//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Luruskan dan Rapatkan Shaff Shalat!

Shaf Shalat

Dalam bab ini telah diriwayatkan banyak hadits, di antaranya:

  • Hadîts An-Nu’mân bin Basyîr, beliau berkata, “Nabî –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكٌمْ، أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Sungguh kalian meluruskan shaf-shaf kalian, atau (kalau tidak) Allah pasti akan membuat wajah-wajah di antara kalian berselisih.” (HR Al-Bukhârî & Muslim)

Makna: “…Allah pasti akan membuat wajah-wajah di antara kalian berselisih” ialah: ditimbulkan di antara kalian permusuhan, kebencian, dan perselisihan hati. Sebab, perselisihan lahiriah dapat menyebabkan perselisihan batin. Makna semacam ini dikuatkan oleh:

  • Hadîts Abû Mas’ûd, beliau berkata, “Dahulu Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– mengusap pundak-pundak kami ketika hendak shalat seraya bersabda, “Luruskanlah dan janganlah berelisih, maka berselisihlah hati-hati kalian…” (HR Muslim, Abû Dâwûd, An-Nasâ’î, dan Ibnu Mâjah)
  • Dari Anas, dari Nabî –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– beliau bersabda:

أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءَ ظَهْرِيْ

“Dirikanlah (baca: benarkanlah) shaf-shaf kalian. Karena aku melihat kalian dari balik punggungku.” (HR Al-Bukhârî & Muslim)

Anas berkata:

وَ كَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ، وَ قَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

“Maka setiap seorang di antara kami menempelkan pundaknya dengan pundak kawannya dan menempelkan kakinya dengan kaki kawannya.” (HR Al-Bukhârî & Muslim)

  • Dari Anas, bahwasannya Nabi –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

رُصُّوْا صُفُوْفَكُمْ، وَ قَارِبُوْا بَيْنَهَا، وَ حَاذُوْا بِالْأَعْنَاقِ، وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

Rapatkan shaf-shaf kalian dan dekatkanlah di antara shaf-shaf tersebut, serta sejajarkanlah leher-leher kalian. Demi jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seolah-olah anak kambing hitam yang kecil.” (HR Abû Dâwûd, An-Nasâ’î, dan Ahmad)

  • Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

أَقِيْمُوْا الصُّفُوْفَ وَ حَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَ سُدُّوْا الْخَلَلَ وَ لِيْنُوْا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُم وَ لَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَ مَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَ مَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ

“Tegakkanlah shaf-shaf, sejajarkanlah pundak-pundak kalian, tutuplah celah-celah, dan bersikap lembutlah kalian untuk disentuh tangan-tangan saudara kalian. Jangan biarkan celah-celah untuk dimasuki setan! Barangsiapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskan shaf, maka Allah memutusnya.” (HR Abû Dâwûd, An-Nasâ’î, dan Ahmad dengan derajat “hasan”)

  • Diriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– bersabda (artinya), “Luruskanlah shaf kalian, sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan shalat.” (HR Al-Bukhârî dengan lafazh ini, dan Muslim dengan lafazh lain, dan selain mereka)

Dalam lafazh Muslim (artinya), “Termasuk kesempurnaan shalat.”

  • Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, beliau berkata, “Umar tidak bertakbir sehingga shaf benar-benar lurus. Dia menegaskan beberapa orang untuk meluruskan shaf.” (Diriwayatkan ‘Abdurrazzâq dengan sanad yang “shahih”)

Faidah: Makruhnya Membuat Shaf di Antara (Dua) Tiang-Tiang

  • Diriwayatkan dari ‘Abdul Hamîd bin Mahmûd, beliau berkata, “Aku shalat bersama Anas bin Mâlik pada hari Jum’at. Ketika kami mendapati tiang-tiang, kami pun maju atau mundur. Anas berkata, ‘Kami menjauhi ini (baca: antara dua tiang) pada masa Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-.” (HR Abû Dâwûd, An-Nasâ’î, At-Tirmidzî, dan Ahmad)
  • Hadîts Mu’âwiyah bin Murrah, dari ayahnya, beliau berkata, “Kami dilarang membuat shaff di antara tiang-tiang pada masa Nabi –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– dan kami benar-benar menjauhinya.” (Riwayat Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibbân, dan Al-Hâkim dengan sanad yang lemah. Namun ia dikuatkan dengan hadîts sebelumnya)

Faidah: Sunnah (Muakkad)nyaShalat Menghadap Sutrah

Sutrah: Sesuatu yang tinggi semacam tiang, tembok, punggung orang, atau meja. Minimal tingginya sehasta.

Dari Abû Jahîm bin Al-Hârits –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Rasulullâh –shallâhu ‘alaihi wa sallam– bersabda, ‘Sekiranya orang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui terhadap dosa apa atasnya, tentu dia berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya daripada ia melewati di depannya (orang yang shalat.)” (HR Al-Bukhârî & Muslim)

Imam Muslim meriwayatkan, Nabi –shallâllahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Jika sekiranya kalian shalat, maka hendaklah ia tidak membiarkan ada orang yang lewat (di depannya). Namun jika ia (orang yang lewat) enggan (dilarang untuk lewat), maka seyogyanya perangilah ia, sebab ada bersamanya setan.”

Nabi –shallâllahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Jika sekiranya kalian shalat, hendaklah ia shalat menghadap sutrah, dan hendaklah ia mendekatinya.” (HR Abû Dâwûd, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaimah dalam Shahîh-nya. Dinilai “shahîh” oleh Al-Hâkim dan Ibnu Khuzaimah) Allahua’lam. []

Belitang, 25 Agustus 2013 M

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: