …”

Namun demikian, bukan berarti hal ini menghalangi kita untuk mengemukakan seklumit tentang keutamaan dan keagungan Al-Quran Al-Karim. Di antaranya adalah sebagai berikit:

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran , yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS Al-Maidah: 48)

Maka Taurat, Injil, dan Al-Quran adalah firman Allah, dan Al-Quran paling utama dari yang lainnya, oleh karena itu ia menjaga kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.

Firman Allah Ta’ala, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, Al-Quran, yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Karenanya gemetar kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu  Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki . dan barang siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat memberi petunjuk.” (QS Az-Zumar: 23)

Juga firman-Nya, “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (QS Yusuf: 3)

Maka setiap apa yang Allah ‘Azza wa Jalla wahyukan adalah sebaik-baik kisah. Ini tidak khusus dengan surat Yusuf, karena Dia berfirman (yang artinya), dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu…” Jika kisah-kisah Al-Quran adalah seutama-utama, ini menunjukkan bahwa ia lebih afdhal dari selainnya dalam setiap keadaan. Inilah keyakinan Salaf.

Di antara yang membuktikan keagungan Al-Quran adalah ia merupakan kitab petunjuk (hidayah) dan penghidup cahaya. Allah berfirman (yang artinya), “Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha: 23) “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Quran) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Quran itu cahaya, dengan itu Kami memberi hidayah  siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus.” (QS Asy-Syura: 52)

Keagungan Al-Quran juga dapat dibuktikan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-Hasyr ayat ke-21 yang artinya, “Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecahbelah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat agar manusia berfikir.”

Al-Qurthubi –rahimahullah– berkata, “Maka di manakah kekuatan hati daripada kekuatan gunung? Akan tetapi Allah Ta’ala memberikan rizki kepada hamba-Nya berupa kekuatan untuk mengembannya apa yang Dia kehendaki untuk memberikan mereka rizki sebagai bentuk karunia dan kasih sayang dari-Nya.”

Adapun dari hadits, di antaranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah hajatnya, “Sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah (Al-Quran).”

Dalam hadits marfu’ disebutkan, “Keutamaan firman Allah atas seluruh perkataan adalah sebagaimana keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (HR At-Tirmidzi dan ia berkomentar, “Hadits hasan gharib,” dan Ad-Darimi)

Imam Al-Bukhari membawakan hadits ini di bawah judul, “Bab: Keutamaan Al-Quran atas Seluruh Perkataan.”

Termasuk yang menunjukkan keutamaan Al-Quran adalah kalangan Salaf mendahulukan Al-Quran daripada dzikir mutlak. “Siapa yang disibukkan Al-Quran dan dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku, akan Aku berikan kepadanya yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.”  (bagian hadits sebelumnya)

B.    Keutamaan Pengemban Al-Quran

Oleh karena keutaman Al-Quran yang agung ini, maka orang yang mempelajarinya dan mengajarkannya adalah sebaik-baik manusia. Utsman bin ‘Affan meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.”  (HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya, At-Tirmidzi, dan lainnya)

Selain itu, pengemban Al-Quran adalah manusia yang Allah angkat sebagai keluarga dan makhluk yang istimewa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perrnah bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki dua keluarga dari kalangan manusia, yaitu ahli Al-Quran. Merekalah keluarga Allah dan makhluk yang diistimewakan-Nya.” (‘Direkam’ As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir yang beliau nisbatkan kepada Al-Imam Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa kelak keluarga Allah adalah mereka yang berkedudukan tinggi di surga-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Dikatakan kepada pengemban Al-Quran, ‘Bacalah, naiklah, dan tartinkanlah sebagaimana engkau mentartilkan (bacaan) di dunia. Sebab, kedudukanmu nanti sesuai pada akhir ayat yang engkau baca.’” (Disebutkan As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir dan dinisbatkannya kepada  Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa di antara keutamaan Al-Quran adalah diangkatnya seorang yang ‘alim dan mengamalkannya dengan Al-Quran. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat sejumlah kaum dengan Kitab (Al-Quran) ini dan merendahkan yang lainnya.” (HR Muslim)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Quran) dan selalu melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rizki yang Kami anugrahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terang, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambahkan karunia-Nya. Sungguh, Allah Mahamengampuni, Mahamensyikuri.” (QS Fathir: 29-30)

Yang menakjubkan adalah tidak saja orang yang mahir membaca Al-Quran yang diberi pahala, namun orang yang kesulitan sekalipun tidak luput dari pahala yang juga besar. Hal ini sebagaimana  hadits yang diriwayatkan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Quran dan mahir, dia beserta Malaikat yang mulia lagi taat (kepada Allah). Sedangkan orang yang membaca Al-Quran sedangkan ia terbata-bata kesulitan, baginya dua pahala.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al-Quran karena ia akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pengembannya.” (HR Muslim)

Untuk menyemangati pembaca Al-Quran, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Siapa yang mebaca satu huruf dari Kitab Allah Ta’ala (Al-Quran), baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan ‘alif lam mim’ adalah satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, lam adalah satu huruf, dan mim adalah satu huruf.” (HR At-Tirmidzi, beliau berkomentar, “Hadits hasan shahih.”)

Imam Muslim mencatat sebuah hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu-, beliau menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Quran adalah bagaikan buah utrujjah; aromanya sedap dan rasanya mantap. Dan perumpaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Quran adalah laksana buah kurma; tidak memiliki aroma namun rasanya manis.

“Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran adalah bagaikan raihanah; aromanya sedap namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tiada membaca Al-Quran ialah seperti buah hanzhalah; tak ada aroma namun juga rasanya pahit.”

Dalam riwayat lain, “Perumpamaan pendosa,” sebagai pengganti, “Perumpamaan orang munafik.”

Orang yang menyibukkan diri dengan Al-Quran tidak hanya akan memperoleh manfaat sendiri, namun juga orang-orang di sekitarnya pun memperoleh manfaat, terlebih kedua orangtuanya. Betapa tidak, sedangkan anak adalah bagian dari usaha orangtua. Bukankan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.”

Dalam sebuah hadits yang sanadnya dha’if dinyatakan, “Siapa yang membaca Al-Quran lalu ia mengikutinya dan menghafalnya, pasti Allah memasukkannya ke dalam surga dan ia diberi wewenang untuk memberikan syafaat kepada sepuluh orang dari kalangan ahli baitnya yang seharusnya semua sudah dimasukkan ke dalam neraka.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkomentar, “Sanadnya tidak shahih.”)

Diriwayatkan dari Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada hari kiamat; cahanya lebih baik daripada cahaya matahari (yang masuk ke) dalam rumah-rumah  di dunia. Lantas apa perkiraan kalian dengan orang yang mengamalkan dengan (Al-Quran) ini?” (Sanadnya dha’if. Diriwayatkan Abu Dawud)

‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, maka pelajarilah dari hidangan-Nya semasih kalian mampu. Sejatinya Al-Quran ini adalah tali Allah, cahaya yang jelas, penawar (obat) yang bermanfaat, penjaga bagi siapa yang berpegang teguh dengannya, dan keselamatan bagi orang yang mengikutinya…”

Dalam At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Quran, An-Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Dari ‘Abdul Hamid Al-Hammani, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri tentang seseorang yang berperang lebih engkau sukai ataukah orang yang membaca Al-Quran? Beliau pun menjawab, ‘Orang yang membaca Al-Quran. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.’

Sekarang tibul pertanyaan, bagaimanakah dengan seseorang yang membaca Al-Quran namun ia sama sekali tidak mengetahui bahasa ‘Arab, sudah barang tentu ia tidak akan faham tentang apa yang dibacanya, apakah orang semacam ini memperoleh pahala?

Jawabnya adalah sebagai berikut: Termasuk nikmat dari Allah Ta’ala adalah Dia tidak hanya akan memberikan pahala orang yang membaca Al-Quran dan memahami apa yang dibacanya, namun juga Allah akan memberi pahala kepada orang yang membacanya namun dirinya tidak faham apa yang dibacanya.

Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah dalam tafsirnya, Fath Al-Bayan fi Maqashid Al-Quran (I/24-25), menngatakan, “Asy-Syaukani –rahimahullah ta’ala– menjawab orang yang bertanya kepadanya tentang seseorang awam dan wanita yang membaca Al-Quran tanpa mengetahui (hukum) halal, haram, dan makna-maknanya, apakah mereka memperoleh pahala tetap yang tak berkurang ataukah tidak? Beliau mengatakan, ‘Pahala membaca Al-Quran itu sudahlah valid. Akan tetapi jika disertai dengan mentadaburi makna-maknya maka pahalanya akan berlipat. Adapaun semata-mata hanya dengan membaca Al-Quran, tidak diragukan lagi dapatnya pahala. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang berbuat dari mereka.”

Melihat riwayat-riwayat yang menerangkan tentang keutamaan dan keagungan Al-Quran ini, kiranya tidaklah pantas seorang muslim mana pun untuk terluput dan melepaskan diri darinya. Betapa tidak, Al-Quran adalah salah satu pedoman hidup di samping sunnah nabawiyyah yang akan memberikan petunjuk menuju keselamatan dan kejayaan bagia siapa saja yang mempelajarinya.

Oleh karena itu, di bagian terakhir tulisan ini akan saya bawakan potret ulama salaf dalam semangat mereka untuk menghafalkan Al-Quran sebelum lebih lanjut mempelajari ilmu-ilmu syariat yang lain. Karena tidak ragu lagi bahwa Al-Quran adalah kunci daripada ilmu-ilmu itu seluruhnya.

  1. C.     Kegigihan Kaum Salaf dalam Menghafal Al-Quran Sebelum Mempelajari Ilmu Syariat yang Lain

Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abdul Halim Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menjawab pertanyaan tentang manakah yang lebih afdhal, apakah menghafal Al-Quran ataukah menuntut ilmu, “Menuntut untuk menghafal Al-Quran harus didahulukan dari banyak apa yang dinamakan ilmu oleh manusia –ilmu itu boleh jadi bathil atau sedikit manfaatnya-. Menghafal Al-Quran juga hendaknya didahulukan daripada pelajaran untuk orang yang menginginkan belajar ilmu agama, berupa ushul (pokok agama: aqidah) dan furu’ (cabangnya: fiqih). maka Yang disyariatkan bagi orang yang semacam ini di waktu-waktu ini adalah hendaknya ia memulai dengan menghafalkan Al-Quran karena ia merupakan pokok dari ilmu agama.

“Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh banyak kalangan ahli bid’ah dari orang-orang ‘ajam dan selainnya, dimana mereka menyibukkan diri dengan ilmu yang sia-sia berupa ilmu kalam, debat, perselisihan, dan ilmu cabang yang jarang (terjadi).., sedang mereka malah meninggalkan menghafal Al-Quran  yang lebih penting dari itu.” (Al-Majmu’ XXXIII/54)

Manusia yang pertama kali mempelopori menghafal Al-Quran adalah Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasyi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau sangat berantusias menghafalkannya meski ayat sedang turun, beliau mengulang-ngulangnya dalam dirinya. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat bahwa yang menjadikannya hafal adalah Allah.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika Jibril ‘alaihissalam turun kepadanya menyampaikan wahyu, beliau menggerak-gerakkan lisan dan kedua bibirnya maka jadilah sangat keras dan ia mengetahui darinya. Allah pun menurunkan ayat (yang artinya), “Janganlah engkau (Muhammad) menggerak-gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya,” jika Kami menurunkannya maka dengarkanlah, “Kemudian sesungguhnya Kamilah yang akan menjelaskannya.,” Kami akan menjelaskannya melalui lisanmu. Ia berkata, “Maka jika Jibril turun, beliau menundukkan kepala, dan jika ia telah pergi beliau membacanya sebagaimana yang Allah janjikan.” (HR Al-Bukhari)

Termasuk kesungguhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mempelajari Al-Quran dan menghafalnya bersama Jibril adalah dalam setiap tahunnya satu kali dan di tahun di mana beliau wafat dua kali.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan semangat dari para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Beliau biasa mendengarkan Al-Quran dari mereka dan memberikan semangat kepada yang lain.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, belia menceritakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacakan Al-Quran kepadaku!” Aku menjawab, “Apakah aku membacakan (Al-Quran) kepadamu sementara kepadamu diturunkan?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari selainku.” Aku pun membacakan kepadanya surat An-Nisa sampai sampai pada ayat (yang artinya), “Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka,” [QS An-Nisa’: 41] Beliau bersabda, “Sudahlah!” Maka tiba-tiba kedua matanya bercucuran air mata.” (HR Al-Bukhari)

Demikian juga dengan para shahabat lain. Mereka sangat berantusias dalam menghafalkan Al-Quran. Bagaimana tidak, sedang Al-Quran adalah asas dan pondasi dari segala ilmu dan tempatnya kemuliaan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Menghafalkan seluruh Al-Quran, mengetahui seluruh maknanya, dan mengetahui seluruh Sunnah tidaklah diwajibkan atas setiap person. Akan tetapi diwajibkan atas setiap hamba menghafalkan sebagian Al-Quran, mengetahui makna-maknanya, dan mengetahui sebagian Sunnah yang dibutuhkannya.”

Termasuk perhatian kaum Salaf dalam menghafal Al-Quran adalah mereka mendorong untuk mengahafalnya. Hingga ada pernyataan terkenal sebagian mereka, “Sejatinya mempelajari Al-Quran itu lebih afdhal daripada shalat sunnah.” (Mukhtarat An-Nawazil hlm. 486 sebagaimana dalam Al-Quran wa Manzilatuh Baina As-Salaf II/808)

Imam kita, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, mengatakan, “Siapa yang hafal Al-Quran maka kehormatannya menjadi besar dan siapa yang menegtahui Sunnah maka hujjahnya akan semakin kuat.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih hlm. 127)

Oleh karena keagungan menghafalkan Al-Quran, maka tak heran jika kita jumpai mayoritas ulama ketika hendak menuntut ilmu syariat mereka akan menyelesaikan hafalan Al-Quran terlebih dahulu.

Meski menghafal Al-Quran adalah sesuatu yang sangat mulia dan agung, namun usaha untuk mencapainya bukanlah sesuatu yang sulit, tinggal diri masing-masing apakah ia mau menggapainya dengan usaha dan kesungguhan. Hal ini Allah nyatakan sendiri dalam Al-Quran surat Al-Qamar ayat ke-17, 22, 32, dan 40 (yang artinya), “Sungguh Kami telah mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan salah satu keistimewaannya adalah Al-Quran itu dihafalkan dan dijaga di dalam dada sebagaimana ‘direkam’ dalam tulisan. Allah berfirman yang artinya, “Sebenarnya (Al-Quran) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang yang berilmu…” (QS Al-‘Ankabut: 49)

Keagungan ini kemudian diterjemahkan oleh kaum muslimin dengan mendirikan dan mengadakan halaqah-halaqah Al-Quran. Maka tidaklah ada suatu komunitas kaum muslimin, baik yang berbahasa Arab atau bukan, setidaknya halaqah Al-Quran mesti dapat dijumpai. Ini adalah pertanda yang baik.

Ibnu Hazm Al-Andalusi rahimahullah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat sedangkan Islam telah tersebar di seluruh jazirah ‘Arab. Di jazirah ini terdapat desa-desa dan kota-kota yang tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah. Seluruh mereka telah memeluk agama Islam dan membangun masjid-masjid. Tidaklah ada suatu pedesaan, perkotaan, dan tidak juga permukiman ‘Arab badui kecuali dibaca Al-Quran itu dalam shalat-shalat dan diajarkan kepada anak-anak; laki-laki maupun perempuan.

Kemudian wafatlah Abu Bakar dan digantikan ‘Umar. Maka dibukalah negeri-negeri Persia, dan dibuka pula Syam, dan Mesir. Tidaklah tersisa dari negeri-negeri ini kota pun kecuali dibangun masjid-masjid dan disalinlah Al-Quran, para imam (shalat) membaca Al-Quran, dan anak-anak mempelajarinya di maktab-makatab, baik di Timur maupun di Barat.” (Al-Fash fi Al-Milal wa Al-Ahwa’ hlm. 66 sebagaimana dalam Al-‘Inayah bi Al-Quran hlm. 547)

Seakan tak ingin tertinggal dengan negeri-negeri Arab, jazirah Melayu pun mulai menampakkan perhatiannya terhadap halaqah-halaqah Al-Quran. Lihat, misalnya, saja di kerajaan-kerajaan di Aceh tempo dulu. Para rajanya sangat memperhatikan pendidikan Islam, salah satunya adalah pendidikan Al-Quran, sejak awal mula Islam melebarkan sayapnya ke negeri “bawah angin” ini. Bahkan halaqah-halaqah itu sebagiannya diadakan di dalam istana kerajaan.

Kemudian di Sumatra Barat juga mulai didirikan surau-surau untuk mengaji Al-Quran dan ilmu-ilmu syar’i lainnya. Surau-surau itu biasanya dinamai dengan nama pengasuhnya. Misalnya adalah surau-surau yang didirikan “tiga jama’ah haji” asal Minangkabau yang terkenal dengan ajaran ‘wahhabinya’, yaitu Haji Miskin, Haji, Piobang, dan Haji Sumanik.

Di daerah Kalimantan didirikan langgar-langgar yang fungsinya juga untuk mengkaji Al-Quran dan agama Islam yang diasuh oleh seorang guru atau ustadz. Misalnya adalah langgar yang didirikan Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al-Banjari.

Di Jawa pun demikian. Hanya kalau dijawa biasa disebut “pesantren” yang konon diambil dari istilah Hindu meski pendapat ini kurang tepat karena jika benar istilah ini berasal dari Hindu kenapa di Bali yang merupakan pusat Hindu tidak pernah didapati satu pun “pesantren” Hindu.

Nama-nama pesantren di Jawa pun biasanya mengambil dari nama pendiri dan pengasuhnya. Misalnya pesantren-pesantren yang didirikan Wali Sanga jika memang benar sejarah Wali Sanga itu.

Dalam bahasa ‘Arab madrasah-madrasah untuk pemula semacam ini biasa disebut dengan maktab atau ribath.

Bahkan jika kita mau menengok kembali ke panggung sejarah negeri ini, tentu kita akan menjumpai sejumlah ulama yang berhasil menjadi ahli qiraat dan muqri’. Sebut saja, misalnya, Muhammad Nawawi Al-Bantani penulis Hilyah Ash-Shibyan Syarh Fath Ar-Rahman fi Al-Qiraat li Muhammad Hasbillah bin Sulaiman Al-Makki, Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah At-Tarmasi penulis Ghaniyyah Ath-Thalabah syarh Ath-Thayyibah li Ibnil Jazari sebuah kitab yang banyak menjadi rujukan penulis Hidayah Al-Qari, Ibrahim Al-Fathani, Arwani Amin penulis Faidh Al-Barakat fi ‘Asyr Al-Qiraat, dan lainnya. Adapun di masa sekarang ini, maka sangat dan semakin banyak. Ini menunjukkan kepada kita bahwa yang bisa menjadi ahli dalam bidang agama tidak saja orang ‘Arab, orang Indonesia pun mampu untuk itu.

Bahkan jika Anda membuka-buka kitab Abjad Al-’Ulum (I/229) karya Shiddiq Hasan Khan –rahimahullah– pandangan akan melihat sebuah pembahasan menakjubkan, “Bahwasannya Mayoritas Pengemban Ilmu dalam Islam Adalah Orang-Orang Non Arab.” Pembahasan ini kemudian dinukil Abu ‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman Al-Mubarakfuri –rahimahullah– dalam muqaddimah Tuhfah Al-Ahwadzi syarh Jami’ At-Tirmidzi. Atau sebelumnya juga disinggung Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya yang fonumental. Sebagai contoh Anda bisa melihat Sibuaih Al-Farisi, Az-Zujjaj, Al-Bukhari, dan lain-lainnya. Wal hasil, jangan merasa kerdil menjadi orang non Arab.

Kembali ke persoalan. Maka jika di masa yang serba kurang dan sulit saja di bumi Melayu sudah menampakkan semangatnya mempelajari Al-Quran, bagaimana pula dengan zaman yang serba praktis dan instan seperti dewasa ini. Sepantasnya usaha-usaha untuk mempelajari dan menghafalkan Al-Quran haruslah lebih digiatkan lagi.

Di era global ini mungkin para orangtua sangat kesulitan jika harus mendidik anaknya sendiri karena dirinya sendiri tak mampu. Maka jawaban untuk masalah ini adalah dengan memasukkan anak ke pesantren-pesantren yang mengajarkan tahfizh Al-Quran dengan berasaskan manhaj yang benar. Permasalahannya adalah tinggal kemauan dan tekat dari masing-masing orang saja.

Dan termasuk nikmat Allah yang besar nun agung adalah semakin banyaknya pesantren-pesantren Al-Quran di negeri ini yang mengajarkan Al-Quran kepada santri-santrinya, baik tahfizh maupun tafsir. Menurut hemat penulis, hal ini sebagai bentuk tanggapan (baca: konspirasi) mayoritas kaum muslimin terhadap berbagai macam pendidikan yang ditawarkan selama ini berupa pendidikan ala Barat yang ‘menjanjikan’ namun justru memporak-porandakan moral masyarakat.

Namun celakanya adalah banyak orangtua yang mendapatkan gelar orangtua hanya semata-mata melahirkan anak bukan karena “keorangtuaannya” yang beralasan bahwa belajar di madrasah-madrasah Al-Quran dikhawatirkan kelak tidak mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga hidupnya akan terkatung-katung tak jelas. Maka pandangan semacam ini adalah pandangan yang sempit. Tidak ada sejarahnya seorang penghafal Al-Quran yang hidupnya kere dan melarat. Berapa banyak orang yang dahulunya hidup serba kekurangan kemudian Allah angkat drajatnya karena Al-Quran yang ia miliki. Allahua’lam. []

 

Refrensi:

  • Al-Quran Al-Karim.
  • Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran wa Al-Mubayyin Lima Tadhammanahu min As-Sunnah wa Ayi Al-Furqan, karya Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi (w. 671), tahqiq Dr. ‘Abdullah At-Turki, cet. pertama Yayasan Ar-Risalah Beirut.
  • Fath Al-Bayan fi Maqashid Al-Quran, karya Abu Ath-Thayyib Shiddiq bin Hasan Al-Qinnuji Al-Bukhari (w. 1307), muraja’ah & taqdim ‘Abdullah bin Ibrahim Al-Anshari, terbitan Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah Beirut.
  • Al-Quran Al-Karim wa Manzilatuh Baina As-Salaf wa Mukhalifihim Dirasah ‘Aqadiyyah, karya Muhammad Hisyam bin La’l Muhammad Thahiri, taqdim Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Khumayyis, terbitan Dar At-Tauhid li An-Nasyr.
  • At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Quran, karya Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi Asy-Syafi’i, tahqiq ‘Abdul Qadir Al-Arnauth, terbitan Al-Haramain Indonesia.
  • Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Quran Al-Karim, karya Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi, terbitan Darul Hadits Mesir.
  • Abjad Al-‘Ulum/Al-Wasyi Al-Marqum fi Bayan Ahwal Al-‘Ulum, karya Shiddiq Hasan Khan Al-Qinnuji Al-Bukhari, terbitan Wizarah Ats-Tsaqafah wa Al-Irsyad Al-Qaumi Damascus.
  • Dan lain-lain.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: